Asmara Dua Keyakinan

Asmara Dua Keyakinan
SAKIT


__ADS_3

 “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya."


Kutipan dari satu ayat dalam Alkitab yang tadi Shara dengarkan, terus saja bercokol di kepala gadis dua puluh lima tahun tersebut.


"Bahkan Tuhan melarang kita menjalin hubungan dengan orang yang tidak seiman, Shara! Jadi ibu minta dengan sangat, jaga hatimu!"


"Jangan menyimpan perasaan apapun pada Diftha!"


Beep beep!


Suara klakson yang lumayan nyaring seketika langsung menyentak lamunan Shara. Gadis itu bahkan baru sadar, kalau motornya sudah keluar dari jalur seharusnya.


"Ya ampun!" Gumam Shara merutuki dirinya sendiri yang malah melamun sepanjang perjalanan ke rumah Diftha. Shara seperti sedang membahayakan dirinya sendiri sekarang. Segera Shara kembali ke jalur yang seharusnya yang memang diperuntukkan untuk kendaraan roda dua.


Jarak dari rumahnya ke rumah Diftha yang biasanya hanya Shara tempuh dalam waktu sepuluh menit, entah mengapa kali ini terasa begitu jauh. Shara seolah tak kunjung sampai ke rumah Diftha.


"Merah lagi!" Gumam Shara saat lagi-lagi dirinya terjebak di lampu merah. Shara memperhatikan layar di samping lampu lalu lintas yang sedang menghitung mundur.


"Lihat! Kau lebih cantik dengan aurat yang tertutup."


Pemotor di depan Shara yang kebetulan adalah seorang wanita yang mengenakan jilbab, mendadak mengingatkan Shara tentang kalimat Diftha kemarin, saat pria itu memakaikan jilbab pada Shara. Bibir Shara seketika langsung menyunggingkan senyum karena mengingat betapa manisnya kata-kata Diftha kemarin.


Sebelum akhirnya Diftha menemukan kalung salib Shara, lalu sikap pria itu yang mendadak juga berubah. Apa Diftha juga akan menjaga jarak dari Shara setelah ini?


Memang apa masalahnya dengan hubungan beda agama?


Beberapa orang bisa melaluinya dengan mulus, lalu kenapa Diftha dan Shara tak mencobanya....


“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"


"Aaakkhhh!" Shara mengusap kasar wajahnya sendiri saat suara klakson kembali menggema dari arah belakang. Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau dan Shara bergegas menarik gas motornya untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Diftha.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, saat Shara akhirnya sampai di rumah Diftha yang terlihat sepi.


"Diftha!" Panggil Shara dari depan pagar. Shara sedikit melongok ke dalam pagar dan mendapati pintu depan yang tertutup rapat.


Apa Diftha dan Gizta pergi?


Tapi mobil Diftha masih terparkir di garasi, jadi kecil kemungkinan Diftha dan Gizta pergi.


"Diftha!" Panggil Shara lagi dan tetap tak ada tanda-tanda pintu dibuka. Shara akhirnya merogoh ponselnya di dalam tas dan berniat menelepon Diftha saja.


Baru saja Shara membuka ponsel, sudah ada satu pesan dari Diftha.


[Kau jadi datang hari ini? Nanti langsung masuk saja, ya! Pintu depan tidak aku kunci] -Diftha-


Shara tak jadi menelepon Diftha, dan gadis itu bergegas membuka pintu gerbang. Setelah memarkirkan motornya di depan garasi, Shara segera menuju ke pintu depan yang memang tak dikunci oleh Diftha.


"Diftha!"


"Gizta!" Panggil Shara sembari membuka pelan pintu depan, menyusup masuk lalu menutupnya kembali. Saat hari Minggu Mbak Ida memang tidak datang karena Diftha libur bekerja.


Semua tirai jendela masih tertutup, seolah menandakan di rumah tak ada orang. Suasana di dalam rumah juga jadi gelap karena tak ada cahaya yang masuk.


"Gizta!" Shara baru saja akan membuka pintu kamar Gizta, saat tiba-tiba terdengar suara benda pecah dari kamar Diftha.


"Diftha!"

__ADS_1


Shara tak jadi masuk ke kamar Gizta dan gadis itu dengan cepat beralih ke kamar Diftha yang pintunya sedikit terbuka.


"Diftha!" Shara bergegas menghampiri Diftha yang sepertinya tadi hendak mengambil gelas dari atas nakas, namun gelas malah terjatuh.


"Kau sakit?" Tanya Shara kemudian karena melihat wajah Diftha yang pucat.


"Hanya sedikit pusing," jawab Diftha lirih sembari memegangi kepalanya. Segera Shara mengecek suhu badan Diftha yang ternyata sedang demam.


