
Diftha baru turun dari mobil, saat pandangannya langsung tertumbuk pada motor Shara yang masih terparkir di garasi rumah, berjejer dengan motir Diftha sendiri.
"Motor Shara masih belum diambil, Mbak?" Tanya Diftha pada Mbak Ida yang sedang menurunkan barang-barang dari bagasi mobil.
"Belum, Pak! Mbak Shara memang belum datang ke rumah selama mbak Gizta dirawat di rumah sakit," terang Mbak Ida.
Difha hanya mengangguk dan akhirnya lanjut membuka pintu belakang mobil, tempat Gizta duduk.
"Selamat datang di rumah!" Ucap Diftha yang hanya ditanggapi Gizta dengan senyuman segaris.
"Giz--ta--"
"Nggak--ma--u--"
"Ti--dur--di--ru--mah--sa--kit--la--gi," cerocos Gizta saat Diftha menggendong adiknya itu keluar dari mobil. Mbak Ida yang tadinya hendak membukakan kursi roda Gizta, langsung dicegah oleh Diftha, karena Diftha memilih untuk menggendong sang adik sampai ke kamar.
"Kenapa memang? Takut disuntik?" Diftha sedikit berkelakar.
"Ti--dak--" kilah Gizta.
"Takut pada stetoskop dokter?" Tanya Diftha lagi menggoda sang adik.
"Ti--dak--ju--ga--" Sanggah Gizta lagi.
"Baiklah, katakan alasannya kalau begitu!" Ujar Diftha sembari mendaratkan tubuh Gizta dengan hati-hati ke atas tempat tidur.
"Giz--ta--ja--di--i--ngat--ma--ma--"
"Dan--pa--pa," jawab Gizta yang langsung membuat Diftha terdiam untuk beberapa saat. Diftha lalu menghela nafas panjang, dan duduk di tepi tempat tidur Gizta.
"Gizta kangen sama mama dan papa?" Tanya Diftha kemudian sembari mengusap lembut kepala sang adik.
"Se--di--kit--" jawab Gizta lirih.
"Abang juga kangen," ucap Diftha yang jarinya langsung bergerak untuk menyeka airmata yang mendadak turun dari kedua mata Gizta.
"Tidak apa-apa, Gizta!"
"Kita bisa berdoa untuk Mama dan Papa. Mengirimkan Al Fatihah juga. Abang selalu melakukannya setiap Abang merasa kangen pada Mama dan Papa," cerita Diftha panjang lebar yang langsung membuat Gizta mengangguk. Diftha lalu segera meraup adiknya itu ke dalam pelukan.
"Jangan sedih lagi, ya!"
"Kan Gizta masih punya Abang disini," hibur Diftha kemudian.
"I--ya--Bang!"
"Nan--ti--se--ben--tar--la--gi--ju--ga--"
"Giz--ta--a--kan--pu--nya--ka--kak--ba--ru," timpal Gizta yang sudah bisa kembali bercerocos. Namun tentu saja, cerocosan Gizta barusan malah justru menbuat hati Diftha mencelos.
Kakak baru?
Apa yang dimaksud Gizta disini adalah Shara yang selalu Gizta harapkan bisa menjadi kakak iparnya?
Tok tok tok!
Suara ketukan di pintu langsung membuat lamunan Diftha buyar. Pria itu dengan cepat menoleh ke arah pintu kamar, dan tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan mata Shara.
"Sore!" Sapa Shara sembari membenarkan letak tali tas di pundaknya.
"Kak--Cha--ra--" sapa Gizta riang, seraya tersenyum pada Shara.
"Hai! Sudah pulang?" Shara bergegas menghampiri Gizta dan memeluk adik Diftha tersebut sementara Diftha memilih untuk langsung menyingkir demi memberikan ruang pada Shara.
"Sudah sehat, ya?" Tanya Shara lagi pada Gizta yang langsung mengangguk. Dua gadis beda usia itu lalu segera mengobrol akrab, sementara Diftha memilih untuk keluar saja dari kamar Gizta agar tak mengganggu.
"Pak Diftha!" Panggil Mbak Ida saat Diftha baru saja akan masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Iya, Mbak? Sudah makan tadi?" Tanya Diftha sedikit berbasa-basi pada Mbak Ida.
"Sudah, Pak!" Jawab Mbak Ida yang langsung membuat Diftha mengangguk.
