
Diftha menatap pada segerombolan anak kuliahan, yang sedang menyeberang di zebra cross yang berada tepat di depan Diftha. Saat ini lampu lalu lintas memang sedang menunjukkan waena metah, dan semua kendaraan sedang berhenti, termasuk juga Diftha.
Diftha masih memperhatikan dengan seksama, gerombolan mahasiswa tadi yang mungkin usianya juga sepantaran dengan Gizta.
"Abang Diftha nanti kuliah yang bener, dan jangan kebanyakan main!"
"Biar Mama dan Papa itu juga bangga pada Abang!" Pesan Gizta pada Diftha yang sedang menyusun pakaiannya ke dalam koper. Rencananya, Diftha memang akan kuliah dan nge-kost di luar kota.
"Iya, Bu Guru!" Diftha yang gemas, sobtak bangkit dari duduknya dan mengacak rambut Gizta yang sejak tadi mondar-mandir di kamarnya.
"Ck! Bukan bu guru!"
"Bu dokter," ujar Gizta dengan nada lebay saat menyebut satu profesi yang memang ia cita-citakan sejak lama.
"Oh, iya, Bu Dokter!"
"Asyik, nih! Besok kalai sakit bisa berobat gratis," seloroh Diftha kemudian yang langsung membuat Gizta mendaratkan bokongnya di sebelah Diftha, lalu merangkul abang kesayangannya tersebut.
"Abang nggak boleh sakit! Mama dan Papa juga!"
"Gizta maunya merawat orang lain saja dan bukan Mama, Papa, ataupun Bang Diftha!" Ungkap Gizta menyampaikan keinginannya.
"Namanya orang hidup pasti bakal mengalami sakit, Gizt! Meskipun hanya demam, atau batuk flu. Tetap saja itu namanya juga sakit," cerocos Diftha seraya mengusap kepala Gizta yang masih merangkulnya.
"Abang nanti berubah jadi Titan kalau tidak pernah sakit," sambung Diftha lagi sedikit berkelakar yang tentu saja langsung membuat Gizta tertawa.
"Yang warnanya biru semua itu, ya?" Timpal Gizta kemudian.
"Itu Avatar!" Koreksi Diftha cepat.
"Oh, kirain Avatar itu yang kepalanya botak trus ada tato panahnya," seloroh Gizta lagi yang langsung membuat Diftha berdecak.
"Ngomongin apa, sih? Lama-lama jadi nggak nyambung."
Beep beep!
Suara klakson dari kendaraan di belakang membuat Diftha tersentak. Buru-buru pria itu melihat lampu lalu lintas yang rupanya sudah berganti warna menjadi hijau. Segera Diftha menarik gas dan melaju lagi bersama kendaraan lain untuk berjibaku di atas aspal hitam.
Lamunan Diftha kembali melayang pada cita-cita Gizta yang sekarang garus terkubur dalam-dalam karena insiden kecelakaan itu.
Andai waktu bisa diputar dan kecelakaan itu tak pernah terjadi, mungkin sekarang Gizta sudah menyelesaikan kuliah kedokterannya dan sudah koas....
Ah, tapi semua sudah suratan takdir dari Allah. Jadi tak sepantasnya Diftha menyesalinya.
Diftha menitikkan airmata, bersamaan dengan air yang mendadak menetes dari langit. Para pengendara motor yang berada di sekitar Diftha, satu persatu mulai menepi bersamaan dengan hujan yang turun mendadak.
Namun Diftha enggan menepi, dan pria itu memilih untuk menerobos hujan saja. Diftha kembali menitikkan airmata seolah sedang meluapkan berbagai emosi yang sejak beberapa tahun lalu tearsa menumpuk di dadanya.
Diftha terus melajukan motornya dan menembus hujan yang semakin lebat. Pria itu lalu membelokkan motornya masuk ke area perumahan tempat dirinya dan Gizta tinggal satu tahun terakhir.
