Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
PENGAKUAN


__ADS_3

"Motor siapa yang kamu bawa, Sha?" Tanya Pak Rudi yang kebetulan sedang berada di teras, saat Shara tiba di rumah.


"Motor Diftha, Pak!"


"Tadi pas mau pulanh, motor Shara bannya bocor dan bengkel di dekat rumah Diftha pas tutup."


"Jadi Diftha menyuruh Shara membawa motornya saja," cerita Shara panjang lebar.


"Ketimbang Shara diantar Diftha, nanti Bapak atau Ibuk malah mikir yang tidak-tidak!" Lanjut Shara lagi seraya bergumam dan berlalu masuk ke dalam rumah.


"Bukan mikir yang tidak-tidak, Sha!" Sergah Pak Rudi cepat.


"Kami hanya mengantisipasi, agar kau itu tidak mengambil jalan yang salah!" lanjut Pak Rudi lagi.


Shara tak jadi masuk ke rumah dan gadis itu kini berdiri di ambang pintu.


"Jangan kamu pikir Ibuk dan Bapak ini tidak bisa melihat sorot matamu pada Diftha!"


"Kami sudah pengalaman dan tahu betul kalau kau itu sudah ada tanda-tanda-"


"Tanda-tanda apa maksud Bapak?" Sergah Shara menyela.


"Tanda-tanda kalau kau suka pada Diftha! Atau mungkin kau sudah jatuh cinta," ujar Pak Rudi sedikit menyindir Shara yang terlihat menghela nafas.


"Memang apa salahnya kalau Shara jatuh cinta pada Diftha, Pak?"


"Bukankah setiap orang punya hak untuk dicintai dan mencintai!" Tutur Shara seolah sedang mencari pembenaran.


"Memang benar!"


"Kau boleh mencintai siapa saja. Kau boleh jatuh cinta pada siapa saja!"


"Tapi jangan sampai rasa cintamu itu membuat kau meninggalkan Tuhan, Shara!" Ucap Pak Rudi dengan penekanan di akhir kalimat seolah sedang memperingatkan Shara.


"Shara tidak pernah meninggalkan Tuhan!"


"Kenapa Bapak bisa berpikir sejauh itu?" Sergah Shara tak terima.


"Karena kadang rasa cinta membuat seseorang buta dan lupa," jawab Pak Rudi yang langsung membuat Shara terdiam.


"Tapi Bapak harap, kau tidak termasuk orang-orang yang buta dan lupa hanya karena cinta, Shara!" Ujar Pak Rudi lagi seolah sedang berpesan pada Shara yang masih membisu.


Shara tak berucap apa-apa dan gadus itu memilih untuk mengayunkan langkahnya ke dalam rumah.


"Baru pulang, Sha? Lama sekali terapinya?" Sapa Bu Maria yang baru datang dari arah dapur seraya membawa nampan berisi dua cangkir teh.


"Shara harus menemani Gizta, Buk!" Jawab Shara sekenanya, sebelum gadis itu lanjut menuju ke kamarnya.


Braak!


Shara menutup pintu lumayan keras, hingga membuat Bu Maria geleng-geleng kepala.


"Marah?" Tanya Pak Rudi saat Bu Maria sampai di teras dan memindahkan cangkir teh dari nampan ke qtas meja teras.


"Bapak ngomong apa tadi?" Tanya Bu Maria penuh selidik.


"Hanya menasehati dan mengingatkan, Buk!"


"Apa Bapak salah?" Pak Rudi menyesap teh yang masih mengepulkan asap.


"Tidak salah!" Pendapat Bu Maria cepat.


"Kita memang harus tegas pada Shara sebelum terjadi hal yang tak diinginkan."


"Meskipun ibuk yakin kalau iman Shara itu kuat dan gadis itu tak akan goyah dengan keyakinannya," ujar Bu Maria lagi penuh keyakinan.


"Tetap saja kota harus terus mengingatkan Shara agar tak kecolongan, Buk!" Sergah Pak Rudi yang langsung membuat Bu Maria mengangguk setuju. Pasangan paruh baya tersebut lanjut mengobrol beberapa hal sembari menikmati teh hangat dan kue yang tadi disajikan Bu Maria.


