Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
LEBIH CANTIK


__ADS_3

"Mau kemana, Sha?" Tanya Bu Maria, saat melihat Shara yang sudah rapi dan siap pergi.


"Ada jadwal terapi, Buk!" Jawab Shara bersamaan dengan suara klakson mobil dari depan rumah.


"Dijemput?" Tanya Bu Maria lagi seraya mengernyit.


"Iya!"


"Assalamualaikum!" Sudah terdengar suara Diftha dari pintu depan.


"Wa-" Shara lagi-lagi merasa ragu untuk menjawab salam Diftha. Gadis itu terlebih dahulu menatap pada Bu Maria yang sudah bangkit dari duduknya.


"Walaikum salam!" Jawab Bu Maria yang kini sudah keluar menemui Diftha. Shara hanya mengekor di belakang sang ibu.


"Siang, Bu!" Sapa Diftha sopan seraya mencium punggung Bu Shara.


"Siang juga, Diftha!"


"Mau menjemput Shara? Kok tumben?" Cecar Bu Maria pada Diftha.


"Iya, Bu!"


"Kebetulan mau mengajak Shara keluar juga karena Gizta minta dibelikan baju."


"Diftha pikir, mungkin Shara bisa membantu Gizta memilih baju nanti," tutur Diftha menerangkan alasannya.


"Mbak Ida ikut juga?" Bu Maria masih menyelidik.


"Eeee kebetulan tidak, Bu!"


"Tadi Mbak Ida langsung pulang setelah saya sampai di rumah, karena hari ini saya juga tidak ke kantor," ujar Diftha lagi.


"Lalu ini mau membeli baju saja? Atau Gizta memang ada jadwal terapi bersama Shara?"


"Jadwal terapi-"


" Ada, Buk! Kan Shara tadi sudah bilang!" Shara memotong jawaban Diftha dengan cepat.


"Ibu sedang tanya pada Diftha, Sha!"


"Sebenarnya saya juga tidak ingat, Bu!", jawab Diftha akhirnya menengahi.


"Biasanya yang ingat jadwal terapi Gizta adalah Mbak Ida dan Shara sendiri karena kan Diftha juga jarang di rumah, pas Shara datang," terang Diftha lagi panjang lebar.


"Memang ada, Buk!"


"Gizta ada jadwal ke dokter juga hari ini, Buk!" Sergah Shara lagi.


"Benar itu, Sha?" Sekarang gantian Diftha yang bertanya.


"Iya!"


"Lihat!" Shara menunjukkan jadwal terapi sekaligus jadwal Gizta harus menemui dokter yang tersusun rapi di ponselnya pada Diftha.


"Boleh kusalin jadwalnya?" Izin Diftha kemudian.


"Nanti aku kirim ke ponselmu," ujar Shara sembari berjanji pada Diftha.


"Jadi, apa Shara boleh pergi bersama Diftha dan Gizta, Bu?" Tanya Diftha sekali lagi meminta izin pada Bu Maria.


"Boleh!" Jawab Bu Maria akhirnya.


'Tapi nanti pulang sebelum gelap, Sha!", pesan Bu Maria yang langsung diiyakan oleh Shara.


"Ibu mau menyapa Gizta sebentar," tukas Bu Maria kemudian seraya berlalu menuju ke mobil Diftha .


Shara dan Diftha yang masih berdiri di teras saling bertukar pandang, kemudian keduanya sama-sama tertawa kecil.


"Bye, Gizta!" Suara Bu Maria yang sudah melambaikan tangan pada Gizta, langsung membuat Shara dan Diftha menoleh bersamaan ke arah mobil Diftha.


"Ayo berangkat!" Ajak Diftha kemudian pada Shara yang hanya mengangguk. Dua orang itupun bergegas menuju ke mobil Diftha.


"Hati-hati mengemudi!" Pesan Bu Maria saat Diftha berpamitan sekali lagi.


"Iya, Bu!"

__ADS_1


"Nanti Diftha akan mengantar Shara sebelum gelap," ujar Diftha berjanji pada Bu Maria.


Tak berselang lama, mobil Diftha sudah melaju meninggalkan rumah kedua orangtua Shara.


****


"Ayo turun, Sha!"


