
Praaang!
Bu Maria yang sedang menonton breaking news kecelakaan beruntun, mendadak tak sengaja menyenggol gelas di atas meja, hingga pecah berkeping-keping.
"Ceroboh!" Gumam Bu Maria merutuki dirinya sendiri. Wanita paruh baya itu lalu bangkit berdiri untuk mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan pecahan gelas. Sementara reporter berita di televisi masih saja bercerocos.
"Belum diketahui pasti berapa korban meninggal akibat kecelakaan beruntun ini karena saat ini semua tim sedang fokus melakukan evakuasi terhadap korban-korban yang sebagian masih terjebak di dalam kendaraan yang rusak parah."
Bu Maria sudah kembali seraya membawa pengki dan sapu. Ibu kandung Shara itu menyimak sejenak gambar di layar yang menampakkan kendaraan-kendaraan yang rusak parah.
"Semoga para korban yang meninggal mendapatkan ketenangan dan tempat terindah di surga Bapa. Amin." Ucap Bu Maria sebelum kemudian wanita paruh baya itu lanjut membereskan pecahan gelas yang tak sengaja ia jatuhkan tadi.
Padahal gelas tadi letaknya sudah di tengah meja, tapi kenapa masih bisa tersenggol dan jatuh?
"Berikut rekaman video amatir saat evakuasi korban." Reporter di televisi kembali melaporkan dan Bu Maria yang masih fokus membersihkan pecahan gelas, tak lagi memperhatikan layar televisi yang menampilkan seorang gadis yang baru dievakuasi dari taksi yang ua tumpangi, lalu dipindahkan ke atas mobil bak terbuka.
Bu Maria yang sudah selesai membersihkan pecahan gelas, ganti pergi ke kamar Shara yang sejak pagi belum keluar. Motor Shara juga masih terparkir di garasi.
"Shara!" Panggil Bu Maria sembari membuka pintu kamar Shara.
Kosong!
Tempat tidur Shara sudah rapi dan tak ada tanda-tanda keberadaan putri tunggal Bu Maria tersebut.
"Shara!" Bu Maria ganti memeriksa kamar mandi, namun Shara tetap tidak ada.
"Shara!" Bu Maria sudah keluar dari kamar Shara, lalu memeriksa setiap penjuru rumah. Mustahil Shara pergi, kan? Motor gadis itu masih ada di garasi.
Atau jangan-jangan....
Bu Maria bergegas memeriksa rak sepatu, dan benar saja! Sneakers yang selalu Shara kenakan saat pergi tak ada di tempatnya.
"Ck! Pasti pergi diam-diam saat tadi ibuk ke tukang sayur!" Bu Maria bergumam sendiri dan merasa sedikit kesal karena sang putri yang pergi tanpa pamit. Wanita paruh baya itu lalu hendak masuk lagi ke dalam rumah, saat terdengar salam dari pintu pagar.
"Selamat pagi!"
"Buuuk!"
Bu Maria langsung menoleh dengan cepat karena ia yang hafal dengan suara gadis yang menyapanya.
"Buuuk! Sedang menyambut Kia, ya?" Ucap gadis berjilbab itu lagi sembari menyeret koper menuju ke teras untuk menghampiri Bu Maria yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Saskia!" Bu Maria langsung tersenyum sumringah dan memeluk Saskia.
"Ibuuk! Bagaimana kabarnya?" Tanya Saskia yang sudah langsung menghambur ke pelukan Bu Maria.
"Baik! Sehat!"
"Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Ibuk tunggu-tunggu katanya mau pulang kemarin-kemarin!" Bu Maria langsung bercerocos panjang kali lebar.
__ADS_1
"Iya, maaf, Buk!"
"Kia sibuk kemarin-kemarin. Banyak acara juga di rumah paman," terang Saskia sembari mengusap kedua pundak Bu Maria.
"Ini juga Kia pulang dadakan karena beberapa hari ini kok Shara datang terus ke mimpinya Kia, minta Kia buat pulang sambil nangis sesenggukan," ujar Saskia sedikit bercerita.
"Shara telepon kamu sambil sesenggukan?" Tanya Bu Maria bingung.
"Bukan telepon, tapi datang ke mimpi Kia, Buk!"
"Kia sudah coba telepon Shara dari kemarin malah nggak diangkat. Shara sedang ada masalah, Buk?" Raut wajah Saskia sudah berubah khawatir.
"Banyak masalah memang anak itu! Keras kepala, susah diomongin!" Curhat Bu Maria sembari mengajak Saskia untuk duduk di kursi teras.
"Keras kepala bagaimana? Sekarang Shara dimana? Kia mau bertanya banyak soalnya sama Shara, karena beberapa hari yang lalu Shara itu kirim pesan aneh ke Kia, Buk!"
"Kirim pesan apa? Curhat tentang hubungannya bersama Diftha?" Cecar Bu Maria menebak-nebak.
"Diftha siapa, Buk?" Saskia langsung balik bertanya bingung.
"Pria yang disukai Shara." Bu Maria menghela nafas dengan berat.
