Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
APA BOLEH....


__ADS_3

"Bukan seperti itu!"


Diftha baru keluar dari kamar, saat pria itu sudah mendengar suara cekikikan dari kamar Gizta, yang sepertinya bukan suara Gizta saja.


"Nah kan! Salah salah salah!"


"Abang yang bikin salah!"


"Gizta!" Diftha langsung mendorong pintu kamar sang adik yang setengah terbuka, dan suara cekikikan tadi langsung seketika menjadi senyap.


"Abang! Sudah bangun?" Gizta sedikit berbasa-basi pada Diftha.


"Pagi, Bang!" Sapa Iqbal juga yang rupanya sudah berada di kamar Gizta. Dua orang itu juga sepertinya juga baru saja memainkan sesuatu di laptop yang dibawa oleh Iqbal.


"Tumben datang pagi-pagi, Bal?" Tanya Diftha sembari masuk ke kamar sang adik. Diftha kemudian memeriksa hal yang membuat kehebohan di antara Iqbal dan Gizta tadi.


"Hanya sedang mengajari Gizta cara mengedit video, Bang!" Ujar Iqbal setelah inspeksi mendadak dari Diftha.


"Harus di kamar berduaan begini?" Tanya Diftha tidak suka.


"Kan tadi pintunya juga tidak ditutup, Bang!" Jawab Iqbal beralasan.


"Tapi kan bukan muhrim!" Sergah Diftha memperingatkan. Iqbal sontak garuk-garuk kepala dan sedikit menjaga jarak dari Gizta.


"Kalau terapi juga kan biasanya di depan. Lalu kenapa ini harus di kamar?" Cecar Diftha lagi.


"Iya, maaf, Bang!" Ucap Iqbal sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ada apa, Mas? Kok seperti marah-marah?" Tanya Saskia yang sudah ikut masuk ke kamar Gizta.


"Loh, Iqbal! Pagi-pagi sudah datang?" Saskia ganti menyapa Iqbal yang hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala.


"Terlalu rajin sepertinya!" Jawab Diftha sedikit menyindir Iqbal yang hanya meringis.


"Gizta memang ada jadwal renang, Bang! Makanya Bang Iqbal datang pagi!" Sergah Gizta memberikan pembelaan. Gadis itu lalu menjalankan kursi rodanya ke arah lemari untuk mengambil perlengkapan berenangnya.


"Nanti Abang antar, mumpung abang masih cuti juga," ujar Diftha cepat. Sementara Iqbal sudah pamit untuk menunggu di depan saja.


"Sudah siap semua?" Tanya Saskia yang hendak membantu Gizta berkemas.


"Sudah, Kak! Tinggal bawa saja," jawab Gizta.


"Oh, ya sudah. Ayo!" Saskia langsung meletakkan tas ransel Gizta di belakang kursi roda, lalu mendorong kursi roda adik iparnya tersebut keluar dari kamar.


"Gizta sudah siap, Mas!" Lapor Saskia kemudian pada Diftha yang sedang berbicara dengan Iqbal di ruang depan. Dua pria itu lalu bangkit berdiri bersamaan.


"Dokter Kia ikut juga?" Tanya Iqbal sedikit berbasa-basi.


"Iya ikut!"


"Tolong dulu, Bal! Aku mau ambil perlengkapan sebentar," tukas Saskia kemudian seraya memberikan kode pada Iqbal agar mengambil alih kursi roda Gizta. Sementara Diftha sudah keluar duluan untuk menyiapkan mobil.


Iqbal terus mendorong kursi roda Gizta ke arah mobil Diftha yang sudah siap. Iqbal lalu membuka pintu mobil dan hendak memindahkan Gizta ke dalam mobil dengan menggendongnya, saat Diftha dengan cepat mencegah.


"Tidak usah digendong-gendong, Bal! Gizta kan sudah bisa berdiri, jadi cukup dipapah saja!" Tukas Diftha menatap tegas pada Iqbal. Sepertinya Abang kandung Gizta itu sedikit keberatan kalau Iqbal menggendong Gizta.


"Iya, Bang! Maaf!" Jawab Iqbal seraya meringis. Iqbal lalu ganti memapah Gizta dan membantunya masuk ke dalam mobil.


"Kenapa lagi, Mas? Kok dari tadi ngomel terus ke Iqbal?" Tanya Saskia yang sudah keluar dari rumah seraya membawa satu tas ransel.