"Aaarrrggghhhh!!" Diftha berteriak kencang dan meluapkan puncak emosinya, di tengah hujan deras serta jalanan kompleks yang sepi.
Ya, itu sedikit melegakan sekarang!
****
"Aduh!" Shara menepuk keningnya sendiri, saat ia membuka jok motor dan tak mendapati raincoat-nya yang ternyata lupa ia bawa.
__ADS_1
"Mana hujan deras." Gumam Shara sembari menatap pada air hujan yang seolah sedang ditumpahkan oleh Tuhan dari langit.
"Ibuk pasti mengomel dari Sabang sampai Merauke kalau aku hujan-hujanan!" Ujar Shara lagi tetap bergumam.
"Terpaksa menunggu hujan reda," putus Shara akhirnya sembari duduk di teras rumah Diftha. Gadis itu lalu memeriksa ponselnya yang juga lowbat sekalian.
Kok Shara apes sekali hari ini!
Greeeeek!!!
Suara gerbang yang dibuka dari luar, membuat Shara langsung menatap awas ke gerbang di rumah Diftha tersebut. Tak berselang lama, Diftha dan motornya sudah masuk ke halaman rumah dengan kondisi basah kuyup.
Hmmm!
Sepertinya abang kandung Gizta itu memang hobi hujan-hujanan!
"Belum pulang, Sha? Tidak bisa menyalakan mesin motor lagi?" Tanya Diftha sedikit menggoda Shara yang langsung mengerucutkan bibir. Diftha lalu berlari ke arah gerbang dan kembali menutup gerbang besi tersebut.
"Suka sekali hujan-hujanan! Apa enaknya, sih?" Tanya Shara penasaran sembari mengulirisatu tangannya untuk menadah hujan yang turun.
"Enak saja pokoknya. Kau mau coba?" Diftha sudah meraih tangan Shara yang tadi memang terulur untuk menadah hujan. Shara yang tak siap, hampir saja jatuh terjerembab, andai Diftha tak sigap menahannya.
"Sorry!" Ucap Diftha tanpa dosa padahal pria itu sydah sukses membuat Shara basah kuyup sekarang.
Ck! Dasar Diftha.
Eh, tapi setelah Shara rasakan, sensasinya asyik juga saat air hujan terasa menimpa kepala Shara.
Shara lalu memejamkan mata dan melangkah lebih ke tengah lagi untuk menikmati sensasi air hujan yang menerpa wajahnya. Gadis itu juga sudah merentangkan kedua tangannya sekarang serta mendongakkan wajahnya ke langit.
"Kau menyukainya?" Tanya Diftha sedikit berseru, agar suaranya bisa didengar oleh Shara.
"Ternyata menyenangkan!" Ucap Shara yang masih mendongak sembari memejamkan mata.
Diftha menunggu sekita lima menit, sebelum kemudian pria itu mengajak Shara untuk berteduh.
"Sudah, jangan lama-lama!" Ujar Diftha sembari mengusap wajahnya sendiri yang kini basah kuyup. Pria di depan Shara itu juga tampak menggigil.
"Kenapa memang?" Tanya Shara yang sepertinya masih sedikit keberatan karena Diftha menyuruhnya berhenti hujan-hujanan.
"Nanti pi-"
"Hatchi!" Diftha langsung bersin sebelum selesai mengucapkan kata pilek.
"Pilek!" Ucap Shara melanjutkannya kalimat Diftha.
"Iya, itu!" Diftha menggosok-gosok hidungnya sendiri, sebelum kemudian pria itu kembali bersin.
"Sebaiknya kau segera mandi air hangat, Dift!" Saran Shara yang langsung menbuat Diftha mengangguk.
"Kau juga-"
"Hatchi!" Diftha bersin sekali lagi. Entah efek air hujan, entah efek Diftha yang tadi sempat menangis saat perjalanan pulang.