"Kok melamun, sih?" Tegur Diftha sembari terkekeh, saat mereka bertiga sudah sampai di depan sebuah toko baju muslim yang lumayan besar di kota tersebut. Ada banyak pengunjung yang berlalu lalang, keluar dan masuk toko. Penampilan nereka yang keluar masuk rata-rata menfenakan baju mulim juga dan memakai jilbab seperti Mbak Ida. Bahkan beberapa malah terlihat mengenakan jilbab yang lebih panjang dan lebar.


"Sha!"


"Hmmm!" Jawab Shara refleks sekalogus kaget.


"Melamun lagi!"


"Mikirin apa?" Tanya Diftha menatap serius pada Shara yang langsung menggeleng. Shara lalu segera membuka pintu mobil Diftha dan hendak keluar....


"Sabuk pengamannya dilepas dulu, Sha!" Tangan Diftha bergerak cepat untuk melepaskan sabuk pengaman yang masih menyilang di tubuh Shara.


Ya ampun!


Shara mendadak hilang fokus hanya karena Diftha mengajaknya ke toko baju muslim.


"Aku pikir aku sudah melepasnya tadi," ujar Shara akhirnya beralasan. Sementara Duduk hanya geleng-geleng kepala dan pria itu segera turun dari mobil.


Shara ikut turun dari mobil, lalu mengikuti Diftha yang sudah membuka bagasi belakang untuk mengeluarkan kursi roda Gizta.


"Grogi?" Seloroh Diftha pada Shara yang langsung mengernyit.


"Grogi kenapa?" Shara balik bertanya.


"Kamu itu!" Diftha terkekeh dan Shara masih tak mengerti dengan maksud Diftha.


"Bawa kursi rodanya! Akh akan menggendong Gizta," titah Diftha selanjutnya yang hanya membuat Shara mengangguk. Segera Shara mendorong kursi roda Gizta ke samping mobil, dan membuka pintu mobil lebar-lebar, agar Diftha mudah memindahkan Gizta.


"Untung Gizta kecil, ya!" Seloroh Shara saat melihat Diftha yang sedang memindahkan Gizta.


"Kenapa memang kalau besar?"


"Takutnya kamu nggak kuat," jawab Shara sembari tertawa kecil.


"Kamu juga kecil itu!" Sela Diftha cepat.


"Masa?"


"Kalau cuma gendong kamu aku juga kuat," ujar Diftha lagi yang langsung membuat Shara yang saat ini tengah membenarkan letak kaki Gizta, sedikit tersipu.


"Tapi itu nanti," lanjut Diftha lagi yang langsung bisa Shara pahami maksudnya.


Nanti setelah ada kata sah!


"Ayo masuk!" Ajak Diftha kemudian seraya mendirikan kursi roda Gizta. Shara tak berucap sepatah katapun dan gadis itu hanya mengikuti langkah Diftha untuk masuk ke dalam toko.


Mereka bertiga langsung menuju ke bagian gamis untuk remaja dan dewasa.


"Kau bisa beli juga beberapa, Sha!" Bisik Diftha, saat Shara sedang membantu Gizta memilih-milih gamis yang cocok.


"Aku?" Shara mengarahkan telunjuk ke wajahnya sendiri.


"Iya!"


"Kemarin pas kamu memakai setelan lengan panjang saja sudah terlihat cantik, apalagi kalau pakai gamis begini." Diftha mengambil satu gamis berwarna hijau lembut dengan corak bunga, lalu meletakkannya di depan Shara seolah sedang mempaskan.


"Jadi anggun, kan!" Lanjut Diftha lagi yang hanya membuat Shara mematung.


"Mau yang ini?" Tawar Diftha pada Shara yang masih diam.


"Sudah ada jilbabnya juga yang ini, Sha!" Ujar Diftha menunjuk ke jilbab panjang berbahan ceruty dua layer yang tergantung di bagian atas gamis.


"Kak--"


"Cha---ra--"


"Nggak--mau!" Celetuk Gizta tiba-tiba yang langsung membuat Diftha mengernyit.

__ADS_1


"Kurang sreg sama warnanya, ya?" Tebak Diftha kemudian mencoba menerka-nerka.


"Bukan begitu, Dift!"


"Warnanya cantik, kok!" Jawab Shara akhirnya sedikit tergagap.


"Lalu kenapa tidak mau? Masalah harga? Nanti aku yang bayar," cecar Diftha dengan ekspresi wajah santai.


"Nanti saja memikirkan baju untukku, Dift! Kita kan mau mencari baju untuk Gizta," ujar Shara akhirnya yang berusaha kembali fokus untuk membantu Gizta memilih-milih gamis.


