
Ciit!!
Bruuk!!
Perdebatan di dalam mobil seketika terhenti saat Pak Rudi menginjak rem secara mendadak. Suara benturan dari beberapa kendaraan yang teelibat kecelakaan beruntun di depan mobil Pak Rudi terdengar hingga ke dalam mobim dan membuat Bu Maria, Shara, maupun Pak Rudi sama-sama ternganga.
Tiga orang itu tentu saja langsung shock karena andai Pak Rudi terlambat menginjak rem saru detik saja, mungkin mobil keluarga Shara juga sudah ikut menjadi korban kecelakaan beruntun.
"Terima kasih Tuhan Yesus karena masih melindungi kami." Bu Maria langkah mengucap syukur sembari memejamkan kedua matanya. Pun dengan Pak Rudi yang juga melakukan hal yang sama. Shara yang tadinya shock juga akhirnya mengucap syukur karena keluarganya masih dilindungi oleh Tuhan dan diberikan keselamatan.
Setelah sedikit tenang, Shara lanjut menelepon nomor darurat untuk memberitahukan tentang insiden kecelakaan yang baru saja terjadi. Ada sekitar enam mobil yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
"Pihak berwenang sudah datang menangani, Pak! Jadi sebaiknya kita langsung pulang saja," ujar Shara pada Pak Rudi yang masih memantau situasi.
Bu Maria langsung menoleh pada sang putri yang masih terlihat shock.
"Shara benar, Pak! Ayo kita lanjut pulang saja," ajak Bu Maria akhirnya yang sepakat dengan usulan Shara.
"Baiklah!" Pak Rudi menarik nafas panjang, lalu segera mengemudikan mobil ke arah rumah. Tak ada lagi obrolan maupun perdebatan selama sisa perjalanan. Shara dan kedua orang tuanya sama-sama membisu seolah tak ada satupun yang berniat untuk memulai pembicaraan. Shara juga hanya membuang pandangannya keluar jendela mobil.
Hingga saat mobil hampir sampai di rumah, sebuah pesan masuk ke ponsel Shara.
[Gizta tiba-tiba sesak nafas, Mbak! Tadi Pak Diftha langsung membawanya ke UGD rumah sakit] -Mbak Ida-
Derak jantung Shara seolah berhenti saat ia membaca pesan dari Mbak Ida. Shara lalu melihat arloji di tangannya, bersamaan dengan mobil yang sudah masuk ke halaman rumah.
"Jangan lupa berdoa dan minta pengampunan dari Tuhan sebelum tidur nanti, Shara!" Pesan Bu Maria sebelum wanita paruh baya itu turun dari mobil.
"Bapak sudah memperingatkanmu dari awal, Shara!"
"Kenapa kau begitu keras kepala?" Pak Rudi ikut-ikutan mencecar Shara yang masih membisu. Pikiran Shara hanya tertuju pada Gizta sekarang
"Lagipula, apa susahnya mencari pasangan yang seiman dengan kita? Kenapa harus melakukan sebuah dosa dengan mencintai seorang pria yang keimanannya berbeda." Gerutu Pak Rudi lagi sebelum pria paruh baya tersebut menyusul Bu Maria untuk turun dari mobil. Kini hanya ada Shara sendirian di dalam mobil. Shara segera mengetikkan pesan balasan pada Mbak Ida.
[Gizta dibawa ke rumah sakit mana, Mbak?] -Shara-
Pesan balasan dari Mbak Ida masuk tak berselang lama.
[Rumah sakit Kasih Medika, Mbak] -Mbak Ida-
__ADS_1
Shara tak menunggu lagi dan gadus itu segera keluar dari mobil, lalu pergi ke arah gerbang, menutupnya sekalian menyelinap keluar.
****
"Gizta ingin punya kakak perempuan."
"Kak Chara baik, Bang!"
"Bu Maria juga baik, karena selalu mengajarkan Gizta untuk berdoa sebelum makan dan setiap waktu juga, agar Allah selalu memberikan kekuatan untuk Gizta."
"Kata Bu Maria, keajaiban pasti akan datang menghampiri Gizta suatu hari nanti."
"Apa Kak Chara bisa jadi kakaknya Gizta?"
Diftha mendongakkan kepalanya dan berusaha menahan airmatanya yang mendesak ingin keluar.
"Maaf, jika sampai detik ini Abang belum bisa mengabulkan keinginanmu untuk memiliki seorang kakak perempuan, Gizta!"