"Aku tidak bawa baju ganti," gumam Shara yang baru ingat. Sekarang entah bagaimana Shara akan berganti baju. Kalau pulang basah kuyup Ibuk juga pasti akan mengomel.
"Pinjam bajunya Mbak Ida," ujar Diftha akhirnya menjawab kebingungan Shara.
__ADS_1
"Ada memang?" Shara mengernyit bingung. Secara Mbak Ida kan bukan perawat yang menginap. Memang Mbak Ida punya baju cadangan?
"Ada! Mbak Ida bawa baju cadangan kok setiap hari. Tanya saja!" Jaeab Diftha yang langsung memanggil Mbak Ida.
"Mbak Ida!"
"Iya, Pak!" Jawab Mbak Ida yang sudah bergegas keluar.
"Mbak ada baju ganti yang bisa dipinjam Shara, kan? Baju Shara basah kuyup itu," ujar Diftha yang langsung membuat Mbak Ida mengangguk.
"Ada, Pak!"
"Kamu mandi dulu sana, lalu nanti pakai baju Mbak Ida," tukas Diftha sekali lagi pada Shara yang hanya mengangguk. Shara lalu segera masuk ke rumah dan bergegas membersihkan diri sekalian berganti baju.
Tak berselang lama, Diftha ikut masuk juga ke dalam rumah karena badannya sydah benar-benar menggigil.
****
"Bisa?" Tanya Diftha pada Shara yang sedang mengisi daya baterei ponselnya. Tadi Shara memang sekalian meminjam charger Diftha karena ponselnya sudah mati kehabisan baterei.
"Bisa!" Jawab Shara sembari menatap pada Diftha yang mengenakan atasan kaus lengan panjang dan celana jeans panjang juga. Sementara Shara saat ini mengenakan setelan baju lengan panjang dan celana panjang juga milik Mbak Ida yang sebenarnya sedikit kedodoran. Tapi tak apa, ketimbang Shara tak pakai baju.
"Kau sudah minum obat flu tadi?" Tanya Shara selanjutnya pada Diftha yang yadi juga membawakanmya secangkir coklat hangat.
"Nanti saja sebelum tidur," jawab Diftha santai.
"Memang masih mau pergi?" Tanya Shara lagi sembari menyalakan ponsel. Dan benar seperti dugaan Shara, kalau ada beberapa pesan yang masuk dari sang ibuk.
[Sha, kamu masih di rumah Gizta? Raincoat kamu ketinggalan ini, jadi pulangnya tunggu hujan reda dan jangan hujan-hujanan!] -Ibuk-
Shara meringis setelah membaca pesan Bu Maria. Gadis itu lalu ganti membaca pesan yang lain.
[Bapak kamu masih ada urusan dan belum bisa jemput kamu, Sha! Hujannya juga tak kunjung reda, ponsel kamu tak bisa ditelepon juga. Nanti pulangnya tunggu bapak jemput, ya! Sudah malam!] -Ibuk-
"Mau mengantar kamu pulang setelah ini," ujar Diftha menjawab pertanyaan Shara yang tadi.
"Hah? Apa?" Shara terlihat bingung.
"Aku mau mengantar kamu pulang, Sha! Sudah gelap juga dan masa iya aku tega biarin kamu naik motor sendiri malam-malam."
"Nanti sekalian antar Mbak Ida juga," tukas Diftha panjang lebar yang langsung membuat Shara membulatkan bibirnya.
Shara lalu mengetikkan oesan balasan pada Bu Maria yang mungkin saat ini sedang khawatir.
[Nanti Shara pulang diantar Diftha, Buk! Sekalian Diftha juga mau mengantar Mbak Ida, perawatnya Gizta] -Shara-
Tak berselang lama, pesan balasan Bu Maria sudah masuk ke ponsel Shara.
[Syukurlah kalau begitu. Ibuk tidak cemas lagi] -Ibuk-
Shara meletakkan kembali ponselnya, lalu lanjut menyesap coklat hangat buatan Diftha. Enak ternyata!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.