
Lea berbisik di telinga Rosi, "Kita bikin Vio hamil anak orang lain!"
Rosi sedikit terkejut, pasalnya, ia yang selama ini polos tidak pernah berpikir sejauh itu. Tetapi, dengan Vio hamil bersama pria lain mungkin Darren akan pergi meninggalkan Vio, begitulah pikir Rosi dan dan Lea.
Rosi pun bertanya pada Lea bagaimana caranya dan Lea mengajak Rosi untuk keluar, keduanya membahas rencana yang Lea buat.
Dari tempat duduknya, Sam melihat gelagat aneh pada teman-teman Darren, terutama Rosi, Sam sangat yakin kalau Rosi sakit hati dengan Vio dan Darren.
Setelah membuat rencana, Rosi dan Lea kembali, di dalam, terlihat Vio sedang sendiri.
"Mana yang lain?" tanya Lea pada Vio.
"Ke toilet," jawab Vio singkat.
Vio yang merasa tak nyaman itu mengirim pesan pada Darren, ia mengatakan ingin segera pulang.
"Ada gunanya juga dia minta nomor aku!" kata Vio setelah mengirim pesan, Vio segera menyimpan kembali ponselnya di tas selempang.
Dan Darren yang sedang buang air kecil itu menunda untuk membuka ponselnya yang bergetar.
****
"Vi... lo pernah cobain ini?" tanya Rosi dan Vio mengiyakan.
"Apa? Gue kira lo gadis polos taunya pernah minum juga!" cibir Rosi seraya membuang wajah.
"Dulu, udah lama. Sekarang enggak pernah minum lagi!" jawab Vio seraya mengambil gelas yang ada di tangan Rosi lalu meletakkannya di meja.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Vio ingat dengan Surya, Surya yang pulang ke rumah dengan membawa minuman haram dan Surya menyuruh Vio untuk mencicipinya sebelum kembali melarang Surya untuk meminun apa yang dibawanya.
"Kalau begitu, lo udah enggak asing lagi dong sama rasa minuman ini?" tanya Lea seraya kembali memberikan minuman itu pada Vio.
Vio menatap gelas kecil yang ada di depan matanya.
"Minum dikit enggak papa kali, ya." Setelah berpikir seperti itu, Vio pun menerimanya lalu menenggak minuman tersebut.
Sam menggelengkan kepala setelah melihat Vio dengan mudahnya terpengaruh.
Tidak lama kemudian, Vio jatuh pingsan, Rosi dan Lea segera membawa Vio pergi dari tempat duduknya sebelum Darren dan Justin datang.
Benar saja, Darren dan Justin kembali, tak terlihat para gadis itu, Darren pun teringat dengan ponselnya yang sempat bergetar.
Ia membaca pesan dari Vio, setelah membaca pesan itu, Darren mengira kalau Vio sudah pulang lebih dulu.
"Kemana dia?" tanya Justin di telinga Darren.
"Balik kayanya!" jawab Darren.
Darren mencoba menghubungi Vio untuk memastikannya, tetapi, Vio tak menjawab.
__ADS_1
Bagaimana akan menjawab kalau ponselnya sudah berada di tangan Lea. Terlihat nomor Darren yang belum ia simpan menghubungi Vio.
"Gimana ini, Le? Gue kok takut, ya!" kata Rosi seraya menatap Vio yang ada di mobil Lea.
"Udah kita tunggu aja di sini, lo mau dapat duit enggak?" tanya Lea pada Rosi.
"Gue enggak kurang duit? Gue cuma mau Darren!" kata Rosi seraya menatap Lea yang duduk di bangku kemudi.
"Halah!" timpal Lea yang sedang memainkan ponsel.
Tidak lama kemudian, seorang pria datang, menghampiri mobil Lea. Pria itu mengetuk kaca mobil.
"Mana, katanya ada barang bagus?" tanya pria itu.
"Ada, kayanya dia masih ori!" jawab Lea seraya menunjukkan Vio yang tertidur di bangku belakang.
Melihat itu, Rosi merasa merinding dengan apa yang Lea lakukan.
Rosi juga melihat pria itu memberikan amplop yang sedikit tebal pada Lea dan Lea menerimanya.
"Ok, makasih. Nanti ada barang bagus lagi Lea kabarin om!" kata Lea seraya mencium amplop tersebut.
"Astaga, Lea... jadi selama ini lo banyak bisa banyak duit hasil dari prostitusi?" tanya Rosi dalam hati.
