Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
TERNYATA


__ADS_3

Sore menjelang.


Shara memilih untuk mengurung diri seharian di kamar karena serelah Pak Rudi berangkat kerja tadi, Bu Maria masih tidak mau bucara pada Shara. Sepertinya Ibu kandung Shara itu benar-benar marah besar. Entah sampai kapan Bu Maria akan mendiamkan Shara.


"Shara!"


Shara hampir terlonjak saat pintu kamarnya sudah menjeblak terbuka, dan ada Bu Maria yang kini berdiri di ambang pintu kamar.


Oh, sepertinya dugaan Shara memang salah!


Bu Maria tak benar-benar mendiamkan Shara sekarang!


"Iya, Buk!" Jawab Shara yang buru-buru menghampiri sang Ibuk yang sedang menyodorkan sebuah paperbag ke arah Shara.


"Untuk Shara?" Tanya Shara sembari menerima paperbag tadi.


"Kau sudah mandi?" Tanya Bu Maria memastikan


"Belum, Buk!" Jawab Shara sembari meringis.


"Cepat mandi kalau begitu, lalu pakai baju itu dan berdandan yang rapi!" Titah Bu Maria bersamaan dengan Shara yang susah mengintip isi di dalam paperbag. Ada sebuah gaun brokat warna putih di sana.


"Kita akan ke gereja lagi, Buk?" Tanya Shara sekedar memastikan karena kemarin Shara belum jadi membuat pengakuan dosa. Entah bagaimana kemarin Bapak dan Ibuk menjelaskannya pada Romo.


"Tidak!" Jawab Bu Maria singkat.


"Lakukan saja yang tadi Ibuk katakan!" Pungkas Bu Maria sebelum wanita paruh baya tersebut keluar dan meninggalkan kamar Shara.


"Ada acara apa?" Shara akhirnya hanya bergumam sekaligus bertanya pada dirinya sendiri. Gadis itu kemudian segera bersiap dan memutuskan untuk melakukan saja perintah Bu Maria tadu, berharap sang ibu tak akan lagi marah kepadanya.


****


"Iya, Gizt? Ada apa menelepon?" Tanya Diftha sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, namun Diftha masih belum siap-siap pulang dari kantor karena beberapa pekerjaan masih harus ia selesaikan. Diftha akan lembur hari ini.


"A--bang--ke--na--pa--be--lum--pu--lang?"


"Abang lembur. Mbak Ida tidak memberitahu?" Tanya Diftha lagi sembari menatap pada foto Gizta di meja kerjanya. Diftha sedikit membenarkan letak foto tersebut.


"Su--dah--"


"He--he--"


"Lalu kenapa masih bertanya?" Nada bicara Diftha sedikit menggoda sang adik.


"Kak--Cha--ra--ti--dak--da--tang?"


"Karena tidak ada jadwal terapi, Gizta!"

__ADS_1


"Jadwal terapi selanjutnya masih lusa, jadi Kak Chara datangnya lusa," ujar Diftha mencoba menjelaskan pada sang adik.


"Be--gi--tu--ya?"


"Iya!"


"Gizta bosan di rumah?" Tanya Diftha lagi setuju khawatir. Meskipun Diftha sudah memberitahu Mbak Ida agar memberikan beberapa kegiatan untuk Gizta selama di rumah. Tapi mungkin saja adik Diftha itu juga sudah bosan. Itulah mengapa Diftha kerap mengajak Gizta keuar saat ia bisa pulang cepat atau sedang libur bekerja.


"Eng--gak--"


"A--bang--pu--lang--jam--be--ra--pa?"


"Mungkin setelah maghrib," jawab Diftha sembari melihat arloji di tangannya.


"Ba--ik--lah."


"Nan--ti--ma--kan--di--ru--mah--ya!"


"Iya, Gizta! Nanti Abang makan malam di rumah bersama Gizta," jawab Diftha berjanji.


"Bye--a--bang!"


"Bye!" Pungkas Diftha seraya menutup teleponnya pada Gizta.


