Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
ALASAN


__ADS_3

"Kenapa, Buk?" Tanya Shara meminta penjelasan, setelah keluarga Gilbert pamit pulang. Tadi dua keluarga itu memang serius membahas tentang perjodohan Shara dan Gilbert. Beberapa rencana sudah mulai dibahas meskipun belum ditentukan kapan pernikahan Gilbert dan Shara akan digelar.


"Karena Ibuk tidak mau kamu terjerumus ke jalan yang salah, Shara!" Jawab Bu Maria tegas.


"Jalan yang salah bagaimana maksud Ibuk? Shara belum mau menikah, Buk!"


"Belum mau menikah karena kamu masih merasa bimbang tentang kelanjutan hubunganmu bersama Diftha!"


"Lalu apa yang mau kamu harapkan dengan itu semua?"


"Kamu mau mengkhianati Tuhan demi bisa bersatu dengan Diftha? Atau kamu mau menyuruh Diftha meninggalkan agamanya agar Ibuk dan Bapak merestui hubungan kalian berdua?" Cecar Bu Maria dengan nada suara yang sudah tak terkendali.


"Tapi ibuk rasa, pilihan kedua pasti sudah ditolak mentah-mentah oleh Diftha! Seperti halnya kita, Diftha pastilah juga umat yang taat pada Tuhannya. Jadi Diftha tak akan mau meninggalkan agamanya hanya demi cinta."


"Dan kemungkinan terburuk yang selalu ibuk khawatirkan mungkin saja akan terjadi."


"Diftha akan memaksa-"


"Diftha tak pernah memaksa Shara untuk mengikuti agamanya, Buk!" sergah Shara cepat yang langsung membela Diftha. Bukan membela, tapi mengatakan yang sebenarnya.


"Syukurlah kalau memang begitu!"


"Tapi apa salahnya kalau Shara memilih sendiri pasangan hidup Shara, Buk!"


"Tolong batalkan perjodohan ini-"


"Ibuk sudah memberimu kesempatan untuk memilih sendiri siapa yang kelak akan menjadi suamimu, Shara!"


"Tapi Ibuk juga selalu berpesan, agar kau memilih pria yang seiman dengan kita! Syarat dari ibuk tidak muluk-muluk, kan?"


"Agama itu adalah hal utama yang harus kita jadikan pedoman, Shara! Termasuk dalam hal memilih pasangan hidup! Karena menikah itu untuk seumur hidup dan untuk selamanya!"


"Tapi apa?"


"Kau malah jatuh cinta pada seorang pria yang jelas-jelas tak seiman dengan kita!"


"Ibuk sudah menasehatimu pelan-pelan agar kau menjaga jarak dari Diftha dan membuang jauh perasaanmu, tapi kau malah semakin memupuknya, kemudian mencari-cari celah agar bisa terus menjalin hubungan dengan Diftha atau kalau perlu kau bisa menikah dengan Diftha!"


"Dimana keimananmu, Shara?"


"Apa kau sudah tak takut pada Tuhan sekarang? Kau mau Tuhan marah?" Cecar Bu Maria panjang lebar yang langsung membuat Shara terisak.


"Bahkan kemarin saja kau sudah berani kabur dari gereja, saat ibuk memintamu untuk membuat pengakuan dosa!"


"Lalu semalaman kau berada di rumah Diftha entah berbuat apa-"


"Shara tidak melakukan apa-apa bersama Diftha, Buk! Shara hanya menemani Gizta," potong Shara yang langsung melakukan pembelaan.


"Toh Shara juga sudah minta izin pada Ibuk dan Bapak," imbuh Shara lagi.


"Lalu menurutmu, tindakanmu itu sudah dibenarkan, begitu?" Cecar Bu Maria lagi dengan suara yang mulai tak terkendali.


"Baiklah, Shara mengaku salah dan Shara minta maaf!" Ucap Shara akhirnya seraya menundukkan kepalanya.


"Ibuk dan Bapak sudah memaafkanmu." Bu Maria akhirnya merendahkan nada bicaranya.


"Ibuk juga akan membatalkan perjodohan Shara dan Gilbert, kan?" Tanya Shara lagi memohon.

__ADS_1


"Tidak!" Jawab Bu Maria tegas.


"Jika nanti kau menikah dengan Gilbert, maka pria itu akan bisa membimbingmu dan menjaga keimananmu."


"Ibuk tak mau kau tersesat, Shara!"


"Ibuk tidak rela!" Jelas Bu Maria panjanh lebar yang langsung membuat Shara berdecak putus asa. Shara tak berkata apa-apa lagi dan gadis itu langsung pergi begitu saja dari hadapan Bu Maria.


Braaak!!


Shara membanting pintu kamar, demi meluapkan kemarahanmya.


Shara benar-benar frustasi sekarang!!


****


"Selamat!" Ucap Diftha pada Reina yang perutnya sudah terlihat membulat. Tak lupa Diftha juga mengucapkan selamat pada Angga yang berdiri di samping Reina.


Ya....pasangan yang sungguh serasi.


"Terima kasih, Diftha!" Balas Reina yang ternyata masih canggung saat berhadapan dengan Diftha.


