Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
INI MILIKMU?


__ADS_3

Klunting!


Diftha langsung menatap pada benda logam yang sepertinya terjatuh dari dalam blouse Shara. Diftha lalu bergegas untuk berjongkok dan hendak memungutnya, saat kemudian Diftha menyadari benda apa yang barusan terjatuh....


Sebuah kalung dengan bandul yang tak asing untuk Diftha, karena Diftha kerap melihat teman-teman kantornya yang beragama nasrani mengenakan bandul kalung yang serupa.


Difha akhirnya memungut kalung salib tersebut, dan menyodorkan pada Shara yang kini hanya diam mematung.


"Ini milikmu, Sha?" Tanya Diftha to the point, dengan raut wajah yang bahkan tak berani Shara lihat sekarang.


"I---"


"I--ya," jawab Shara tergagap sembari mengambil kalungnya dari Diftha yang langsung memejamkan mata, dan memalingkan sejenak wajahnya dari menatap Shara.


Rasa sakit yang pernah muncul satu tahun silam, saat Diftha mengerahui kalau Reina ternyata adalah calon tunangan Angga, mendadak hari ini kembali muncul lagi.


Tidak!


Yang kali ini rasanya bahkan lebih sakit!


Shara sudah dengan cepat, menyimpan kalungnya tadi ke dalam tas, lalu meraih keranjang belanja berisi baju-baju Gizta.


"Sebaiknya kita ke kasir sekarang," ucap Diftha kemudian dengan suara yang bergetar, sembari kedua tangan pria itu mencengkeram pegangan kursi roda Gizta. Diftha lalu mendorong kursi roda Gizta ke arah kasir, dan Shara mengekor di belakang Diftha tanpa berucap sepatah katapun. Hanya sesekali Shara mengangkat wajah untuk menatap pada punggung Diftha yang kini berjalan di depannya.


"Sudah semua, Bu?" Sapa kasir seraya tersenyum ramah. Bibir Shara bahkan terasa kaku untuk sekedar membalas senyuman ramah dari kasir.


Satu persatu barang di dalam keranjang belanja mulau di-scan oleh kasir. Hingga akhirnya saat dua pashmina yang tadi diam-diam dipilih Diftha untuk Shara hendak di-scan barcode-nya, Diftha buru-buru mencegah.


"Mbak, maaf! Dua barang itu tidak jadi kami beli," ujar Diftha cepat sembari menunjuk ke dua pashmina yang tersisa di dalam keranjang belanja.


"Tidak jadi?"


"Iya! Tolong dikembalikan saja dan kami benar-benar minta maaf," ucap Diftha sekali lagi dengan nada penyesalan.


"Baik, Pak!"

__ADS_1


"Kenapa tidak jadi dibeli, Dift? Aku akan menyimpan-"


"Hanya menyimpan dan tak akan pernah memakainya," sela Diftha balik berbisik pada Shara yang langsung terdiam.


"Sudah semua, Pak? Totalnya satu juta dua ratus lima puluh ribu," ucapan kasir membuat Diftha kembali menghela nafas, lalu pria itu segera mengeluarkan kartu debet dari dalam dompetnya untuk membayar semua belanjaan.


Shara dengan cekatan, mengambil alih kursi roda Gizta, lalu mendorongnya keluar dari toko, meninggalkan Diftha yang masih melakukan transaksi.


Sesaat setelah Shara dan dan Gizta di mobil, Diftha juga sudah menyusul keluar sembari membawa paperbag berisi baju-baju Gizta.


"Kita langsung pulang-"


"Bertemu dokter dulu, Dift!" Sela Shara cepat.


"Aku sudah membuat janji tadi," ujar Shara lagi yang hendak mengeluarkan ponselnya namun dicegah oleh Diftha.


"Aku mengerti," ucap Diftha cepat yang sudah membuka pintu mobil. Diftha lalu debgan cekatan memindahkan Gizta ke dalam mobil, sementara Shara langsung melipat kursi roda Gizta dan memasukkannya ke dalam bagasi.


Tak berselang lama, mobil sudah melaju menuju ke klinik, dan hanya ada kebisuan di antara Diftha dan Shara sepanjang perjalanan. Sementara Gizta yang duduk di jok belakang malah sudah terlelap.


****


"Sudah hampir jam empat," gumam Diftha sembari melihat arloji di tangannya.


"Sholat saja dulu, Dift! Nanti ketimbang telat kalau menunggu sampai di rumah," saran Shara kemudian.


"Sore-sore jalanan biasanya kan macet," imbuh Shara lagi.


"Baiklah," putus Diftha akhirnya sembari melepaskan arloji di tangannya.


"Kau dan Gizta bisa menunggu di sana," ujar Diftha lagi menunjuk ke deretan kursi yang berada di dekat masjid.


"Ya!" Jawab Shara sembari mengulas senyum. Shara lalu memperhatikan Diftha yang bergegas masuk ke dalam masjid, hungga pria itu tak terlihat lagi. Shara lanjut mendorong kursi roda Gizta ke kursi taman yang tadi dimaksud Diftha, lalu duduk di sana sembari menunggu Diftha selesai menunaikan sholat.


"La---par--" keluh Gizta pada Shara yang sedikit melamun.

__ADS_1


"Iya, ada apa, Gizt?"


"La--par-- Kak!" Ucap Gizta sekali lagi.


"Oh, lapar." Shara bergegas mengeluarkan roti dari dalam tas ransel yang tergantung di belakang kursi roda Gizta. Tak lupa Shara juga mengambil air minum untuk Gizta.


"Berdoa dulu." Shara membimbing Gizta agar membaca doa terlebih dahulu, sebelum Shara mulai menyuapi gadis itu.


Setelah Gizta selesai membaca doa, Shara lanjut menyuapi Gizta dengan telaten dan hati-hati. Satu bungkus roti nyaris dihabiskan Gizta, hingga Diftha kembali dari dalam masjid.


"Gizta kelaparan, ya?" Tanya Diftha yang sudah menghampiri Shara dan juga Gizta.


"Nanti aku langsung pulang saja setelah dari sini," ucap Shara yang sudah ganti membantu Gizta untuk minum.


"Terapi Gizta bagaimana?"


"Besok aku akan ke rumah-"


"Besok hari Minggu," sergah Diftha mengingatkan. Hari Minggu memang identik dengan hari ibadah umat nasrani.


"Aku ikut ibadah pagi. Jadi pulang ibadah aku bisa langsung ke rumah untuk mengganti terapi Gizta hari ini," tukas Shara cepat menjelaskan pada Diftha.


"Baiklah, terserah kau saja," ujar Diftha akhirnya.


Gizta sudah selesai minum, dan Shara segera membersihkan sisa-sisa makanan di wajah Gizta, setelah beres semua, Shara lalu bangkit berdiri dan bersiap untuk mendorong kursi roda Gizta.


"Sudah?" Tanya Diftha yang sejak tadi diam.


"Sudah!"


"Ayo pulang!" Ajak Shara yang stdah melangkah duluan sembari mendorong kursi roda Gizta. Sementara Diftha memilih untuk berjalan di belakang Shara sambil tak berhenti memperhatikan punggung gadis di depannya tersebut.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2