
"Ibuk sudah menghubungi Romo dan mengatakan tentang kau yang akan membuat pengakuan dosa hari ini."
Shara menghela nafas sekali lagi, saat kedua matanya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Kamu boleh mencintainya, tapi jangan ambil dia dari Tuhan-nya."
"Apa susahnya mencari pasangan yang seiman dengan kita, Shara?"
"Apa kau mau mengkhianati Tuhan hanya demi sebuah cinta buta?"
"Shara!"
Shara langsung tersentak, saat Bu Maria yang sudah berdiri di ambang pintu kamar menegurnya.
"Iya, Buk!" Jawab Shara seraya meraih kaling salibnya, lalu memakai benda itu dengan cepat.
"Cepatlah, Shara! Kenapa kau bersiap lama sekali?"
"Shara sudah siap, kok, Buk!" Shara ganti meraih tas selempangnya, saat terdengar nada notifikasi pesan masuk.
Shara akhirnya keluar dari kamar, sembari membuka pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
[Hai, maaf baru membalas pesanmu] -Kak Kia-
[Kau kemarin bertanya langkah-langkah menjadi muallaf? Maaf jika aku lancang, tapi siapa yang mau jadi muallaf, Shara? Temanmu?] -Kak Kia-
Shara baru saja akan mengetikkan pesan balasan, saat Bu Maria sudah kembali memanggil Shara.
"Shara, cepatlah!"
"Iya, Buk!" Shara tak jadi membalas pesan Kak Kia dan gadis itu buru-buru naik ke mobil.
"Sibuk membaca pesan dari Diftha lagi?" Sindir Pak Rudi saat Shara sudah masuk ke mobil.
"Pesan dari Kak Kia, Pak!" Sanggah Shara cepat.
"Kia jadinya kapan pulang, Sha?" Bu Maria langsung melontarkan pertanyaan.
"Masih belum tahu, Buk! Kak Kia masih sibuk," jawab Shara sembari menatap keluar jendela mobil.
"Kuliah Kia sudah selesai, kan?" Tanya Bu Maria lagi dan Shara hanya mengendikkan kedua bahunya.
"Mungkin Kia memang langsung praktek disana, Buk!" Pak Rudi yang akhirnya menjawab pertanyaan Bu Maria.
"Atau malah Kia sudah bertemu jodohnya di sana," timpal Bu Maria sembari terkekeh.
"Nanti pasti Kia kirim undangan kalau mamg sudah bertemu jodoh dan akan menikah," ujar Pak Rudi yang langsung dibenarkan oleh Bu Maria. Sementara Shara yang duduk di jok belakang hanya diam sembari menatap keluar jendela mobil.
"Sha! Itu yang bunyi ponsel kamu?" Tegur Bu Maria yang langsung membuat Shara tergagap. Shara bahkan tak menyadarai suara nyaring dari ponselnya yang berada di dalam tas yang sejak tadi ia pangku.
Sepertinya Shara memang terlalu larut dalam lamunan sejak tadi.
"Melamun atau bagaimana, Sha? Masa ponsel bunyi hanya didiamkan saja." Gantian Pak Rudi yang menegur sekaligus menatap sang putri melalui spion tengah.
"Shara pikir ponselnya Ibuk yang bunyi, Pak!" Shara beralasan sembari meringis. Shara lalu mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon.
Diftha?
__ADS_1
"Siapa yang menelepon, Sha? Kok tidak diangkat?" Tegur Bu Maria lagi pada Shara yang hanya menatap pada layar ponselnya yang kini menampilkan nama Diftha. Shara mendadak bimbang apa harus mengangkay telepon Diftha atau tidak. Lagipula, kenapa Diftha harus menelepon Shara diwaktu yang tak tepat?
"Nomor tak dikenal, Buk!" Dusta Shara akhirnya sembari menggeser tombol merah di layar ponselnya. Shara lalu melesakkan kembali benda persegi itu ke dalam tas.
****
"Ba--gai--ma--na, Bang?" Tanya Gizta pada Diftha yang langsung mengendikkan kedua bahunya.
"Tidak diangkat. Sepertinya Kak Chara sedang sibuk," jawab Diftha mencoba memberikan pengertian pada Shara.
"Pak Diftha, semua barang-barang Mbak Gizta sudah saya kemasi," lapor Mbak Ida yang hari ini memang ikut ke rumah sakit.
Gizta akhirnya sudah diperbolehkan pulang, setelah gadis itu dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Semua hasil trs juga sudah keluar dan semuanya menunjukkan hasil yang baik. Tak ada infeksi di tubuh Gizta, dan yang membuat gadis itu sesak nafas kemarin hanyalah Gizta yang terlalu kelelahan.
"Mbak Ida bawa barangnya ke mobil dulu saja, ya! Nanti saya dan Gizta menyusul turun," ujat Diftha pada Mbak Ida yang langsung mengangguk. Diftha memang masih ada janji bertemu dokter sebelum pulang.
"Baik, Pak Diftha! Saya duluan," pamit Mbak Uda kemudian seraya mendorong koper yang berisi barang-barang Gizta.
Sementara Diftha kembali menghampiri Gizta yang kini cemberut.
"Abang akan mengirim pesan pada Kak Chara, ya!" Ujar Diftha akhirnya agar Gizta tak terus-terusan merajuk.
"I--ya," jawab Gizta yang tak lahi merengut. Segera Diftha mengetikkan satu pesan pada Shara.