****


Ping!


Shara baru selesai mandi, saat ponsel gadis itu yang masih berada di dalam tas berbunyi. Segera Shara mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan.


Diftha!


[Hai, sudah sampai rumah?] -Diftha-


Bibir Shara seketika langsung menunggu senyum, setelah gadis itu membaca pesan dari Diftha. Padahal tadinya Shara pikir Diftha akan mulai menjaga jarak darinya setelah terkuaknya perbedaan keyakina di antara mereka berdua.


Namun rupanya, dugaan Shara tersebut keliru!


Sikap Diftha masih tetap sama pada Shara.


[Sudah! Baru saja selesai mandi] -Shara-

__ADS_1


Shara bergegas mengirimkan pesan balasan untuk Diftha, setelah ia selesau mengetik.


[Motornya tidak mogok di jalan, kan? Tadi aku sempat was-was] -Diftha-


[Memang pernah mogok?] -Shara-


Cukup lama Shara menunggu balasan pesan dari Diftha masuk ke ponselnya. Apa mungkin Diftha masih sibuk?


[Iya,pernah mogok beberapa kali saat aku pakai menerobos banjir] -Diftha-


Pesan dari Diftha masuk selang setengah jam. Namun Shara masih tetap antusias membaca pesan dari Diftha dan membalasnya.


[Maaf, baru balas! Tadi sedang membantu Gizta makan] -Diftha-


[Gizta sudah makan sebelum aku pulang tadi] -Shara-


[Katanya lapar lagi] -Diftha-


[Makan sendiri, kan? Kau tidak menyuapinya, kan?] -Shara-


[Lama kalau makan sendiri] -Diftha-


Shara berdecak dan segera menekan tombol panggil di kontak Diftha. Telepon langsung diangkat di dering pertama.


"Halo!"


"Kan aku sudah bilang, Diftha!" Ucap Shara dengan nada geram.


"Hanya sekali ini saja! Tidak akan berpengaruh dan Gizta pasti tetap bisa makan sendiri besok."


"Ck!" Shara berdecak dan sedikit kesal dengan ketidakkonsistenan Diftha.


"Bukankah katamu progres perkembangan Gizta sudah bagus? Jadi aku yakin kalau-"


"Tapi kita tetap harus konsisten membiarkan Gizta makan sendiri!" Pendapat Shara dengan nada tegas.


"Iya, besok aku tak akan menyuapi Gizta lagi."


"Toh kemarin Ibu kamu juga menyuapi Gizta kan? Saat kalian menginap."


"Tahu darimana?" Tanya Shara penuh selidik.


"Cerita Gizta."


"Gizta sekarang sudah cerewet lagi berkat kamu."


"Ya! Mukjizat dari Allah."


"Dari Allah," Shara menirukan kalimat Diftha sembari bergumam.


"Ngomong-ngomong, kau tadi mengambil foto Gizta yang memakai pashmina, kan?"


"Iya! Tadi hanya iseng karena aku menunggu kau bangun."


"Gizta mendadak ingin mencoba scarf-"


"Maksudku pashmina," koreksi Shara cepat.


"Kau biasanya memakai benda itu sebagai scarf?" Tebak Diftha sok tahu.


"Bukan aku, tapi Ibuk!", Sanggah Shara cepat.


"Biasanya ibuk suka memakai scarf seperti itu saat ke gerja," lanjut Shara lagi.


"Oh!"


"Kau tidak memakainya?"


Shara menggeleng sebelum kemudian gadis itu menyadari kalau Diftha tak bisa melihat gelengan kepalanya saat ini.


"Tidak!" Shara akhirnya menjawab pertanyaan tak penting dari Diftha barusan.


"Jadi, kau tadi mau menanyakan apa?" Tanya Shara selanjutnya mengembalikan pembahasan ke topik awal.


"Foto Gizta tadi masih ada di ponselmu?"


"Yang memakai pashmina? Ada!" Jawab Shara cepat.


"Bisa kau kirimkan fotonya ke ponselku? Aku mau mencetaknya besok karena Gizta tadi terlihat cantik sekali."