"Ngomong-ngomong, saya mau pamit pulang, Pak!"
"Karena kan Mbak Gizta alhamdulillah sudah pulang dari rumah sakit, dan semua keperluan Mbak Gizta juga sudah saya siapkan."
"Oh, iya, Mbak!" Diftha langsung melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
"Pulang dijemput, kan?" Tanya Diftha kemudian memastikan.
"Iya, Pak! Kebetulan suami saya sudah menunggu di depan," ujar Mbak Ida.
"Baiklah kalau begitu." Diftha mengangguk-angguk.
"Saya pulang dulu, Pak! Assalamualaikum," pamit Mbak Ida kemudian.
"Walaikum salam, Mbak! Hati-hati!" Pesan Diftha bersamamu dengan Mbak Ida yang sudah mengayunkan langkah ke pintu utama.
Diftha sendiri tak jadi masuk ke kamar, dan pria itu memutuskan untuk mengintip sebentar ke dalam kamar Gizta demi melihat apa yang sedang dilakukan Gizta dan Shara. Namun baru saja Diftha membuka sedikit pintu kamar Gizta, ia malah hampir menabrak Shara yang hendak keluar.
"Hai," Shara menyapa Difha dengan canggung.
"Kau mau keluar?" Diftha segera bergerak mundur untuk memberikan ruang pada Shara.
"Gizta lapar," lapor Shara yang sudah keluar dari kamar Gizta.
"Makanan Gizta sudah disiapkan Mbak Ida tadi. Biar aku ambilkan," ujar Diftha yang bergegas menuju ke dapur.
"Mbak Ida mana?" Tanya Shara yang sudah mengekori Diftha ke dapur.
"Sudah pulang. Baru saja." Jawab Diftha sembari membuka tudung saji di atas meja makan.
"Kau sudah makan tadi?" Tanya Diftha yang sudah ganti menatap pada Shara yang kini sedang mengarahkan pandangannya ke makanan di atas meja makan.
"Kau sendiri?" Shara balik bertanya pada Diftha sembari menatap pada pria tersebut.
"Belum juga," jawab Diftha lirih.
"Bagaimana kalau kita makan bertiga disini? Aku akan mengajak Gizta-"
"Biar aku saja!" Cegah Diftha cepat sembari memberikan kode pada Shara agar menyiapkan peralatan makan.
"Ya!" Jawab Shara yang langsung paham.
"Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah datang memenuhi permintaan Gizta," ucap Diftha seraya menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap pada Shara yang wajahnya sedikit berbeda.
Perasaan Diftha saja, atau wajah Shara memang lebih terlihat cerah dan bersih?
"Sama-sama!"
"Aku senang melakukannya, karena belum tentu besok-besok aku akan punya kesempatan-"
"Kau mau pergi?" Tanya Diftha menyela.
"Tidak!" Jawab Shara cepat.
"Hanya saja, aku baru menerima pasien terapi baru, jadi mungkin aku akan sedikit sibuk ke depannya," ujar Shara sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Diftha hanya mengangguk paham. Pria otu lalu lanjut ke kamar Gizta untuk memanggil sang adik sekaligus mengajaknya makan di meja makan bersama dirinya dan juga Shara.
****
"Sudah!" Ucap Shara yang sudah selesai memasangkan mukena pada Gizta. Adzan maghrib memang sudah berkumandang, dan saat ini Gizta hendak menunaikan sholat maghrib jamaah bersama Diftha.
"Se--mo--ga--"
__ADS_1
"Kak--Cha--ra--bi--sa--i--kut--"
"Sho--lat--ju--ga--ke--de--pan--"
"Gizta!" Tegur Diftha cepat yang seolah sudah paham arah pembicaraan Gizta.
Rasanya harapan Gizta agar Shara menjadi seorang muallaf lalu menikah dengan Diftha sudah masuk tahap pemaksaan. Diftha sendiri tak mau memaksa Shara untuk meninggalkan agama serta Tuhannya. Meskipun jauh di lubuk hati Diftha yang terdalam, Diftha juga menginginkannya. Tapi Diftha paham, kalau agama dan keyakinan adalah sebuah hal sensitif yang tak bisa dipaksakan. Itulah mengapa dalam agama, menjalin hubungan berbeda agama dilarang keras. Karena hanya ada tiga kemungkinan saat dua insan yang berbeda agama menjalin sebuah hubungan cinta. Kemungkinan untuk mengkhianati pasangan, kemungkinan untuk mengkhianati Tuhan, dan yang paling parah adalah meminta pasangan agar mengkhianati Tuhannya.
