
"Kak--"
"Chara!"
"Be--lum pu--lang?" Tanya Gizta yang sudah keluar dan menghampirinya Shara yang sejak tadi memang masih duduk di teras rumah.
"Belum. Motornya mogok," jawab Shara sembari mengendikkan dagu ke arah motornya yang memang mogok tak bisa jalan, karena kuncinya diambil oleh Diftha.
Dasar Diftha usil!
"Kau sudah mandi?" Tanya Shara yang kemudian menghampiri Gizta.
"Su---dah!"
"Sa--ma Mbak--"
"Ida," jawab Gizta yang bicaranya memang masih tergagap.
Namun kata Diftha ini sudah termasuk perkembangan ya g luar biasa. Karena dulu, Gizta bicaranya hanya sedikit sepanjang hari. Tapi semenjak terapi bersama Shara, Gizta sudah jadi lebih cerewet.
Shara meraih segenggam rambut Gizta, lalu mencium aromanya.
"Iya, wangi," ucap Shara yang langsung membuat Gizta tertawa.
"Apa yang lucu?" Tanya Diftha yang sudah keluar lagi dari dalam rumah. Abang dari Gizta itu juga sydah mengganti baju kerjanya tadi dengan kaos lengan pendek serta celana jeans selutut.
"Tidak apa-apa! Hanya sekedar obrolan wanita dan kau juga tak mungkin paham," ujar Shara menjawab pertanyaan Diftha tadi.
"Hmmmm. Begitu, ya?"
"Aku akan ke bengkel dulu kalau begitu." Tukas Diftha selanjutnya sembari mengeluarkan kunci motor Shara dari saku celananya.
"Aku ikut, Dift! Nanti sekalian pulang," pinta Shara dengan raut memohon.
"Llau aku pulangnya bagaimana?" Diftha sudah menunjukkan telunjuknya ke dirinya sendiri.
"Mmmmm...." Shara berpikir sejenak.
"Aku antar, deh! Bengkelnya jauh, ya?" Ujar Shara yang akhirnya menemukan solusi.
"Jauuuh sekali!"
"Harus memutar nanti kalau kau mengantarku pulang," jawab Diftha yang ekspresi wajahnya sudah menunjukkan ketidakjujuran.
Jangan-jangan bengkelnya hanya lima langkah dari rumah Diftha!
"Ck!" Shara akhirnya hanya mampu berdecak karena kalah berdebat dengan Diftha.
"Aku akan pergi sendiri dan kau bisa sholat dulu di dalam, Sha!" Ujar Diftha memberikan saran.
__ADS_1
"Aku....Tidak sholat!" Jawab Shara sembari meringis.
"Oh, sedang ada tamu? Yasudah, duduk-duduk saja bersama Gizta. Aku tak lama, kok!" Pingkas Diftha sebelum kemudian pria itu melajukan motor Shara keluar dari halaman dan langsung meninggalkan rumah mungil Diftha.
"Tamu? Tamu apa?" Gumam Shara kemudian setelah kepergian Diftha.
"Tamu haid maksudnya, Mbak Shara!" Ujar Mbak Ida yang sepertinya bisa menangkap kebingungan Shara.
"Kan kalau sedang haid tidak boleh sholat. Mbak Shara sedang haid, ya?" Sambung Mbak Ida lagi menjelaskan panjang kali lebar pada Shara.
"I...ya!" Shara kembali meringis.
Bukan meringis karena berbohong, namun meringis karena hal lain.
Dan lagi, Shara sebenarnya memang sedang haid sekarang, meskipun sudah hampir selesai.
"Biarkan Gizta makan sendiri, Mbak!" Ucap Shara pada Mbak Ida yang hendak menyuapi Gizta.
"Masih berantakan, Mbak!" Ucap Mbak Ida dengan suara pelan.
"Kan tinggal dibersihkan! Motorik Gizta harus terus dilatih agar Gizta juga segera pulih," terang Shara panjang lebar yang akhirnya hanya membuat Mbak Ida mengangguk.
