Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
SEBUAH PESAN


__ADS_3

"Hai, Gizta!" Sapa Saskia saat Gizta dan Diftha baru tiba di rumah sakit.


"Sa--ma--" celetuk Gizta tiba-tiba saat gadis itu melihat warna jilbabnya yang kebetulan sama dengan yang dikenakan oleh Saskia.


"Oh, iya!"


"Kok bisa samaan jilbabnya, ya?" Saskia langsung tertawa kecil dan sedikit membenarkan jilbab pashmina yang dikenakan oleh Gizta.


"Pakai sendiri?" Tanya Saskia sedikit berbasa-basi.


"Mbak--I--da--" jawab Gizta.


"Dibantu Mbak Ida pakainya karena Gizta belum bisa memakainya sendiri," ujar Diftha membantu menerangkan maksud dari jawaban Gizta.


"Oh!"


"Coba lihat!" Saskia lalu memeriksa kedua tangan Gizta dan melakukan beberapa tes kecil.


"Satu tahun yang lalu tangan Gizta belun bisa banyak bergerak dan masih kesulitan memegang benda juga. Tapi setelah rutin diterapi oleh Shara, sudah banyak kemajuan."


"Bisa kau ceritakan kemajuan apa saja?" Tanya Saskia sembari menatap pada Diftha.


"Gizta sudah mulai bisa menggambar dan makan sendiri," jawab Diftha sembari mengusap kepala Gizta yang tertutup pashmina berwarna baby pink. Sama persis dengan yang dikenakan oleh Saskia.


"Nanti kita akan melakukan serangkaian pemeriksaan di awal, untuk menentukan tindakan apa yang tepat yang nantinya akan kita lakukan pada Gizta," terang Saskia kemudian yang langsung membuat Diftha mengangguk namun sedikit ragu.


"Silahkan duduk, Diftha!" Ujar Saskia kemudian seraya menunjuk ke kursi di hadapannya.


Diftha tak membuang waktu dan segera duduk di kursi yang tadi ditunjuk oleh Saskia.


"Tadi aku bertemu Samudera, dan dia mengatakan kalau fia sebenarnya sudah memberikan kontakku padamu jauh-jauh hari-" Saskia menjeda kalimatnya karena Diftha tampak bingung.


"Dokter Sam," ujar Saskia cepat yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Dia yang sebelumnya menangani Gizta, kan?" Saskia memastikan lagi.


"Iya!" Diftha langsung mengangguk dengan cepat.


"Jadi kata Dokter Samudera, dia sudah lama memberikan kontakku kepadamu agar kau bisa konsultasi sebelum aku pindah ke sini."


"Tapi kau tak pernah menghubungiku," cecar Saskia penuh tanya.


"Aku sungkan," jawab Diftha seraya meringis.


"Dan lagi aku pikir, biaya yang aku kumpulkan untuk operasi Gizta nantinya belum terlalu cukup. Jadi aku menunggu sampai biayanya cukup dulu baru aku akan menghubungimu," tukas Diftha kemudian membeberkan rencananya.


"Memang sudah tahu biayanya berapa?" Saskia sedikit berseloroh.


"Hanya menerka-nerka." Diftha kembali meringis.


"Tapi aku akan sangat berterima kasih jika kau mau memberitahu tentang rincian biayanya ketimbang aku harus bertanya ke bagian administrasi rumah sakit," ujar Diftha ikut-ikutan berseloroh.


"Biayanya masih belum pasti karena kita perlu melakukan screening dulu pada Gizta, Diftha!"


"Dan lagi cedera otak setiap pasien itu tak pernah sama, jadi aku mungkin hanya bisa memberikan gambaran tentang rentang biaya yang perlu kau persiapkan dulu," tukas Saskia sembari mengeluarkan kertas dan pena ke atas meja.


"Aku yakin kalau angkanya tiga digit," tebak Diftha sembari menghela nafas seolah sedang grogi.


"Nanti aku bantu bicara pada pihak rumah sakit agar kau bisa mengangsur biayanya," janji Saskia seraya tertawa kecil. Tangan gadis itu lalu lihai menuliskan deretan angka di atas kertas, sebelum kemudian menunjukkannya pada Diftha.


