
Diftha menatap pada rumah besar di hadapannya. Rumah Dokter Faris yang tak lain adalah paman sekaligus wali dari Saskia. Semoga langkah yang Diftha ambil ini benar dan di ridhoi oleh Allah.
Sebenarnya, sudah sejak mendengar suara merdu Saskia yang mengaji di dalam kamar perawatan Gizta waktu itu, Diftha langsung memutuskan untuk melakukan sholat istikharah dan meminta petunjuk pada Allah. Diftha selalu meminta pada Allah agar diberikan kemudahan, jika memang Saskia adalah jodoh Diftha.
Dan semuanya seolah terjawab sekarang. Perjalanan Diftha ke kota ini untuk melamar Saskia, seolah benar-benar dipermudah oleh Allah. Bahkan saat mencari alamat Dokter Faris pun, Diftha sama sekali tak menemui kendala.
Greeeeek!!!
Suara pintu gerbang yang tiba-tiba terbuka, langsung menyentak lamunan Diftha. Sebuah mobil pick up yang mengangkut besi-besi untuk tenda acara, keluar dari rumah Dokter Faris. Diftha tebak itu adalah tenda dari acara aqiqahan cucu Dokter Faris yang kemarin Saskia ceritakan. Apa itu artinya acara aqiqahan-nya sudah selesai?
"Mencari siapa, Mas?" Tanya seorang security yang melihat Diftha yang masih berdirinya di depan pagar.
"Dokter Faris ada, Pak?" Jawab Diftha sedikit tergagap.
"Ada di dalam."
"Silahkan masuk!" Ucap security yang langsung membuat Diftha mengangguk. Security lalu segera mengantar Diftha ke teras rumah. Masih terlihat beberapa pekerja vendor yang membongkar sisa tenda di halaman rumah Dokter Faris yang begitu luas.
Diftha baru sampai di teras rumah, saat Saskia terlibat keluar seraya menggendong seorang bayi. Tentu saja gadis itu langsung terkekut mengetahui kedatangan Diftha.
"Diftha..."
"Assalamualaikum," ucap Diftha seraya tersenyum pada Saskia yang meskipun hanya mengenakan gamis rumahan serta bergo sederhana, namun tetap terlihat anggun dan cantik.
"Wa--walaikum salam," jawab Saskia yang tangannya masih menimang-nimang bayi di gendongannya.
"Dokter Faris ada?" Tanya Diftha to the point.
"Ada!" Saskia mengangguk dengan cepat.
"Silahkan masuk!" Ucap Saskia kemudian seraya melangkah kembali ke dalam rumah, dan Diftha segera mengikuti langkah Saskia.
"Duduk dulu!" Saskia menunjuk ke sofa di ruang tamu, dan Diftha segera duduk di sana.
"Siapa, Ki?" Tanya seirang perempuan berhijab yang baru keluar dari dalam rumah.
"Tamunya Paman, Kak!" Jawab Saskia sembari memberikan bayi di gendongannya pada perempuan berhijab tadi. Sepertinya itu adalah ibu si bayi.
"Assalamualaikum, Kak!" Ucap Diftha pada sepupu Saskia tadi sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Walaikum salam!"
"Kia panggil Paman dulu," ucap Saskia kemudian yang sudah dengan cepat menghilang ke dalam rumah.
"Tamunya Papa, atau temannya Kia?" Tanya sepupu Saskia tadi pada Diftha.
"Dua-duanya, Kak!" Jaeab Diftha sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Ooohhh!"
Di waktu bersamaan, Dokter Faris sudah keluar untuk menyapa menemui Diftha.
"Diftha!"
"Assalamualaikum, Dokter!" Ucap Diftha yang langsung mencium punggung tangan Dokter Faris.
"Walaikum salam!"
"Duduk!" Ujar Dokter Faris mempersilahkan.
Tak berselang lama, Saskia sudah keluar lagi membawa nampan berisi minuman dan kue untuk Diftha. Suasana sejenak hening, saat Saskia menyajikan minuman dan kue tadi di atas meja. Hingga akhirnya Saskia dan sang sepupu kembali masuk lagi ke dalam, barulah obrolan di antara Dokter Faris dan Diftha dimulai.
"Gizta bagaimana?" Tanya Dokter Faris sedikit berbasa-basi.
"Alhamdulillah sudah banyak perkembangan, Dokter!"
"Sudah mulai bisa berdiri dan tidak gagap lagi," tutur Diftha menceritakan semua kemajuan perkembangan Gizta.
"Alhamdulillah!"
"Insya allah, Gizta akan tumbuh menjadi gadis yang normal setelah ini, ya!"