Setelah itu, Lea turun untuk membantu si om memindahkan Vio ke mobilnya.
Dan saat itu juga Rosi melihat mobil Sam yang melintas di depan mobil Lea.
Hati kecilnya tidak tega berbuat seperti itu pada Viona, Rosi membayangkan betapa hancurnya hati Viona setelah membuka mata nanti dan itu tidak dapat Rosi bayangkan.
Sekarang, Vio sudah berada di dalam mobil si pembeli dan Lea kembali ke mobilnya.
"Ayo kita parti sampai pagi!" kata Lea seraya mengajak Rosi turun.
Bukannya menjawab, justru Rosi bertanya Vio akan di bawa kemana.
"Ke hotel, lah. Kemana lagi!" jawab Lea seraya menghitung uangnya, kemudian Lea memasukkan uang itu ke dalam dompetnya.
"Gue tau ke hotel, tapi hotel mana?" tanya Rosi seraya menatap Lea.
"Paling hotel paling deket sini!" jawab Lea, "hotel mana itu bukan urusan gue, terserah dia mau di bawa kemana!"
Setelah mendapatkan jawaban, Rosi segera turun dari mobil, ia menghubungi Sam.
Dan Sam yang sedang berada di lampu merah itu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Ada apa?" tanya Sam seraya menatap lurus ke depan.
"Tolongin Rosi, Om!" pinta Rosi.
__ADS_1
Rosi memutuskan untuk menolong Vio, ia tidak ingin dibenci oleh Darren di kemudian hari karena masalah ini.
Rosi pun menceritakannya pada Sam.
"Harus gue tolong dia lagi?" tanya Sam dalam hati.
Sam yang merasa tak perlu menolong Vio pun mencoba menghubungi Darren, tetapi, Sam mengurungkannya.
Ia tidak ingin hubungan Rosi dan Darren menjadi renggang karena Viona.
Akhirnya, mau tak mau Sam berputar balik. "Kalau bukan Rosi yang minta, gue enggak mau nolongin!" Sam berbicara dalam hati.
Sam menerima share-lok dari Rosi.
Ya, Rosi yang tak ingin kehilangan jejak si pria itu memilih untuk mengikutinya.
Rosi berbohong pada Lea dengan mengatakan kalau dirinya akan pulang.
Rosi melihat Vio sedang dibopong oleh pria asing menuju lift dan itu membuat Rosi semakin berdebar juga cemas.
"Duh, si Om mana sih, kok lama banget!" kata Rosi yang masih memperhatikan "kan nanti aku enggak tau dia mau ke lantai berapa!" lanjut Rosi dan saat itu juga Sam tiba, ia menepuk bahu Rosi dari belakang.
"Astaga!" ucap Rosi yang terkejut.
Rosi merasa lega setelah mengetahui siapa yang datang.
"Mana?" tanya Sam seraya mencari keberadaan Si pria itu.
"Itu, Om!" Rosi menunjuk pada pria itu yang terlihat sudah berdiri di depan lift basement.
Dan sebelum pintu lift terbuka, Sam segera mendekatinya.
"Astaga, dia itu pingsan atau mati sih? Kok lama banget enggak sadar-sadar!" ucap Sam dalam hati.
Sam pun memanggil Vio, berharap Vio akan membuka mata dan itu membuat si pria merasa kalau rencana enak-enaknya akan gagal.
"Jangan ganggu! Gue udah beli dia duluan!" ucapnya pada Sam.
"Kalau situ mau harus antri! Karena gue mau yang masih ting-ting!" ucapnya, kemudian pria itu membawa Vio masuk ke lift yang sudah terbuka.
Sam menghalanginya.
"Dia bukan ting-ting. Dia itu janda bekas gue!" ucap Sam seraya menahan lengan si pria.
"Jangan halangin gue, lo tau enggak sih, bopong dia lama-lama itu berat!" geramnya pada Sam dengan nada sedikit tinggi.
"Gue masih ngomong baik-baik! Lepasin dia! Dia bukan cewek yang lo cari! Dia bukan gadis!" kata Sam dan Rosi yang melihat dari kejauhan itu menganggap kalau Sam itu sangat payah.
"Astaga, Om. Kok Om payah sekali! Mana mau dia kasih secara percuma sama Om. Hajar dong, Om!" gerutu Rosi dari tempatnya bersembunyi.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk like dan komen, ya. Terimakasih❤