
Ting!
Suara pesan masuk di ponsel, membuat Shara yang tadi sedang merenung sendirian di ruang tengah rumah Diftha, sedikit tersentak. Gadis itu lalu membuka pesan yang masuk dari Diftha.
[Sudah tidur?] -Diftha-
[Siapa?] -Shara-
Shara mengetikkan pesan sembari tersenyum sendiri, seolah membayangkan kalau dirinya sedang mengobrol bersama Diftha sekarang.
[Kau?] -Diftha-
[Oh. Aku pikir Gizta] -Shara-
Ponsel Shara kemudian berdering menandakan ada panggilan masuk dari Diftha. Shara menatap sejenak ke pintu kamar Gizta, sebelum mengangkat telepon Diftha. Tadi Bu Maria memang menemani Gizta di kamar atas permintaan Gizta sendiri. Mungkin Bu Maria dan Gizta sudah terlelap sekarang.
Setelah menimbang beberapa saat, Shara akhirnya menjawab telepon Diftha.
"Halo!" Sapa Shara dengan suara sepelan mungkin. Suasana di rumah yang sudah sepi membuat suara Shara akan menggema jika bicara keras.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam," jawab Shara tetap dengan suara pelan.
"Kenapa seperti bisik-bisik?"
"Ibuk dan Gizta sudah tidur. Takut ganggu," jelas Shara.
"Oh."
"Gizta tidur sama ibu kamu?"
"Iya!" Jawab Shara sembari menyusun bantal di ujung sofa, lalu membaringkan kepalanya di sana.
"Lalu kau tidur di mana?"
"Di kamar belakang nanti." Jawab Shara cepat. Ada tiga kamar di rumah Diftha. Satu kamar Gizta, satu kamar Diftha, dan satu kamar di belakang yang sebenarnya adalah kamar untuk ART. Namun karena Mbak Ida tidak menginap, jadilah kamar itu kosong.
"Ooh! Di kamarku juga tidak apa-apa sebenarnya. Kan kosong juga."
"Enggak, ah!" Jawab Shara yang wajahnya mendadak terasa memanas. Shara lalu menatap ke pintu kamar Diftha yang kosong.
"Ada yang marah?"
"Hah?" Shara langsung bergumam bingung.
"Siapa yang marah?" Tanya Shara kemudian. Shara masih bingung dengan kalimat Duduk yang terakhir. Apa itu kalimat tanya atau kalimat pemberitahuan.
Pemberitahuan kalau akan ada yang marah misalnya Shara tidur di kamar Diftha malam ini. Maksudnya pacar Diftha mungkin.
"Pacar kamu."
"Hah?" Shara langsung menggaruk kepalanya sendiri.
"Kau sedang meledekku?" Ujar Shara selanjutnya yang malah membuat Diftha tergelak di ujung telepon. Ck!
"Kau masih jomblo?"
"Ck! Apa kau masih harus bertanya?" Shara sudah berganti posisi menjadi tengkurap sekarang.
"Oh, aku pikir sudah jadian dengan seorang pria-"
"Pria yang mana?" Sela Shara cepat.
"Yang kemarin mengajakmu nonton konser."
Shara langsung diam sejenak dan mencoba untuk mencerna kalimat Diftha. Apa maksud perkataan Diftha barusan?
Apa Diftha sedang menyatakan perasaannya pada Shara sekarang dan memberikan kode kalau dia ingin menjalin sebuah hubungan bersama Shara...
"Baiklah, lupakan saja! Aku hanya bergurau."
"Oh," Shara mendes*h dan mendadak merasa sedikit kecewa.
"Aku pikir kau tadi serius." Shara lalu tertawa kecil seolah sedang menertawakan dirinya sendiri yang tadi sudah terlalu berharap.
__ADS_1
"Kau mau memang kalau serius?"
Shara sudah berhenti tertawa dan wajahnya kembali terasa memanas.