"Aamiin aamiin ya robbal alamiin." Balas Diftha cepat atas semua doa baik yang dilontarkan Dokter Faris.
"Pertama-tama saya secara pribadi ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas semua usaha serta kerja keras Dokter dalam menangani Gizta kemarin--"
"Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya, Diftha!" Ucap Dokter Faris cepat.
"Dan kesembuhan Gizta adalah keajaiban dari Allah. Jadi berterima kasihlah juga pada Allah," tutur Dokter Faris lagi.
"Iya, Dokter!" Diftha mengangguk-angguk.
"Lalu yang kedua...." Diftha menjeda sejenak kalimatnya dan ganti menatap pada cangkir teh yang tadi disajikan oleh Saskia. Diftha mendadak merasa grogi, meskipun tadi sepanjang perjalanan dirinya sudah menghafal kalimat yang hendak ia ucapkan pada Dokter Faris.
"Yang kedua kenapa?" Tanya Dokter Faris membuyarkan lamunan Diftha.
"Yang kedua, tujuan saya datang kemari adalah untuk melamar Saskia, Dokter!" Ucap Diftha akhirnya setelah pria itu menarik nafas panjang berulang-ulang.
"Saya berniat untuk menjadikan Saskia sebagai istri saya, Dokter! Makanya saya datang kemari untuk meminangnya langsung pada Dokter Faris yang merupakan wali dari Saskia," ujar Diftha lagi panjang lebar dengan nada yang lebih tegas dan mantap.
"Jadi, kau sudah tahu tentang apa yang terjadi pada orang tua Saskia, ya?" Tanya Dokter Faris memastikan.
"Sudah, Dokter!" Diftha mengangguk dengan cepat.
"Bu Maria yang sudah menceritakan semuanya pada saya," ujar Diftha lagi.
__ADS_1
Dokter Faris lantas mengangguk-angguk.
"Saskia sudah yatim piatu sejak usianya lima belas tahun. Jadi, jika kau benar-benar ingin menikahinya kau harus menerima apapun yang nantinya akan menjadi kekurangan Saskia."
"Kau nantinya harus bisa mengambil peran tak hanya sebagai suami, tapi juga sebagai teman dan sebagai ayah untuk Saskia. Apa kau bisa melakukannya?" Tanya Dokter Faris sekali lagi seraya menatap tegas pada Diftha.
"Insya allah Diftha bisa melakukannya, Dokter. Karena Diftha sendiri juga seorang yatim piatu, jadi Diftha bisa memahami bagaimana perasaan Saskia selama ini, " tutur Diftha sembari menarik nafas panjang.
"Itu dia!"
"Paman benar-benar menghargai keberanianmu untuk datang kenari dan melamar Saskia secara langsung, Diftha!"
"Tapi tetap saja keputusan ada di tangan Saskia apakah dia menerima lamaranmu atau tidak. Paman akan tanyakan langsung ke Saskia," ujar Dokter Faris kemudian yang langsung membuat Diftha mengangguk meskipun jantung Diftha sekarang sedang berdetak tak karuan.
Diftha bahkan belum mengatakan apa-apa pada Saskia dan sekarang ia malah sudah percaya diri sekali datang kesini untuk melamar. Sepertinya Diftha harus siap mental, misalnya ternyata Saskia menolak lamarannya.
"Kia!" Panggil Dokter Faris kemudian pada Saskia yang sepertinya sejak tadi menguping pembicaraan Diftha dan Dokter Faris.
"Kia, kemarilah!" Panggil Dokter Faris lagi.
"Iya, Paman. Ada apa?" Jawab Saskia yang akhirnya menampakkan wajahnya lagi. Gadis itu langsung duduk di samping sang paman dan menundukkan wajahnya.
"Kia, barusan Diftha sudah menyampaikan niat baiknya untuk melamar serta menpersunting kamu sebagai istrinya."
"Jadi, apakah kamu bersedia, atau menolak, atau mau pikir-pikur dulu?" Tanya Dokter Faris pada sang keponakan.
Saskia tak langsung menjawab, dan kedua tangan gadis itu terlihat saling merem*s.
"Bagaimana, Kia? Masih mau pikir-pikir?" Tanya Dokter Faris lagi.
"Enggak, Paman," jawab Saskia lirih.
"Jadi, mau langsung dijawab sekarang?"
"Iya!" Saskia masih menundukkan wajahnya.
"Dan jawabannya?" Dokter Faris bertanya dengan tak sabar, pun dengan Diftha yang hampir sesak nafas menunggu jawaban Saskia.
"Kia mau, Paman," jawab Saskia akhirnya yang tentu saja langsung membuat Diftha berucap syukur.
"Alhamdulillah!" Ucap Diftha dan Dokter Faris serempak.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.