
Diftha masih berdiri sembari termenung di depan rumah sakit. Sesekali pria itu akan mengarahkan pandangannya pada beberapa orang yang baru datang ke rumah sakit dengan langkah tergesa, serta raut wajah sendu. Sangat bisa ditebak kalau itu pastilah para keluarga dari mereka yang menjadi korban kecelakaan beruntun siang ini.
"Aku hanya mencintaimu dan sampai mati aku hanya akan tetap mencintaimu, Diftha!"
"Jadi aku akan melakukan apapun agar kita bisa bersama, dan agar aku bisa menikah denganmu!"
Kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Shara beberapa saat lalu terus saja terngiang di kepala Diftha.
"Aku hanya mencintaimu, Diftha!"
"Sampai mati aku hanya akan tetap mencintaimu!"
"Diftha!" Teguran dari seorang wanita paruh baya langsung membuyarkan lamunan Diftha. Bu Maria rupanya sudah berdiri di hadapan Diftha bersama seorang gadis berjilbab yang wajahnya terlihat asing.
"Bu--"
"Itu tas Shara?" Bu Maria langsung menunjuk ke tas Shara yang sejak tadi memang dibawa oleh Diftha. Tadi saat Diftha tiba di rumah sakit, mobil pick up yang membawa Shara juga baru saja tiba. Jadi Diftha bergegas mengamankan barang Shara sekalian menghubungi Bu Maria.
"Denyut nadinya masih ada! Cepat berikan pertolongan!!" Diftha berteriak pada beberapa perawat yang berlalu-lalang di UGD untuk memberikan pertolongan pada para korban kecelakaan.
"Selamatkan dia! Tolong selamatkan dia!" Mohon Diftha bersamaan dengan tubuhnya yang dipaksa untuk keluar dari ruang UGD rumah sakit. Diftha akhirnya berinisiatif untuk menghubungi Bu Maria memakai ponsel Shara yang sama sekali tak memakai kata sandi.
Namun baru saja Diftha mengabari Bu Maria tentang apa yang terjadi, tiba-tiba brankar Shara sudah didorong keluar dari UGD, lalu seorang perawat dengan cepat menutupi tubuh Shara memakai kain putih hingga ke atas kepala.
"Suster, sebentar!" Diftha dengan cepat menahan langkah perawat tadi yang hendak kembali masuk ke dalam UGD.
"Kenapa-" Diftha menunjuk ke arah tubuh Shara tanpa mampu menyusun kalimat pertanyaan.
"Nyawanya tak bisa diselamatkan. Kami turut berduka, Pak!" Ucap perawat tadi singkat yang langsung membuat hati Diftha mencelos. Diftha lalu kembali menatap ke tubuh Shara yang sudah terbaring kaku. Diftha melangkah gontai untuk menghampiri jasad Shara, lalu membuka sekilas kain yang menutupi wajah gadis itu. Wajah Shara bahkan terlihat tenang dan hanya seperti sedang tertidur. Tak ada luka di wajah Shara. Kemungkinan meninggalnya Shara karena luka dalam karena tubuhnya terjepit body taksi yang ia tumpangi.
"Innalillahi wa inna illaihi roji'un," gumam Diftha pelan seraya menutup kembali kain putih yang menutupi wajah Shara. Susah payah Diftha menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit.
__ADS_1
Kenapa harus secepat ini Shara pergi?
"Diftha, Shara dimana?" Pertanyaan Bu Maria seolah membangunkan Diftha dari lamunannya tentang kejadian beberapa saat lalu. Diftha lalu menatap sedikit linglung pada wanita paruh baya di hadapan tersebut.
"Shara dimana, Diftha?" Bu Maria bertanya sekali lagi.
"Di sana!" Jawab Diftha akhirnya sembari menunjuk ke deretan brankar-brankar yang berada di sepanjang lorong di dekat UGD.
"Shara!" Gadis berjilbab yang tadi datang bersama Bu Maria sudah menutup mulutnya dengan telapak tangan sembari terisak. Sementara Bu Maria terlihat melangkah ke deretan brankar, lalu memeriksa satu persatu wajah yang tertutup kain putih tersebut.
