
"Terima kasih atas pengakuanmu barusan, Diftha! Aku sudah lega sekarang."
Diftha tercenung untuk beberapa saat setelah pria itu mendengar kalimat Shara. Baru saja Diftha akan buka suara lagu, namun telepon sudah terputus begitu saja.
Atau lebih tepatnya sudah ditutup oleh Shara!
Apa Diftha salah bicara tadi?
"Lalu, jika kita sudah terlanjur saling mencintai?"
Kalimat Shara kembali berkelebat di benak Diftha.
Sudah terlanjur saling mencintai!
Apa itu artinya selama ini Shara....
"Bang!" Teguran Gizta langsung menyentak lamunan Diftha.
"Iya, Gizt! Kau belum tidur?" Diftha buru-buru menghampiri Gizta yang kini berada di ambang pintu kamarnya.
"Ta--di--"
"A--bang--"
"Me--ne--lepon--si--a--pa?" Tanya Gizta yang sepertinya mebdengar obrolan Diftha dengan Shara di telepon tadi.
Sudah berapa lama memangnya Gizta tadi berada di ambang pintu kamar Diftha? Apa gadis ini menguping pembicaraan Diftha? Kenapa Diftha bisa tidak sadar?
"Menelepon kak Shara," ujar Diftha akhirnya menjawab pertanyaan Gizta secara jujur. Diftha juga sydah mendorong kursi roda Gizta ke arah kamar gadis itu.
"A--bang--su--ka--"
"Sa--ma--kak--cha--ra?" Tanya Gizta lagi yang sudah mirip detektif saja.
"Suka bagaimana maksudmu?" Diftha balik bertanya pada Gizta sembari tertawa kecil.
"Ke--na--pa--"
"A--bang--ti--dak--"
"Me--nga--jak--kak--Cha--ra--" Gizta menjeda kalimatnya sejenak dan Diftha sedikit penasaran sekarang.
"Mengajak Kak Shara kemana?" Tanya Diftha akhirnya pada sang adik.
"Me--ni--kah." Ujar Gizta to the point.
Diftha sontak tertawa kecil.
"Tidak semudah itu, Gizt!" Diftha kini sudah bersimpuh di depan Gizta.
"Kau pasti juga tahu kalau kita dan Kak Shara itu berbeda keyakinan. Jadi tidak semudah itu menjalin sebuah hubungan." Diftha menerawang sejenak.
"Mes--ki--pun--"
"Kak--Cha--ra--ber--pin--dah--"
"A--ga--ma?" Gizta sudah menatap serius pada Diftha. Tangan Gizta lalu meraih tangan Diftha dan mencoba untuk menggenggamnya.
"Kak--Cha--ra--"
"Men--cin--tai--a--bang--" ujar Gizta pagi yang tak terlalu membiat Diftha terkejut.
Shara judah mengakuinya tadi!
Dan Diftha juga!
Ya, Diftha memang sudah menaruh perasaan apapun itu namanya pada Shara. Diftha sidah merasa nyaman pada terapis Gizta tersebut, dan tadinya Diftha memang ada niat untuk menemui kedua orang tua Shara baik-baik, lalu melamar Shara, dan menghalalkan gadis itu.
__ADS_1
Namun ternyata....
Semua rencana indah Diftha tersebut harus menguap pergi karena satu hal yang bahkan tak pernah Diftha pikirkan sebelumnya.
Diftha benar-benar tak menyangka jika Shara dan dirinya berbeda...
Berbeda dalam hal keyakinan.
"Bim--bing--Kak--Cha--ra--"
"Bang--" ucap Gizta lagi yang langsung membuat Diftha terdiam.
Membimbing Shara?
Maksudnya Diftha harus memaksa Shara untuk mengikuti keyakinannya agar mereka berdua bisa bersatu?
Diftha harus melakukannya?
Lalu bagaimana nanti tanggapan kedua orangtua Shara?
Bu Maria dan Pak Rudi sepertinya begitu religius. Pasti tak akan mudah bagi Diftha melakukan apa yang dikatakan Gizta barusan.
"Bang--" ucap Gizta lagi yang langsung membuat Diftha menatap pada sang adik, lalu menghela nafas panjang berulang-ulang.
"Abang tidak bisa memaksa Kak Shara, Gizta!"
"Keyakinan adalah satu hal yang sensitif," ujar Diftha seolah tanpa harapan.
"Kecuali jika Shara memang ingin melakukannya atas dasar kesadaran dan keinginan dari hatinya," lanjut Diftha lagi yang sudah ganti tersenyum kecut.
"A--bang--ti--dak--"
"Ma--u--ber--ju--ang?" Tanya Gizta lagi.
Diftha kembali menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Gizta,
"Mungkin sebaiknya nanti malam Abang minta petunjuk dulu pada Allah," ujar Diftha lagi sembari mengendikkan kedua bahunya.
