Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
JODOH


__ADS_3

"Assalamualaikum. Maaf telat!" Ucap Saskia yang baru saja tiba di kafe tempat ia dan Diftha akan makan siang bersama.


"Walaikum salam."


"Aku juga baru datang, kok!" Jawab Diftha yang sudah bangkit berdiri, lalu menarik kursi untuk Saskia duduk.


"Terima kasih!" Ucap Saskia sedikit tersipu.


"Mau langsung pesan makanan?" Tanya Diftha selanjutnya sembari menyodorkan buku menu pada Saskia.


"Ya! Mumpung belum terlalu ramai."


"Nanti kita bisa lanjut ngobrol setelah makan," ujar Saskia yang langsung diiyakan oleh Diftha.


Saskia dan Diftha lalu memesan makanan setelah melihat beberapa menu yang tersedia.


"Ngomong-ngomong, aku masih penasaran dengan perkataan Dokter Faris waktu itu yang mengatakan kalau kau keponakannya." Diftha membuka obrolan bersamaan dengan minuman yang sudah datang.


"Tidak percaya, ya?" Seloroh Saskia sembari tertawa kecil.


"Bukan begitu!"


"Hanya kaget saja waktu itu. Dan aku merasa sungkan juga mau lanjut bertanya saat mengantar Gizta check up," tutur Diftha beralasan.


"Sungkan atau memang tak ada waktu?" Tanya Saskia sembari menyesap minumannya.


"Dua bulan kemarin saja yang mengantar Gizta check up lebih banyak Mbak Ida dan kadang bersama Iqbal juga," ungkap Saskia lagi yang langsung membuat Diftha sedikit nyengir.


"Aku sibuk dengan pekerjaan di luar kota," tukas Diftha akhirnya beralasan.


"Iya, aku paham." Saskia manggut-manggut lalu gadis itu memainkan sedotan di minumannya.


"Jadi, Dokter Faris itu benar adalah pamanmu?" Tanya Diftha lagi memastikan.


"Iya!" Saskia mengangguk.


"Paman Faris adalah kakak kandungnya almarhum papa. Jadi setelah Papa dan Mama meninggal, paman yang jadi wali aku," jelas Saskia.


"Begitu!"


"Pantas saja kemarin langsung punya koneksi," seloroh Diftha kemudian yang langsung membuat Saskia tertawa kecil.


"Anggap saja memang ini jalan yang diberikan Allah untuk kesembuhan Gizta setelah tahun-tahun berat yang dilalui gadis itu," tutur Saskia sembari menerawang, saat mendadak sebuah sapaan membuat gadis itu sedikit terlonjak.


"Kia!" Seorang pria berkemeja rapi serta menggandeng dua anak perempuan kisaran umur tiga tahun, tampak menyapa Saskia dengan sedikit canggung.


"Eh, Mas!" Saskia langsung menganggukkan kepala sembari mengulas senyum. Sementara Diftha masih menyimak dalam diam.


"Sedang makan siang juga?" Tanya pria itu kemudian berbasa-basi pada Saskia.


"Kebetulan iya!" Jawab Saskia yang langsung menyapa kedua anak perempuan yang digandeng pria tadi.


"Masya allah, si kembar sudah besar, ya!" Puji Saskia kemudian.


"Ummi-nya mana?" Tanya Saskia kemudian.


"Baru ke toilet tadi," jawab pria itu bersamaan dengan kedatangan seorang wanita yang sepertinya tengah hamil.


"Siapa, Bi?" Tanya wanita itu pada proa yang tadi menyapa Saskia.


"Saskia, Mi!"


"Sedang makan siang bersama calonnya."

__ADS_1


"Sepertinya," jawab pria itu sedikit berkelakar.


"Assalamualaikum, Kak! Sudah isi lagi, ya!" Saskia langsung menyapa perempuan hamil tadi sembari bercipika-cipiki dan sepertinya terlihat akrab juga.


"Iya, Alhamdulillah."


"Semoga nanti kamu lekas menyusul-"


"Biar nikah dulu sama calonnya, Mi!" Sela pria yang tadi dipanggil Mas oleh Saskia.


Dan Diftha berusaha untuk berpikir positif, karena mungkin saja itu saudara sepupu Saskia.


"Sebenarnya, ini keluarga pasien, Mas!" Tukas Saskia akhirnya sedikit meluruskan.


Sedikit ada rasa kecewa yang menyentil hati Diftha. Padahal tadi saat Diftha dianggap sebagai calonnya Saskia, hati Diftha rasanya sudah berbunga-bunga.


Aneh!


"Tapi serasi, kok!"


"Masnya masih single?" Tanya si pria tadi seraya menatap pada Diftha yang langsung salah tingkah.


"Eh, iya!"


"Kebetulan masih, Mas!" Jawab Diftha sedikit tergagap.


"Ya sudah! Halalin saja, Mas! Kia juga single ini!" Ujar pria itu lagi sebelum akhirnya mereka berpamitan karena anak-anaknya sudah rewel.


Saskia dan Diftha lalu kembali duduk karena makanan juga sudah datang.


"Saudara?" Tanya Diftha memastikan.


