
"Diftha!"
Diftha langsung menoleh ke arah seorang pria paruh baya yang tadi memanggilnya.
"Pak Robert, selamat sore!" Sapa Diftha sembari menjabat tangan papa dari Angga tersebut.
"Bagaimana kabarmu? Sehat?"
"Sehat, Pak!" Jawab Diftha cepat.
"Adik kamu? Giz...." Pak Robert tampak mengingat-ingat nama Gizta.
"Gizta, Pak! Dia sehat juga dan alhamdulillah sudah banyak perkembangan," ujar Diftha sedikit bercerita.
"Syukurlah kalau begitu." Pak Robert mengangguk-angguk.
"Pak Robert akan menghadiri acara di atas juga?" Tanya Diftha kemudian sedikit berbasa-basi.
"Ya!"
"Kau juga, kan? Ayo!" Ajak Pak Robert kemudian seraya menunjuk ke arah lift. Diftha hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah Pak Robert. Dua pria itu menunggu sejenak lift yang belum turun sembari mengobrol ringan.
Tepat saat pintu lift terbuka, Diftha sedikit terkejut mendapati beberapa orang gadis di dalam lift yang mengenakan kostum serupa. Salah satu dari gadis itu tentu saja Diftha kenal.
Shara!
"Ayo, Sha! Acara ibadahnya mulai sebentar lagi!" Suara seorang gadis yang tadi bersama Shara langsung menyentak gadis itu. Shara hanya mengangguk samar pada Diftha sebelum lanjut mengikuti teman-temannya untuk keluar dari lift.
Diftha yang sudah masuk ke dalam lift, masih memperhatikan Shara yang berjalan ke arah gereja yang masih satu kompleks dengan tempat Diftha menghadiri pertemuan sore ini.
"Kenapa Abang tidak membimbing Kak Chara?"
Pertanyaan dari Gizta semalam, mendadak menggelitik hati Diftha.
Membimbing Shara?
Maksudnya membimbing seorang gadis yang taat beragama untuk mengkhianati tuhannya?
"Jika dia mualaf karena kesadaran sendiri dan benar-benar dari hati, maka sah-sah saja kau menikahinya."
"Tapi, jika dia menjadi mualaf hanya karena ingin menikah denganmu yang artinya bukan keinginan dari hatinya, maka kau harus memikirkannya kembali."
"Karena yang seperti itu akan rawan untuk goyah iman. Lalu ke depannya, saat rumah tangga mulai diterpa badai, bukan tak mungkin dia akan kembali lagi ke keyakinannya yang semula."
"Sebaiknya jangan memaksakan sebuah keyakinan pada seseorang hanya demi memuluskan niat untuk menikah. Carilah wanita yang seiman dan seagama, karena menikah adalah ibadah seumur hidup dan bukan untuk main-main!"
"Diftha!" Teguran Pak Robert menyentak lamunan Diftha tentang beberapa kajian yang ia simak belakangan ini. Mayoritas tentang pernikahan beda agama karena itulah masalah pelik yang sedang Diftha hadapi sekarang.
"Iya, Pak!" Jawab Diftha yang kembali berusaha untuk fokus pada pembicaraannya bersama beberapa klien sore ini.
Fokus, Diftha!
__ADS_1
Fokus!
****
Shara memperhatikan Gizta yang sedang menunaikan sholat Ashar. Tadi Shara yang mrmbantu Gizta mengenakan mukrna, dan sekarang pun Shara masih memperhatikan Gizta yang sepertinya khusyuk sekali beribadah.
Tok tok tok!
"Mbak Shara, belum pulang?" Tanya Mbak Ida sedikit berbisik pada Shara yang langsung menggeleng.
Shara melihat arloji di tangannya dan meskipun terapi Gizta sudah berakhir satu jam yang lalu, Shara masih belum ada niatan untuk pulang. Shara memang ingin menunggu Diftha pulang karena Shara ingin bicara satu hal penting pada Diftha.
Mbak Ida sudah menutup kembali pintu kamar Gizta. Sementara Shara kembali meraih ponselnya untuk melohat pesannya pada Diftha tiga puluh menit yang lalu. Pesan masih belum dibaca oleh Diftha, meskipun statusnya sudah terkirim.