"Tidak ngomel. Hanya mengingatkan agar Iqbal itu sewajarnya saja berinteraksi dengan Gizta!" Kilah Diftha sembari menatap Iqbal yang kini sudah melipat kursi roda Gizta, lalu memasukkannya ke bagasi belakang mobil.


"Tapi kan Iqbal terapisnya Gizta, Mas! Jadi--"


"Iya maksudnya itu! Interaksi Iqbal dan Gizta itu kan seharusnya sebatas terapis dan pasien saja! Tidak berlebihan--"

__ADS_1


"Memang kenapa kalau berlebihan, Bang?" Tanya Iqbal menyela dan tiba-tiba ikut nimbrung di perdebatan Diftha dan Saskia. Jelas sudah kalau tadi Iqbal menguping.


"Kan sudah dibilang bukan muhrim! Jadi sewajarnya saja!" Jawab Diftha geregetan.


"Oh!" Iqbal manggut-manggut mengerti.


"Bang! Mau berangkat kapan?" Tanya Gizta kemudian berseru dari dalam mobil.


"Iya, sekarang!" Jawab Diftha akhirnya seraya membuka pintu depan mobil. Sementara Iqbal langsung membuka pintu belakang, dan hendak duduk disamping Gizta, saat kemudian Diftha melontarkan teguran.


"Kamu ngapain duduk di belakang, Bal? Duduk depan sini!" Perintah Diftha yang langsung membuat Iqbal meringis.


"Oh, salah ya, Bang?" Iqbal garuk-garuk kepala lalu segera pindah ke jok depan dan duduk di sebelah Diftha. Sementara Saskia hanya geleng-geleng kepala lalu duduk di jok belakang bersama Gizta.


"Tadinya Iqbal pikir Abang Diftha mau duduk jejer sama Dokter Kia gitu! Kan pengantin baru!" Celetuk Iqbal kemudian yang langsung membuat Diftha berdecak.


"Modus kamu saja itu biar dekat-dekat dengan Gizta!" Gumam Diftha yang seolah begitu tanggap.


"Namanya juga usaha, Bang!" Gumam Iqbal kemudian membuat pengakuan.


"Usaha apa maksudnya?" Tanya Diftha yang mendengar gumaman Iqbal.


"Usaha pedekate sama Gizta! Bang Diftha kasih lampu hijau, kan?" Kali ini Iqbal setengah berbisik pada Diftha.


"Tidak kalau hanya untuk main-main!" Jawab Diftha tegas.


"Serius, Bang! Bukan main-main!" Ujar Iqbal bersungguh-sungguh.


Diftha langsung menginjak rem dan menatap tajam pada pria di sebelahnya tersebut.


"Iqbal mau menikahi Gizta, Bang!" Ucap Iqbal dengan raut wajah serius tanpa bercanda sedikitpun.


Saskia dan Gizta yang turut mendengar ucapan serius Iqbal langsung sama-sama terdiam.


"Gizta masih kecil dan belum tentu juga dia mau sama kamu," ujar Diftha kemudian memecah kebisuan.


"Tanya saja pada Gizta!" Ujar Iqbal lagi.


"Gizta...." Diftha akhirnya menoleh pada sang adik yang tatapan matanya ternyata serupa dengan Iqbal. Apa itu artinya adik Diftha itu diam-diam sudah merasa nyaman juga pada Iqbal?


"Usia Gizta baru dua puluh--"


"Tahun ini genap dua satu, Bang!" Sergah Gizta dari jok belakang.


"Sudah legal age," imbuh Gizta lagi sedikit bergumam.


"Lalu kenapa kalau sudah legal age?" Diftha tetap menatap serius pada sang adik.


"Mau nikah!" Seloroh Saskia seraya tertawa kecil dan merangkul Gizta yang kini menundukkan wajahnya.


Diftha kemudian mengusap wajahnya sendiri.


"Iqbal akan menjaga Gizta, Bang!"


"Dan kata abang kan Iqbal harus jaga jarak saat ini pada Gizta karena kami bukan muhrim, jadi Iqbal pikir misalnya Iqbal menikahi Gizta sekarang, teeapi yang Iqbal lakukan pada Gizta akan lebih maksimal, lalu Abang Diftha ke depannya juga tak akan perlu mengantar atau mengawasi saat Gizta harus berenang bersama Iqbal," tykas Iqbal panjang lebar mencoba memberikan pengertian pada Diftha.


