Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
HARUS!


__ADS_3

"Tidak terlalu kasar itu, Sha?" Tanya Bu Maria khawatir saat Shara menyodorkan sepiring nasi beserta sayur dan lauk yang sudah sedikit ia lumatkan ke hadapan Gizta.


"Tidak, Buk!" Jawab Shara sebelum kemudia gadis itu mengulas senyum pada Gizta.


"Ayo makan, Gizta!" titah Shara selanjutnya pada Gizta yang langsung mengambil sendok, meskipun sedikit kesulitan.


"Berdoa dulu!" Sergah Bu Maria cepat sebelum Gizta mulai menyuapkan nasi. Gizta lalu terlihat tertawa kecil.


"He--he--"


"Lu--pa."


Shara ikut meringis karena ia juga lupa tadi.


"Kau harus membiasakan Gizta membaca doa sebelum makan, Sha!" Pesan Bu Maria tegas yang langsung membuat Shara mengangguk.


"Iya, Bu!"


"Ayo berdoa dulu, Gizta," titah Bu Maria selanjutnya seraya membimbing kedua tangan Gizta agar menengadah ke atas. Gizta lalu membaca doa dengan terbata, sementara Bu Maria dan Shara diam menyimak.


"Allah--humma--"


"Baarik--lanaa--"


"Fiima--rozaq--tanaa--"


"Wa--qinaa--"


"Adzaa--bannaar--"


Gizta mengakhiri doanya dengan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah, dan Bu Maria langsung mengulas senyum. Wanita paruh baya itu lalu ganti menatap pada Shara seolah memberikan kode agar sekarang gantian mereka yang berdoa menurut keyakinan mereka.


Shara yang paham, segera mengangguk dan kedua tangan gadis itu sudah saling menggenggam di depan dada.


"Tuhan Yesus yang Maha Baik," Bu Maria mulai berdoa dengan lirih sembari memejamkan mata. Pun dengan Shara yang juga melakukan hal yang sama.


"Terima kasih untuk berkat makanan yang telah Kau berikan melalui keluarga ini, kiranya Kau memberkati makanan ini agar menjadi kesehatan bagi jasmani dan rohani kami ya Tuhan."


"Aamiin!" ucap Bu Maria dan Shara kemudian bersamaan.


"Ayo makan, Gizt!" Ujar Shara sekali lagi, sembari menyodorkan sendok Gizta.


Gizta langsung mengambil sendok dari tangan Shara dan mulai menyuapkan nasi ke mulutnya, meskipun terlihat susah payah.


"Kenapa tidak disuap saja?" Tanya Bu Maria yang hendak mengambil alih sendok dari tangan Gizta, lalu menyuapi gadis itu. Mungkin Bu Maria merasa tak tega melihat Gizta yang sedikit kesulitan jika malan sendiri.


"Tidak, Buk!" Cegah Shara cepat.


"Gizta harus belajar makan sendiri untuk perkembangan motoriknya."


"Ini sudah banyak kemajuan, dan Shara yakin kalau Gizta akan semakin lincah nanti kalau sering dilatih."


"Gizta pasti akan bisa kembali normal suatu hari nanti," terang Shara kemudian, mencoba menjelaskan pada Bu Maria sekaligus gadis itu juga menyampaikan harapannya pada perkembangan Gizta.


Semoga saja.


"Ayo, Gizta!" Ucap Shara selanjutnya memberikan semangat untuk Gizta yang sudah berhasil memasukkan dua suap nasi ke dalam mulutnya sendiri.


"Uhuk uhuuk!" Di suapan ketiga,Gizta terbatuk-batuk karena sepertinya gadis itu tersedak.


"Kurang halus kamu yang *******, Sha!" Desis Bu Maria geregetan, yang langsung mengambil piring Gizta dan ********** lebih halus lagi.

__ADS_1


Sementara Shara langsung membantu Gizta minum agar makanan yang yadi tersangkut di tenggorokan segera hilang.


"Biasanya Mbak Ida yang menyiapkan," ringis Shara beralasan, lalu tak lupa Shara juga minta maaf pada Gizta.


"Maafkan Kak Shara, ya!" Shara memeluk Gizta sembari mencium kening gadis tersebut.


"I--iya, Kak!"


"Ti--dak ap-pa a--pa," ucap Gizta.


"Biar ibu yang menyuapi," putus Bu Maria akhirnya sembari menarik kursinya agar lebih dekat pada Gizta.


"Tapi, Buk-"


"Tidak setiap hari juga ibuk menyuapi Gizta, Sha!"


"Besok Gizta pasti sudah pandai makan sendiri!" Potong Bu Maria cepat sembari mengusap kepala Gizta dengan penuh sayang.


"Ayo makan pelan-pelan," ucap Bu Shara kemudian sembari tangannya menyuapi Gizta dengan begitu telaten.


Shara hanya menghela nafas melihat kedekatan Bu Maria dan Gizta.


Ya, dalam hal hubungan antar umat manusia kedua orang tua Shara memang tidak pernah membeda-bedakan agama maupun suku. Mereka selalu berbuat baik pada sesama manusia.


Namun dalam hal keyakinan, mereka tak akan mencampuradukkan keyakinan yang satu dengan keyakinan lain. Mereka tak pernah mencampuri urusan agama orang lain, agar orang lain juga tak mencampuri tentang hubungan manusia dan tuhannya tersebut. Kedua orang tua Shara juga adalah hamba yang taat beragama. Iman dan keyakinan bagi mereka adalah satu hal mutlak yang tak bisa diganggu gugat.