"Abang menyayangimu, Gizta!" Ucap Diftha sendu seraya menggenggam tangan Gizta yang kini terlelap.
Tok tok tok!
Diftha buru-buru menyeka airmatanya, saat terdengar ketukan di pintu kamar perawatan. Pria itu lalu bangkit dari duduknya dan segera membuka pintu. Dan alangkah terkejutnya Diftha saat mendapati siapa yang kini berdiri di depan pintu.
"Bagaimana kondisi Gizta, Dift?" Tanya Shara, saat Diftha baru saja mendaratkan bokongnya di sofa yang tak jauh dari bed perawatan. Shara sendiri sudah duduk di samping bed perawatan dan langsung menggenggam tangan Gizta sama seperti yang yadi Diftha lakukan.
"Diftha!" Shara sudah menolak ke arah Diftha yang malah melamun alih-alih menjawab pertanyaan Shara barusan.
"Kata dokter karena kelelahan. Sementara masih dilakukan observasi dan Gizta juga harus memakai selang oksigen. Jadi itulah mengapa Gizta harus dirawat sementara waktu," terang Diftha panjang lebar yang langsung membuat Shara mengangguk samar. Gadis itu lalu kembali menggenggam tangan Gizta, dan memejamkan mata seolah sedang berdoa untuk kesembuhan Gizta.
"Berilah kekuatan untuk Gizta, Tuhan."
Samar-samar Diftha bisa mendengar doa yang dipanjatkan oleh Shara. Diftha hanya diam dan membisu menyimak Shara yang masih khusyuk berdoa, hingga akhirnya gadis itu mengakhiri doanya dengan membentuk tanda salib di dada.
"Kau tadi kesini bersama siapa?" Tanya Diftha kemudian memecah kebisuan. Diftha juga sudah menarik satu kursi mendekat ke arah Shara yang seolah tak mau beranjak dari samping Gizta.
"Aku naik taksi," jawab Shara tanpa menatap pada Diftha.
"Sudah izin Bapak dan Ibu, kan?" Tanya Diftha lagi yang langsung membuat Shara membisu. Diftha langsung berdecak dan mengusap kasar wajahnya berulang kali. Diftha sudah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Bu Maria, saat Shara mencegah dengan cepat.
__ADS_1
"Bapak dan Ibuk tidak tahu aku pergi!"
"Mereka tahunya aku sedang di kamar." Shara menatap memohon pada Diftha.
"Lagipula, Bapak dan Ibuk juga masih shock karena tadi kami hampir terlibat dalam kecelakaan beruntun," imbuh Shara lagi yang langsung membuat kedua mata Diftha melebar. Kekhawatiran jelas tergambar di wajah pria tersebut.
"Tapi kalian tidak apa-apa, kan?" Tanya Diftha kemudian memastikan.
Shara menggeleng, "Kami baik-baik saja."
"Bapak dan Ibuk hanya shock karena kejadiannya tepat di depan mata," cerita Shara lagi.
"Kau?" Tanya Diftha lagi masih khawatir.
"Aku baik-baik saja!"
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Shara tersenyum penuh arti pada Diftha.
"Jangan salah paham," gumam Diftha kemudian memperingatkan Shara.
"Wajahmu begitu khawatir saat tadi menanyaiku! Jadi bukan aku yang salah paham!" Sergah Shara yang langsung membuat Diftha berdecak.
"Ini tidak ada hubungannya, Shara!" Ucap Diftha sedikit geram. Gizta sedikit menggeliat karena mungkin suara Diftha tadi terlampau keras dan mengganggu.
"Pelankan suaramu!" Shara ganti memperingatkan Diftha dan hendak meletakkan telunjuknya di bibir Diftha, namun sudah dengan cepat dicegah oleh Diftha.
"Aku akan tidur!" Ucap Diftha akhirnya seraya bangkit dari duduknya, lalu kembali ke sofa.
"Aku akan menjaga Gizta," ujar Shara yang kini menatap ke arah Diftha yang mulai merebahkan tubuhnya ke atas sofa. Terlihat tidak muat, karena tubuh Diftha yang lebih panjang dari sofa.
"Bangunkan aku jika kau nanti sudah mengantuk!"
"Tak usah sungkan!" Pesan Diftha sebelum kemudian pria itu memejamkan mata.
Shara tak menjawab dan gadis itu hanya mengulas senyum sembari menatap pada wajah Diftha.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.