Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
TIDAK MUNGKIN


__ADS_3

"Terima kasih!" Ucap Diftha pada pelayan kafe yang baru saja menyajikan kopi untuk Diftha dan Shara.


Difta segera menyesal kopi yang masih mengepulkan asap tersebut, sementara Shara yang tadi memesan es kopi, memilih untuk memainkan sedotan di gelasnya san gadis itu masih juga belum buka suara mengenai apa yang sebenarnya ingin ia bicarakan pada Diftha.


"Jadi, kau tadi mau bicara apa?" Tanya Diftha yang akhirnya memulai obrolan.


"Aku akan dijodohkan," jawab Shara dengan suara putus asa dan tanpa sedikitpun menatap pada Diftha.


"Selamat kalau begitu!" Ucap Diftha yang langsung mengulurkan tanganku pada Shara, seolah pria itu benar-benar mengucapkan selamat dengan tulus. Shara sontak langsung mengangkat wajahnya dan menatap tak percaya pada Diftha.


"Pria pilihan kedua orang tuamu pasti adalah pria yang baik dan pastinya seiman denganmu, Shara," ucap Diftha lagi seolah sedang berusaha untuk tegar.


"Aku tidak akan menerima perjodohan itu, Diftha!" Ucap Shara lirih dan nyaris tanpa suara.


"Aku hanya mencintaimu!"


"Aku hanya ingin hidup bersamamu-"


"Itu tak akan mungkin terjadi, Shara!" Sergah Diftha cepat memperingatkan Shara yang keras kepala.


"Kedua orang tuamu tak akan memberikan restu dan hubungan berbeda keyakinan-"


"Aku akan mengikuti keyakinanmu!" Gantian Shara yang memotong kalimat Diftha.


"Kau seharusnya merasa senang, Diftha! Kau seharusnya merasa senang, menerimaku, lalu membimbing dan mendukungku!"


"Tapi kenapa kau malah menentang keinginanku ini?" Tanya Shara yang sudah mulai berurai airmata.


"Tentu saja aku akan mendukung dan membimbingmu dengan senang hati, Shara!"


"Andai kau berpindah keyakinan karena memang hati kecilmu yang menginginkannya!"


"Karena hatimu yang benar-benar sudah terketuk dan merasa kagum pada agamaku, bukan semata-mata agar hubungan kita bisa berlanjut!" Sergah Diftha panjang lebar yang langsung membuat Shara kehilangan kata-kata.


"Kemarin saja, kau tak bisa menjawab, saat aku bertanya apa kau sudah benar meyakini dalam hati kalau Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah SWT yang tidak beranak dan tidak diperanakkan!"


"Kau tidak bisa menjawab karena kau memang belum meyakininya. Kau tidak bisa menjawab karena hati kecilmu memang tidak ingin berpaling dari agamamu yang sekarang! Agama yang sudah terpatri di hatimu sejak kau masih kecil, sejak kau baru lahir, dan sejak kau belum mengenalku!"

__ADS_1


"Jangan memaksakan diri, Shara!" Nasehat Diftha panjang lebar yang langsung membuat Shara semakin terisak.


"Menjadi mualaf bukan hanya sekedar mengucapkan Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."


"Bukan seperti itu!" Ulang Diftha sekali lagi.


"Kau harus benar-benar meyakini dalam hati, lalu melaksanakan semua yang menjadi kewajiban seorang muslim dan melakukannya dengan sepenuh hati!"


"Agama itu bukan permainan, Shara! Begitu juga sebuah pernikahan!" Ujar Diftha lagi pada Shara yang tetap membisu.


Diftha sendiri langsung menarik nafas panjang, setelah pria itu memberikan nasehat pada Shara. Diftha lalu meraih tisu dan mengulurkannya pada Shara untuk menyeka airmatanya gadis itu.


Shara menatap Diftha sejenak, sebelum menerima tisu yang disodorkan oleh Diftha. Gadis itu lalu menyeka sendiri airmatanya. Shara lalu lanjut menyesap es kopi yang sejak tadi hanya ia aduk-aduk.


