
"Terima kasih karena sudah repot-repot mengantar pulang, Pak Diftha!" Ucao Mbak Ida setelah mobil Diftha bernenti di depan rumah sederhana Mbak Ida.
"Iya, Mbak. Sama-sama!"
"Ini untuk suami dan anak-anak, Mbak! Semoga suaminya cepat sembuh," ujar Shara yang ganti mengangsurkan kantong belanja pada Mbak Ida
Tadi Diftha memang mengajak Shara mampir di minimarket sebentar untuk membelikan beberapa keperluan untuk keluarga Mbak Ida.
"Ya ampun! Kenapa repot-repot, Mbak? Terima kasih-"
"Bilang pada Diftha. Dia yang membelikan," tukas Shara cepat seraya menunjuk ke arah Diftha yang hanya mengulas senyum.
"Semoga suaminya cepat sembuh, Mbak!" Ucap Diftha yang juga ikut mendoakan suami Mbak Ida.
"Aamiin. Terima kasih sekali lagi, Pak Diftha. Saya langsung turun," pamit Mbak Ida selanjutnya seraya membuka pintu mobil.
"Mbak turun dulu, ya, Gizta!" Tak lupa, Mbak Ida juga pamit pada Gizta yang malam ini juga ikut mengantar Shara dan Mbak Ida.
Ya, sekarang Gizta memang sudah bisa diajak bepergian atau sekedar jalan-jalan, setelah serangkaian terapi yang dilakukan oleh Shara. Benar-benar kemajuan yang membuat Diftha merasa lega dan bahagia.
"Assalamualaikum!" Ucap Mbak Ida lagi sembari menutup pintu mobil.
"Walaikum salam, Mbak!" Jawab Diftha lantang. Berbeda dengan Shara yang hanya terlihat komat-kamit.
Mobil Diftha sudah kembali melaju dan meninggalkan rumah Mbak Ida.
"Biasanya Mbak Ida memang selalu kamu antar pulang begini, Dift?" Tanya Shara memulai obrolan.
"Tidak! Suaminya Mbak Ida rutin jemput kok, kalau lagi sehat," terang Diftha yang langsung membuat Shara mengangguk.
"Aku pikir memang kamu antar kemput setiap pagi," guman Shara lagi.
"Cemburu?" Tebak Diftha seraya melirik sekilas pada Shara yang langsung menoleh dan menatap tak percaya pada Diftha.
"Apa, sih?" Shara segera meninju pundak Diftha yang kini malah terkekeh. Mobil lalu berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Suasana di dalam mobil sesaat menjadi hening karena Diftha dan Shara sama-sama diam.
"Kalau aku ajak mampir dulu ke satu tempat, Ibuk kamu marah tidak, Sha?" Tanya Diftha yang kembali memulai obrolan bersamaan dengan mobil yang sudah melaju di jalanan yang malam ini sedikit padat.
"Tergantung," jawab Shara sembari tertawa kecil.
"Kok tergantung?" Tanya Diftha mengernyit bingung.
"Iya tergantung kamu mau ngajakin aku mampir kemana? Kalau ke toko lagi atau ke resto ya ibuk nggak marah-"
"Trus Ibuk marahnya kalau aku ajakin kamu kemana?" Sela Diftha cepat.
"Ke hotel," jawab Shara nyaris tanpa suara, sebelum kemudian gadis itu tertawa terbahak-bahak.
"Pikiranmu, Sha!" Diftha langsung refleks mengacak rambut Shara.
"Ck! Jadi berantakan!" Gerutu Shara yang langsung menyisir lagi rambutnya memakai jari. Diftha yang masih mengemudi, hanya sesekali menoleh ke arah Shara yang masih sibuk merapikan rambutnya lagi.
"Jadi, kita mau kemana dulu?" Tanya Shara selanjutnya seraya menatap pada Diftha.
"Ke toko. Membeli sesuatu untuk Gizta," jawab Diftha yang langsung membuat Shara membulatkan bibir sekaligus mengangguk. Shara lalu menengok ke jok belakang, dimana ada Gizta yang duduk sendirian.
"Gizta-nya sudah tidur, Dift!" Lapor Gizta kemudian dengan suara berbisik-bisik pada Diftha.
__ADS_1
"Masa?"
"Sudah ngantuk berat sepertinya," kekeh Shara kemudian.
"Ck! Baiklah."
"Aku anterin kamu pulang saja," putus Diftha akhirnya.
"Memang tadinya mau beli apa, sih?" Tanya Shara penasaran.
"Gamis buat Gizta."
"Dia merengek minta dibeliin gamis semalam," cerita Diftha yang langsung membuat Shara mengangguk.
"Memang dulu sebelum kecelakaan, Gizta berhijab juga kayak Mbak Ida itu?" Tanya Shara lagi penasaran.
"Belum, sih! Karena waktu itu Gizta juga masih SMP."
"Tapi Gizta memang ada niatan untuk mulai berhijab saat dia mulai SMA atau kuliah. Dan Mama waktu itu juga sudah membelikan beberapa gamis dan hijab untuk Gizta."
"Tapi malah terjadi kecelakaan," cerita Diftha panjang lebar sembari menarik nafas berat beberapa kali.