"Astagfirullahhal'adzim!" Diftha langsung ber-istughfar sembari mengusap wajahnya, setelah pria itu membaca deretan angka yang ditulis oleh Saskia.


"Ini hanya perkiraan, Diftha! Masih bisa kurang dari ini. Jadi jangan terlalu diambil pusing," ujar Saskia yang buru-buru menenangkan Diftha.


"Masih bisa kurang berarti bisa lebih juga?" Diftha kembali pesimis.

__ADS_1


"Nanti aku bantu bicara pada pihak rumah sakit perihal semua biayanya. Yang terpenting sekarang adalah melakukan usaha yang terbaik untuk Gizta," nasehat Saskia lagi tetap berusaha menenangkan Diftha.


"Ya!"


"Tapi mungkin aku hanya akan mampu membayar uang mukanya," tukas Diftha tetap dengan raut wajah tak yakin.


"Tidak usah khawatir soal uang muka biaya perawatan Gizta. Karena dua puluh lima persen dari angka yang aku tulis ini, sudah dibayar oleh seseorang..." Saskia menatap penuh isyarat pada Diftha yang langsung mengernyit bingung.


"Jangan bilang kalau kau-"


"Bukan aku!" Sanggah Saskia cepat sembari mengeluarkan sebuah buku kecil dari laci meja.


"Kau bisa membacanya sendiri," ujar Saskia kemudian seraya menyodorkan buku tadi pada Diftha.


Diftha membaca sampul depan buku di tangannya yang bertuliskan sebuah nama,


"Yeshara Vanna Faubel"


"Shara?" Gumam Diftha pelan.


"Ya! Itu adalah nama panjang Shara," jawab Saskia memberitahu Diftha.


Diftha kemudian membuka buku kecil tersebut yang didalamnya terdapat kotak-kotak berisi angka dan sudah disilang.


Lalu pada bagian atas terdapat tulisan yang dipertebal dengan stabillo.


"Tabungan untuk operasi Gizta."


Diftha tertegun sejenak, sebelum kemudian tangannya bergerak untuk membuka halaman berikutnya yang berisi kotak-kotak bertuliskan angka juga. Bahkan hampir semua halaman di buku kecil tersebut berisi hal yang sama.


"Semoga nanti Gizta bisa ditangani oleh Kak Kia."


"Akan butuh biaya yang tidak sedikit. Semoga tabunganku bisa secepatnya terkumpul."


"Nanti aku bantu masalah biaya-"


"Sama sekali tidak merepotkan karena bagiku, Gizta juga adalah adikku."


"Itu semua adalah uang yang sudah Shara kumpulkan untuk menyokong biaya operasi Gizta." Ucapan Saskia langsung membuyarkan lamunan Diftha.


"Shara begitu menyayangi Gizta, Dift! Jadi kau harus menghargainya," ujar Saskia lagi yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Shara memang selalu menganggap Gizta sebagai adiknya..." Diftha sedikit menerawang sebelum kemudian menatap lagi pada buku catatan Shara yang masih berada di tangannya.


"Terima kasih, Shara! Semoga kebaikanmu ini mendapat balasan langsung dari Tuhan," gumam Diftha kemudian berdoa untuk Shara.


****


Diftha baru saja membuka pintu kamar perawatan Gizta, saat terdengar suara merdu dari seseorang yang sepertinya sedang membaca Al-Qur'an di dalam kamar.


Diftha langsung melemparkan tatapannya ke arah seseorang berjilbab maroon yang kini duduk di samping bed perawatan Gizta.


Ya, dua hari yang lalu Gizta baru selesai menjalani operasi di kepalanya dan juga sudah sadar. Namun kata Saskia, Gizta masih harus dirawat di rumah sakit untuk pemulihan pasca operasi.


"Shadaqallahul'adzim," ucao Saskia yang rupanya sudah selesai membaca Al-Qur'an. Gadis itu lalu menoleh pada Diftha yang masih mematung di dekat pintu masuk.


"Sudah pulang, Diftha?" Sapa Saskia, sembari memasukkan Al-Qur'an ke dalam tasnya.


"Ya!" Diftha akhirnya mendekat ke arah Saskia.


"Aku baru selesai praktek tadi dan mampir ke sini untuk menjenguk kondisi Gizta."