"Sebaiknya kau istirahat sekarang," tukas Diftha kemudian sembari menggendong Gizta, lalu memindahkan gadis itu ke atas tempat tidur.
"Kak--Cha--ra--"
"Be--sok--da--tang?" Tanya Gizta yang kini sudah berbaring di atas tempat tidur Diftha langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya tersebut.
"Tidak!"
"Besok tidak ada jadwal terapi, jadi Kak Shara tak akan datang."
"Abang juga mungkin pulang agak terlambat besok," jelas Diftha panjang lebar.
"Giz--ta--"
"Sa--ma?" Tanya Gizta yang entah benar-benar lupa atau hanya iseng bertanya.
"Mbak Ida!" Jawab Gizta sembari menatap gemas pada sang adik.
"He--he--" Gizta malah terkekeh tanpa dosa sekarang. Jelas sudah kalau pertanyaan Gizta tadi memang hanya keisengan belaka.
Tapi ini adalah kabar bagus juga, karena Gizta sudah bisa iseng!
Semoga tak lama lagi, Gizta akan kembali pulih dan menjadi Gizta yang ceria dan cerewet seperti dulu!
"Selamat malam, Gizta!" Ucap Diftha kemudian setelah pria itu mencium kening sang adik.
"Mimpi indah," ujar Diftha lagi yang langsung membuat Gizta mengulas senyum.
"Ber--te--mu--"
__ADS_1
"Pa--pa--dan--ma--"
"Ma--" jawab Gizta yang langsung membuat Diftha terdiam untuk beberapa saat.
"Bertemu saja tapi jangan ikut pergi," ucap Diftha memohon pada Gizta yang masih mengulas senyum. Perasaan Diftha mendadak jadi tak enak!
"Gizta!" Diftha akhirnya tak jadi keluar dari kamar Gizta, dan pria itu kembali menghampiri Gizta, lalu duduk di tepi ranjang adiknya tersebut.
"Kau habis mimpi Papa dan Mama?" Tanya Diftha kemudian sembari meraup Gizta je dalam pelukan.
"Ke--ma--rin--" jawab Gizta.
"Mama dan Papa bicara apa?" Tanya Diftha lagi. Mata Diftha sedikit memanas dan airmata seolah mendesak ingin keluar. Segera Diftha mendongakkan kepala, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Giz--ta--"
"Ha--rus-- sem--buh--" jawab Gizta.
"Benar sekali! Kau harus sembuh dan pulih, Gizta!"
"Abang akan berupaya semaksimal mungkin agar kau tetap bisa meraih cita-citamu sebagai dokter," ucap Diftha seolah sedang berjanji pada Gizta.
Gizta tak bicara apa-apa lagi dan gadis itu hanya mengangguk.
"Abang temani disini malam ini, mau?" Tanya Diftha selanjutnya pada sang adik.
"Ya." Jawab Gizta singkat.
****
"Lihat! Kau lebih cantik dengan aurat yang tertutup."
Shara menatap pantulan wajahnya di cermin, lalu gadis itu mengambil scarf milik Bu Mara. Shara lalu membentangkan scarf tersebut dan memakainya di atas kepala. Otaknya kembali mengingat-ingat bagaimana kemarin ia memakaikan benda itu ke kepala Gizta.
"Seperti ini?" Shara bergumam sekaligus bertanya pada dirinya sendiri. Kedua netranya masih fokus menatap ke cermin, sembari tangannya bergerak untuk mengatur ujung scarf panjang yang kini mulai beralih fungsi menjadi sebuah jilbab.
"Aku rasa begini," gumam Shara lagi sembari tersenyum pada pantulan wajahnya sendiri.
Di saat bersamaan, pintu kamar Shara tiba-tiba sudah menjeblak terbuka. Ada Bu Maria yang berdiri di ambang pintu yang tentu saja langsung membuat Shara kaget dan buru-buru menyingkirkan scarf tadi dari kepalanya.
"Masih bersiap?" Tanya Bu Maria sembari menghampiri Shara.
"I--ya!" Jawab Shara tergagap.
"Itu bukannya scarf ibu?" Tanya Bu Maria lagi.
"Eh, iya!" Shara mengalungkan scarf tdo di lehernya.
"Mau ibuk pakai, ya? Shara hanya pinjam sebentar tadi," ujar Shara lagi.
"Ibu pakai yang lain." Bu Maria menunjukkan scarf yang sudah melingkar di lehernya. Tampak senada dengan blouse yang dikenakan Bu Maria
"Kau mau memakainya?" Bu Maria ganti bertanya pada Shara.
"Ti---dak!" Jawab Shara sembari meringis. Shara lalu melirik pada kostum penari tamborin di atas tempat tidur.
"Ibu lupa!"
"Kau akan menari sore ini," Bu Maria meraih kostum Shara tadi, lalu mengangsurkannya pada sang putri.
"Shara akan ganti baju dulu, Buk," tukas Shara kemudian seraya berlalu ke arah kamar mandi.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.