
"Belum tidur?" Sapa Shara yang sudah langsung menarik kursi di sebelah Diftha, lalu duduk tepat di sebelah pria tersebut.
"Mendadak insomnia dan tak bisa tidur," jawab Diftha sembari menyeruput kopi hitam di hadapannya.
"Dan kau malah minum kopi hitam?" Shara menatap tak percaya pada Diftha sembari geleng-geleng kepala.
Diftha langsung tertawa renyah.
"Tadi mendadak aku ingin minum kopi," ujar Diftha kemudian beralasan.
"Kau sendiri, belum tidur juga? Ini sudah hampir tengah malam," Diftha balik bertanya pada Shara.
"Tadi aku sudah tidur, lalu aku terbangun dan merasa haus," jelas Shara sembari membalik gelas yang baru saja ia ambil, lalu mengisinya dengan air dari teko. Shara kemudian meneguk air putih di gelasnya yadi hingha tandas.
"Kau tadi sudah izin pada Bu Maria dan Pak Rudi kalau menginap disini?" Tanya Diftha membuka obrolan setelah tadi dirinya dan Shara sama-sama diam.
"Ya," jawab Shara singkat.
Shara lalu memainkan jarinya di bibir gelas, mengingat pesannya tadu pada Bu Maria yang hanya dibaca tanpa dibalas sama sekali.
"Ngomong-ngomong, tadi dokter sudah merekomendasikan seorang dokter spesialis syaraf untuk menangani Gizta," ujar Diftha lagi yang ganti membahas hal lain.
"Benarkah? Semoga ada titik terang ke depannya." Ucap Shara penuh harap.
"Semoga," timpal Diftha turut berharap. Pria itu lalu menyesap kopinya lagi dan Shara hanya memperhatikan Diftha dalam diam.
"Kenapa kau terus saja menatapku, Shara?" Tegur Diftha yang ternyata peka. Shara langsung tertawa kecil.
"Wajahmu meneduhkan. Jadi aku betah menatapnya berlama-lama," ujar Shara yang kini malah ganti menopang wajahnya dengan tangan dan tetap menatap Diftha dengan lekat.
"Aku akan tidur!" Putus Diftha akhirnya seraya menyesap lagi kopinya hingga tandas sebelum kemudian pria itu bangkit berdiri.
"Kau mau mengajariku mengucapkan kalimat syahadat?" Tanya Shara tiba-tiba yang langsung membuat Diftha menatap tak percaya pada gadis itu.
"Mengucapkan apa?" Tanya Diftha memastikan. Diftha berharap ia tadi hanya salah dengar.
"Kalimat syahadat."
"Aku baca di google kalau syarat untuk aku masuk ke agamamu adalah aku hanya perlu mengucapkan kalimat itu," ujar Shara panjang lebar yang akhirnya membuat Diftha kembali duduk di kursinya.
"Hanya?" Diftha tertawa sumbang.
"Ada apa? Aku salah informasi?" Tanya Shara bingung.
"Apa tujuanmu ingin masuk islam?" Diftha tak menjawab pertanyaan Shara dan malah balik melontarkan pertanyaan.
"Agar kita bisa bersatu dan menikah," jawab Shara sedikit ragu.
"Kau enggan menjalin hubungan berbeda keyakinan dan mustahil kau akan meninggalkan agamamu, jadi aku sudah mebgambil keputusan-"
"Aku bukannya enggan, Shara!"
"Tapi pernikahan beda agama itu tidak dibenarkan dalam agamaku!" Ujar Diftha dengan nada tegas.
"Sekalipun atas dasar hak asasi manusia? Bukankah setiap orang berhak memilih agama apa yang ingin ia anit dan ia yakini?"
__ADS_1
"Ya!" Jawab Diftha cepat.
"Tapi itu bukan alasan!"
"Lagipula, bukankah di Alkitab juga melarang pernikahan beda agama?"
"Korintus-"
"2 Korintus 6:14-15," ucap Shara cepat seolah sedang memberitahu Diftha.
“Itu kamu tahu!" Diftha tertawa kecil.
"Itulah makanya aku akan mengikuti keyakinanmu!" Sergah Shara kemudian.
"Dengan alasan agar kita bisa menikah?" Tanya Diftha memastikan.
"Ya!"
"Kenapa memang? Tidak boleh?"
"Tidak!" Jawab Diftha tegas.
"Menjadi muallaf tidak bisa karena alasan seperti itu, Shara!"
"Pertama-tama kau harus meyakini bahwa Yesus bukan Tuhan. Satu-satunya Tuhan hanyalah Allah SWT," terang Diftha panjang lebar yang langsung membuat Shara terdiam.
"Apa kau sudah meyakini dalam hati, jika Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan?" Tanya Diftha lagi yang langsung membuat Shara terdiam.
"Yesus adalah Anak Allah dan Juru Selamat atau Penebus yang melakukan penebusan pada umat manusia yang mau dan mengakui-Nya."
"Kau tak pernah meyakininya, Shara!"
