Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
JAGA HATI!


__ADS_3

"Assala-" Shara tak jadi mengucapkan assalamualaikum, karena ingat pada Bu Maria yang kink berada di sebelahnya. Shara tak maj membuat sang ibu salah sangka.


"Selamat sore, Mbak Ida!" Ucap Shara akhirnya mengoreksi salamnya yang tidak jadi tadi. Saat ini, Shara dan Bu Maria memang sudah berada di depan rumah Diftha. Mereka berdua datang untuk memenuhi janji menjaga Gizta sore ini karena Diftha yang sedang ada keperluan di luar kota.


"Mbak Ida!" Panggil Shara lagi karena Mbak ida yang tak kunjung keluar dan membukakan pintu pagar.


"Iya!"


Setelah beberapa saat, akhirnya terdengar juga suara Mbak Ida dari dalam rumah. Pintu gerbang juga sudah dibuka dari dalam oleh Mbak Ida.


"Oh, Mbak Shara sudah datang!" Sapa Mbak Ida pada Shara dan tak lupa pada Bu Maria juga.


"Selamat sore, Mbak Ida!"


"Sore, Bu!"


"Mari masuk!" Jawab Mbak Ida yang langsung mempersilahkan Shara dan Bu Maria masuk ke dalam.


"Mbak Ida dijemput jam berapa?" Tanya Shara sedikit berbasa-basi pada Mbak Ida.


"Sebentar lagi, Mbak! Tadi suami bilangnya sudah perjalanan kesini," jawab Mbak Ida yang langsung membuat Shara mengangguk.


"Suaminya sudah sehat, Mbak?" Tanya Shara lagi.


"Alhamdulillah sudah, Mbak!"


"Lalu Gizta mana?" Gantian Bu Maria yang bertanya pada Mbak Ida.


"Ada di kamar, Bu! Tadi sedang menggambar atau menulis apa saya juga tidak tahu."


"Anaknya tudak mau diganggu," terang Mbak Ida seraya tertawa kecil.


"Sedang me time, Buk!" Timpal Shara ikut menerangkan pada Bu Maria.


"Untuk makan malam Mbak Shara dan Bu Maria juga sudah siap semua di atas meja¤


"Kenapa harus repot-repot, Mbak?" Sergah Shara merasa sungkan.


"Pak Diftha yang memesankan, Mbak!"


"Tadi saya juga sudah makan, dan yang di atas meja itu untuk Mbak Shara, Ibu, dan Gizta," terang Mbak Ida lagi.


"Gizta sudah bisa makan makanan biasa, Sha?" Tanya Bu Maria pada Shara.


"Sudah, Bu! Nanti nasinya sedikit dilumat saja. Tapi Gizta sudah bisa mengunyah pelan-pelan," terang Shara yang langsung membuat Bu Maria menarik nafas lega.


Tak berselang lama, terdengar suara klakson dari depan rumah.


Beep beep!

__ADS_1


"Suami saya sudah menjemput, Mbak!"


"Saya langsung pamit, ya!" Pamit Mbak Ida kemudian seraya menyambar tas kain miliknya, lalu menyampirkan di pundak.


"Besok saya datang setelah subuh seperti biasa, Mbak," ujar Mbak Ida lagi.


"Iya, Mbak!"


"Agak siangan juga tidak apa-apa sebenarnya. Nanti kami pulangnya nunggu Mbak Ida datang," tukas Shara seraya tertawa kecil.


"Habis subuh masih gelap, Mbak!" Timpal Bu Maria juga.


"Tapi biasanya memang datang jam segitu, Bu! Karena Pak Diftha harus ke kantor pagi-pagi."


"Toh ada suami yang mengantar jemput,jadi insya allah aman," ujar Mbak Ida sembari tertawa kecil. Wanita yang menjadi perawat Gizta itu lalu berpamitan sekali lagi sebelum pergi meninggalkan rumah Diftha.


"Kenapa Diftha tidak mencarj ART atau perawat untuk Gizta yang bisa menginap saja, Sha?" Tanya Bu Maria membuka obrolan, setelah Mbak Ida pergi.


Tadi Shara sempat menengok Gizta yang masih duduk di kamarnya, sebelum kembali ke ruang makan dan duduk bersama Bu Maria lagi.