Mungkin Diftha memang sedang sibuk dan banyak pekerjaan!
"Kak--Cha--ra--" ucapan Gizta langsung membuat Shara buru-buru menoleh pada adik kandung Diftha tersebut. Rupanya Gizta sudah selesai menunaikan sholat ashar.
"Sudah selesai?" Tanya Shara yang langsung membantu Gizta untuk melepaskan mukenanya, lalu Shara juga melipatnya dengan terampil.
"Kak--Cha--ra--"
"Pu--lang--jam--bera--pa?" Tanya Gizta selanjutnya.
"Belum tahu!" Shara mengendikkan kedua bahunya sebelum lanjut membantu Gizta untuk berdiri. Shara lalu mendudukkan Gizta di tepi tempat tidur.
"Kau mau belajar sesuatu? Aku tak keberatan mengajari," tawar Shara kemudian berusaha mencari kesibukan sambil menunggu Diftha pulang yang entah jam berapa.
Tapi semoga Diftha pulang seperti biasa dan tak lembur.
"Be--la--jar--"
"A--pa?" Gizta balik bertanya pada Shara dan gadis itu tampak bingung.
"Menggambar mungkin." Shara memberikan ide. Gadis itu lalu meraih buku gambar Gizta dari atas meja belajar.
"Gambar-gambarmu sudah lumayan, Gizta," puji Shara kemudian sembari melihat satu persatu gambar Gizta. Shara lalu berhenti di satu gambar yang terlihat begitu bagus.
"Yang ini bagus!" Puji Shara sekali lagi sembari menunjukkan gambar tadi pada Gizta.
"I--tu--"
"Gam--bar--a--bang," ujar Gizta jujur.
"Hah? Maksudnya ini yang gambar Diftha?" Tanya Shara memperjelas.
"I--ya--"
"Gam--bar --Giz--ta--"
"Kan--ma--sih--abs--trak," jawab Gizta yang malah membuat pengakuan yang langsung membuat Shara tertawa kecil.
__ADS_1
"Jujur sekali!" Shara mengusap gemas puncak kepala Gizta.
"Tapi gambaran Diftha bagus juga." Shara memuji sekali lagi hasil goresan Diftha, sembari menatapnya seperti orang yang sedang kasmaran saja.
"Kak--Cha--ra--"
"Su--ka-- sa--ma--"
"A--bang--ya?"
"Ci--yee! Ci--yee!" Gizta menyoraki Shara yang wajahnya langsung tersipu.
"Emang kamu mau kalau Kakak jadi kakak ipar kamu?" Tanya Shara kemudian pada Gizta secara blak-blakan.
"Ma--u-" jawab Gizta seraya mengangguk. Terang saja jawaban Gizta tersebut malah membuat Shara jadi salah tingkah.
"A--bang--"
"Ju--ga--su--ka--"
"Sa--ma-- Kak--Cha--ra," ungkap Gizta kemudian yang seketika langsung membuat Shara semakin salah tingkah.
Sementara di depan pintu kamar Gizta, Mbak Ida kembali mengintip kegiatan Shara dan Gizta di dalam kamar. Mbak Ida kemudian mengeluarkan ponselnya, dan mengetik satu pesan pada seseorang.
****
Ping!
Diftha buru-buru meraih ponselnya, dan membuka pesan masuk dari Mbak Ida.
[Mbak Shara masih betah di rumah, Pak! Sekarang sedang bermain bersama Gizta] -Mbak Ida-
Diftha langsung membuang nafas dengan kasar karena sekarang ia tak bisa pulang cepat. Padahal pekerjaan Diftha hari ini sudah selesai.
[Pak Diftha pulang jam berapa? Mbak Shara juga nanyain terus dari tadi]-Mbak Ida-
[Masih belum tahu. Bilang saja ke Dhara kalau aku lembur.] -Diftha-.
Ya, Diftha akhirnya membalas pesan Mbak Ida sembari menahan gemuruh di dadanya, tentang cinta beda agama ini!
Mungkin langkah Diftha untuk menjaga jarak dan sebusa mungkin menghindari Shara ini adalah sebuah keputusan yang tepat.
Semoga!!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1