Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
TERIMA KASIH


__ADS_3

"Assalamualaikum! Selamat pagi!"


Diftha baru selesai memakai sepatunya dan bersiap pergi ke kantor, saat terdengar salam dari depan pagar.


"Walaikum salam!" Jawab Diftha akhirnya sembari bangkit berdiri lalu membuka pintu pagar besi depan rumah.


"Assalamualaikum, Pak!" Ucap seorang pemuda seraya tersenyum ramah pada Dokter


"Walaikum salam. Mencari siapa?" Tanya Diftha sembari memindai penampilan pemuda di depannya tersebut. Kalau Diftha terka, mungkin usia pemuda itu sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun.


"Ini benar rumah Gizta Adelia?" Tanya pemuda itu sembari membaca sebuah tulisan di kertas.


"Iya! Kau siapa?" Diftha langsung memicing curiga.


"Saya Iqbal, Pak!"


"Eh, Mas!" Pemuda itu meringis pada Diftha dan sepertinya sesikit bingung haris memanggil Diftha apa. Wajah dan penampilan Diftha sebenarnya memang belum terlihat seperti bapak-bapak.


"Jadi, ada apa kau mencari Gizta, Iqbal?" Tanya Diftha lagi masih dengan tatapan penuh selidik.


"Saya terapis barunya Gizta, Pak!"


"Eh, Mas!" Iqbal kembali bingung menentukan panggilan untuk Diftha.


"Oh, terapis yang dari klinik, ya?" Tanya Diftha memastikan.


"Betul sekali!"


"Kemarin pagi saya sudah kemari, tapi tidak ada orang,", ujar Iqbal sedikit bercerita.


"Kami masih di rumah sakit kemarin pagi. Kenapa tidak menelepon?"


"Nomor Pak Diftha tak bisa dihubungi," ujar Iqbal beralasan.


"Masa?"


"Ini nomornya, kan?" Iqbal menunjukkan nomor yang tertulis di bawah alamat rumah Diftha.


"Ini lima atau enam?" Tanya Diftha setelah memeriksa nomor yang ditunjukkan Iqbal.


"Enam, kan?"


"Eh!" Iqbal lalu memperhatikan dengan seksama.


"Pantas tidak bisa dihubungi. Nomornya salah!" Diftha geleng-geleng kepala, lalu segera mempersilahkan Iqbal masuk ke teras.


"Jadi, kau terapis baru di klinik?" Tanya Diftha setelah ia dan Iqbal duduk di kursi teras.


"Saya terapis lama sebenarnya, Pak! Tapi beberapa bulan lalu saya cuti sementara untuk merawat ibu saya yang sakit di kampung."


"Dan sekarang Alhamdulillah ibu sudah sembuh jadi saya bisa lanjut kerja lagi," cerita Iqbal yang seolah menepis kekhawatiran Diftha mengenai pengalaman kerja Iqbal.


"Syukurlah kalau begitu. Berarti kau sudah berpengalaman dan aku tak perlu khawatir," Diftha sedikit terkekeh.


"Tenang saja, Pak! Saya sudah berpengalaman dan profesional. Jadi nanti adik Gizta pasti akan tertangani dengan baik."


"Oh ya ngomong-ngomong, Adik Gizta usia berapa--"


"Bang! Belum be--rangkat?" Pertanyaan Iqbal belum selesai saat Gizta sudah keluar dari rumah sembari menjalankan sendiri kursi rodanya.


"Masih ada tamu, Gizta!" Jawab Diftha sekaligus menjawab pertanyaan Iqbal tadi mengenai usia Gizta.


"Loh!" Iqbal sepertinya terkejut.


"Si--apa yang da--tang?" Tanya Gizta lagi sembari menatap pada Iqbal yang masih berekspresi terkejut.


"Oh ya, Iqbal! Perkenalkan ini Gizta yang nanti akan kamu terapi," ucap Diftha akhirnya mengenalkan Gizta pada Iqbal.


"Sudah remaja, ya, Pak! Saya kira masih anak-anak." Iqbal sedikit meringis.


"Dua puluh tahun lebih tepatnya usia Gizta," ujar Diftha lagi menginformasikan.


"Oh!" Iqbal membulatkan kedua bibirnya.


"Ini Iqbal, penggantinya Kak Chara, Gizta!" Diftha ganti memberitahu Gizta.


"Kok co--wok, Bang?" Tanya Gizta berbisik-bisik pada Diftha.


"Yang di klinik kan mayoritas cowok juga terapisnya. Kenapa memang?" Diftha menatap penuh tanya pada Gizta.