"Ini maksudnya kamu sedang nembak aku atau bagaimana, Dift?" Tanya Shara akhirnya blak-blakan.
Sekalian saja!
"Nembak dor gitu maksudnya?" Terdengar kekehan Diftha dari ujung telepon.
"Ck! Aku serius, Dift!" Shara mulai geram sekarang.
"Bagaimana, ya?"
"Baiklah, aku akan tidur sa-"
"Shara, Shara!" Panggil Diftha yang langsung membuat Shara tak jadi menutup telepon.
"Kau marah?"
"Enggak!" Jawab Shara cepat sembari memainkan sudut bantal sofa yang kini sudah berpindah ke pangkuannya. Shara juga sudah berganti posisi menjadi duduk bersila di atas sofa sekarang.
"Besok kau ada acara?"
"Besok?" Shara berpikir sejenak.
"Tidak ada! Paling hanya menunggu Mbak Ida datang, lalu aku dan Ibuk akan pulang," ujar Shara kemudian menyampaikan rencana kegiatannya besok.
"Kita jalan-jalan setelah makan siang bagaimana? Mungkin besok jam sepuluh aku sudah sampai di rumah."
"Kita? Kau dan aku saja?" Tanya Shara memastikan.
"Dan Gizta!"
"Atau kita tak usah mengajak Gizta-"
"Kita ajak Gizta!" Sergah Shara cepat. Shara mendadak ingat pada rencana Diftha tempo hari yang ingin membelikan baju muslim untuk Gizta tapi belum jadi.
"Kau juga belum memenuhi janjimu pada Gizta," ujar Shara mengingatkan Diftha.
"Aku benar-benar lupa!"
"Tapi terima kasih kau sudah mengingatkan, Sha!"
"Besok sekalian kita beli baju untuk Gizta, ya! Kau bisa, kan setelah makan siang?"
"Iya!" Jawab Shara singkat.
"Singkat sekali jawabannya. Kau marah?"
"Enggak!" Sanggah Shara sekali lagi dengan nada yakin.
"Trus?"
"Udah ngantuk. Mau tidur." Jawab Shara yang kini sudah menguap.
"Baiklah! Cepat tidur kalau begitu dan sebaiknya kau tidur di kamarku saja."
"Di kamar belakang tidak ada pendingin udaranya. Nanti kau kepanasan."
"Mmmmm-"
"Bilang iya dan jangan berpikir lagi!"
"Pemaksaan!" Cibir Shara kemudian.
"Tidak apa-apa! Sekalian percobaan sebelum nanti itu jadi kamarmu juga." Ucapan Diftha sukses membuat Shara terdiam dan sedikit salah tingkah.
Maksudnya kamar Shara juga?
"Astagfirullahhal'adzim..."
"Hah? Ada apa?" Tanya Shara mengernyit saat mendengar Diftha mengucapkan satu kalimat asing dalam bahasa arab. Shara pernah dengar tapi tak tahu namanya.
"Aku menguap barusan, Sha!"
__ADS_1
"Bukan lihat setan!" Kembali terdengar kekehan Diftha dari ujung telepon yang hanya membuat Shara garuk-garuk kepala karena tak paham.
"Sudah ngantuk juga berarti? Tidur, gih!", Shara balik memerintah Diftha.
"Iya, kamu tidur juga, gih!"
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam!" Jawab Shara bersamaan dengan telepon Diftha yang sudah terputus. Shara baru menghela nafas saat terdengar suara pintu kamar terbuka yang membuat Shara sedikit terlonjak.
"Belum tidur, Sha?" Tanya Bu Maria yang rupanya belum tidur juga dan baru saja keluar dari kamar Gizta.
"Belum, Buk!" Jawab Shara sembari bangkit berdiri.
"Ibuk belum tidur juga?" Shara balik bertanya pada Bu Maria.
"Sudah tadi. Ini mau minum saja," ujar Bu Maria yang sudah berlalu menuju ke dapur.