"Dan kau pandai sekali memakaikannya pada Gizta-"


"Aku melihat tutorial tadi," sergah Shara berkata jujur.


"Benarkah? Tapi hasilnya tetap bagus dan cantik."

__ADS_1


"Kau mau aku pakaikan juga?" Seloroh Shara sembari tergelak yang membuat Diftha turut tergelak juga di ujung telepon.


"Nanti saja biar calon kakak ipar Gizta yang memakainya!"


"Aamiin!"


Shara terdiam sejenak saat Diftha menyinggung perihal calon kakak ipar Gizta. Rupanya Diftha punya kriteria tersendiri tentang calon istrinya kelak. Seorang gadis berhijab yang pastilah seiman dengan Diftha.


Shara kemudian tersenyum kecut karena hatinya mendadak terasa sakit dan seolah tak terjika Diftha harus bersanding bersama gadis lain nantinya.


Tapi Shara bisa apa?


Dalam hal keyakinan saja Shara sudah tak memenuhi kriteria seperti yang Diftha inginkan!


"Sudah ada memang calon kakak ipar untuk Gizta?" Tanya Shara akhirnya memecah kebisuan, setelah gadis itu berhasil menguasai emosinya.


"Masih tahap pencarian."


"Entahlah." Terdengar tawa sumbang dari Diftha.


"Yang sebelumnya tidak memenuhi kriteria, ya?" Seloroh Shara kemudian ikut-ikutan tertawa sumbang. Kebisuan kembali menyergap.


"Aku tak mengerti dengan maksud kalimatmu tadi-"


"Lupakan saja!" Sergah Shara cepat.


"Aku hanya bergurau," imbuh Shara lagi.


"Shara....."


"Aku baik-baik saja!" Shara menyeka airmata yang mebdadak menggenanh di pelupuk matanya. Shara bahkan tidak tahu kenapa dirinya menangis sekarang.


"Shara, tolong katakan kalau kau belum merasakan perasaan itu-"


"Kau sendiri bagaimana?" Sergah Shara yang balik bertanya pada Diftha.


"Kau terlihat kecewa kemarin hingga jatuh sakit-"


"Aku sakit karena kelelahan!" Diftha menyangkal tuduhan Shara dengan cepat.


"Tapi hatimu merasa kecewa, kan?" Tanya Shara to the point."


"Kita bahkan belum pernah mengungkapkan perasaan masing-masing." Kembali terdengar tawa sumbang Diftha dari ujung telepon.


"Tapi sekarang kita sama-sama terluka," timpal Shara yang hanya ditanggapi Diftha dengan kebisuan.


"Kadang, orang dewasa tak memerlukan lagi sebuah deklarasi hubungan, karena semua sudah bisa terungkap melalui tatapan mata dan juga kata-kata." ujar Shara lagi mengungkapkan pendapatnya.


"Bahasa tubuh," imbuh Shara lagi.


"Agamaku melarang hubungan berbeda keyakinan, Shara! Aku yakin kalau agamamu juga sama."


"Lalu, jika kita sudah terlanjur saling mencintai?" Tanya Shara dengan nada lirih.


"Maka kita harus menbuang semua perasaan itu!"


"Kau bisa melakukannya?" Tanya Shara dengan kalimat penuh penekanan.


"Aku sedang berusaha!"


Shara langsung tertawa kecil mendengar kalimat terakhir Diftha. Ternyata dugaan Shara benar adanya!


Diftha ternyata juga merasakan perasaan yang sama, seperti yang dirasakan oleh Shara.


"Sha! Kau tidak makan malam?" Suara Bu Maria dari luar kamar langsung membuat Shara menghela nafas.


"Sebentar, Buk!" Jawab Shara akhirnya.


"Cepatlah!"


"Iya, Buk!" Jawab Shara yang kembali menghela nafas.


"Sebaiknya kau makan dulu!" Diftha akhirnya buka suara lagi.


"Ya!"


"Terima kasih atas pengakuanmu barusan, Diftha! Aku sudah lega sekarang," Pungkas Shara sembari jarinya bergerak cepat mematikan telepon dari Diftha.


Shara bahkan tak memberikan Diftha kesempatan untuk bicara!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2