"Mbak Ida pulang jam berapa biasanya?" Tanya Shara selanjutnya, karena Mbak Ida yang sepertinya sedang buru-buru.
"Biasanya kalau Pak Diftha sudah pulang, saya juga langsung pulang, Mbak! Ini tadi sudah telepon suami juga minta jemput-"
Kalimat Mbak Ida belum selesai, saat sudah terdengar suara klakson dari luar pagar.
"Itu suaminya Mbak Ida?" Tanya Shara memastikan.
"Iya, Mbak! Tapi tadi Pak Diftha sedang keluar. Saya ngomong ke suami dulu-"
"Udah, Mbak Ida pulang saja nggak apa-apa!" Sergah Shara cepat memotong kalimat Mbak Ida.
"Gizta biar aku yang jaga. Tadi kata Diftha dia juga nggak lama, kok!" Imbuh Suara lagi.
"Bener nggak apa-apa, Mbak?"
"Saya jadi nggak enak karena kerap merepotkan Mbak Shara-"
"Nggak repot, Mbak! Kan cuma jaga Gizta sebentar. Nggak sampai seharian juga." potong Shara lagi seraya tertawa kecil.
"Yasudah, saya pamit, ya, Mbak! Sudah dijemput soalnya," pamit Mbak Ida akhirnya.
"Iya, Mbak! Hati-hati!" Jawab Shara seraya melambaikan tangan pada Mbak Ida, yang tam berselang lama sudah menghilang keluar pagar.
Kini hanya tinggal Shara dan juga Gizta!
"Enak, ya?" Tanya Shara akhirnya pada Gizta yang terlihat begitu lahap.
__ADS_1
Gizta tak menjawab pertanyaan Shara dan gadis itu hanya mengacungkan ibu jarinya. Gizta lalu mencoba untuk menyuapi Shara, namun suapan Gizta malah meleset ke pipi Shara.
Terang saja, hal itu langsung membuat Shara tergelak.
"Tahu saja kalau aku belum mandi, Gizt! Makanya kamu make up begini," seloroh Shara sembari terkekeh. Disaat bersamaan, ponsel Shara mendadak berdering.
"Siapa yang telepon, ya?" Gumam Shara yang buru-buru bangkit berdiri, lalu berlari ke dapur untuk mencuci kembali lagi dan mengangkat telepon.
"Iya, Buk!" Sambut Shara dengan suara lembut.
"Kamu dimana, Sha? Tadi katanya cuma terapi Gizta sampai jam tiga? Ini sudah jam empat, Sha!"
"Shara masih di rumah Gizta, Buk!" Jawab Suara jujur.
"Lalu mau pulang jam berapa? Mau pacaran dulu sama Diftha?" Sesaat kemudian terdengar kekehan dari ujung telepon.
Berbeda dengan hati Shara yang mendadak merasa dilema, galau, dan serba salah.
"Sha! Kok malah bengong?' Teguran Bu Maria kemudian yang langsung mrmbuat Shara tersentak.
"Eh, iya, Bu!"
"Bagaimana tadi?" Suara Shara sedikit tergagap.
"Kita ada ibadah sore ini, Sha!"
"Iya, Shara ingat, Buk! Tapi motor Shara baru dibawa Diftha ke bengkel tadi," terang Shara panjang lebar.
"Bapak biar jemput kesana, ya! Motor kamu rusak apanya sebenernya?"
"Hah?" Shara sedikit kaget dengan usulan Bu Maria.
"Tidak usah, Buk!" Tolak Shara akhirnya.
"Ini Diftha juga sudah pulang, Buk! Shara akan pulang sekarang!" Tukas Shara lagi, bersamaan dengan Diftha yang memang sudah tiba lagi di rumah.
"Benar, tidak usah?"
"Iya, benar, Buk! Shara pulang sebentar lagi!" Pungkas Shara sembari menutup telepon dari Bu Maria.
Setelah menyimpan ponselnya, Shara langsung menghampiri Diftha yang baru datang.
.
.
.
Terima Kasih yang sudah mampir.
__ADS_1