"Kamu benar-benar seorang abang yang hebat dan kuat, ya, Dift! Kalau orang lain yang di posisi kamu, belum tentu mereka bakal sekuat kamu," ucap Shara kemudian sembari mengusap tangan Diftha yang kini memegang tuas transmisi.
"Aku menyayangi Gizta sejak dulu, dan untuk saat ini hanya Gizta satu-satunya keluarga yang aku miliki."
"Jadi aku akan mengusahakan semua yang terbaik untuk Gizta," ungkap Diftha lagi yang baru menyadari kalau tangannya masih digenggam oleh Shara di atas tuas transmisi. Sejenak langsung terbersit ide usil di kepala Diftha.
"Sha!" .
"Hmmm! Kenapa?" Tanya Shara yang bergegas menoleh ke arah Diftha.
"Maaf, aku pikir tadi sedang memegang yang lain," cicit Shara yang masih salah tingkah.
"Yang lain?" Diftha bergumam sembari mengul*m senyum.
"Nggak mampir sholat?" Tanya Shara kemudian, saat mobil Diftha melewati sebuah masjid besar yang ada di kota tersebut. Suara kumandang adzan Isya' memang masih menggema dari arah masjid nan megah tersebut.
"Nanti saja di rumah. Gizta sudah tidur juga," jawab Diftha yang terus melajukan mobilnya. Rumah Shara hanya tinggal beberapa meter lagi dan sebaiknya Diftha memang segera mengantar Shara, lalu pulang ke rumah. Lain kali saja Diftha akan mengajak Gizta ke toko baju untuk membelikan gamis yang diinginkan Gizta.
Mobil Diftha akhirnya sampai di depan rumah Shara. Hujan juga hanya tinggal gerimis kecil.
"Terima kasih, ya!" Ucap Shara sembari melepaskan sabuk pengaman.
"Ya!" Jawab Diftha yang sepertinya hebdak mengutarakan sesuatu namun ragu-ragu.
Entahlah!
"Bye, Gizta! Bobok yang nyenyak dan mimpi indah, ya!" Pamit Shara selanjutnya, sembari mengusap wajah Gizta. Namun rak ada reaksi apapun dari Gizta yang sepertinya memang ngantuk berat. Gadis itu tidur pulas sekali.
"Aku turun sekarang, ya!"
"Terima kasih sekali lagi," ucap Shara lagi yang tangannya sudah bersiap membuka pintu mobil. Saat itulah, Diftha langsung mencegahnya.
"Shara, sebentar!"
"Ya, ada apa?" Shara tak jadi membuka pintu mobil dan gadis itu menatap serius pada Diftha.
__ADS_1
"Mmmm, begini...." Diftha menarik nafas panjang dan sepertinya masih terlihat ragu untuk menyampaikan apapun itu.
"Lusa aku harus ke luar kota karena satu urusan. Aku sudah mengatakannya pada Mbak Ida."
"Tapi Mbak Ida juga pas adaacara malamnya, jadi Mbak Ida hanya bisa mebjaga Gizta sampai sore dan aku belum mendapatkan perawat yang bisa menjaga Gizta malamnya-"
"Kau pergi berapa lama?" Tanya Shara menyela.
"Hanya dua hari satu malam."
"Kamis siang atau sore aku sudah pulang pokoknya."
"Dan lagi, Kamis pagi Mbak Ida juga sudah datang seperti biasa. Hanya Rabu malam itu saja Gizta tidak ada yang menjaga," terang Diftha yang langsung membuat Shara mengangguk.
"Nanti aku akan menjaga Gizta kalau begitu," ujar Shara akhirnya dengan wajah sungguh-sungguh.
"Tidak merepotkan?" Tanya Diftha sedikit sungkan.
"Tidaklah! Aku kebetulan juga luang di hari Rabu."
"Tapi nanti mungkin aku akan mengajak Ibuk. Tidak apa-apa, kan?" Ujar Shara meminta izin dari Diftha.
"Tidak apa-apa!" Jawab Diftha cepat sembari tersenyum.
"Terima kasih sebelumnya, Sha!" Ucao Diftha lagi tulus.
"Sama-sama!"
"Lain kali tidak usah sungkan begitu kalau minta bantuanku!" Pesan Shara sebelum gadis itu turun dari mobil Diftha.
"Bye!" Pamit Shara sembari menutup kembali pintu mobil, lalu melambaikan tangan pada Diftha.
"Bye!"
"Assalamualaikum!" Ucap Diftha yang sudah bersiap pergi.
"Wa-" Shara menahan jawaban salamnya hingga mobil Diftha melaju pergi. Shara terus menatap ke arah mobil Diftha yang akhirnya menghilang di ujung jalan.
"Jangan melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, Shara!"
"Ibuk tak melarang kau menjalin hubungan dengan pria manapun, Shara! Yang terpenting adalah pria itu harus seiman dan bertanggung jawab."
"Harus seiman, Shara!"
"Harus seiman, karena kita adalah hamba yang takut pada Tuhan!"
Shara memejamkan kedua matanya, lalu tangan gadis itu menggenggam bandul salib di kalungnya, yang tersembunyi di dalam baju. Shara menarik nafas panjang dan sekarang hatinya menjadi bimbang.
Harus seiman!
Harus seiman!
Kata-kata itu terus saja terngiang di benak Shara, hingga gadis itu masuk ke dalam rumah dan ke kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.