"Sha! Kamu tidak makan?" Teguran Bu Maria seketika langsung menyentak lamunan Shara.


"Eh, iya, Buk!" Jawab Shara tergagap.


"Kok malah melamun!" Bu Maria berdecak lalu geleng-geleng kepala.


"Makan!" Ujar Bu Maria selanjutnya yang langsung membuat Shara meraih sendok mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Nanti, setelah sekesai menyuapi Gizta," jawab Bu Maria yang tangannya masih cekatan menyuapi Gizta. Adik Diftha itu juga terlihat begitu lahap.


"Satu suap lagi, Gizt!"


"Ayo, buka mulut yang lebar!" Bu Maria memberikan aba-aba untuk Gizta yang langsung membuka lebar mulutnya.


"Emmh! Pinter!" Puji Bu Maria kemudian setelah Gizta menghabiskan makan malamnya.


"Puji-"


"Alham--dulillah," ucap Gizta memotong kalimat Bu Maria meskipun terbata.


"Iya, itu!"


"Anak pinter!" Puji Bu Maria sekali lagi sembari bangkit berdiri. Bu Maria lalu pergi ke wastafel untuk mencuci tangan, sebelum lanjut menyantap makan malamnya.


"Ada telepon dari Abang Diftha, Gizt!" Ujar Shara yang baru saja selesai menyantap makan malamnya.


Shara langsung menghampiri Gizta, sebelum lanjut mengangkat panggilan video call dari Diftha.


"Assalamualaikum!" Sapa Diftha begitu wajah pria itu muncul di layar ponsel Shara.


"Wa--laikum--"


"Sa--lam!"


"Walaikum salam!"

__ADS_1


Shara dan Gizta menjawab serempak. Namun sesaat kemudian, Shara langsung menatap pada Bu Maria seolah merasa bersalah. Namun ekspresi wajah Bu Maria hanya datar dan santai, serta tak sedikitpun terlihat marah.


"Sudah makan, Gizt?" Tanya Diftha kemudian yang langsung membuat Gizta mengangguk.


"Gizta baru selesai makan disuapi sama Ibuk," ujar Shara membantu menjelaskan pada Diftha.


"Oh, ibu kamu jadi ikut menginap, Sha?"


"Iya, jadi!" Shara langsung mengubah arah kameranya menjadi kamera belakang.


"Itu lagi makan!" Ujar Shara kemudian yang langsung membuat Bu Maria berdecak.


"Malam, Bu!" Sapa Diftha sopan.


"Malam, Diftha! Sudah makan?" Bu Maria sedikit berbasa-basi pada Diftha.


"Iya, sudah, Bu! Tadi makan malam bersama klien dan ini baru sampai di hotel."


"Oh, begitu!"


"Semoga lancar-lancar semua pekerjaan kamu, ya! Gizta disini sudah dijaga oleh Shara, jadi tak usah khawatir!" Ujar Bu Maria yang langsung membuat Diftha mengulas senyum. Namun tentu saja Bu Maria tidak menyadari hal tersebut, karena layar ponsel Shara saat ini tetap menghadap ke arah Shara yang sedang senyum-senyum sendiri dan sepertinya serius sekali menatap wajah Diftha di layar ponsel.


"Sha!" Tegur Bu Maria yang langsung membuat Shara berhenti tersenyum sendiri.


"Iya, Buk?"


Bu Maria lalu memberikan kode tentang kamera ponsel Shara yang masih terarah pada Bu Maria.


"Eh!" Shara buru-buru mengubah pengaturan kamera ponselnya menjadi kamera depan lagi.


"Oh, masih ada? Aku pikir sudah tidur," seloroh Diftha yang sepertinya sedang menggoda Shara.


Iya, nadanya terdengar menggoda.


"Ngobrol sama Gizta, gih! Aku mau cuci piring," tukas Shara akhirnya seraya meletakkan ponselnya di depan Gizta. Shara juga menyandarkan benda pipih persegi tersebut pada kotak tisu, agar Gizta leluasa bicara dan ngobrol bersama sang abang.


Sementara Shara sudah bangkit berdiri, dan segera membereskan piring-piring bekas makan malam tadi, lalu membawanya ke wastafel cuci piring.


Tak berselang lama, Bu Maria sydah menyusul Shara yang kini mulai mencuci satu persatu piring yang kotor.


"Diftha sudah tahu tentang perbedaan keyakinan di antara kalian, kan?" Tanya Bu Maria memastikan.


"Memang harus tahu, ya, Bu?" Jawab Shara yang malah balik bertanya.


"Harus, dong, Shara!"


"Sebelum terjadi sebuah hal yang tak diinginkan di antara kalian!" Bu Maria melirik sebentar ke belakang, dimana Gizta masih terlihat mengobrol bersama sang abang, meskipun Bu Maria sendiri tak paham dengan apa yang diucapkan Gizta.


"Ibu tak melarang kau berteman dengan Diftha, tapi hubungan kalian hanya boleh sebatas teman dan tak boleh samapi ada perasaan lain!"


"Itu tak dibenarkan dalam agama kita, Shara!" Ujar Bu Maria dengan nada tegas yang langsung membuat Shara mengangguk setengah hati.


"Iya, Bu!"


"Shara paham."


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2