"Calon menantu ibuk?" Seloroh Saskia seraya tertawa kecil.
"Kalau sama kamu tidak masalah. Tapi ini sama Shara!"
"Diftha itu seorang muslim," cerita Bu Maria panjang lebar yang langsung membuat Saskia terdiam untuk beberapa saat. Saskia seolah langsung bisa menarik benang merah dari pesan Shara kepadanya tempo hari.
"Seorang muslim?" Saskia bergumam pelan.
"Iya! Adiknya Diftha kan pasien terapinya Shara. Jadi mungkin mereka kerap bertemu, lalu Shara jatuh cinta." Bu Maria kembali menghela nafas dengan berat.
"Jadi itu alasan Shara ingin jadi mualaf." Saskia kembali bergumam, namun sepertinya gumaman Saskia terlampau keras hingga Bu Maria bisa mendengarnya.
"Kau bilang apa tadi, Kia? Shara mau menjadi mualaf?" Bu Maria sudah merengkuh kedua pundak Saskia dan menatap tak percaya pada putri angkatnya tersebut.
"Kia tidak tahu pasti, Buk!"
"Hanya saja, beberapa hari yang lalu Shara itu kirim pesan ke Kia yang intinya dia itu bertanya-tanya cara masuk islam. Lalu Kia iseng tanya yang mau masuk islam siapa."
"Dan Shara menjawab kalau Shara sendiri yang mau masuk islam dan jadi mualaf. Meskipun kemudian Shara menghapus pesannya tersebut beberapa jam kemudian," cerita Saskia sembari menunjukkan riwayat chat-nya bersama Shara pada Bu Maria.
"Shara!!!" Bu Maria langsung terlihat geram.
"Shara belum bicara pada Ibuk perihal masalah ini?" Tanya Saskia memastikan. Bu Maria langsung menggeleng dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Tentu saja Saskia paham betul bagaimana perasaan Bu Maria saat ini. Keluarga Bu Maria memang termasuk umat yang taat beragama. Pun dengan Shara yang sejak kecil selalu diajak ke gereja, diajarkan lagu-lagu pujian dan Bu Maria yang selalu mengingatkan Shara agar menjadi anak yang takut tuhan.
Namun meskipun begitu, Bu Maria tetap mengajarkan toleransi pada Shara. Toleransi untuk menghargai dan menghormati agama lain, termasuk agama islam yang Saskia anut hingga sekarang.
__ADS_1
Menghargai dan bukan mencampuradukkan!
Makanya dulu saat Saskia dan Shara masih sama-sama kecil, Bu Maria selalu melarang Shara mengikuti gerakan sholat yang rutin Saskia lakukan. Pun saat keluarga Shara hendak beribadah ke gereja, mereka tak akan sekalipun mengajak Saskia.
"Mungkin Shara hanya khilaf, Buk! Toh Shara juga langsung menghapus pesannya," ujar Saskia kemudian berusaha menenangkan Bu Maria yang masih tampak termenung.
Di saat bersamaan, dering nyaring dari ponsel Bu Maria, seolah memecah keheningan di antara Bu Maria dan Saskia.
"Telepon, Buk!" Ucap Saskia yang sudah sigap mengambilkan ponsel Bu Maria, lalu mengangsurkannya pada wanita paruh baya tersebut.
"Shara," gumam Bu Maria menahan geram. Bu Maria menghela nafas terlebih dahulu sebelum lanjut mengangkat telepon dari Shara. Sengaja Bu Maria tak menyapa terlebih dahulu dan menunggu Shara membuat pengakuan kalau ia baru saja kabur dari rumah.
"Halo, Bu Maria."
Bu Maria langsung mengernyit saat yang terdengar di ujung telepon bukanlah suara Shara, melainkan suara seorang lelaki. Bu Maria sampai melohat sekali lagi layar ponselnya untuk memastikan nama kontak yang tertera di layar.
"Bu Maria, ini Diftha."
Bu Maria baru meletakkan kembali ponselnya di telinga, saat pria di seberang telepon tadi kembali buka suara dan memperkenalkan diri.
"Diftha?" Bu Maria bergumam pelan untuk memastikan, dan mendadak perasaan Bu Maria tidak enak karena nada suara Diftha di ujung telepon juga terdengar berbeda.
"Shara mana, Diftha?" Tanya Bu Maria akhirnya pada Diftha.
"Shara...."
"Shara mana, Diftha?" Bu Maria bertanya sekali lagi dan lebih tegas.
"Shara menjadi salah satu korban dari kecelakaan beruntun di simpang lima, Bu!"
"Dan saat ini kondisi Shara...." Suara Diftha terputus begitu saja, dan yang selanjutnya terdengar hanyalah suara berisik sebelum kemudian telepon terputus.
Tuut tuut!
Sementara Bu Maria sudah menatap kosong dan ponselnya juga sudah jatuh dari genggaman.
"Buk, ada apa?" Tanya Saskia yang buru-buru menangkup tubuh Bu Maria yangvterpihat lemas.
"Shara..."
"Shara mengalami kecelakaan, Kia!!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1