
Kadang, jodoh memang tidak bisa ditebak kapan datangnya. Kadang yang sudah berpacaran bertahun-tahun lamanya, ternyata tidak berjodoh dan tidak pernah sampai ke pelaminan. Dan kadang ada yang baru bertemu sekali atau dua kali, malah langsung merasa sreg dan lanjut ke pelaminan.
Benar-benar sebuah misteri!
"Saya terima nikahnya Saskia Khairunnisa binti Farhan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat lima belas gram dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!!"
"Alhamdulillah!"
****
Saskia sedikit terlonjak, saat pintu kamar dibuka dari luar oleh Diftha yang rupanya sudah pulang dari Masjid. Tadi pria yang baru beberapa jam yang lalu sah menjadi suami Saskia tersebut memang pamit sholat isya' berjamaah di Masjid dekat rumah Paman Faris.
"Belum tidur?" Tanya Diftha yang sudah kembali menutup pintu.
"Belum, Mas! Baru jam setengah delapan," jawab Saskia seraya bangkit dari tepi tempat tidur. Saskia lalu ganti duduk di depan meja rias dan merasa bingung mau melakukan apa.
"Sudah sholat?" Tanya Diftha lagi.
"Sudah!" Saskia mengangguk-angguk.
"Trus, tidak ganti baju?" Tanya Diftha lagi sembari memperhatikan Saskia yang entah kenapa malah terlihat seperti sedang salah tingkah.
"Ini sudah pakai piyama," jawab Saskia seraya membuka sedikit jilbab bergonya, demi menunjukkan pada Diftha kalau ia memang sudah memakai piyama untuk tidur.
"Ooh!"
"Biasanya kalau tidur pakai bergo juga?" Tanya Diftha lagi yang langsung membuat Saskia diam sejenak sebelum menjawab.
"Biasanya sih langsung lepas jilbab pas masuk kamar. Tapi berhubung...." Saskia terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya dan gadis itu sekarang menatap ke arah Diftha yang hanya tertawa kecil.
"Berhubung malam ini ada pria asing di kamar kamu, begitu?" Seloroh Diftha kemudian sedikit menggoda Saskia yang langsung tersipu. Diftha lalu mendekat ke arah Saskia yang masih duduk di depan meja rias.
"Aku bantu lepasin bergonya, boleh?" Izin Diftha yang tangannya sudah mencari tali dari bergo yang dikenakan Saskia.
"Boleh, Mas," jawab Saskia lirih bersamaan dengan Diftha yang sudah menarik lepas tali jilbab di belakang kepala Saskia. Diftha lalu melepaskan jilbab bergo warna hitam tersebut dengan hati-hati dan saat itulah, Diftha langsung bisa melihat rambut sebahu Saskia yang sedikit bergelombang.
"Masya allah!" Ucap Diftha saat ia akhirnya bisa melihat penampilan Saskia tanpa mengenakan jilbab untuk kali pertama.
"Agak berantakan," gumam Saskia yang kembali salah tingkah. Tangan Saskia sudah bergerak cepat untuk meraih sisir dari atas meja rias, lalu wanita itu menyisir rambutnya dengan grogi karena Diftha yang tak berhenti menatap ke arahnya.
"Biar aku saja!" Ujar Diftha akhirnya seraya mengambil alih sisir dari tangan Saskia. Diftha lalu menyisir pelan rambut Saskia.
"Sudah ahli, Mas?" Tanya Saskia sedikit berbasa-basi.
"Iya! Kan sering nyisirin rambutnya Gizta," ujar Diftha yang langsung membuat Saskia mengangguk sekaligus ingat.
"Sudah!" Ucap Diftha kemudian yang sudah selesai menyisir rambut Saskia.
Saskia langsung bergerak cepat mengambil ikat rambut dan hendak mengikat rambutnya, saat kemudian Diftha mencegah dengan cepat.
"Jangan diikat!"
"Begini saja, ya!" Pinta Diftha sembari merapikan lagi rambut Saskia. Diftha lalu menatap pada pantulan wajah Saskia di cermin yang tampak berbeda malam ini. Saskia tampak lebih cantik dan berseri.