"Kau harus menerima perjodohan yang direncanakan orang tuamu, Shara! Mungkin itu memang jawaban atas semua kebuntuan ini," nasehat Diftha yang langsung membuat Shara kembali menatap tajam pada Diftha.


"Aku tidak akan menerimanya," desis Shara masih tetap menatap Diftha dengan tajam.


"Shara-"


"Aku tidak akan mengubah pendirianku, Diftha!" Potong Shara cepat.


"Aku hanya mencintaimu dan sampai mati aku hanya akan tetap mencintaimu, Diftha!"


"Jadi aku akan melakukan apapun agar kita bisa bersama, dan agar aku bisa menikah denganmu!"


"Aku akan membuktikannya!" Pungkas Shara sembari menuding pada Diftha. Shara kemudian segera berlalu dari hadapan Diftha dan juga dari dalam kafe. Masih bisa Diftha lihat dari jendela kafe, Shara yang menyetop taksi, lalu naik ke dalam taksi dan meninggalkan kafe.


"Kenapa kau begitu keras kepala, Shara?" Gumam Diftha tak mengerti. Diftha kemudian mengusap wajahnya berulang kali, sebelum lanjut menyesap kopinya hingga tandas tak bersisa.


Selang lima belas menit, Diftha akhirnya beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kasir untuk membayar pesanan. Tepat saat Diftha selesai menerima kembalian, layar televisi yang berada di sudut kafe tiba-tiba menampilkan sebuah breaking news.


"Breaking news!"


"Sebuah kecelakaan beruntun yang melibatkan belasan kendaraan berbagai jenis, baru saja terjadi di ruas jalan lingkar selatan. Tepatnya di lampu merah simpang lima. Diduga, kecelakaan terjadi karena sebuah truk kontainer yang mengalami rem blong, lalu menabrak sejumlah kendaraan yang sedang berhenti di lampu merah."


"Berikut rekaman video amatirnya."

__ADS_1


Diftha sejenak terdiam saat kedua netranya fokus memperhatikan video amatir yang memperlihatkan sebuah kondisi jalan yang porak poranda, dimana banyak kendaraan bergelimpangan, lalu beberapa taksi dan mobil pribadi juga yang ringsek dan rusak parah.


Sebentar!


Ada dua taksi sepertinya di video amatir barusan, dan bukankah itu adalah jalan menuju ke rumah Shara?


Lalu Shara tadi saat meninggalkan kafe juga naik taksi....


"Belum diketahui pasti berapa korban meninggal akibat kecelakaan beruntun ini karena saat ini semua tim sedang fokus melakukan evakuasi terhadap korban-korban yang sebagian masih terjebak di dalam kendaraan yang rusak parah."


"Mari sekali lagi kita saksikan video amatir setelah kecelakaan terjadi!"


Video kembali diputar dan kali ini Diftha berusaha memperhatikan dengan seksama kendaraan-kendaraan yang ringsek. Diftha seolah sedang mencari petunjuk.


Ting!


Sebuah pesan yang masuk ke ponsel Diftha, langsung membuat pria itu tersentak. Diftha kemudian memeriksa pesan dari grup chat kantornya yang berisi sebuah video kecelakaan yang sama dengan di televisi. Hanya bedanya, video di ponsel Diftha sana sekali tak disensor seperti halnya di televisi.


Diftha menonton video di ponselnya dengan seksama, hingga saat kamera menyorot pada tubuh seorang wanita yang baru saja dikeluarkan dari dalam sebuah taksi, tangan Diftha refleks mem-pause video tersebut.


Diftha mengulang lagi video tadi, lalu memperhatikan dengan seksama, wanita yang kini digeletakkan di atas mobil bak terbuka.


Baju yang dikenakan, lalu celana yang dikenakan, jaket dan tas itu....


"Aku hanya mencintaimu dan sampai mati aku hanya akan tetap mencintaimu, Diftha!"


"Aku akan membuktikannya nanti!"


Diftha terdiam untuk beberapa detik sebelum kemudian bibir pria itu bergumam tak percaya,


"Shara!"


"Tidak mungkin!!"


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2