Atau mungkin perasaan Diftha saja? Entahlah.


"Kabar Gizta bagaimana, Diftha?" Gantian Angga yang melintas pertanyaan dan sedikit berbasa-basi.


"Alhamdulillah sudah banyak perkembangan," jawab Diftha berusaha mengulas senyum. Pertemuan Diftha dengan Angga dan Reina pagi ini memang benar-benar di luar dugaan. Meskipun kemarin sore Diftha sudah bertemu Pak Robert dan sempat meeting bersama papa dari Angga itu juga, namun Diftha benar-benar tak menyangka jika Angga dan Reina juga turut berkunjung ke kota ini.


Selama ini, Diftha memang seringnya bertemu dan berkomunikasi dengan Pak Robert, yang merupakan pemimpin tertinggi di perusahaan Hadinata Group yang juga menaungi kantor tempat Diftha bekerja.


"Gizta sudah lepas dari kursi roda?" Tanya Reina penuh antusias.


"Dan kemungkinannya juga kecil untuk Gizta bisa lepas dari kursi roda," imbuh Diftha lagi dengan suara lirih.


"Kenapa begitu?" Tanya Angga penasaran.


"Karena cedera otak yang dialami Gizta adalah cedera traumatik yang menyebabkan kelumpuhan pada beberapa otot Gizta termasuk otot-otot di kaki."


"Meskipun kata Shara, masih ada kemungkinan untuk Gizta bisa berdiri asal rutin terapi. Tapi tetap saja, kecil kemungkinan untuk Gizta bisa berjalan lagi," terang Diftha panjang lebar.


"Shara itu?" Reina bertanya penasaran.


"Terapisnya Gizta," jawab Diftha cepat.


"Lalu calon kakak ipar untuk Gizta sudah ada?" Gantian Angga yang bertanya dan Diftha langsung menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Tapi bukan berarti saya belum move on dari istri anda, Pak Angga!"


"Allah hanya belum mempertemukan saya dengan jodoh saya. Itu saja," ujar Diftha lagi agar Angga tak berprasangka kepadanya.


Seketika Angga dan Reina langsung tertawa canggung.


"Sebaiknya kita ke airport sekarang." Reina akhirnya sedikit berbisik pada Angga demi mengakhiri kecanggungan di antara mereka bertiga.


"Sudah jam?" Angga melihat arlojinya sebelum kemudian mengangguk.


"Kami pergi dulu, Diftha!" Pamit Angga dan Reina kemudian berbarengan.

__ADS_1


"Titip salam untuk Gizta," imbuh Reina lagi yang hanya diiyakan oleh Diftha. Pasangan suami istri itu lalu segera pergi dari hadapan Diftha yang hanya menghela nafas berulang kali.


Sejujurnya, perasaan Diftha sudah biasa saja pada Reina dan tak seperti satu tahun lalu. Saat ini yang membuat perasaan Diftha galau adalah hubungannya bersama Shara.


Tidak pernah ada kata jadian padahal. Tapi galaunya luar biasa!


Drrrt! Drrrt!


Diftha langsung tersentak, saat ponsel di sakunya terasa bergetar. Segera Diftha memeriksa siapa yang menelepon.


Shara!


Drrrt! Drrttt!


Ponsel masih terus bergetar, dan Diftha sedikit ragu untuk mengangkat telepon Shara. Tapi bagaimana kalau ada hal penting mengenai Gizta yang ingin Shara bahas?


Drrrtt! Drrttt!


Diftha masih diam sembari menatap layar ponselnya. Peia itu kemudian menghrla nafas, sebelum akhirnya menjawab telepon dari Shara.


"Halo, Shara!" Sambut Diftha sedatar mungkin.


"Kau dimana, Diftha? Aku perlu bicara."


"Aku masih di kantor, Sha! Mau membahas apa? Bisa lewar telepon saja?" Diftha sedikit menawar permintaan Shara.


"Tidak bisa!" Suara Shara terdengar sengau seolah gadis itu baru saja menangis.


"Aku akan ke kantormu-"


"Tidak!" Cegah Diftha cepat.


"Aku tidak punya banyak waktu, Diftha! Aku hanya ingin bertemu denganmu, lalu bicara satu hal...."


Kembali terdengar isak tangis dari ujung telepon.


"Shara, kau menangis?" Tanya Diftha khawatir.


"Tidak!"


"Aku hanya ingin kita bicara dan bertemu. Aku sudah di depan kantormu."


"Apa?" Diftha yang sejak tadi masih berada di lobi kantor, buru-buru memeriksa keluar. Dan benar saja! Shara saat ini sedang mengayunkan langkah ke arah lobi.


"Kau sedang-"


"Aku ingin bicara, Diftha!" Pinta Shara memohon.


Difha menghela nafas sejenak, sebelum kemudian berkata, "Ayo ke kafe di dekat sini!"


Shara hanya mengangguk, lalu gadis itu segera mengikuti langkah Diftha untuk keluar dari kantor dan menuju ke sebuah kafe yang tak jauh dari kantor Diftha.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2