"Dia sudah bangun dan ngobrol sebentar tadi kata Mbak Ida," cerita Saskia pada Diftha.


"Lalu Mbak Ida mana?" Tanya Diftha yang tak mendapati perawat Gizta itu di dalam ruangan.

__ADS_1


"Sedang ke kafetaria membeli makanan," jawab Saskia sembari meraih tasnya.


"Oh, ya. Ngomong-ngomong, Paman--"


"Maksudku Dokter Faris ingin bicara padamu. Tadi beliau berpesan agar kau menemuinya," ujar Saskia kemudian yang langsung membuat Diftha sedikit mengernyit.


Dokter Faris adalah dokter bedah saraf senior yang beberapa hari lalu dikenalkan oleh Saskia pada Diftha. Dokter Faris juga yang memimpin operasi Gizta. Kata Saskia, Dokter Faris adalah salah satu dokter senior dan berpengalaman di rumah sakit temoat Saskia bekerja sebelum pindah kesini. Dan secara kebetulan Saskia cukup dekat dengab Dokter Faris juga, makanya Saskia bisa meminta bantuan pada dokter senior itu untuk menangani Gizta.


"Dokter Faris akan pulang malam ini, jadi sebaiknya-"


"Assalamualaikum!" Saskia belum menyelesaikan kalimatnya saat sudah terdengar salam dari pintu kamar perawatan.


"Walaikum salam!" Jawab Saskia dan Diftha serempak. Rupanya yang datang adalah Dokter Faris.


"Sore, Dokter!" Diftha sedikit berbasa-basi pada dokter paruh baya tersebut.


"Sore! Sudah pulang?"


"Saya baru saja mau menemui dokter," ungkap Diftha kemudian yang hanya membuat Dokter Faris mengulas senyum.


"Gizta bagaimana, Kia?" Dokter Faris ganti bertanya pada Saskia.


"Sejauh ini kondisinya sudah stabil, Pa-" Saskia membungkam mulutnya dengan cepat yang tentu saja kembali membuat Diftha mengernyit.


Sepertinya ini kali kedua Saskia hampir memanggil paman pada Dokter Faris. Apa jangan-jangan...


"Sudah stabil, berarti sudah bisa ditinggal, ya?" Dokter Faris manggut-manggut.


"Dokter sudah mau pulang?" Tanya Diftha yang sebenarnya masih bertanya-tanya mengenai hubungan Dokter Faris dan Saskia.


Entahlah, Diftha merasa ada yang aneh.


"Iya, dua jam lagi pesawatnya berangkat, Diftha."


"Nanti setelah ini Saskia yang akan bertanggung jawab mengawasi Gizta," ujar Dokter Faris seraya menepuk punggung Diftha yang hanya mengangguk.


"Terima kasih sekali lagi, Dokter! Karena sudah jauh-jauh kemari demi menangani operasi Gizta," ucap Diftha tulus.


"Ucapkan terimakasih juga pada Kia yang sudah membujuk dan memaksaku datang kesini." Kedua telunjuk Dokter Faris membentuk tanda kutip yang tentu saja langsung membuat Saskia salah tingkah. Diftha tentu saja semakin bertanya-tanya sekarang.


"Kau akan mengantar Paman ke airport, Kia? Atau paman naik taksi saja?" Tanya Dokter Faris selanjutnya yang langsung membuat Saskia menghampiri Dokter senior tersebut.


"Iya, Kia antar!" Jawab Saskia sedikit bergumam.


"Aku akan mengantar Paman Dokter dulu, Diftha,'" pamit Saskia kemudian pada Diftha yang masih terlihat bingung.


"Diftha!"


"I--iya!" Jawab Diftha sedikit tergagap.


"Hati-hati!" Ucap Diftha lagi.


"Saskia ini keponakan kesayanganku, Diftha!" Ujar Dokter Faris kemudian seraya berpamitan pada Diftha yang entah mengapa malah bernafas lega sekarang.


Aneh!


Tapi tadi Diftha memang sudah berpikir macam-macam. Konyol!


"Assalamualaikum!" Pamit Saskia kemudian yang langsung membuat Diftha mengulas senyum.


"Walaikum salam."


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2