Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
DARIMANA?


__ADS_3

Shara mengerjapkan mata beberapa kali, saat telinganya samar-samar mendengar suara merdu seseorang.


"Ya Ayyuhannasu Qod Jaakum Mau’idzotun Minrobbikum Wa Syifaaulima Fissuduri, Wahudawwarohmataal Lilmuttaqin."


Shara membuka sejenak kedua matanya, lalu bibir gadis itu juga menyunggingkan senyum, saat ia melihat Diftha yang sepertinya sedang mengaji di samping bed perawatan Gizta. Shara lalo memejamkan matanya lagi, saat suara merdu Diftha masih terus mengalun membaca ayat demi ayat melalui ponselnya.


"Shadaqallahul-'adzim." Ucap Diftha kemudian seraya tangannya mengusap kening Gizta. Diftha lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas dan pria itu menoleh ke arah Shara yang masih menatapnya dengan kagum


Saat itulah Shara baru sadar kalau posisinya kini sedang berbaring di atas sofa.


Sebentar!


Bukankah tadi malam Shara duduk di samping bed perawatan, atah lebih tepatnya di kursi yang kini diduduki oleh Diftha.


Sedangkan Diftha tadi malam....


"Bangunkan aku jika kau nanti sudah mengantuk!"


"Suaraku mengganggu tidurmu?" Tanya Diftha memecah kebisuan.


Segera Shara bangun dan duduk di sofa sebelum gadis itu menjawab pertanyaan Diftha.


"Sama sekali tidak!"


"Suaramu merdu saat sedang membaca..." Shara menunjuk ke ponsel Diftha.


"Al-qur'an," ujar Diftha cepat yang langsung membuat Shara mengangguk dan tersenyum.


"Iya, itu!"


"Suaramu merdu tadi," puji Shara sekali lagi. Gadis itu sudah bangkit berdiri lalu ikut menghampiri bed perawatan Gizta.


"Aku pernah mendengar Mbak Ida membaca seperti yang kau baca tadi juga. Tapi entah isinya sama atau tidak," tukas Shara lagi sedikit bercerita. Diftha hanya manggut-manggut.


"Ngomong-ngomong, yang memindahkan aku ke sofa siapa?" Tanya Shara selanjutnya mengalihkan obrolan.


"Menurutmu siapa? Gizta?" Jawab Diftha yang malah balik bertanya sekaligus berseloroh. Terang saja hal itu langsung membuat Shara tertawa kecil.


"Gizta saja masih tidur-"


"Tadi Gizta sudah bangun," sergah Diftha menyela sekaligus memberitahu Shara.


"Benarkah? Kenapa tidak membangunkan aku?" Tanya Shara sedikit kecewa.


"Kau tidur pulas sekali dan sepertinya kelelahan." Diftha mengendikkan kedua bahunya.


"Aku juga tidak akan mengaji kalau Gizta tidak meminta tadi," ujar Diftha lagi membuat pengakuan.


"Oh, iya! Aku baru ingat, kalau yang kau lakukanlah tadi namanya mengaji." Shara langsung manggut-manggut.


"Dulu Kak Kia juga sering melakukannya, terutama setelah kedua orang tuanya meninggal." Shara ganti menerawang sekarang.


"Kak Kia itu siapa?" Tanya Diftha penasaran. Seingat Diftha, Shara pernah menyebut nama itu juga beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Kakak angkatku."


"Atau temanku juga." Shara tertawa kecil.


"Kami besar bersama meskipun kami berbeda." Kedua telunjuk Shara membentuk tanda kutip.


"Jadi dulu Bapak dan Ibuk bekerja sebagai sopir dan ART di keluarga Kak Kia. Dari Bapak dan Ibuk baru menikah sampai aku lahir, dan aku tumbuh besar juga bersama Kak Kia-"


"Kalian seusia?" Tanya Diftha menyela.


"Kak Kia lebih tua lima tahun dariku." Jawab Shara cepat.


"Makanya aku memanggil Kak," imbuh Shara lagi. Diftha hanya manggut-manggut.


"Lalu sekarang Kak Kia-mu itu sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di luar kota?" Tebak Diftha lagi yang langsung membuat Shara tergelak.


"Tebakanmu salah!"


"Kak Kia belum menikah dan dia masih kuliah di luar kota," jelas Shara yang langsung membuat Diftha mengernyit.


"Lima tahun lebih tua darimu dan dia masih kuliah?"


"Kak Kia seorang dokter dan kebetulan sekarang sedang mengambil spesialis neurologi."