"Tapi ini ma--sih muda," Gizta beralasan dan suara gadis itu sedikit keras hingga Iqbal turut mendengar.


"Tenang saja, Gizta! Aku pengalaman dan profesional, kok!" Ujar Iqbal meyakinkan.


"Ngomong-ngomong, Gizta sedikit gagap, ya, Bang?"


"Eh, Pak maksudnya!" Koreksi Iqbal cepat yang salah memanggil Diftha.


Efek terpengaruh Gizta yang memanggil Bang ke Diftha, Iqbal jadi ikut-ikutan.


"Ini sudah lumayan berkurang sebenarnya, Bal!"


"Sebelum operasi gagapnya Gizta masih parah karena pengaruh cedera di otak. Tapi sekarang setelah operasi, gagapnya tinggal sedikit saja," terang Diftha pada Iqbal.


"Nanti insyaallah akan hilang sama sekali setelah terapi, Bang-"


"Bang lagi!" Iqbal menepuk keningnya yang sontak membuat Gizta tertawa kecil.


"Pak maksud saya."


"Maaf, Pak Diftha!" Ucap Iqbal sembari menangkupkan kedua tangannya pada Diftha.


"Panggil Bang sebenarnya juga tidak apa-apa, Iqbal! Senyamannya kamu saja mau memanggil saya apa. Tidak usah terlalu formal juga," ujar Diftha kemudian yang langsung membuat Iqbal mengulas senyum.


"Siap, Bang!"


"Saya panggil Bang saja mulai sekarang," putus Iqbal akhirnya yang hanya membuat Diftha mengulas senyum.

__ADS_1


"Hari ini langsung mulai terapi?" Tanya Diftha kemudian.


"Perkenalan dulu, Bang!" Jawab Iqbal sambil beberapa kali melirik ke arah Gizta.


"Jadi saya akan tanya-tanya dulu ke Gizta dan Abang Diftha mengenai kondisi Gizta-"


"Tapi aku harus ke kantor karena ada meeting pagi," potong Diftha beralasan sembari melihat arlojinya.


"Nanti kau tanya-tanya saja pada Gizta dan Mbak Ida, ya!" Ijar Diftha kemudian memberikan jalan tengah.


"Mbak Ida siapa, Bang?"


"Perawatnya Gizta. Ada di dalam."


"Mbak Ida!" Diftha lalu memanggil Mbak Ida yang langsung keluar ke teras.


"Mbak Ida, Iqbal ini kan terapis barunya Gizta. Nanti tolong dijawab saja kalau Iqbal ada tanya-tanya tentang kondisi Gizta¤


"Gizta ju--ga bisa men--jawab, Bang!" Sergah Gizta cepat.


"Iya Mbak Ida juga biar membantu, Giz!" Ujar Diftha sembari mengusap kepala sang adik.


Iqbal refleks tersenyum melihat keakraban Diftha dan Gizta.


"Dan misalnya masih ada yang kurang jelas nanti kamu chat aku saja, Bal!" Ujar Diftha lagi berpesan pada Iqbal.


"Ah iya, Bang!"


"Berapa nomor Bang Diftha jadinya? Tadi salah, ya? Yang di kertas?" Cecar Iqbal sembari mengeluarkan ponselnya dari saku. Iqbal dan Diftha kemudian bertukar nomor ponsel.


"Abang ke kantor sekarang, ya!" Pamit Diftha kemudian pada Gizta yang hanya mengangguk. Diftha juga pamit pada Mbak Ida dan Iqbal sebelum pergi meninggalkan rumah.


"Tadi saya pikir istrinya Bang Diftha, lho, Mbak!" Seloroh Iqbal pada Mbak Ida setelah Diftha pergi.


"Ngawur!"


"Mas Diftha itu masih single!" Sergah Mbak Ida seraya mengibaskan tangannya ke arah Iqbal.


Sementara Gizta langsung menjalankan kursi rodanya masuk ke rumah, meninggalkan Iqbal yang malah mengobrol bersama Mbak Ida di teras rumah.


****


Dua bulan kemudian....


"Bagaimana?" Tanya Diftha harap-harap cemas. Saat ini Diftha memang sedang mengantar Gizta bertemu Saskia untuk check up rutin.


"Semuanya bagus," ujar Saskia dengan raut wajah santai tetap sambil membolak-balik kertas hasil pemeriksaan.


"Gizta masih terapi, ya?" Tanya Saskia selanjutnya yang kini ganti menatap pada Diftha.


"Ya! Iqbal masih rutin datang." Jawab Diftha seraya mengangguk.


"Kak Kia!" Panggil Gizta kemudian yang masih duduk di atas bed pemeriksaan.