"Iya, Mas," jawab Saskia yang akhirnya patuh pada permintaan sang suami.
"Ayo tidur!" Ajak Diftha kemudian sembari merengkuh kedua pundak Saskia yang langsung berjenggit kaget.
Diftha sontak tertawa kecil melihat ke-grogi-an sang istri.
__ADS_1
"Maaf, Mas! Sedikit kaget," ucap Saskia yang kembali salah tingkah.
"Tidak apa-apa!" Jawab Diftha santai seraya pria itu menanggalkan kausnya. Terang saja, Saskia yang tadinya sudah naik ke atas tempat tidur dan sedang membenarkan selimut, langsung terkejut.
"Hah! Kok lepas baju, Mas?" Tanya Saskia bingung.
Ya, meskipun Diftha masih mengenakan kaos dalaman, namun tetap saja, saat melihat untuk pertama kalinya tubuh Diftha setengah naked, membuat jantung Saskia berdetak tak karuan.
"Biasa kalau tidur juga begini," jawab Diftha santai sembari menyusul naik juga ke atas tempat tidur. Saskia sontak langsung membeku dan seolah diam di tempat.
"Sudah baca doa tadi?" Tanya Diftha kemudian sembari menoleh ke arah sang istri.
"Doa mau tidur?" Saskia balik bertanya.
"Doa untuk pengantin baru," jawab Diftha sambil sedikit terkekeh.
"Oh!" Saskia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ayo berdoa dulu!" Ajak Diftha kemudian membimbing sang istri yang kedua tangannya langsung menengadah pada Allah.
"“Allahumma jannibnaasy syaythoona, wajannibisy syaythoona maa rozaqtanaa.”
"Aamiin!" Ucap Saskia dan Diftha bersamaan menutup doa-nya pada Allah.
"Ayo tidur!" Ajak Diftha. kemudian yang sudah ganti berbaring, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sementara Saskia masih duduk dan tangannya merem*s ujung selimut yang sama di samping Diftha.
Diftha sudah langsung memejamkan kedua matanya, sementara Saskia yang sejak tadi berusaha untuk menyingkirkan rasa gugupnya, akhirnya ikut berbaring juga di sebelah Diftha. Saskia memilih untuk menatap langit-langit kamar, sambil sesekali menoleh pada Diftha yang sepertinya sudah lelap....
"Tidur telentang begitu tidak sesak nafas, Ki?" Tanya Diftha tiba-tiba yang sekarang posisinya sudah berubah menjadi berbaring miring atau lebih tepatnya miring dan menghadap ke arah Saskia.
"Sunnahnya kan menghadap ke kanan, Mas!" Jawab Saskia sambil melirik pada Diftha yang kedua matanya sudah terpejam lagi.
"Iya, ini aku miring kanan. Kamu itu yang belum," jawab Diftha tetap dengan mata yang terpejam.
"Tapi kok Kia jadi membelakangi Mas Diftha--" Saskia tak jadi melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba tangan Diftha sudah melingkari tubuhnya, seolah menandakan kalau Diftha tengah memeluknya sekarang dari belakang.
"Kok tegang? Gugup, ya?" Tanya Diftha yang suaranya terdengar begitu dekat di telinga Saskia. Terang saja hal tersebut membuat Saskia semakin membeku. Antara gugup, grogi, lalu deg-degan dan bahagia juga sebenarnya.
Entahlah Saskia sampai sulit menjabarkan perasaannya saat ini.
"Tangan kamu dingin sekali, Ki!" Bisik Diftha lagi yang tangannya sudah menggenggam tangan Saskia, tetap dengan posisi memeluk dari belakang.
"Hah?" Saskia sedikit tergagap saat menyadari kalau tangannya memang sudah sedingin es.
"Tangan kamu dingin," ucap Diftha lagi.
"Mungkin--karena AC-nya," ucap Saskia tergagap. Saking groginya mungkin.
"Tapi ini dingin sekali!"