"Semoga nanti Gizta bisa ditangani oleh Kak Kia," ujar Shara lagi menatap penuh harap pada Gizta yang kini terlelap.


"Akan butuh biaya yang tidak sedikit. Semoga tabunganku bisa secepatnya terkumpul," timpal Diftha yang langsung membuat Shara menepuk punggung Diftha.


"Nanti aku bantu masalah biaya-"


"Sama sekali tidak merepotkan karena bagiku, Gizta juga adalah adikku," Shara menatap penuh makna pada Diftha.


"Adik angkat." Diftha memejamkan kedua matanya sembari menelan ganjalan pahit yang mendadak memenuhi kerongkongannya.


"Kau sebaiknya langsung pulang nanti begitu matahari terbit," ujar Diftha lagi setelah pria itu berhasil menguasai emosinya.


Shara segera melihat arlojinya. Saat ini memang masih pukul setengah lima pagi.


"Allahu akbar Allahu akbar!"


Shara sedikit terhenyak saat mendengar suara adzan dari ponsel Diftha.


"Sorry!" Diftha dengan cepat mematikan alarm adzan di ponselnya. Samar-samar juga mulai terdengar kumandang adzan di pagi yang hening. Mungkin daru masjid yang tepat berada di depan rumah sakit.


"Kau mau ke masjid untuk sholat? Biar aku yang menjaga Gizta," tanya Shara selanjutnya.


"Ya!" Jawab Diftha sembari mengusap wajahnya sendiri beberapa kali. Pria itu lalu bangkit dari duduknya dan mengambil botol minum dari atas nakas. Diftha lalu meneguk air di dalam botol hingga tandas tak tersisa.


"Aku hanya akan ikut sholat, lalu kembali lagi-"


"Aku akan menjaga Gizta!" Potong Shara menyela kalimat Diftha yang sedikit linglung. Atau mungkin Diftha sedang bingung akan sesuatu.


"Ya!" Ucap Diftha akhirnya sebelum pria itu membuka pintu kamar perawatan, lalu pergi keluar.

__ADS_1


****


Jam di arloji Shara menunjukkan pukul enam pagi, saat Shara tiba di rumah. Segera Shara masuk dengan mengendap-endap, namun rupanya Pak Rudi dan Bu Maria sudah langsung menyambut Shara, begitu gadis itu membuka pintu gerbang.


Oh.....sial!


"Darimana, Shara?" Tegur Bu Maria geram.


"Rumah sakit, Buk!" Jawab Shara jujur sembari menundukkan wajahnya. Ya, Shara memang bersalah!


"Rumah sakit atau rumah Diftha?" Gantian Pak Rudi yang melontarkan pertanyaan sembari mendelik pada sang putri.


"Rumah sakit, Pak!"


"Gizta mendadak sesak nafas dan Diftha melarikannya ke rumah sakit."


"Diftha sendirian menjaga Gizta, jadi Shara menemani." Shara sedikit meringis saat menjelaskan pada sang bapak.


"Menemani Diftha tanpa pamit pada Bapak dan Ibuk!"


"Lalu mematikan ponsel juga!"


"Maumu apa sebenarnya?" Tanya Pak Rudi berapi-api.


"Shara pikir Bapak dan Ibuk masih marah perihal semalam-"


"Lalu kamu bisa seenaknya minggat karena kami marah?"


"Shara! Shara!" Pak Rudi benar-benar geram pada sang putri.


"Shara sudah dewasa dan bukan bocah lagi, Pak! Memang apa masalahnya jika Shara pergi ke suatu tempat sendiri?"


"Dewasa dalam hal umur tapi bukan dalam hal pikiran!"


"Pikiranmu itu masih seperti bocah dan masih labil! Bahkan keimananmu saja bisa goyah hanya karena sebuah cinta buta pada pria yang tak seharusnya kau cintai!" Cecar Pak Rudi panjang lebar.


"Iman Shara tak pernah goyah!" Sanggah Shara cepat.


"Shara masih menjadi anak Tuhan, Pak!" Ujar Shara lagi dengan nada tegas.


"Buang jauh perasaanmu pada Diftha kalau begitu!" Ucap Pak Rudi memerintah dengan tegas.


"Dan jangan lupa untuk membuat pengakuan dosa pada Tuhan!" Bu Maria ikut menimpali.


"Ibuk yakin kalau kau belum melakukannya semalam," tukas Bu Maria lagi.


"Biar dia melakukannya di gereja nanti," putus Pak Rudi cepat yang langsung membuat Shara ternganga. Kedua orang tua Shara tersebut juga sudah berlalu masuk ke dalam teras, meninggalkan Shara yang kini hanya mematung.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2