"Katanya Diftha kurang nyaman kalau ada orang asing di rumah, Buk." Shara mengendikkan kedua bahunya.


"Shara sebenarnya juga tak terlalu mengerti. Tapi memang tak semua orang itu merasa nyaman saat ada orang asing yang tinggal di rumahnya, meskipun itu adalah ART," imbuh Shara lagi sedikit berpendapat.


"Mungkin Diftha nyamannya kalau yang tinggal disini dan merawat Gizta itu istrinya," seloroh Bu Maria seraya melirik kearah Shara yang hanya berekspresi datar.


"Mana Shara tahu, Buk!"


"Kok tanya sama Shara, sih!" Jawab Shara yang mebdadak wajahnya tearsa memanas.


"Tapi Ibuk perhatikan Diftha sepertinya sedang pedekate sama kamu, Sha!"


"Pedekate! Bahasa Ibuk gaul syekali!" Celetuk Shara sembari tertawa kecil.


"Itu wajah kamu merah! Berarti ada sesuatu!" Ujar Bu Maria lagi yang sepertinya bersemangat sekali menggoda Shara.


"Merah apanya?"


"Itu, apel warnanya merah!" Sahut Shara yang malah menunjuk ke apel merah di atas meja makan.


"Iya, sama seperti warna pipi kamu!" Gida Bu Maria lagi dan Shara buru-buru menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


"Kak--"


"Cha--ra." Panggilan Gizta yang rupanya sudah keluar dari kamar, menyela obrolan Bu Maria dan juga Shara.


"Iya, Gizt! Sudah selesai yang me time?" Tanya Shara yang kini sudah menghampiri Gizta.


"Mau makan malam, Gizt?" Bu Maria ikut-ikutan bertanya pada gadis delapan belas tahun tersebut.

__ADS_1


"Ma--u--"


"Sho---"


"Lat du--lu," ucap Gizta terbata-bata namun dapat langsung ditangkap oleh Shara.


"Mau apa dia, Sha?" Tanya Bu Maria yang sepertinya kurang paham.


"Mau sholat, Buk!" Jawab Shara yang langsung membuat Bu Maria terdiam.


"Mukenanya dimana?" Tanya Shara selanjutnya pada Gizta.


"Wu--"


"Dhu--dulu--" ucap Gizta lagi yang langsung membuat Shara menepuk keningnya sendiri. Shara lalu segera mendorong kursi roda Gizta ke arah kamar mandi agar gadis itu bisa mengambil wudhu. Sementara Bu Maria masih duduk dan diam di ruang makan, dan tak berucap sepatah katapun, hingga Gizta dan Shara kembali dari kamar mandi.


Shata lanjut mendorong kursi roda Gizta masuk ke dalam kamar, lalu hadis itu juga memakaikan mukena pada Gizta.


"Di--ba--wah!" Gizta memberikan kode pada Shara agar membantunya turun dari kursi roda. Sepertinya Gizta akan menunaikan ibadah sholat sambil duduk di atas karpet.


"Begini? Sudah nyaman?" Tanya Shara memastikan.


"I--ya--" jawab Gizta terbata.


"Oke! Silahkan mulai," ucap Shara kemudian seraya berbalik dan meninggalkan Gizta yang sekarang akan beribadah pada Tuhannya. Shara menutup pelan pintu kamar Gizta dan kembali ke ruang makan, menemui Bu Maria yang masih diam.


"Ibuk nggak makan?" Tanya Shara karena sang ibu yang malah terlihat melamun.


"Diftha itu muslim, Sha?" Tanya Bu Maria akhirnya seraya menatap serius pada Shara yang langsung mengangguk.


"I- iya, Buk!"


Bu Maria lalu menghela nafas dengan berat.


"Jaga hati mulai sekarang dan jangan sekali-kali menaruh perasaan apapun pada Diftha!" Ucap Bu Maria memperingatkan Shara dengan tegas.


Sekarang gantian Shara yang diam dan mematung.


Jangan sekali-kali menaruh perasaan apapun pada Diftha!


Tapi Shara sudah terlanjur menyimpan perasaan itu.....


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2