
Shara menatap ke arah langit yang beranjak gelap. Gadis itu masih duduk di teras rumah Diftha sembari menunggu Diftha yang tak kunjung pulang.
"Mbak Shara masih belum pulang?" Teguran dari Mbak Ida segera menyentak lamunan Shara.
"Belum, Mbak!"
"Diftha biasa kalau lembur sampai jam berapa, ya, Mbak?" Tanya Shara seraya menatap pada Mbak Ida.
"Tidak pasti, Mbak!"
"Kadang habis maghrib sudah pulang. Kadang sampai jam delapan juga kalau ada acara di luar," jelas Mbak Ida yang langsung membuat Shara menghela nafas.
Ponsel Shara yang berada di dalam tas terasa bergetar. Pasti Bu Maria lagi yang menelepon!
Tak berselang lama, kumandang adzan maghrib sudah terdengar dari masjid yang tak jauh dari rumah Diftha.
"Saya masuk dulu, Mbak Shara. Mau sholat," izin Mbak Ida kemudian memecah kebisuan.
"Iya, Mbak! Silahkan," jawab Shara lirih tanla sedikitpun beranjak dari duduknya. Shara hanya menengok sebentar ke dalam rumah, dimana Mbak Ida sudah masuk ke kamar Gizta dan sepertinya akan membantu Gizta sholat.
Shara menghela nafas sekali lagi, dan ponselnya kembali bergetar. Shara akhirnya mengangkat telepon dari Bu Maria.
"Shara-"
"Iya, Buk! Shara pulang sebentar lagi," jawab Shara cepat sebelum Bu Maria memulai omelannya. Tatapan mata Shara sekali lagi tertuju ke arah gerbang dimana ada suara mobil mendekat.
Semoga itu adalah Diftha!
"Kau dimana? Masih di rumah Gizta?"
"Masih, Buk! Gizta tak ada yang menjaga," jawab Shara berdusta.
"Ibuk dan Bapak akan kesana kalau begitu. Nanti sekalian menjemput kamu."
"Diftha memang belum pulang atau keluar kota lagi?"
"Mmmmm, Diftha hanya lembur dan akan pulang sebentar lagi."
"Jadi Bapak dan Ibuk tidak usah datang!" Ujar Shara cepat mengungkapkan sederet alasan.
"Sebentar berapa lama? Ini sudah gelap, Shara!"
"Iya, sebentar lagi, Buk!"
"Tiga puluh menit!" Shara kembali mengarahkan pandangannya ke pagar depan dimana ada suara mobil mendekat. Tapi lagi-lagi itu bukan Diftha dan hanya mobil yang sekedar lewat.
"Baiklah! Ibuk tunggu tiga puluh menit, kalau kau belum sampai di rumah, Ibuk dan Bapak langsung kesana menjemputmu!"
"Iya, Buk!" Jawab Shara sekbari menutup telepon dari Bu Maria.
Shara lalu melihat pesannya pada Diftha yang masih juga belum dibaca oleh pria itu. Apa Diftha marah pada Shara?
Atau Diftha sengaja menghindar?
Shara yang merasa tak tahan, akhirnya memilih untuk menelepon Diftha saja. Cukup lama Shara menelepon,namun rak kunjung diangkat oleh Diftha.
Diftha sedang di perjalanan?
"Mbak, masih belum pulang?" Pertanyaan Mbak Ida yang sudah kembali menghampiri Shara di teras, langsung membuat Shara kaget.
"Kak--Cha--ra--"
"Ma--sih--nung--guin-A--bang?" Gizta yang jiga ikut keluar, ikut-ikutan melontarkan pertanyaan pada Shara.
"Iya, Gizta!"
"Kakak harus mengembalikan motor Abang Diftha," jelas Shara lagi beralasan sekaligus menunjukkan kunci motor Diftha yang masih ia pegang.
"Kata Pak Diftha kuncinya bisa ditaruh di dalam saja, Mbak!"
"Kunci motor Mbak Shara kan tadi juga sudah saya berikan," tukas Mbak Ida yang langsung membuat Shara salah tingkah.
"I--iya, Mbak! Saya ada hal penting juga yang ingin saya bicarakan dengan Diftha," ujar Shara akhirnya kembali beralasan. Shara melirik ke arlojinya, lalu ke arah pagar lagi dimana ada sorot lampu kendaraan yang mendekat dan berhenti di depan pagar.