Pria itu kemudian merenung sejenak, mengingat tentang obrolannya semalam bersama Shara.


"Aku akan mengikuti keyakinanmu!"


"Agar kita bisa bersatu dan menikah."


"Tidak!" Diftha menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha mengusir segala perasaannya pada Shara apapun itu.


Tok tok tok!


"Pak Diftha, maaf!" Pintu ruangan Diftha sudah dibuka dari luar oleh sang sekretaris.


"Iya!" Jawab Diftha sedikit tergagap.


"Pak Robert sudah tiba dan sudah menunggu di ruang meeting bersama yang lainnya." Ucap sang sekretaris yang langsung membuat Diftha mengusap wajahnya sendiri.


"Ya! Aku akan segera ke sana," jawab Diftha akhirnya seraya bangkit dari duduknya. Sepertinya Diftha perlu cuci muka sebentar agar kegelisahan dalam hatinya sedikit berkurang.


****


Shara baru saja memasukkan ponsel serta dompet ke dalam tas selempangnya, saat pintu kamarnya sudah dibuka dari luar.


"Sha! Sudah siap?" Tanya Bu Maria yang ekspresi wajahnya tak lagi datar.

__ADS_1


Ya, setidaknya Bu Maria tak lagi marah pada Shara.


"Sudah, Buk!" Jawab Shara sembari menyampirkan tas ke pundaknya.


"Tidak usah bawa tas, Shara! Acaranya di rumah saja," ujar Bu Maria yang langsung membuat Shara berekspresi bingung.


"Di rumah saja?"


"Ya!"


"Tamunya juga sudah datang," ujar Bu Maria lagi sembari memberikan kode pada Shara agar mengikutinya.


"Ayo Shara!" Ajak Bu Maria sekali lagi karena Shara yang tak kunjung bergerak.


"Shara!"


"I--iya, Buk!" Jawab Shara tergagap yang akhirnya mengayunkan langkah dan mengikuti Bu Maria keluar dari kamar.


Tamu? Tamu siapa? Dan ada acara apa sebenarnya di rumah?


Aneka pertanyaan terus bercokol di benak Shara, sampai akhirnya saat ia dan Bu Maria tiba di ruang tamu, semuanya seolah menemukan jawaban.


"Selamat sore, Shara!" Sapa seorang pria yang sebenarnya sudah sangat-sangat Shara kenal. Pria yang kerap menjadi worship leader di gereja tersebut kini ada di rumah Shara, bersama kedua orang tuanya.


"Shara!" Bu Maria menyenggol pundak Shara seolah seeang memberikan kode pada sang putri agar menjawab sapaan dari pria tadi.


"Sore, Gilbert," jawab Shara akhirnya dengan suara pelan. Shara kemudian menyapa juga kedua orang tua Gilbert, lalu gadis itu duduk di samping Bu Maria.


"Buk," Shara mengusap lengan Bu Maria seolah minta penjelasan.


"Gilbert sudah lama tertarik kepadamu dan beberapa kali menanyakan tentang status-"


"Tapi Shara belum mau menikah, Buk!" Sergah Shara sembari berbisik-bisik.


"Ini sudah keputusan Ibuk dan Bapak!" Bu Maria menatap tegas pada sang putri, seolah tak mau dibantah.


"Bu Maria, apa ada masalah?" Tanya ibunya Gilbert kemudian saat melihat perdebatan kecil anatara Shara dan Bu Maria.


"Tidak ada, Bu!"


"Kita lanjutkan saja pembahasannya karena Shara juga sudah setuju dengan perjodohan ini," tutur Bu Maria yang tentu saja langsung membuat Shara merasa tak terima. Namun sekali lagi, Tatapan tajam dari Pak Rudi membuat Shara seolah tak bisa berkutik. Shara akhirnya hanya pasrah, menundukkan wajah, sembari mendengarkan obrolan serius para orang tua, membahas tentang perjodohan Shara dan Gilbert.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2