"Gizta sudah pulas, ya?" Shara membuka pelan pintu kamar Gizta, lalu mengintip ke dalam. Benar saja, Gizta sudah pulas di atas tempat tidur.
"Tadi Gizta ngajak ngobrol, tapi Ibuk kurang paham juga Gizta ngomong apa. Jadi ibuk iya-iyakan saja," ujar Bu Maria memulai ceritanya yang langsung membuat Shara tertawa kecil.
"Tapi Gizta anaknya cerewet juga, ya, Sha!"
"Memang, Buk!"
"Kata Diftha, sebelum kecelakaan, Gizta itu anaknya memang kritis dan cerewet. Apa-apa selalu ditanyakan sampai mendetail."
"Dan Gizta sebenarnya juga bercita-cita menjadi seorang dokter," cerita Shara dengan raut wajah trenyuh.
"Semoga ke depannya Gizta tetap bisa meraih cita-cita tersebut."
"Meskipun kemungkinannya hanya kecil, tapi Shara tetap yakin kalau Gizta akan bisa sembuh dan pulih seperti sedia kala, Buk," ujar Shara lagi denagn mata yang sudah berkaca-kaca.
"Pasti bisa, Sha! Mukjizat Tuhan itu ada!"
"Dan Gizta adalah gadis yang baik, jadi Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan setelah berbagai kesedihan yang dialami Gizta selama ini!" Tutur Bu Maria panjang lebar yang langsung membuat Shara mengangguk.
"Sudah malam! Kamu tidur sana!" Ujar Bu Maria kemudian.
"Mau tidur di mana?" Bu Maria mengedarkan pandangannya sejenak untuk mencari keberadaan kamar selain kamar Diftha dan Gizta.
"Di kamar belakang, Buk!" Jawab Shara akhirnya seraya meringis.
"Ada?" Tanya Bu Maria memastikan.
"Iya, ada!" Jawab Shara, sebelum kemudian gadis itu berlalu ke arah dapur dan langsung menuju ke kamar ART di samping dapur. Namun baru membuka pintu kamar, Shara sudah dikejutkan dengan pemandangan yang....
"Ya ampun! Sudah menjelma jadi gudang ternyata," gumam Shara sembari menatap pada tumpukan box di dalam kamar. Kasir yang berada di kamar juga sudah diberdirikan di sisi ruangan.
Shara akhirnya menutup pelan pintu kamar tersebut, dan kembali ke ruang tengah untuk melapor pada Bu Maria. Namun rupanya Bu Maria sudah tak ada di ruang tengah, maupun di dapur. Sepertinya ibu kandung Shara itu sudah masuk lagi ke kamar Gizta.
"Masa iya tidur di sofa?" Shara bergumam sendiri, lalu menatap bergantian ke arah kamar Diftha dan ke sofa ruang tengah.
"Aku pinjam selimut Diftha saja," putus Shara akhirnya seraya mengayunkan langkah menuju ke kamar Diftha. Shara lalu membuka pelan pintu kamar tersebut saat aroma khas Dan langsung menguar.
Ya ampun!
Shara hafal sekali!
Shara segera menyusup masuk dan mengambil selimut yang berada dibatas tempat tidur. Namun saat hendak krluar, tatapan mata Shara tertumbuk pada sajadah yang masih terbentang di samping tempat tidur.
Sepertinya Diftha buru-buru berangkat pagi tadi hingga tak sempat melipat benda tersebut. Atau Diftha memang sengaja tak pernah melipatnya sehari-hari?
Shara akhirnya tak langsung keluar dan memutuskan untuk melipat sajadah Diftha terlebih dahulu. Gadis itu juga termenung cukup lama, saat memandangi sajadah yang kini sudah terlipat rapi di tangannya. Shara menghela nafas, lalu segera meletakkan sajadah tadi di sudut tempat tidur, sebelum lanjut keluar dari kamar Diftha.
Shara akan tidur di sofa saja malam ini!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1