"Kau bahkan masih setia memakai kalung itu, menandakan kalau kau memanglah umat yang taat dan takut Tuhan," tutur Diftha seraya mengendikkan dagunya pada kalung salib Shara. Sementara Shara masih setia pada kebisuannya.
"Jangan pernah mengkhianati Tuhanmu kalau begitu, Shara!" Pungkas Diftha sebelum kemudian pria itu kembali bangkit berdiri, kemudian berlalu dari hadapan Shara.
Suasana sejenak hening, sebelum akhirnya Shara terisak dan hatinya masih saja merasa bimbang. Kenapa ini begitu rumit?
****
"Hati-hati!" Pesan Diftha pada Shara yang sudah bersiap untuk pulang naik motor. Shara sudah memakai helm dan duduk di atas motornya yang juga sudah menyala.
"Ya!"
"Kau juga nanti hati-hati saat menyerir ke kantor-"
"Aku naik motor," sergah Diftha cepat.
"Oh, hati-hati naik motornya kalau begitu dan jangan lupa membawa raincoat," Shara balik berpesan pada Diftha yang hanya mengulas senyum.
"Aku pulang dulu!" Pamit Shara kemudian seraya gadis itu menarik gas dan mulai melajukan motornya keluar dari halaman rumah Diftha. Shara masih bisa melihat di spion, kalau Diftha masih terus memperhatikannya dari gerbang, sampai akhirnya Shara berbelok di ujung jalan.
Shara mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Kedua matanya berusaha untuk fokus pada jalan di depannya, meskipun otak Shara saat ini rasanya seperti medan perang.
"Apa kau sudah meyakini dalam hati, jika Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan?"
__ADS_1
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Diftha semalam, yang membuat Shara langsung kehilangan kata-kata, terus saja berputar-putar di kepala Shara. Tadinya Shara pikir, Diftha akan langsung mau membimbingnya mengucapkan kalimat syahadat, saat Shara memintanya. Namun ternyata untuk menjadi seorang muallaf tidaklah sesimpel itu. Semuanya harus berasal dari hati.
Lalu bagaimana hati Shara akan menerimanya, jika sejak kecil saja di jati Shara sudah tertanam tentang Tuhannya yaitu Tuhan Yesus sang juru selamat. Jadi tidak mungkin Shara akan berpaling semudah itu....
Beep! Beep!!
Suara klakson yang menggema dari balik punggung langsung menyentak lamunan Shara.
Shara buru-buru mengarahkan laju motornya ke tepi karena tadi ternyata motor Shara sudah masuk jalur cepat.
Ya ampun!
Shara benar-benar tak konsentrasi mengendarai motor. Hampir saja dirinya celaka.
Shara lalu menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha mengusir semua kegalauan yang bercokol di hari serta kepalanya. Shara sebaiknya fokus mengendarai motor menuju ke rumahnya.
****
"Pagi, Buk!" Sapa Shara yang akhir sampai juga di rumah. Shara buru-buru menghampiri Bu Maria yang sedang menyiram tanaman. Gadis itu juga langsung meraih tangan Bu Maria dan menciumnya dengan takzim. Tak ada basa-basi apapun dari Bu Maria yang ekspresi wajahnya hanya datar.
"Shara tadi malam nginep di rumah Gizta, Buk! Shara usah kirim pesan dan minta izin," tutup Shara kemudahan yang tetap tak mengubah ekspresi wajah Bu Maria. Sepertinya ibu kandung Shara itu memang sedang marah.
"Sudah pulang, Sha?" Tegur Pak Rudi yang baru keluar dari rumah, dan sudah memakai kemeja rapi.
"Sudah, Pak!"
"Bapak sendiri sudah mau berangkat? Tumben?" Cerocos Shara pada sang Bapak.
"Ada janji penting," jawab Pak Rudi tanpa menjelaskan panjang kali lebar.
"Semoga lancar urusannya, Pak!" Ucak Shara yang sudah meraih tangan Pak Rudi, lalu mencium punggung tangannya seperti yang tadi Shara lakukan pada Bu Maria.
"Besok kau tidak ada acara, kan?" Tanya Pak Rudi kemudian.
"Acaranya sore ini, Pak!" Sergah Bu Maria yang langsung membuat Shara mengernyit.
"Acara apa, Buk? Ibadah lagi?" Tanya Shara memastikan. Tapi Bu Maria tak menjawab dan wanita paruh baya itu malah sudah berlalu masuk ke dalam rumah.
"Acara apa, Pak?" Shara akhirnya ganti bertanya pada sang bapak.
"Nanti kau juga tahu. Kau tidak ada acara sore ini kan?" Tanya Pak Rudi memastikan.
"Tidak ada, Pak!" Jawab Shara sembari menggeleng.
"Baiklah! Nanti jangan kemana-mana pokoknya! Bapak berangkat kerja dulu!" Pamit Pak Rudi akhirnya sembari keliar dari teras, lalu langsung mengambil mobil di garasi. Shara janya memperhatikan sang bapak yang sudah masuk ke dalam.mobil, dan mobil yang juga sudah melaju pergi.
"Acara apa nanti sore?" Gumam Shara penasaran sembari menebak-nebak.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1