[Sha, tadi aku menelepon atas permintaan Gizta. Dia pulang hari ini dan ingin bertemu denganmu. Barangkali kau ada waktu hari ini, mungkin kau bisa menyempatkan mampir ke rumah. Aku akan sangat menghargainya.] -Diftha-
Pesan terkirim!
Diftha langsung menyimpak kembali ponselnya karena dokter juga sudah datang.
"Selamat sore, Gizta!" Sapa dokter yang langsung membuat Gizta tersenyum.
"Sudah mau pulang, ya? Istirahat di rumah, ya! Makan yang banyak!" Dokter memberikan beberapa pesan untuk Gizta.
"Dan Diftha." Dokter sudah ganti menatap pada Diftha.
"Ada seorang dokter bedah saraf yang ingin aku rekomendasikan untuk menangani Gizta."
"Sudah ada, Dok?" Diftha langsung terlihat antusias.
"Sudah. Tapi untuk saat ini beliau masih praktek di luar kota. Mungkin beberapa bulan lagi baru akan pindah kemari," terang dokter yang langsung membuat Diftha sedikit mendes*h kecewa.
"Aku sudah minta izin untuk memberikan kontaknya kepadamu, Diftha!"
"Mungkin nanti kau bisa berkonsultasi dulu untuk sementara waktu." Ujar dokter lagi yang langsung membuat Diftha mengangguk. Dokter kemudian mengangsurkan sebuah kertas pada Diftha.
"Namanya Dokter Saskia. Kau bisa menghubunginya nanti dan bilang saja kalau aku yang merekomensadikan," ujar dokter sekali lagi.
"Iya, Dokter! Terima kasih!" Ucao Diftha sembari menatap pada deretan nomor yang tertera di kertas.
Setelah memeriksa Gizta sekali lagi, Dokter lalu undur diri dan keluar dari kamar perawatan Gizta.
"Kak--Cha--ra--"
"Su--dah--te--le--pon?" Tanya Gizta saat Diftha menghampirinya.
"Belum." Diftha menunjukkan layar ponselnya pada Gizta.
__ADS_1
"Mungkin Kak Chara memang masih sibuk, Gizt!"
"Ayo kita pulang!" Ajak Diftha akhirnya sembari mendorong kursi roda Gizta keluar dari kamar perawatan. Akhirnya Gizta bisa pulang hari ini.
****
Shara masih menunggu giliran untuk masuk ke dalam bilik pengakuan dosa. Bu Maria sebenarnya sudah meminta Shara agar berdoa dulu dan mohon ampunan pada Tuhan sembari menunggu antrian. Namun tidak tahu mengapa, hati Shara seolah tak bisa fokus berdoa. Shara berulang kali mengarahkan tatapannya pada anggota jemaat yang baru keluar dari bilik pengakuan dosa. Beberapa dari mereka terlihat menyeka air mata saat baru keluar.
Apa nanti Shara juga akan melakukan hal yang sama?
Sebenarnya ini bukan kali pertama Shara melakukan pengakuan dosa. Namun yang sebelum-sebelumnya, Shara tak pernah tegang apalagi sampai menangis. Sejak dulu Shara adalah hamba Tuhan yang patuh, sehingga dirinya juga sangat jarang melakukan dosa atau perbuatan yang dibenci oleh Tuhan. Bu Maria selalu membimbing dan mengarahkan Shara, sehingga Shara selalu bisa nerjalan di jalan Tuhan yang lurus.
Namun kini....
"Aku akan berpindah keyakinan dan mengikuti keyakinanmu kalau begitu, Diftha!"
"Aku mencintaimu!"
Shara menghela nafas dengan berat dan gadis itu memejamkan matanya sekali lagi. Tangan Shara lalu merogoh ponselnya yang terasa bergetar di dalam tas.
[Sha, tadi aku menelepon atas permintaan Gizta. Dia pulang hari ini dan ingin bertemu denganmu. Barangkali kau ada waktu hari ini, mungkin kau bisa menyempatkan mampir ke rumah. Aku akan sangat menghargainya.] -Diftha-
Shara menatap cukup lama pesan dari Diftha dan gadis itu juga membacanya berulang-ulang. Disaat itulah pesan dari Kak Kia ikut-ikutan masuk ke ponsel Shara.
[Sha, masih sibuk? Jadi siapa yang mau jadi muallaf?] -Kak Kia-
Jari Shara langsung mengetik pesan balasan pada Kak Kia.
[Shara ingin pindah keyakinan, Kak] -Shara-
Pesan terkirim!
Hanya satu detik, dan status centang dua di pesan Shara langsung berubah jadi centang biru, yang artinya pesan Shara sudah dibaca oleh Kak Kia.
Kak Kia juga langsung terlihat mengetik pesan balasan untuk Shara.
Sembari menunggu pesan balasan dari Kak Kia, Shara kembali membaca pesan Diftha. Gadis itu lalu mengangkat wajahnya, saat satu lagi anggota jemaat keluar dari bilik pengakuan dosa.
"Setelah ini giliranmu, Sha!" Ucap Bu Maria yang langsung membuat ludah Shara mendadak terasa pahit. Shara lalu menatap pada simbol salib yang terdapat di dalam interior gereja.
Hati Shara mendadak bimbang.
"Buk!" Shara sudah bangkit dari duduknya.
"Shara, ada apa?" Tanya Pak Rudi cepat.
"Shara---"
"Shara harus pergi!" Shara langsung berlalu begitu saja dari tempat duduknya. Gadus itu bahkan sudah berlari keluar dari gereja.
"Shara!!" Panggil Bu Maria yang hanya diabaikan oleh Shara.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.