"Mmmm, bagaimana, ya?" Saskia tampak berpikir.


"Kelihatan, ya?"


"Aku padahal sudah lama move on, lho!" Ungkap Saskia kemudian.


"Oh, berarti benar." Diftha langsung mengangguk paham.


"Jadi dulu, pas aku udah wisuda kedokteran dan mau koas, orangtuanya Mas Ikram minta kami menikah dulu saja, karena orangtuanya sudah kepengen gendong cucu." Saskia mulai bercerita.


"Tapi kata Paman, nanggung gitu kalo aku nikah dulu trus koas-nya nanti-nanti. Belum nanti pas hamil pasti ketunda bla bla bla." Saskia tertawa kecil.


"Lalu orangtuanya Mas Ikram tadi jodohin anaknya sama wanita lain begitu?" Tebak Diftha sok tahu.


"Iya mungkin memang udah jalannya begitu."


"Setidaknya, sekarang Mas Ikram dan istrinya sudah bahagia dengan keempat anak mereka dan yang kelima juga OTW," Saskia kembali tertawa kecil.


"Empat?" Diftha langsung mengernyit heran.


"Iya, anaknya yang pertama dan kedua nggak diajak tadi. Sudah umur enam dan delapan tahun sepertinya," cerita Saskia yang sepertinya begitu hafal dengan keluarga Mas Ikram yang anaknya banyak tadi.


"Kau sendiri sudah bahagia?" Tanya Diftha kemudian yang langsung membuat Saskia meletakkan sejenak sendoknya, lalu menatap tak mengerti pada Diftha.


"Sudah bertemu jodohmu juga? Atau mungkin sudah punya pacar?" Tanya Diftha akhirnya to the point.


"Pacar? Sepertinya aku sudah terlalu tua untuk menjalin hubungan main-main, Diftha!"


"Tahun ini saja, usiaku sudah kepala tiga." Saskia ganti memainkan sedotan di minumannya.


"Tapi Allah belum mempertemukan aku dengan jodoh," imbuh Saskia lagi dengan nada sendu.

__ADS_1


"Memangnya tak ada pria yang pernah mendekatimu, Kia?" Tanya Diftha penasaran.


"Ada!"


"Banyak malahan." Saskia tertawa kecil, entah sedang menertawakan apa.


"Tapi kebanyakan dari mereka masih belum punya target untuk menikah. Padahal aku sudah tidak bisa kalau hanya diajak pacaran atau penjajakan. Aku maunya yang serius, langsung datang menghadap ke Paman dan bukan lagi untuk main-main!"


"Aku tidak punya waktu lagi untuk hal-hal seperti itu!" Terang Saskia yang sepertinya sedang mencurahkan isi hatinya.


"Sudah pernah sholat istikharah dan minta didekatkan dengan jodoh pada Allah?" Tanya Diftha lagi.


"Sudah sering."


"Tapi masih belum terlihat hilalnya," jawab Saskia sembari tertawa renyah.


"Jadi, ya sudahlah!"


"Aku jalani dulu apa adanya sambil terus berdoa semoga jodohku semakin dekat dan datang di waktu yang tepat," ungkap Saskia kemudian sembari melahap makanannya yang terakhir.


"Alhamdulillah," ucap Saskia kemudian penuh bersahaja.


"Ngomong-ngomong, kau punya kriteria calon suami? Barangkali aku bisa jadi perantara jodohmu," tanya Diftha kemudian sebelum mereka menyudahi pertemuan siang ini.


"Pria yang taat beragama, bertanggung jawab, dan sayang keluarga."


"Itu saja! Apa terlalu muluk-muluk?" Tanya Saskia meminta pendapat.


"Sama sekali tidak!" Jawab Diftha sembari mengulas senyum. Dua orang itu lalu berdiri bersama dan keluar dari kafe beriringan.


"Oh, ya! Aku boleh minta alamat lengkap Dokter Faris?" Tanya Diftha sebelum mereka berpisah dan pulang sendiri-sendiri.


"Untuk?"


"Aku ada rencana ke kota Dokter Faris esok atau mungkin lusa. Jadi barangkali aku bisa mampir dan mengobrol beberapa hal sekaligus mengucapkan terima kasih," ujar Diftha mengungkapkan rencananya.


"Ooh! Masih rajin keluar kota, ya?"


"Nanti aku kirimkan alamat Paman ke ponselmu saja," ujar Saskia yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Aku kebetulan juga harus terbang ke sana sore ini," ujar Saskia lagi.


"Lama?" Tanya Diftha memastikan.


"Hanya dua hari. Ada acara aqiqahan cucu kedua paman."


"Lusa sudah kembali," jawab Saskia.


"Oh!"


"Safe flight kalau begitu. Titip salam untuk Dokter Faris," ucap Diftha berpesan.


"Nanti aku sampaikan." Saskia membenarkan tali tas yang tersampir di bahunya.


"Aku pergi dulu, Assalamualaikum!" Ucap Saskia kemudian seraya berlalu dari hadapan Diftha.


"Walaikum salam," jawab Diftha sembari menatap punggung Saskia hingga gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2