"Iya, Gizta?" Jawab Saskia yang langsung sigap berdiri dan menghampiri Gizta.


"Apa Gizta boleh berenang? Kata Abang Iqbal itu bagus untuk melatih kaki Gizta," tanya Gizta dengan wajah penuh harap.


"Ayo kita tes dulu, ya!" Saskia segera menopang tubuh Gizta dan hebdak membantunya untuk turun dari bed perawatan. Diftha juga sudah langsung beranjak dan sigap membantu.


"Dia sudah bisa berdiri," ujar Saskia kemudian memberitahu Diftha yang wajahnya masih terlihat khawatir.


"Tapi tidak bisa lama dan hanya beberapa detik."


"Itu sebuah kemajuan, Diftha!" Sergah Saskia meyakinkan.


Diftha yang awalnya ragu, akhirnya melepaskan topangannya perlahan pada tubuh Gizta. Pun dengan Saskia yang juga melakukan hal itu perlahan.


"Satu, dua, tiga, empat...." Saskia mulai menghitung berapa lama Gizta kuat berdiri memakai kakinya tanpa berpegangan maupun dipegangi.


"Sembilan, sepu-"


"Aduh!" Gizta nyaris ambruk saat Diftha langsung dengan sigap menopang adiknya tersebut.


"Sepuluh detik!" Saskia langsung bertepuk tangan bangga pada Gizta yang sudah kembali duduk di atas bed pemeriksaan.


Sementara Diftha juga langsung memeluk Gizta dengan bangga sembari menciumi puncak kepala adiknya tersebut.


"Gizta akan bisa berjalan lagi, kan?" Tanya Diftha sembari menatap Saskia dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Pria itu bahkan terlihat mendongak beberapa kali seolah sedang menahan airmatanya agar tak jatuh.


"Ya!" Saskia segera meraih tisu di atas meja dan mengangsurkannya pada Diftha.


"Gizta akan bisa berjalan tak lama lagi, selama Iqbal tetap rutin melakukan terapi dan mengajak Gizta berenang," jawab Saskia yang langsung membuat Gizta berbinar senang.


"Berarti Gizta boleh berenang, Kak?"


"Boleh!" Jawab Saskia sembari mengusap lembut kepala Gizta yang masih dirangkul oleh Diftha.


"Nanti berenangnya bersama Abang saja-"


"Aku rasa akan lebih bagus jika Iqbal saja yang mendampingi Gizta, Diftha! Iqbal sudah berpengalaman sebagai terapis, dan pasti sudah khatam juga tentang tata caranya," sergah Saskia memberikan saran.


"Aku akan belajar tata caranya pada Iqbal kalau begitu!"


"Lagipula, aku tak akan membiarkan...." Diftha menatap pada sang adik yang masih ia rangkul.


"Kau tetap bisa mendampinginya nanti dan memastikan kalau Iqbal tak akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan pada Gizta," ujar Saskia cepat menenangkan Diftha yang pastilah sebagai seorang abang merasa khawatir. Terlebih Gizta bukan lagi anak-anak.


"Baiklah," Diftha akhirnya mengangguk setuju.


"Tapi Gizta belum punya baju renang, Bang!" Ucap Gizta kemudian sedikit berbisik pada Diftha.


"Nanti kita beli dulu," jawab Diftha cepat.


"Tapi Gizta mau yang menutup semua-"


"Baju renang muslim!" Ujar Saskia memberitahu.

__ADS_1


"Iya, itu!"


"Kak Kia punya?" Tanya Gizta antusias.


"Iya! Kebetulan ada," jawab Saskia sembari tersenyum.


"Bisa kau beritahu belinya di toko mana?" Gantian Diftha yang bertanya.


"Ada di toko perlengkapan muslimah. Nanti aku kirimkan alamat lengkapnya ke ponselmu," janji Saskia yang langsung membuat Diftha mengangguk.


Diftha lalu lanjut memindahkan Gizta kembali ke kursi rodanya, dan berpamitan pada Saskia.


"Semangat yang terapi, ya! Gizta pasti akan bisa berjalan lagi," pesan Saskia sembari mencium kening Gizta.


"Iya, Kak!"


"Gizta pulang dulu!" Gizta melambaikan tangannya pada Saskia bersamaan dengan Diftha yang sudah mendorong kursi roda adiknya itu keluar dari ruang pemeriksaan.


"Terima kasih untuk semuanya, Kia! Assalamualaikum!" Pamit Diftha sekali lagi.