Tak berselang lama pintu pagar dibuka dari luar dan tampaklah Diftha yang baru pulang kerja.
"Akhirnya," gumam Shara seraya bernafas lega.
__ADS_1
Setelah membuka lebar pintu pagar, Diftha segera masuk kembali ke dalam mobil, lalu mengemudikan kendaraan tersebut masuk ke dalam garasi.
"Belum pulang, Sha?" Diftha berbasa-basi sejenak pada Shara, setelah pria itu masuk ke teras.
"Aku menunggumu," jawab Shara to the point.
"Kunci motormu sudah aku titipkan pada Mbak Ida," ujar Diftha sembari menunjuk ke motor Shara yang masih terparkir di garasi.
"Aku ingin bicara," Shara menatap penuh arti pada Diftha yang terlihat memejamkan matanya beberapa saat, sebelum kemudian pria itu menghela nafas dengan berat.
"Diftha..." Shara memohon pada Diftha yang akhirnya mengajak Shara untuk duduk di kursi teras.
"Soal obrolan kita di telepon beberapa hari yang lalu." Diftha memilih untuk buka suara terlebih dahulu karena Shara yang tak kunjung bicara.
"Sebaiknya kau lupakan saja!" Lanjut Diftha lagi seolah sudah bisa menebak maksud dari Shara yang ingin bicara padanya, hingga gadis ini rela menunggu dirinya pulang.
"Aku tidak bisa melupakannya. Lai sydah mengakuinya," tutur Shara yang langsung membuat Diftha berdecak dan mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.
"Tapi hubungan ini tak mungkin bisa berlanjut, Sha!"
"Kita berbeda!" Sergah Diftha yang kini sudah merengkuh kedua pundak Shara.
"Tapi orang-orang di luaran sana bisa menjalin hubungan bahkan menikah meskipun mereka berbeda keyakinan-"
"Hal itu tidak dibenarkan di dalam agamaku maupun agamamu, Shara!" Potong Diftha tegas.
"Aku memang bukan pria yang religius, bukan ustadz yang menguasai ilmu agama."
"Tapi aku tahu betul tentang batasan-batasan di dalam agamaku, Sha!"
"Tentang syarat-syarat menikah yang dibenarkan oleh agamaku..." Diftha menurunkan nada bicaranya yang tadi sempat meninggi.
"Aku tidak bisa menikah dengan gadis yang tidak seiman denganku," ucap Diftha lagi dengan nada serta tatapan tegas pada Shara.
"Aku akan mengikuti agamamu kalau begitu," balas Shara sembari tangannya berada di dada. Menggenggam sesuatu yang tersembunyi disana.
"Aku akan berpindah keyakinan," ulang Shara lagi yang semakin merem*s benda yang tadi ia genggam. Shara berusaha menarik lepas benda tersebut dari lehernya, namun tak berhasil.
"Hentikan, Sha!" Cegah Diftha cepat saat Shara berusaha melepaskan kalung salibnya.
"Aku akan berpindah dan mengikuti keyakinanmu, Diftha!"
Namun diluar dugaan, Diftha malah menggelengkan kepalanya ke arah Shara.
"Tidak semudah itu, Shara!"
"Berpindah agama harus kau lakukan dari hati, dan bukan hanya sekedar karena kau ingin menikah dengan seseorang yang kau cintai."
"Hati kecilmu bahkan tak menyetujui keinginanmu barusan," tutur Diftha yang langsung membuat Shara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi aku mencintaimu, Diftha!" Cicit Shara mulai putus asa.
"Kenapa kita tidak mencoba untuk menjalaninya dulu..."
"Menjalani berapa lama? Sampai kita sama-sama merasa sakit?" Sergah Diftha yang hanya membuat Shara menggeleng.
"Pasti akan ada titik terang, Diftha!".
"Pasti akan ada jalan keluar-"
"Tidak akan ada jalan keluar!" Tegas Diftha sekali lagi pada Shara.
"Satu-satunya jalan keluar adalah kita harus saling melupakan, Shara!"
"Aku tidak bisa!" Sergah Shara keras kepala.
Beep beep!