Tidak!
"Ehem! Kok malah melamun, Dift?" Teguran Shara seolah mengembalikan kesadaran Diftha yang malah larit dalam lamunan betapa peliknya hubungan berbeda keyakinan.
"Tidak!" Kilah Diftha yang segera mengambil posisi. Sementara Shara memilih untuk tetap di dalam kamar, seolah ingin menyaksikan bagaimana Diftha dan Shara beribadah pada Tuhan mereka.
"Kak--Cha--ra--ma--u--be--la--jar--ya?" Celetukan Gizta masih bisa Diftha debgar sebelum pikirannya berusaha untuk fokus mendirikan sholat.
"Allahuakbar!" Diftha sydah mengucapkan takbir, dan Gizta segera mengikuti sang abang yang bertindak sebagai imam.
Satu persatu rukun sholat Diftha dan Gizta laksanakan dengan khusyuk dan penuh konsentrasi. Hingga akhirnya tiga raka'at sholat Maghrib telah usai. Diftha menoleh sekilas pada Shara yang masih diam di tempatnya semula. Pria itu lalu lanjut menengadahkan kedua tangannya dan berdo'a pada Allah, meminta diberikan jalan serta petunjuk tentang hubungannya bersama Shara.
Hubungan yang bahkan Diftha sendiri tudak tahu statusnya apa saat ini. Tak pernah ada kata jadian antara Diftha dan Shara. Namun sebenarnya, mereka sudah merasa sama-sama nyaman kecuali mengenai perbedaan keyakinan yang benar-benar membuat hati merasa bimbang. Mungkin ada benarnya tulisan yang beberapa hari lalu Diftha baca.
Hubungan berbeda agama itu, kau selalu berharap pacarmu yang akan menjadi muallaf, sementara pacarmu selalu beeharap kau yang akan murtad dan mengikuti agamanya. Rumit!
"Sudah selesai?" Tanya Shara yang sudah duduk bersimpuh di samping Gizta, lalu membantu adik Diftha itu melepaskan mukenanya.
"Kak--Cha--ra--ma--u--co--ba?" Tawar Gizta sembari menyodorkan mukenanya pada Shara yang langsung tersenyum. Shara hendak menjawab, saat Diftha malah sudah buka suara terlebih dahulu.
"Gizta! Kak Chara punya cara beribadah sendirial yang berbeda dari kita!" Tegur Diftha tegas pada sang adik.
"Giz--ta--ha--nya--ber--can--da--Bang!" Jawab Gizta terbata.
"Tidak perlu emosi, Diftha! Gizta kan hanya bergurau," timpal Shara yang ikut-ikutan membela Gizta.
Diftha tak berkomentar lagi dan pria itu memilih untuk melipat sajadahnya dengan cepat, lalu keluar dari kamar Gizta.
"Kak--Cha--ra--nan--ti--ngi--nap?" Tanya Gizta kemudian pada Shara yangvrak langsung menjawab. Shara terlebih dahulu meraih ponselnya di atas meja belajar Gizta untuk memeriksa barangkali ada pesan masuk dari Bu Maria atau Pak Rudi.
Namun tidak ada!
Aneh.
Bukankah biasanya Bu Maria akan langsung mengirim banyak pesan sekaligus tak berhenti menelepon Shara, jika dirinya belum pulang lewat maghrib?
Tapi kenapa sekarang kedua orangtua Shara itu seolah tak khawatir?
"Kak--"
"Ada--a--pa?" Tanya Gizta membuyarkan lamunan Shara.
"Tidak ada apa-apa-"
"Kau tidak pulang, Sha? Nanti Bu Maria dan Pak Rudi khawatir," tanya Diftha menyela kalimat Shara. Pria itu kini sudah berdiri di ambang pintu kamar Gizta.
"Aku menginap, karena Gizta memaksaku," jawab Shara sembari meringis dan sedikit melirik penuh kode pada Gizta.
"Benar itu, Gizta?" Tanya Diftha memastikan.
"I--ya--" Jawab Gizta cepat.
Diftha akhirnya hanya menghela nafas, dan pria itu keluar lagi dari kamar Gizta sembari menutup pintu.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.