Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
JANJI


__ADS_3

Diftha mendorong kursi roda Gizta ke stand buah dan sayur di dalam supermarket, saat pria itu malah tak sengaja bertemu Bu Maria dan Saskia yang sepertinya juga sedang belanja.


Kebetulan sekali!


"I--buk!" Gizta yang langsung mengenali Bu Maria, langsung menyapanya dengan cepat.


"Hai, Gizta!"


"Sedang belanja?" Tanya Bu Maria yang langsung memeluk dan menciumi wajah Gizta. Wanita paruh baya itu seolah sedang meluapkan sebuah rasa rindu....


"Ge--li--" Gizta sedikit terkikik saat Bu Maria kembali menciumi wajahnya.


"Siang, Bu!" Diftha sedikit berbasa-basi pada Bu Maria yang sudah selesai menciumi wajah Gizta.


"Siang, Diftha! Sedang libur?" Bu Maria balik berbasa-basi pada Diftha.


"Iya, Bu. Karena kebetulan Gizta--" Diftha mendadak ragu untuk melanjutkan kalimatnya mengenai terapi Gizta. Bagaimana nanti kalau hal tersebut membuat Bu Maria sedih karena kembali teringat pada Shara yang sebelumnya memang bekerja di klinik terapi tempat Gizta melakukan terapi.


"Gizta sedang ingin diajak jalan-jalan," tukas Diftha akhirnya melanjutkan kalimatnya.


"Sudah bisa jalan-jalan, ya!" Bu Maria mengusap lembut kepala Gizta yang langsung tersenyum.


"I--ni--si--a--pa--"


"Buk?" Tanya Gizta kemudian seraya menunjuk pada Saskia.


"Ini Kak Kia," ujar Bu Maria yang langsung mengenalkan Saskia pada Gizta dan juga Diftha.


"Saskia," ucap Saskia, saat gadis berjilbab itu menjabat tangan Diftha.


"Diftha," jawab Diftha sembari mengangguk dan menatap sekilas saja pada Saskia.


"Gizta masih lanjut terapi, Diftha?" Tanya Bu Maria seolah memecah kecanggungan di antara Diftha dan Saskia.


"Alhamdulillah masih, Buk! Hanya saja, terapinya belum ada yang bisa datang ke rumah, jadi mang harus mengantar ke klinik seminggu dua kali," terang Diftha yang langsung membuat Bu Maria mengangguk.


"Semoga lekas ada kemajuan, ya!"


"Sejak dulu, Shara selalu berharap kalau Gizta akan pulih dan kembali normal." Bu Maria menghela nafas saat mengenang harapan serta mimpi Shara pada Gizta.


"Gizta sudah mengalami banyak kemajuan dan pencapaian setelah diterapi oleh Shara satu tahun kemarin, Bu!"


"Jadi tidak ada yang sia-sia dari semua kerja keras Shara," tutur Diftha menanggapi cerita bu Maria.


"Ya!" Bu Maria mengangguk-angguk.


"Ibuk masih mau belanja apa lagi?" Saskia sedikit berbisik pada Bu Maria.


"Kenapa? Kau sudah mau ke rumah sakit?" Tanya Bu Maria yang seolah tanggap.


"Iya, Buk. Sudah jam." Saskia memperlihatkan arlojinya pada Bu Maria.


"Nanti Bu Maria biar aku antar pulang, Kia!" Sergah Diftha yang turut mendengar bisik-bisik antara Bu Maria dan Saskia.


"Lihat! Kau bisa pergi sekarang," tukas Bu Maria sembari menepuk punggung Saskia yang kini malah menatap pada Diftha.


Diftha juga refleks mengangguk seolah menjawab keraguan Saskia.


"Baiklah, kalau begitu Kia langsung jalan, ya, Buk!" Pamit Saskia kemudian seraya mencium punggung tangan Bu Maria.


"Hati-hati dan jangan ngebut!" Pesan Bu Maria pada Saskia yang sudah berlalu pergi.


Kini hanya tinggal Bu Maria, Diftha dan juga Gizta.


"Gizta tadi mau beli buah apa? Biar Ibuk pilihkan," ujar Bu Maria kemudian bertanya pada Gizta.


"Pir--" jawab Gizta sembari menunjuk ke jejeran buah pir di showcase.

__ADS_1


Diftha lalu mendorong kursi roda Gizta agar lebih dekat ke showcase, sementara Bu Maria langsung membantu Gizta memilih-milih buah pir.


"Ngomong-ngomong, Saskia tadi keponakan Ibu?" Tanya Diftha membuka obrolan sambil menemani Bu Maria dan Gizta yang masih memilih-milih buah.


"Bukan," jawab Bu Maria sembari memasukkan satu buah pir ke dalam plastik.


"Kia sebenarnya adalah anak dari mendiang majikan ibu. Tapi Ibu sudah menganggap Kia seperti putri Ibu sendiri dan Kia juga dekat dengan Shara. Mereka seperti kakak adik," cerita Bu Maria yang kemudian tertawa kecil.


"Kia itu seorang dokter?" Tanya Diftha lagi yang sebenarnya juga sudah tahu jawabannya. Shara sudah pernah cerita!


"Iya!"


"Kia seorang dokter spesialis. Dan puji Tuhan dia sudah pindah serta praktek di kota ini," tutur Bu Maria.


"Kak--Ki--a--can--tik--" celetuk Gizta yang rupanya menyimak juga obrolan bu Maria dan Diftha.


"Secantik Gizta, kan? Sama-sama berjilbab juga," timpal Bu Maria sembari tertawa kecil.


