Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
RAGU


__ADS_3

Gizta terdiam cukup lama, saat gadis itu menatap pada wajah Shara yang sudah terbaring di dalam peti. Gaun putih dari brokat tampak anggun membalut tubuh Shara.


"Kak--Cha--ra--se--dang--"


"Ti--dur--" gumam Gizta kemudian pada Diftha yang sejak tadi tak beranjak dari belakang gadis itu.


"Iya," jawab Diftha pelan sembari mengangguk.


"Kak Chara sedang tidur sekarang, Gizta!" Diftha masih mengangguk-angguk. Kedua tangan Diftha mencengkeram pegangan kursi roda Gizta, seolah Diftha sedang meluapkan semua rasa yang bergumul menjadi satu di dalam dadanya.


Diftha sendiri masih tidak tahu mengenai hubungan apa sebenarnya yang terjalin di antara dirinya dan Shara. Namun rasa sakit yang kini menyelimuti hati Diftha seolah sudah menjawab semuanya.


Sebenarnya, dalam hati kecil Diftha, ia memanglah menyimpan satu perasaan terlarang pada Shara. Hanya saja Diftha memilih untuk menahan serta menyimpannya. Diftha cukup tahu betapa lebarnya jurang pemisah diantara dirinya dan Shara.


Perbedaan keyakinan memanglah satu hal yang sulit dinegosiasikan. Jadi ketimbang harus merasakan patah hati lagi untuk kedua kali, Diftha memilih untuk tak pernah mengungkapkan perasaannya pada Shara.


"Shara sudah tidur dengan tenang di dalam pelukan Tuhannya," ucap Diftha lagi dalam hati sembari menatap pada wajah Shara. Mungkin ini akan jadi tatapan terakhir Diftha pada Shara yang ternyata benar-benar mencintainya sampai mati.


"Bye--Kak--Cha--ra--" ucap Gizta kemudian sembari meletakkan satu tangkai bunga warna putih ke dalam peti mati Shara.


Diftha kemudian mendorong kursi roda Gizta dan mengajak adiknya itu untuk meninggalkan peti mati Shara.


"Saya dan Gizta turut berduka cita atas kepergian Shara, Bu," ucap Diftha sekali lagi saat dirinya kembali berpapasan dengan Bu Maria yang wajahnya sudah terlihat tegar. Pun dengan Pak Rudi yang sepertinya sudah menerima dengan ikhlas kepergian Shara yang mendadak ini.


"Kepergian Shara adalah jawaban atas keinginan keras kepala Shara."


"Bahkan Tuhan juga tak rela jika Shara mengkhianati-Nya, Diftha!" Ucap Bu Maria sembari menggenggam kalung rosario miliknya.


"Iya, Bu," jawab Diftha lirih.


"Ibu bukannya mencela agama serta keyakinanmu, Diftha! Ibu yakin kalau semua agama pastilah mengajarkan kebaikan."


"Ibu hanya tidak rela jika Shara yang sejak kecil sudah menjadi anak Tuhan, tiba-tiba berpaling hanya karena sebuah cinta buta."


"Cinta dan pernikahan, seharusnya bisa membuat keimanan Shara menjadi lebih kuat dan bukannya malah membuat Shara menjadi salah jalan."


"Kau paham maksud ibu, kan?" Tukas Bu Maria sekali lagi yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Diftha paham, Bu!"


"Diftha sebenarnya juga sudah memperingatkan Shara dan tak pernah sedikitpun Diftha mempengaruhi atau memaksa Shara untuk berpindah keyakinan mengikuti Diftha...." Suara Diftha sejenak tercekat.


"Namun Shara begitu keras kepala, dan ia bersikeras ingin berpindah keyakinan. Padahal Diftha sangat tahu kalau hati kecil Shara sebenarnya menolak--"


"Di dalam hati Shara sudah terpatri tentang Tuhan yang ia yakin," potong Bu Maria cepat dan Diftha hanya mengangguk sekali lagi.