"Mau yang ini? Warnanya pink," ujar Shara kemudian menunjukkan satu gamis remaja warna pink lembut pada Gizta.


"Ma--u!" Jawab Gizta yang kedua matanya langsung terlihat berbinar.


"Sudah ada jilbabnya?" Tanya Diftha memeriksa.


"Tidak ada," jawab Shara setelah membolak-balik gamis tadi.


"Nanti beli terpisah saja kalau begitu."


"Di bagian sana isinya aneka model jilbab," tukas Diftha sembari menunjuk ke sisi lain toko.


"Pasti nanti ada juga yang cocok buat kamu," imbuh Diftha lagi sedikit berbisik pada Shara yang hanya memejamkan kedua matanya.


Shara ingin sekali mengatakannya secara jujur pada Diftha. Tapi entah kenapa rasanya begitu berat dan saat Shara mencoba, lidahnya mendadak menjadi kelu.


"Yang ini bagus juga, Gizt!" Ucapan Diftha langsung menyentak lamunan Shara. Gadis itu lalu memperhatikan Diftha yang kini sedang memilih-milih gamis untuk Gizta. Sesekali Shara juga akan memberikan saran dan masukan.


Setelah mendapatkan tiga gamis untuk Gizta, mereka lanjut ke area jilbab.


"Mau yang model ini atau yang ini?" Shara memberikan pilihan pada Gizta sembari menunjuk bergantian ke arah jilbab pashmina dan jilbab instant.


"Bi---ngung," jawab Gizta sembari tertawa kecil.


"Coba yang ini dulu, ya!" Ujar Shara akhirnya seraya menunjuk ke deretan jilbab instant aneka warna di sisi kiri. Gadis itu lalu mencocokkan beverapa jilbab dengan gamis Gizta tadi sambil sesekali meminta pendapat Diftha dan juga Gizta.


Setelah lumayan lama memilih, mereka akhirnya mendapatkan beberapa jilbab yang pas untuk Gizta.


"Sekalian yang ini!" Diftha menyodorkan dua buah jilbab pashmina pada Shara yang hendak membawa semua belanjaan ke kasir.


"Buat Gizta juga?" Tanya Shara memastikan. Namun bukannya menjawab, Diftha malah tersenyum aneh pada Shara.


"Jangan bilang kalau-"


"Yang itu buat kamu!" Potong Diftha cepat sambil tangannya mengambil satu pashmina tadi lalu membentangkannya.


"Kesini!" Diftha kemudian membimbing Shara untuk berdiri di depan cermin yang memang tersedia di area jilbab tersebut. Diftha lalu memakaikan pashmina tadi ke kepala Shara, kemudian menyampirkan kedua ujungnya ke belakang leher.


"Lihat! Kau lebih cantik dengan aurat yang tertutup-"


"Tidak!" Shara dengan cepat menyingkirkan jilbab tadi dari kepalanya, lalu memberikannya dengan sedikit kasar pada Diftha.


Shara lalu menatap penuh arti pada Diftha sembari menggeleng samar. Tangan Shara juga sudah berada di depan dada dan merem*s sesuatu yang tersembunyi di dalam blouse-nya.


"Maaf, jika aku terlalu memaksamu, Shara!" Ucap Diftha akhirnya merasa bersalah pada Shara.


"Tidak apa-apa!" Jawab Shara sembari menarik nafas dalam-dalam.


"Kau bisa menyimpannya dulu, sampai kau siap mengenakannya," ucap Diftha kemudian sembari menyodorkan pashmina yang tadi sempat ia cobakan pada Shara. Diftha bahkan sudah melipatnya kembali dengan rapi.


"Anggap saja hadiah dariku," ujar Diftha lagi karena melihat Shara yang masih terlihat ragu untuk menerimanya.


"Terima kasih," ucap Shara yang akhirnya menerima pashmina warna abu tua tadi dari tangan Diftha. Namun saat Shara hendak melangkah menuju ke kasir, sebuah benda mendadak lolos dan jatuh dari dalam blouse-nya.


Klunting!


Benda berbahan logam itu lalu bersuara nyaring saat menghantam lantai dan jatuh di dekat kaki Diftha.


Diftha langsung berjongkok dan memungutnya, sebelum Shara sempat menyadari kalau yang jatuh tadi adalah....


Kalung salib Shara!


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2