"I--ya--" Gizta sedikit tersipu.


Sementara Diftha memilih untuk tak berkomentar saja dan lanjut menemani dua wanita itu berbelanja.


****


[Pak, Bu Maria datang ke rumah] -Mbak Ida-


Diftha yang baru selesai meeting, sedikit kaget saat membaca pesan dari Mbak Ida. Ada juga foto yang dikirimkan Mbak Ida sebagai bukti laporannya.


Bu Maria terlihat sedang bercengkerama dengan Gizta dan seorang gadis berjilbab....


Saskia!


[Ibuk datang bersama siapa, Mbak?] -Diftha-


[Saya kurang tahu, Pak! Hanya saja tadi Bu Maria memanggilnya Kia saat mengenalkan pada saya. Dan Mbak Kia juga bawa peralatan seperti tas dokter] -Mbak Ida-


[Mbak Kia juga memeriksa Gizta beberapa kali] -Mbak Ida-


[Iya, tidak apa-apa! Kia memang seorang dokter, Mbak] -Diftha-


Tak ada lagi pesan balasan dari Mbak Ida. Mungkin perawat Gizta itu sudah tenang sekarang dan tak khawatir lagi mengenai kedatangan Bu Maria dan Kia ke rumah. Diftha memutuskan untuk lanjut bekerja saja.


Namun, saat Diftha baru saja fokus pada layar monitor di hadapannya, ponsel pria itu kembali berbunyi. Ada pesan masuk lagi dari Mbak Ida.


[Pak, ini Bu Maria tanya Pak Diftha pulang jam berapa hari ini?] -Mbak Ida-


[Pulang seperti biasa, Mbak. Jam empat. Apa ada hal penting?] -Diftha-


[Sepertinya begitu, Pak! Mbak Kia juga minta nomor teleponnya Pak Diftha. Apa boleh saya memberikannya?] -Mbak Ida-


Diftha berpikir sejenak sebelum membalas pesan Mbak Ida.


[Katanya, Mbak Kia mau bicara hal penting sama Pak Diftha. Saya rasa mengenai Gizta.] -Mbak Ida-


Pesan dari Mbak Ida kembali masuk ke ponsel Diftha dan membuat pria itu menghela nafas sebelum lanjut mengetik pesan balasan.


[Yaudah, Mbak. Berikan saja nomorku pada Kia] -Diftha-


[Baik, Pak!] -Mbak Ida-


Diftha tak membalas lagi pesan dari Mbak Ida dan pria itu kembali fokus bekerja.


****


Sore menjelang.


Diftha baru keluar dari lift di loby, saat ponsel pria itu kembali berdering. Kali ini adalah dering panggilan masuk, dan saat Diftha memeriksa, rupanya yang menelepon adalah Saskia.

__ADS_1


Diftha diam sejenak sebelum kemidian mengangkat telepon dari Saskia, sembari langkahnya menuju ke pintu utama loby.


"Halo-"


"Assalamualaikum!"


"Wa-walaikum salam," jawab Diftha sedikit tergagap.


Tapi seharusnya Diftha tadi memang langsung mengucapkan salam saat menjawab telepon Saskia.


Bodoh!


"Dengan Diftha?"


"Iya, aku sendiri," jawab Diftha cepat.


"Diftha, aku Saskia."


"Kau ingat, kan?"


"Iya, aku ingat, Kia!" Jawab Diftha sekali lagi.


"Aku mendapatkan nomormu dari Mbak Ida tadi. Maaf jika aku lancang menelepon. Apa kau sedang sibuk sekarang?"


"Tidak! Kebetulan aku baru keluar dari kantor," jawab Diftha sembari membuka pintu mobilnya. Diftha lalu masuk ke dalam mobil dan memilih untuk lanjut bicara pada Saskia sebelum mengemudi pulang.


"Syukurlah kalau begitu. Aku mau bicara beberapa hal mengenai Gizta-"


"Apa kita perlu bertemu?" Tanya Diftha menyela, sebelum kemudian Diftha merutuki dirintis sendiri yang langsung blak-blakan mengajak Saskia bertemu.


Ya ampun!


"Kita bisa bertemu nanti di Rumah sakit saat kau mengantar Gizta periksa." Terdengar tawa kecil dari Saskia yang justru malah membuat Diftha salah tingkah.


"Iya."


"Jadi kapan aku bisa mengantar Gizta check up?" Tanya Diftha akhirnya berusaha menyingkirkan perasaan salah tingkahnya.


"Kapan kau ada waktu? Aku akan menyesuaikan saja karena sepertinya kau yang sibuk."


"Kapan, ya?" Diftha menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lebih cepat lebih baik, Diftha!"


"Kau prakteknya pagi atau sore?" Tanya Diftha lagi yang masih bingung akan membawa Gizta ke rumah sakit dan bertemu Saskia kapan.


"Pagi dan sore."


"Sebisamu saja. Kebetulan jadwalku juga belum tetap di rumah sakit. Jadi aku agak luang."


"Mmmm, baiklah. Besok pagi saja bagaimana?" Putus Diftha akhirnya setelah sedikit menimbang. Diftha tak ada jadwal penting besok.


"Besok pagi? Baiklah jam sembilan aku tunggu di rumah sakit, ya!"


"Iya! Aku akan datang jam sembilan," jawab Diftha berjanji.


"Baiklah, assalamualaikum!"


"Walaikum salam warahmatullah wabarakatuh," jawab Diftha bersamaan dengan telepon yang sudah terputus.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2