Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
GAMIS


__ADS_3

"Lihat! Accu-nya sudah aku ganti," ujar Diftha sembari menyalakan motor Shara memakai tombol starter, seolah sedang menamerkannya pada Shara.


"Iya! Terima kasih."


"Berapa biayanya?" Tanya Shara sembari mengeluarkan dompet kecil dari tas selempangnya.


Namun bukannya menjawab, Diftha malah tertawa kecil mendengar pertanyaan Shara barusan.


"Kok malah tertawa? Berapa, Dift? Aku sedang buru-buru ini!" Cerocos Shara sembari mengerutkan kedua alisnya pada Diftha.


"Buru-buru kemana, sih? Kita belum ngobrol padahal."


"Jarang-jarang aku pulang cepat, lho!" Tukas Diftha yang malah menggida Shara.


"Buru-buru pulang! Udah ditelepon ibuk tadi," ujar Shara.


"Mau ada acara," lanjut Shara lagi tanpa memperjelas acara apa yang membuatnya buru-buru.


"Oh!" Diftha akhirnya turun dari motor Shara, lalu mengambilkan helm Shara di rak.


Hampir saja Shara lupa tadi!


"Pakai helm!" Diftha memakaikan helm ke kepala Shara.


"Padahal aku bisa sendiri," rengut Shara sembari mengaitkan tali pengaman helm-nya.


"Ongkos bengkelnya berapa?" Tanya Shara sekali lagi sebelum gadis itu naik ke atas motornya.


"Gratis!" jawab Diftha cengengesan.


"Ck! Diftha--"


"Sudah sana! Katanya tadi buru-buru," ujar Diftha selanjutnya yang entah seeang mengingatkan atau sedang mengusir Shara.


"Yasudah, kamu potong saja dari bayaran aku bulan depan," putus Shara akhirnya sembari menyalakan mesin motornya.


Diftha masih diam dan belum menanggapi usulan Shara tadi.


"Dift!" Ucap Shara lagi lebih tegas.


"Iya!" Jawab Diftha akhirnya.


"Aku pulang dulu!"


"Mbak Ida sudah pulang juga tadi dan Gizta sendirian di dalam rumah," pamit Shara sekaligus memberitahu Diftha.


"Iya!" Diftha melambaikan tangannya ke arah Shara, sebelum kemudian motir Shara melaju meninggalkan rumah Diftha.


"Kok Shara tadi tidak salam, ya?" Gumam Diftha kemudian yang baru ingat. Diftha lalu hanya menggeleng samar sebelum lanjut masuk ke rumah untuk memeriksa Gizta.


****


"Shara!!!!" Geram Bu Maria saat Shara baru tiba di rumah dan menurunkan standar motornya.


"Iya, Buk! Ibadah jam berapa, sih?"


"Telat dikit kan nggak apa-apa," jawab Shara mencoba mencari alasan


"Jam enam sudah dimulai ibadahnya, Sha!" Bukan Bu Maria, melainkan Pak Rudi yang menjawab.


"Masih jam setengah enam."


"Shara mandi bentar, Pak!" Izin Shara akhirnya seraya masuk ke dalam rumah. Shara langsung menuju ke kamarnya dan bersiap-siap pergi ke gereja.

__ADS_1


Bu Maria memang selalu mengajarkan Shara agar selalu datang tepat waktu saat ada ibadah di gereja. Ibu kandung Shara itu sepertinya juga sudah terbiasa datang tepat waktu sejak kecil, makanya Bu Maria bisa mengomel panjang kali lebar kalau terlambat.


"Sha!" Shara masih menyisir rambutnya, saat pintu kamarnya sidah digedor oleh Bu Maria.


"Iya, Buk! Masih sisiran!" Jawab Shara sembari melohat jam di arlojinya. Sudah jam enam kurang sepuluh menit.


"Masih mau berapa lama lagi, Sha?" Bu Maria yang tak tahan, akhirnya mendorong pintu kamar Shara hingga menjeblak terbuka.


"Ini sudah siap, Buk!' Jawab Shara sembari meraih tas selempangnya. Namun kali ini tentu berbeda dengan tas yang tadi Suara pakai ke rumah Diftha.


"Kalung mana?" Tanya Bu Maria sembari mengendikkan dagu ke arah leher Shara. Blouse yang dikenakan Shara memanglah memiliki potongan leher bentuk hati, hingga leher Shara bisa terlihat dengan jelas.


"Kalung?" Shara meraba lehernya sendiri sebelum akhirnya gadis itu ingat pada kalung bentuk salib yang dulu memang selalu Shara kenakan. Namun belakangan ini, atau lebih tepatnya sejak tali kalung itu putus, Shara jadi jarang memakainya lagi. Meskipun sebenarnya talinya yang putus sudah dibenarkan oleh Pak Rudi, namun Shara tetap jarang memakainya.


"Shara lupa naruhnya, Buk," jawab Shara sembari meringis.


"Shara!!" Geram Bu Maria lagi.


"Ayo kita ca-"


"Tadi katanya buru-buru, Buk!" Sela Shara cepat mengingatkan Bu Rudi yang tak jadi masuk ke kamar Shara.