Suara klakson dari mobil yang berhenti di depan pagar rumah Diftha, menyela perdebatan Diftha dan Shara.
Seseorang yang keluar dari pintu depan mobil tadi, langsung bisa Diftha kenali.
"Orangtuamu sudah datang menjemput." Diftha mengambil beberapa lembar tisu dari atas meja, lalu menyodorkannya pada Shara.
"Kau tadi tidak lembur dan hanya menghindariku, kan?" Tebak Shara setelah gadis itu menghapus sisa-sisa airmata di wajahnya.
"Sebaiknya memang kita menjaga jarak, Shara!" Ucap Diftha tegas.
__ADS_1
"Aku akan menemukan jalan keluar-" Shara menjeda sejenak kalimatnya karena tatapan tajam dari Diftha.
"Pikirkan perasaan kedua orangtuamu!" Nasehat Diftha bijak.
"Aku sudah dua puluh lima tahun dan aku punya hak penuh untuk memilih keyakinan mana yang ingin aku peluk!"
"Shara!" Panggil Bu Maria yang sudah menghampiri Shara dan Diftha.
"Selamat malam, Bu!" Sapa Diftha berusaha tersenyum ramah pada Bu Maria.
"Malam, Diftha!"
"Baru pulang kerja?" Bu Maria sedikit berbasa-basi pada Diftha.
"Iya, Bu!"
"Shara sudah bilang kalau Shara akan pulang sendiri, Buk!" Ujar Shara sedikit menggerutu pada sang ibu.
"Sudah malam dan gelap, Shara!"
"Sebaiknya memang kau tidak berkendara sendiri malam-malam, Sha!" Ucap Diftha yang turut mendengar gerutuan Shara tadi.
"Kami titip motor Shara dulu, Nak Diftha!" Ujar Bu Maria kemudian pada Diftha yang langsung tersenyum ramah.
"Iya, Bu!"
"Dan kami juga langsung pamit," ujar Bu Maria lagi.
"Oh, iya!"
"Silahkan, Bu!" Jawab Diftha yang langsung mengantar Bu Maria ke pagar depan. Sementara Shara malah sudah masuk duluan ke dalam mobil kedua orangtuanya.
"Hati-hati, Pak, Bu!"
"Dan, terima kasih Shara karena sudah menjaga Gizta," ucap Diftha seraya menatap penuh makna pada Shara yang kini duduk di jok belakang.
"Sama-sama," jawab Shara yang lebih mirip gumaman. Shara dan Diftha masih saling bertukar pandang, hingga terdengar panggilan dari Mbak Ida yang mengakhiri semuanya.
"Pak Diftha!"
"Iya, Mbak Ida!" Diftha langsung berlari kembali ke arah teras, menghampiri Mbak Ida yang sepertinya hendak menyampaikan hal penting.
Sementara di dalam mobil keluarga Shara, suasana mendadak hening, setelah Bu Maria dan Pak Rudi melihat Mbak Ida yang rupanya masih ada di rumah Diftha.
"Bukankah kau tadi mengatakan kalau di rumah Diftha tidak ada yang menjaga Gizta, Sha!" Bu Maria akhirnya buka suara bersamaan dengan mobil yang sudah melaju meninggalkan rumah Diftha.
"Shara hanya menemani Mbak Ida tadi, Buk!" Sergah Shara beralasan.
"Tapi kau tidak mengatakan itu!"
"Kau mengatakan kalau Gizta tak ada yang menjaga di rumah, jadi kau menjaga Duftha sampai Diftha pulang dari kantor-"
"Buk, sudah!" Pak Rudi melerai perdebatan Bu Maria dan Shara.
"Tapi Shara sudah berbohong, Pak!"
"Apa maksudnya Shara-"
"Shara hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Gizta, Buk! Apa itu salah?" Sergah Shara berusaha mencari pembenaran.
"Menghabiskan waktu lebih lama bersama Gizta atau memang sengaja menunggu Diftha pulang kerja?"
"Ibu sudah mengatakan agar kau tidak menyimpan perasaan apapun pada Diftha, Shara!"
"Jangan menyimpan perasaan apapun-"
"Shara tidak bisa, Buk!" Sergah Shara dengan suara yang sudah ikut-ikutan meninggi.
"Shara sudah terlanjur mencintai Diftha!"
Ciiit!
Bruuk!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.