
Diftha menatap penuh tanya pada seorang wanita yang mengenakan gamis berwarna putih, dengan hijab putih juga dan saat ini posisi wanita itu sedang membelakangi Diftha.
'Siapa gerangan wanita yang terlihat begitu anggun tersebut?'
Diftha baru selesai bertanya pada dirinya sendiri, saat wanita itu sudah berbalik dan menunjukkan wajahnya pada Diftha.
"Shara?" Gumam Diftha menatap pada Shara yang begitu anggun dan menawan mengenakan gamis berwarna putih.
"Aku sudah mengambil keputusan, Diftha." Ucap Shara seraya menatap pada Diftha.
"Keputusan?" Diftha langsung mengernyit.
"Keputusan agar aku bisa selalu bersamamu." Shara mengulurkan tangannya ke arah Diftha. Namun saat Diftha hebdak menyambut tangan tersebut, sosok Shara yang mengenakan gamis serta jilbab warna putih tadi perlahan memudar, seolah terbawa angin.
"Shara!" Panggil Diftha yang mencoba untuk meraih tangan Shara.
Namun semakin Diftha mendekat, sosok Shara juga akhirnya semakin hilang. Hingga akhirnya terdengar suara tak asing yang membuat Diftha terjaga dan bangun dari mimpi siang bolongnya.
"Astagfirullahhal'adzim." Diftha langsung beristighfar sembari mengusap wajahnya yang sudah basah oleh keringat. Pun dengan tubuh Diftha yang kini juga bermandikan keringat, karena Diftha baru ingat kalau pendingin udara di kamarnya dimatikan oleh Shara tadi. Ditambah Diftha yang tidur dengan selimut lapis tiga karena tadi sebelum terlelap dirinya memang menggigil kedinginan.
Tapi sekarang Diftha sudah merasa sehat dan tak lagi kedinginan. Kepala Diftha yang tadi sempat sakit juga sekarang sudah sembuh. Segera Diftha menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bangkit dan beranjak dari atas tempat tidur.
Setelah sedikit meregangkan otot-otot di tubuhnya, Diftha lanjut masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menunaikan ibadah sholat ashar yang sudah sangat terlambat karena sekarang sudah hampir jam lima sore.
****
"Begini, ya?"
"Eh, sepertinya bukan!"
Diftha baru keluar dari kamar, saat pria itu mendengar suara Shara yang seperti berada di kamar Gizta.
Apa Shara belum pulang?
Diftha tak membuang waktu dan memilih untuk langsung memeriksa ke kamar Gizta yang pintunya setengah terbuka.
"Begini ternyata! Astaga!" Terdengar tawa dari Shara yang saat ini sedang memasang pashmina di kepala Gizta, lalu membentuknya sedemikian rupa. Duftha memilih untuk tak mengganggu dan pria itu hanya mengintip dari daun pintu yang sedikit terbuka.
"Semat pakai jarum pentul, ya?"
"Nanti teriak saja kalau aku tak sengaja menusuk kepalamu, ya!" Pesan Shara pada Gizta yang langsung ditanggapi adik Diftha itu dengan tawa kecil.
"Aku menusuk kepalamu?" Tanya Shara kemudian setelah gadus itu menyematkan satu jarum pentul di puncak kepala Gizta.
"Ti--dak." Jawab Gizta yang masih tersenyum.
"Baiklah! Lanjut cari ujungnya." Shara mencari-cari ujung pashmina yang kini sudah membalut kepala Gizta.
"Dapat!" Sorak Shara kemudian sebelum gadis itu lanjut menyampirkan ujung pashmina tadi ke pundak Gizta.
"Ter--ba--lik--" ucap Gizta memberitahu Shara yang langsung mengambil ponselnya, lalu mengamati dengan seksama sesuatu di ponselnya.
Apa Shara memasang pashmina itu memakai tutorial dari video di ponsel.
"Kiri ke kanan." Shara kemudian bergumam sendiri sebelum lanjut membenarkan pashmina Gizta.