"Coba berbalik dulu!" Titah Diftha yang akhir melepaskan dekapannya pada Saskia.
Saskia seolah langsung bisa bernafas lagi, setelah tadi ia menahan nafas beberapa detik karena gugup.
"Berbalik dulu!" Diftha membimbing Saskia agar berbalik dan ganti menghadap ke arah Diftha.
Oh, tidak!
Saskia bisa sesak nafas lagi!
"Kia nggak apa-apa, Mas!" Ucap Saskia bersungguh-sungguh, saat Diftha kembali menggenggam kedua tangannya seperti tadi, namun kali ini dengan posisi mereka yang saling berhadapan.
"Tangan kamu dingin," ucap Diftha yang kini sudah ganti meniup-niup tangan Saskia sambil menggosoknya beberapa kali.
__ADS_1
Kia hanya membisu, melihat perlakuan manis Diftha kepadanya. Senyuman tiba-tiba mengembang di bibir Saskia yang benar-benar baru kali pertama diperlakukan manis dan romantis seperti ini oleh seorang pria yang sudah sah menjadi suaminya.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Diftha yang langsung menyentak lamunan Saskia.
"Hah?" Saskia menatap sedikit bingung pada Diftha yang rupanya tengah menatap lekat wajah Saskia.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Diftha mengulangi pertanyaannya yang tentu saja langsung membuat wajah Saskia memerah sekaligus tersipu.
"Mas Diftha mau pegangin tangan Kia sampai kapan?" Tanya Saskia akhirnya tanpa menatap pada Diftha karena gadis itu masih tersipu.
"Memang kenapa? Kan sudah halal."
"Jadi mau aku pegang sampai besok pagi juga boleh, kan?" Jawab Diftha yang tentu saja langsung membuat wajah Saskia semakin memerah.
"Nanti capek pegangin tangan Kia terus," ucap Saskia lagi.
"Enggaklah," Sanggah Diftha yang sudah ganti menciumi tangan Saskia.
Saskia hanya diam dan mematung melihat semua yang dilakukan oleh Diftha.
"Kia," ucap Diftha kemudian setelah cukup lama pria itu memciumi tangan Saskia.
"Iya, Mas."
"Kan kita sudah halal, trus tadi kita berdua juga sudah berdoa." Diftha sudah ganti menatap Saskia dengan penuh makna.
"Jadi, apa boleh kalau...." Diftha memberikan isyarat mata yang langsung membuat Saskia mengangguk, sebelum kemudian gadis itu menundukkan wajahnya.
"Sudah siap?" Tangan Diftha sudah terulur untuk meraih dagu Saskia, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Insya allah siap, Mas," Jawab Saskia pelan.
"Ini juga kali pertama buat aku, Kia! Dan aku sebenarnya juga grogi," ungkap Diftha sembari tertawa kecil.
"Jadi ya anggap saja kita sedang belajar bersama-sama dan nanti saling mengingatkan saja, misalnya dirasa ada yang tidak nyaman atau tidak sesuai."
"Ya!" Ujar Diftha lagi yang langsung membuat Saskia mengangguk.
"Iya, Mas!"
"Belajarnya pelan-pelan saja nanti," timpal Saskia yang langsung membuat Diftha kembali terkekeh.
"Takut ranjangnya ambruk kalau pecicilan," seloroh Diftha yang langsung membuat Saskia memukul kecil lengan suaminya tersebut.
"Nah, kan! Sudah pukul-pukul berarti sudah tidak grogi," goda Diftha yang langsung membuat Saskia sedikit salah tingkah.
"Apa, sih?" Saskia ganti memukul dada Diftha yang hanya tertutupi kaos dalam.
"Kan! Sudah kemana-mana!" Goda Diftha lagi yang tangannya mulai menarik ujung selimut.
"Mas!"
"Sssttt! Ayo belajar!" Ajak Diftha kemudian sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dengan tubuh Saskia. Sejenak suasana di dalam kamar menjadi sepi dan hening.
.
.
.
Sahur dulu ya!!
🤭🤭🤭
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.