"Walaikum salam!" Jawab Saskia sembari menatap pada punggung Diftha yang stdah mendorong kursi roda Gizta ke arah lift. Saskia lalu masuk kembali ke ruangannya, saat kemudian tatapan gadis itu tertumbuk pada ponsel Diftha yang masih tergeletak dibatas meja.


"Ya ampun!" Saskia dengan cepat menyambar ponsel Diftha, lalu keluar dari ruangan lagi dan setengah berlari mengejar Diftha yang sudah masuk ke dalam lift.


"Diftha!" Saskia melambaikan tangannya yang memegang ponsel Diftha sekaligus memberikan kode agar Diftha menahan pintu lift.


Pintu lift berhasil ditahan oleh Diftha dan Saskia gesit masuk ke dalam lift bersamaan dengan pintu yang langsung tertutup.


"Tertinggal di atas meja," ujar Saskia sembari memberikan ponsel Diftha.


"Astagfirullahhal'adzim." Diftha menepuk keningnya sendiri sebelum mengambil ponsel dari tangan Saskia.


"Terima kasih, ya!" Ucao Diftha kemudian.


"Sama-sama!" Jawab Saskia bersamaan dengan lift yang sudah sampai di lantai bawah.


Saskia mengikuti Diftha dan Gizta yang sudah keluar dari lift.


"Tidak kembali ke atas?" Tanya Diftha pada Saskia.


"Aku naik tangga saja sekalian olahraga," jawab Saskia sembari mengendikkan dagu ke arah dua perawat yang sudah membawa pasien memakai kursi roda untuk masuk ke dalam lift, hingga membuatnya penuh.


Diftha langsung mengangguk paham.


"Bye, Gizta!" Saskia melambaikan tangan sekali lagi pada Gizta sebelum mengayunkan langkahnya ke arah tangga. Saat itulah, tiba-tiba sebuah pemikiran terbersit di kepala Diftha.


"Kia!" Panggil Diftha kemudian pada Saskia yang hampir mencapai tangga.


"Iya! Ada yang tertinggal lagi?" Tanya Saskia memastikan.


Diftha tak langsung menjawab dan pria itu menurunkan rem kursi roda Gizta teelibat dahulu sebelum menghampiri Saskia.


"Ngomong-ngomong, kau ada waktu luang besok?" Tanya Diftha sedikit canggung.


"Besok aku praktek sampai jam makan siang."


"Lalu biasanya kau makan siang dimana?" Tanya Diftha lagi.


"Di kantin rumah sakit. Kadang juga ke kafe atau ke rumah Ibuk."


"Tergantung mood saja," jawab Saskia sembari tertawa kecil.


"Aku boleh men-traktirmu makan siang besok?" Tanya Diftha kemudian sedikit ragu.


"Men-traktir dalam rangka?"


"Dalam rangka...." Diftha menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari memikirkan alasan yang tepat.


"Dalam rangka berterima kasih," ucap Diftha kemudian seraya meringis.


"Karena kau sudah menangani Gizta dengan baik dan sepenuh hati," imbuh Diftha lagi.


"Sudah menjadi tugasku," gumam Saskia kemudian.


"Mau, ya? Nanti aku jemput--"


"Kita langsung bertemu di tempat saja," potong Saskia memberikan ide.


"Baiklah. Kau yang menentukan tempatnya," ujar Diftha cepat.


"Yakin? Yang mentraktir kan kau," Saskia tampak ragu.


"Tapi aku tidak tahu kau sukanya makan apa. Takutnya kalau aku yang menentukan tidak sesuai seleramu," tukas Diftha beralasan.


"Aku tidak pernah pilih-pilih makanan padahal."


"Aku juga. Jadi kau saja yang menentukan," ujar Dokter sekali lagi.


"Baiklah, karena kau memaksa." Jawab Saskia akhirnya seraya tertawa kecil.


"Nanti kirim ke ponselku, ya!" Pesan Diftha sembari menunjukkan ponselnya pada Saskia


"Ya! Sekalian alamat toko tempat beli baju renang," jawab Saskia mengingatkan.


"Iya, yang itu juga!" Gantian Diftha yang tertawa kecil sembari menepuk keningnya sendiri.


"Gizta sudah menunggumu," ucap Saskia kemudian sembari mengendikkan dagunya ke arah Gizta.


"Kami pulang dulu dan sampai bertemu besok!"


"Assalamualaikum," pamit Diftha sekali lagi sembari berbalik dan menghampiri sang adik lagi.


"Walaikum salam! Hati-hati!" Jawab Saskia sebelum kemudian dokter itu berbalik dan lanjut naik tangga menuju ke ruang prakteknya di lantai dua rumah sakit.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2