"Kiri ke kanan..."
"Eh, iya! Terbalik!" Shara terkekeh dan segera membalik sampiran ujung pashmina tadi.
"Tadaaaa! Sudah jadi!" Sirak Shara kemudian seraya menegakkan kepala Gizta di depan kaca.
"Kau cantik sekali, Gizta!" Puji Shara kemudian yang secepat kilat mengambil ponselnya.
"Aku foto, ya!" Izin Shara kemudian seraya menyalakan kamera di ponselnya.
"I--ya!" Jawab Gizta yang langsung setuju.
Segera Shara mengambil foto Gizta yang mengenakan hijab dari berbagai posisi.
"Cantik!" Puji Shara lagi saat gadis itu menunjukkan hasil jepretannya pada Gizta.
__ADS_1
"Sel--fie--" ucap Gizta kemudian pada Shara yang langsung mengernyit.
"Foto selfie? Kita berdua?" Tanya Shara memastikan dan Gizta langsung mengangguk.
"Baiklah, ayo!" Shara langsung berjongkok di samping Gizta, dan tangannya merangkul pundak Gizta.
"Senyum!!" Shara memberikan aba-aba, lalu tersenyum bersama Gizta ke arah kamera. Tiga kali jepretan dan semua hasilnya oke.
"Bagaimana?" Shara meminta pendapat Gizta, setelah gadis itu menunjukkan hasil foto selfie tadi.
"Can--tik--" jawab Gizta yang masih terus tersenyum.
"Siapa? Kamu?" Cecar Shara sedikit berseloroh.
"Kak--Cha--ra--"
"Kak Shara!" Koreksi Shara cepat sembari memencet hidung Gizta. Gadis itu lalu bangkit berdiri.
"Mau aku bantu lepas jilbabnya?" Tawar Shara kemudian.
"Ti--dak!"
"Ma--u pa--mer du--lu--"
"Sa--ma A--bang," jawab Gizta yang tentu saja langsung mengundang tawa Shara serta Diftha yang sejak tadi masih mengintip dari ambang pintu.
Shara dan Gizta refleks menoleh bersamaan karena mendengar tawa Diftha tadi.
"A--bang!" Sapa Gizta terlebih dahulu.
"Sudah sehat?" Gantian Shara yang bertanya.
"Iya, alhamdulillah sudah sehat," jawab Diftha dengan wajah yang sumringah.
"Kau sendiri belum pulang?" Diftha lanjut berbasa-basi pada Shara.
"Ini sudah mau pulang. Tadi aku menemani Gizta dulu sambil menunggu kau bangun."
"Kasihan kalau Gizta sendirian dan tak ada teman ngobrol," terang Shara mengungkapkan alasannya.
"Ini yang memakaikan siapa?" Tanya Diftha selanjutnya sambil menunjuk pada pashmina di kepala Gizta.
"Kak--Cha--ra--" jawab Gizta.
"Kak Shara, Giz!" Koreksi Shara lagi da lagi .
"Dia memang lebih suka memanggilmu Chara, Sha! Jadi tak perlu kamu koreksi terus," tukas Diftha memberitahu Shara.
"Kayak semacam panggilan kesayangan gitu, ya?" Ujar Shara menebak-nebak.
"Iya seperti itu!" Sahut Diftha yang langsung terkekeh.
"Chara!"
"Tidak buruk juga," gumam Shara sembari melesakkan ponselnya ke dalam tas. Gadis itu lalu lanjut menggendong tas kecil tersebut di punggung.
"Mau pulang!" Ucap Shara kemudian sembari bersimpuh dan berpamitan pada Gizta.
"Nanti minta tolong Abang Diftha pas mau lepas, ya!" Pesan Shara sembari menunjuk pada pashmina di kepala Gizta.
"I--ya!"
"Susah tidak melepasnya?" Tanya Diftha memastikan.