"Semoga Shara beristirahat dengan tenang di surga, Bu!" Ucap Diftha sekali lagi sebelum pria itu berpamitan.


Diftha juga kembali berpapasan dengan Saskia saat ia dan Gizta hendak meninggalkan rumah duka. Saskia sempat menatap Gizta untuk beberapa saat, sebelum kemudian gadis itu masuk ke dalam rumah duka.


"Ayo pulang!" Ajak Diftha kemudian pada sang adik.


"Kak--Cha--ra--di--ma--kam--kan--ka--pan?" Tanya Gizta pada Diftha yang masih larut dalam lamunannya.


"Bang--" Gizta bersuara lebih keras.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Diftha tergagap.


"Kak--Cha--ra--di--ma--kam--kan--ka--pan?" Gizta mengulangi pertanyaannya.


Diftha tak langsung menjawab, dan pria itu malah berjongkok di samping kursi roda Gizta.


"Kenapa tidak dimakamkan saja, Pak?" Tanya Bu Maria pada Pak Rudi, saat kedua orangtua Shara itu sedang berdiskusi mengenai rencana pemakaman Shara. Diftha yang duduknya sedikit jauh dari Pak Rudi dan Bu Maria hanya mendengar samar-samar tentang kesepakatan yang dibahas oleh pasangan paruh baya tersebut.


"Ini adalah permintaan Shara sendiri, Buk! Shara pasti akan kecewa jika kita tak menuruti permintaannya yang terakhir." Ujar Pak Rudi kemudian menjawab pertanyaan Bu Maria.


"Nanti abunya yang akan kita makamkan," sambung Pak Rudi lagi yang langsung membuat Bu Maria mengangguk setuju.


"Bang---" Teguran Gizta langsung menyentak lamunan Diftha.


"Jenazah Kak Chara akan dikremasi dan tidak dimakamkan, Gizta," ujar Diftha akhirnya memberitahu sang adik yang langsung terlihat bingung.


"Yang terpenting, Gizta sudah mengucapkan selamat tinggal pada Kak Chara."


"Jangan pernah melupakan semua kebaikan yang pernah dilakukan Kak Chara pada Gizta serta pelajaran berharga yang pernah Kak Chara ajarkan."


"Ya!" Nasehat Diftha panjang lebar pada sang adik. Tangan Diftha juga sudah mengusap kepala Gizta Sekarang.


"Giz--ta--a--kan--ingat," jawab Gizta bersungguh-sungguh


"Ayo pulang!" Ajak Diftha sekali lagi seraya mendorong kursi roda Gizta ke arah parkiran.


Tepat setelah mobil Diftha melaju pergi, Saskia keluar dari rumah duka, lalu menatap pada mobil putih milik Diftha yang sudah melaju pergi. Saskia merem*s buku kecil di genggamannya, yang tak sengaja ia temukan di kamar Shara.


****


"Apa masih belum ada terapis pengganti untuk Gizta yang bisa datang ke rumah?" Tanya Diftha mulai putus asa. Diftha menatap pada sang adik yang beberapa bulan belakangan seperti kehilangan semangat untuk melanjutkan terapinya.


Entah karena Gizta yang sekarang harus kembali ke klinik terapi dan tak bisa lagi melakukan terapi di rumah, atau ini masih ada hubungannya dengan kepergian Shara.


"Kami sedang mengusahakanmya sejauh ini, Pak! Nanti kalau sudah ada pasti akan langsung kami hubungi," janji karyawan di klinik terapi yang hanya mampu membuat Diftha menghela nafas jengah.


"Baiklah! Aku tunggu kabar baiknya," pungkas Diftha akhirnya sedikit berbasa-basi. Diftha lalu mendorong kursi roda Gizta keluar dari klinik terapi.