Hingga akhirnya Bu Maria berhenti di brankar Shara, lalu tubuh wanita paruh baya itu tampak berguncang, sebelum kemudian ia ganti memeluk tubuh sang putri yang sudah tak bernyawa. Diftha memilih untuk memalingkan wajahnya karena merasa tak kuasa menahan kesedihan saat melihat bagaimana sedihnya seorang ibu yang kehilangan putri tunggalnya.
Andai tadi Diftha mencegah Shara meninggalkan kafe, lima menit saja mungkin Shara tak akan ikut menjadi korban kecelakaan. Andai Diftha mau mengejar Shara dan menahan Shara sebentar saja, mungkin Bu Maria tak akan menangisi jasad Shara sekarang.
Tapi apa mau dikata.
Semua sudah suratan takdir dari Allah SWT.
"Apa kalian tadi bertemu?" Tanya Bu Maria kemudian setelah tangis wanita paruh baya itu reda. Kini Bu Maria sudah terlihat tegar dan ikhlas.
"Kami bertemu di kafe. sekitar lima belas menit sebelum berita kecelakaan, Bu," jawab Diftha bercerita secara jujur.
"Sarah berkata apa? Dia mau berpindah keyakinan dan mengikuti keyakinanmu?" Tabya Bu Maria selanjutnya yang entah mengapa tebakannya begitu tepat sasaran.
"Diftha berani bersumpah kalau Diftha tak pernah memaksa Shara, Buk!" Jawab Diftha kemudian yang langsung membuat Bu Maria mengangguk.
"Shara memang keras kepala!"
"Tapi syukurlah Tuhan sudah menyelamatkan dia dari jalan yang salah sekarang."
"Saat Shara berniat untuk mengkhianati Tuhan..."
__ADS_1
"Tuhan justru langsung membawanya pergi ke surga karena Tuhan tidak rela Shara mengambil jalan yang salah. Tuhan begitu menyayangi Shara!" Tutur Bu Maria yang benar-benar membuat Diftha tak lagi bisa berkata-kata.
Bukan ranah Diftha untuk membenarkan atau menyalahkan perkataan Bu Maria tadi. Satu hal yang membuat Diftha salut adalah penerimaan serta prasangka baik Bu Maria pada Tuhan-nya atas kepergian Shara. Karena jika Diftha yang berada di posisi Bu Maria, belum tentu Diftha akan langsung setegar Bu Maria.
"Shara sudah bahagia di surga bersama Tuhan, Kia!" Bu Maria ganti berkata pada gadis berjilbab di sebelahnya yang sejak tadi tak berhenti merangkul serta mengusap-usap punggung Bu Maria.
"Iya, Buk!" Jawab gadis itu kemudian nyaris tanpa suara.
Diftha kemudian menatao sejenak pada gadis yang dipanggil Kia oleh Bu Maria tadi. Namanya seperti tidak asing....
"Dulu Kak Kia juga sering melakukannya, terutama setelah kedua orang tuanya meninggal."
"Kak Kia itu siapa?"
"Kakak angkatku."
Diftha menatap sekali lagi pada gadis berjilbab bernama Kia itu, setelah ingat percakapannya dengan Shara tempo hari di rumah sakit.
Ya, itu adalah Kak Kia yang merupakan kakak angkat Shara!
Dering ponsel dari saku Diftha, langsung membuat Diftha mengakhiri tatapannya pada Kia yang masih merangkul Bu Maria. Diftha lalu memilih untuk menjauh dari Bu Maria dan juga Kia sebelum mengangkat telepon
"Meeting? Jam berapa?" Diftha langsung melihat arlojinya, setelah sang sekretaris yang berbicara di ujung telepon memberitahu tentang jadwal meeting.
"Iya, aku ke kantor sekarang!" Ujar Diftha akhirnya sambil bergegas menutup telepon. Diftha lalu berpamitan pada Bu Maria sambil mengucapkan belasungkawa sekali lagi.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.