"Coba berikan satu alasan kenapa kau ingin menikahi Gizta? Kau bahkan bisa mendapatkan gadis sempurna di luaran sana--"


"Gizta juga gadis yang sempurna, Bang!" Sergah Iqbal menyela.


"Satu alasan!" Desak Diftha lagi dan Iqbal langsung mengendikkan bahu.


"Yang pasti, saat pertama kali melihat Gizta, hati Iqbal merasa kagum pada kegigihan serta semangat Gizta untuk sembuh."


"Lalu semakin kami berdua berinteraksi, semakin tumbuhlah perasaan itu--"

__ADS_1


"Kadang cinta tak butuh satu alasan, Mas! Perasaan itu akan tiba-tiba muncul saat kita memang sudah merasa nyaman dengan seseorang." Saskia membantu menjelaskan pada Diftha.


"Iya seperti itu, Bang!" Timpal Iqbal membenarkan penjelasan Saskia.


"Lalu keluargamu? Orang tuamu?" Cecar Diftha yang masih saja ragu.


"Mereka semua mendukung apapun keputusan Iqbal, Bang!"


"Karena ke depannya Iqbal yang akan menjalani," tukas Iqbal bersungguh-sungguh.


"Gizta!" Diftha akhirnya kembali bertanya pada sang adik yang sejak tadi hanya diam.


"Iya, Bang!"


"Bagaimana perasaanmu pada Iqbal?" Tanya Diftha serius.


"Nyaman," jawab Gizta singkat.


"Nyaman saja?"


"Ada lagi, Bang!" Sergah Gizta cepat.


"Apa itu?" Diftha memicing penuh tanya.


"Selalu ingin berdekatan..."


"Iya! Lalu?" Kulik Diftha lagi.


"Jantung berdebar-debar setiap dekat Abang Iqbal," jawab Gizta yang terus menundukkan wajahnya.


"Lalu apalagi? Perasaan melayang? Getaran-getaran aneh?" Cecar Diftha yang sepertinya sudah paham sekali. Saskia dan Iqbal sontak menahan tawa.


"Seperti itu, Giz?" Tanya Diftha lagi memastikan dan Gizta hanya mengangguk mengiyakan.


"Hhhhh!!" Diftha kemudian mengusap wajahnya sendiri.


"Gizta itu tidak bisa memasak, Bal! Sebelum kecelakaan, dia gadus manja dan setelah kecelakaan dia tetap manja sampai kini," ujar Diftha kemudian membeberkan semua hal tentang Gizta.


"Abang!" Protes Gizta yang langsung merengut.


"Nanti Iqbal yang akan memasak, Bang! Atau kalau nggak sempat ya beli saja," jawab Iqbal enteng. Diftha sontak geleng-geleng kepala.


"Besok datang ke rumah bersama orang tuamu kalau begitu!" Putus Diftha akhirnya yang langsung membuat Iqbal bersorak senang.


Pun dengan Gizta yang juga langsung tersenyum bahagia di jok belakang.


***********TAMAT***********


Terima kasih sebesar-besarnya untuk semua reader yang sudah membaca cerita ini sampai tamat.


Mohon maaf jika ada kesalahan serta typo yang masih bertebaran. Terima kasih juga untuk yang sudah memberikan like, komen, vote, serta dukungan tak terhingga.


Dan kenapa di cerita ini Shara malah meninggal alih-alih menjadi mualaf saja?


Karena othor tidak mau menyudutkan salah satu agama, ya!


Othor netral disini dan hanya mau menegaskan kalau hubungan beda keyakinan itu tidak dibenarkan.


"Halah, kan tinggal pindah keyakinan salah satunya!"


Tidak akan semudah itu, ya! Apalagi kalau ada keluarga yang tidak setuju juga. Bisa-bisa malah akan menyakiti banyak pihak ke depannya.


Intinya, semua agama itu baik dan semuanya mengajarkan kebaikan. Yang tidak baik itu adalah kalau kita merasa menjadi yang paling benar lalu men-judge agama lain.


Sampai jumpa di karya othor berikutnya. Cerita Diftha aku akhiri sampai disini

__ADS_1


💜💜


__ADS_2