"Hei! Kenapa murung?" Diftha mengacak rambut Gizta, sambil berharap sang adik akan cemberut atau marah, lalu mengomeli Diftha.


Namun tak ada jawaban atau perubahan ekspresi dari Gizta.


"Mau jalan-jalan ke mall? Mumpung Abang libur," ajak Diftha kemudian yang ganti menawarkan hal lain.


"Giz--ta--mau--u--dah--an--"


"Te--ra--pi--nya," ucap Gizta yang akhirnya buka suara.


"Kenapa begitu? Gizta tidak ingin sembuh?" Cecar Diftha yang langsung menatap serius pada sang adik.


"Ti--dak--" jawab Gizta singkat.


Diftha tentu saja langsung mengusap wajahnya sendiri.


"Kita bahas nanti saja di rumah!" Putus Diftha akhirnya sembari mendorong kursi roda Gizta keluar dari klinik terapi. Diftha lalu dengan cekatan memindahkan Gizta ke dalam mobil, dan tepat saat Diftha sudah duduk di belakangnya kemudi, ponsel pria itu mendadak berdering.

__ADS_1


"Halo, selamat siang, Dok!" Sambut Diftha pada dokter di seberang telepon.


"Diftha, kau sudah menghubungi Dokter Saskia seperti saranku beberapa bulan yang lalu?"


"Dokter Saskia?" Diftha bergumam sendiri dan mencoba mengingat-ingat, momen saat dokter yang menangani Gizta memberikan rekomendasi agar Diftha berkonsultasi pada Dokter Saskia. Dokter itu bahkan juga memberikan kontak dokter Saskia yang hingga detik ini masih tersimpan rapi, dan hanya membantu untuk memenuhi ruang penyimpanan kontak di ponsel Diftha saja.


Diftha sama sekali belum menghubungi Dokter Saskia.


"Diftha!"


"I--ya, Dok!" Diftha akhirnya menjawab dan buka suara.


"Kau sudah menghubungi Dokter Saskia?"


"Be--belum!" Jawab Diftha masih tergagap.


"Hubungi beliau sekarang! Aku dengar mulai hari ini Dokter Saskia sudah pindah ke kota ini."


"Iya, Dok!" Jawab Diftha bersamaan dengan telepon yang sudah terputus.


Diftha kemudian membuka kontak ponselnya dan mencari nama Dokter Saskia di sana.


"Ini dia!" Gumam Diftha lagi sembari membuka kontak yang ia beri nama dokter Saskia. Namun Diftha sedikit terkejut saat melihat wajah seorang gadis yang menjadi foto profil dari kontak tersebut.


"Bukankah ini...." Diftha bergumam sendiri dan tentu saja wajah itu sama sekali tak asing bagi Diftha.


"Kak Kia seorang dokter dan kebetulan sekarang sedang mengambil spesialis neurologi."


"Semoga nanti Gizta bisa ditangani oleh Kak Kia."


"Kia? Saskia?" Diftha kembali bergumam seraya menebak-nebak. Mendadak tangannya menjadi ragu untuk menghubungi Dokter Saskia dan membuat janji bertemu.


Pasti akan canggung sekali!


"Bang--" Teguran Gizta langsung menyentak lamunan Diftha.


"Ya!" Jawab Diftha sembari menyimpan kembali ponselnya dan tak jadi mengirim pesan pada Saskia.


"Ke--na--pa--be--lum--ja--lan?" Tanya Gizta dari jok belakang.


"Ini sudah mau jalan," ujar Diftha seraya menyalakan mesin mobilnya.


"Bang--" panggil Gizta lagi dari jok belakang.


"Iya, Gizta! Kau mau mampir ke satu tempat?" Tawar Diftha sambil tetap fokus mengemudi.


"Ke--su--per--mar--ket--" ujar Gizta yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Baiklah, kita ke supermarket!" Tukas Diftha sembari melajukan mobilnya ke arah supermarket.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2