"Hanya tinggal kamu lepasin jarum pentulnya satu per satu, Dift!" Ujar Shara memberitahu.
"Oke!" Diftha langsung manggut-manggut paham.
"Oke mengerti atau oke bingung?" Shara mencondongkan tubuhnya ke arah Diftha sembari melempar tatapan penuh arti.
"Oke mengerti!" Decak Diftha gemas yang langsung mengacak rambut Shara.
__ADS_1
"Ish!" Shara pura-pura mendelik pada Diftha, sebelum kemudian gadis itu tersenyum manis.
"Aku mau pulang!" Ucap Shara kemudian seraya mengayunkan langkah ke arah pintu.
"Mau diantar?" Tawar Diftha yang sudah mengekori Shara.
"Tidak usah! Baru sembuh, udah mau cari angin lagi!" Cibir Shara yang sudah sampai di teras. Gadis itu segera memakai sepatu kets-nya, lalu meraih helm yang berada di atas meja teras.
"Berani pulang sendiri?" Tanya Diftha lagi yang terlihat cemas.
"Masih terang benderang, Dift!" Shara menunjuk ke langit dan berucap sedikit lebay.
"Aku pu-" Shara baru menaikkan standar motornya, saat gadis itu mendapati ban belakang motor yang ternyata kempes.
Apa bocor?
"Ya ampun!" Shara langsung berdecak dan terpaksa menurunkan lagi standar motornya.
"Bocor sepertinya," gumam Diftha menerka-nerka.
"Jam segini bengkel depan masih buka tidak?" Tanya Shara pada Diftha yang langsung menggeleng.
"Yakin?" Shara masih tak percaya dengan jawaban Diftha.
"Yakin! Kalau hari Minggu, bengkel buka setengah hari saja. Ini sudah jam lima ya sudah tutup," jawab Dift dengan raut wajah yakin.
"Lalu aku pulang bagaimana?"
"Aku antar-"
"Tidak!" Tolak Shara cepat. Diftha lalu berpikir beberapa saat.
"Yasudah, bawa motorku dan aku akan membawa motormu ke bengkel besok," ujar Diftha akhirnya memberikan solusi.
"Aku tidak mau!" Tolak Shara sekali lagi.
"Yaudah nginep saja disini!" Sergah Diftha yang langsung membuat Shara merengut.
"Disuruh bawa morir tidak mau, diantar juga tidak mau-"
"Kau baru sembuh soalnya!" Sergah Shara beralasan dan Diftha hanya berdecak.
"Yaudah, aku bawa motormu saja!" Putus Shara akhirnya sembari menyerahkan kunci motornya pada Diftha. Pria di depan Shara itu langsung mengulas senyum.
"Tapi aku kesini lagi masih lusa. Apa tidak apa-apa aku mengembalikan motormu lusa?" Tanya Shara kemudian.
"Tidak apa-apa!" Jawab Diftha santai.
"Mau dibalikin bulan depan juga tak masalah," imbuh Diftha lagi tetap santai.
"Kau nanti kerja bagaimana?" Tanya Shara lagi bingung.
"Ck! Kan ada motormu, atau naik mobil juga bisa. Atau naik ojek juga banyak," jawab Diftha yang mendadak merasa sedikit geregetan pada Shara.
"Yaudah!" Shara akhirnya hanya mengendikkan bahu, sebelum lanjut mengambil kunci motor Diftha.
"Aku pulang dulu!" Pamit Shara sekali lagi, seraya menyalakan mesin motor Diftha.
Shara baru saja akan menarik gas, saat Diftha kembali memanggilnya.
"Shara!"
"Ya?" Shara kembali mematikan mesin motor.
"Terima kasih karena tadi sudah merawatku," ucap Diftha tulus.
"Sama-sama!" Jawab Shara sembari tersenyum. Gadis itu lalu menyalakan lagi mesin motor Diftha, dan tak berselang lama, Shara sudah melaju pergi meninggalkan rumah Diftha.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.