"Iya! Sudah telat ini," ujar Bu Maria sembari mengayunkan langkahnya ke arah pintu depan. Shara tak berkomentar apa-apa lagi, dan gadis itu hanya mengekori sang Ibuk yang terus lanjut ke halaman rumah, dimana Pak Rudi sudah menunggu.


Tak berselang lama, mobil keluarga Shara sudah melaju pergi.


****


"Bang--" panggil Gizta sembari menjalankan kursi roda otomatisnya ke arah Diftha tang masih berkutat dengan laptop dan beberapa berkas yang memang ia bawa pulang tadi.


Bukan karena Diftha workaholic!


Tapi karena semua ini adalah tanggung jawab Diftha. Tapi tidak setiap hari juga Diftha membawa pulang pekerjaannya, karena memang Diftha bukan seorang workaholic seperti Angga.


Ya ampun, Diftha!


Reina lagi!


Move on!!


Reina sudah bahagia bersama Angga dan mereka akan segera punya bayi.


"Aku sendirian karena Reina sedang mengalami morning sickness yang lumayan parah."


Kalimat Angga mendadak malah bercokol di benak Diftha. Segera pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Reina sudah bahagia bersama Angha, Diftha! Stop memikirkan gadis itu!" Gumam Diftha seolah sedang memperingatkan dirinya sendiri.


"Bang---"


"Kok---mela--"


"Mun?" Tegur Gizta yang rupanya sejak tadi masih berada di dekat Diftha.


Ya ampun!


Apa Gizta mendengar gumaman Diftha barusan? Semoga tidak!


"Siapa yang melamun, Giz? Abang sedang fokus bekerja ini," ujar Diftha akhirnya sedikit beralasan. Tak lupa tangan Diftha juga menunjuk ke arah laptop.


"Tadi kau mau mengatakan sesuatu?" Tanya Diftha selanjutnya.


"Ya."

__ADS_1


"Apa?" Diftha menatap seriuspada Gizta yang sepertinya juga ingin bicara hal serius.


"Giz--ta."


"Mau---"


"Be---li---"


"Beli apa?" Sela Dift cepat dan mencoba menerka-nerka.


"Ga--mis--" ucap Gizta yang sesaat langsung membuat Diftha terdiam.


"Buat lebaran?" Tebak Diftha kemudian menerka-nerka. Namun Gizta malah menggeleng..


"Peng--en--"


"Sa--ja," ujar Gizta yang sedikit membuat hati Diftha mencelos.


"Lihat, Bang! Gamis baru Gizta bagus, kan? Mama yang membelikan," ucap Gizta seraya memamerkan gamis warna pink lembut yang terlihat begitu anggun membalut tubuh semampai Gizta.


"Emang lebaran kapan, sih? Kok udah dapat gamis baru?" Tanya Diftha usil yang langsung membuat Gizta merengut.


"Memang kalau beli baju baru harus nunggu lebaran? Kata Mama, Gizta harus mulai belajar menutup aurat, Bang!"


"Aurat!" Gizta mengulang-ulang kalimatnya dengan raut wajah lebay.


"Iya, aurat!"


"Ini juga aurat! Tutupi!" Diftha menunjuk ke rambut Gizta sembari berucap dengan nada geregetan.


"Yeee! Kan cuma Bang Diftha yang lihat. Nanti pas keluar baru ditutup!"


"Oh, ya! Jilbab yang beliin Mama juga warnanya pas, lho, Bang!" Gizta sudah berlari keluar dari kamar Diftha, lalu tak berselang lama, gadis itu masuk lagi seraya membawa sebuah jilbab yang warnanya memang senada dengan gamis Gizta.


"Lihat! Gizta cantik, kan, Bang?" Ujar Gizta selanjutnya meminta pendapat Diftha, setelah gadis itu memakai jilbabnya tadi ke kepalanya.


"Iya, cantik!"


"Namanya cewek ya pasti cantik! Nanti kalau Abang bilang kamu ganteng, kamu mencak-mencak!"


"Abang!!!"


"A--bang!" Panggilan Gizta lagi-lagi menyentak lamunan Diftha tentang memori beberapa tahun silam, sebelum Gizta mengalami kecelakaan dan menjadi seperti sekarang.


Diftha menghela nafas dengan berat, lalu pria itu bangkit dari sofa, dan ganti bersimpuh di hadapan Gizta. Diftha menggenggam kedua tangan Gizta dan menciumnya beberapa kali.


"Gizta mau gamis yang model bagaimana? Besok pas Abang libur, kita ke toko, ya!"


"Nanti Gizta pilih gamis yang Gizta mau," janji Diftha yang langsung membuat Gizta tersenyum senang


"Jil--bab?" Tanya Gizta kemudian.


"Iya, nanti kita beli juga," jawab Diftha lirih, sembari mengecup kening adik perempuannya tersebut.


"Yeay!" Sorak Gizta kemudian masih sambil tersenyum senang.


.


.


.


Cetak miring adalah flashback atau kejadian masa lampau. Barangkali ada yang lupa 😊

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2