"Sudah berapa lama?" Tanya Shara yang langsung sigap membenarkan posisi Diftha, lalu menyelimuti pria itu.


"Tadi bangun tidur aku masih membelikan sarapan untuk Gizta," cerita Diftha tetap dengan suara lirih.


"Kau sendiri sudah sarapan?" Tanya Shara memastikan.


"Sudah."


"Tapi keluar lagi. Sepertinya masuk angin," suara Diftha sudah nyaris tak terdengar.


"Ck!" Shara berdecak, lalu segera membersihkan pecahan gelas di lantai dengan cekatan dan membawanya keluar dari kamar.


Tak berselang lama, Shara sudah masuk lagi ke kamar sembari membawa gelas yang baru dan berisi teh hangat.


"Hawanya memang dingin, ya?" Tanya Diftha yang bibirnya terlihat bergetar seperti orang menggigil.


"Minum dulu!" Shara membimbing Diftha agar bangun dan duduk. Gadis itu lalu membantu Diftha minum teh hangat. Tak lupa Shara juga mematikan pendingin udara di kamar Diftha.


"Bang---" panggil Gizta yang sudah berada di ambang pintu kamar Diftha.


"A---bang."


"Sa--kit?" Tanya Gizta yang terlihat khawatir.


"Gizta sudah makan tadi?" Tanya Shara lagi memastikan. Meskipun tadi Diftha mengatakan kalau ia sudah membelikan Gizta makanan, tapi Shara tetap harus memastikan kalau Gizta benar-benar sudah memakannya.


"Su--dah--"


Gizta sudah menjalankan kursi rodanya masuk ke kamar Diftha, lalu menghampiri sang abang yang kini terbaring di atas tempat tidur.


Sementara Shara sudah meletakkan kain kompres ke kening Diftha.


"Aku teleponkan dokter, ya!" Ujar Shara meminta persetujuan Diftha.


"Tidak!" Tolak Diftha cepat.


"Aku minum obat dan istirahat saja. Nanti juga sembuh," ujar Diftha lagi meyakinkan Shara.


"Baiklah! Tapi kau harus makan dulu," tukas Shara sembari bangkit berdiri. Gadis itu lalu keluar dari kamar Diftha dan sepertinya hendak mengambilkan makanan untuk Diftha.


"A--bang--"


"Su--ka sa--ma Kak--Cha--ra?" Tanya Gizta terbata-bata namun penuh selidik.


"Kami hanya berteman, Gizt," jawab Diftha lirih yang entah didengar oleh Gizta atau tidak.


Tapi seharusnya memang begitu!


Seharusnya Diftha memang cukup menganggap Shara sebagai teman saja dan tak lebih....

__ADS_1


Meskipun hati kecil Diftha merasakan hal berbeda!


"Melamun?" Teguran Shara langsung menyentak lamunan Diftha. Rupanya Shara sudah kembali lagi ke kamar seraya membawa nampan berisi makanan.


"Kau membeli dimana? Cepat sekali?" Tanya Diftha sambil berusaha untuk bangun dan duduk.


Shara yang tanggap, cepat-cepat membantu Diftha untuk bangun sekalian bersandar di kepala ranjang.


"Sebenarnya, tadi aku bawa makanan dari rumah," jawab Shara jujur yang seketika langsung membuat ekspresi wajah Diftha meragu.


"Tenang saja! Ini hanya ayam kecap dan sop bakso sapi."


"Baksonya juga bakso kemasan dari swalayan dan ayamnya ayam potong biasa."


"Ibuk yang memasaknya dan aku berani menjamin kalau tidak ada campuran pork di dalamnya," jelas Shara sungguh-sungguh.


"Ya! Kami jarang memasak pork juga di rumah, karena biasanya saat ingin makan, kami akan langsung ke restonya saja," ujar Shara lagi yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Ma---sak--an."


"I--buk--"


"E--nak!" Celetuk Gizta memuji masakan Bu Maria.


Saat Bu Maria dan Shara menginap di rumah Diftha tempo hari, Bu Maria memang memasak sarapan sop bakso dan ayam kecap yang membuat Gizta makan lahap. Makanya hari ini Bu Maria menitipkan masakan yang sama untuk Gizta.


"Iya! Tadi masih ada yang bagian untuk Gizta."


"Nanti Gizta makan, ya!" Shara ganti berucap pada Gizta yang langsung tersenyum.


"Aku--"


"Benar-benar tak ada maksud untuk menuduh masakan pemberian ibumu, Sha," ucap Diftha lirih saat Shara mulai memotong ayam di piring, lalu menyendoknya bersama nasi sebelum lanjut menyuapi Diftha


"Tidak apa-apa! Aku paham, kok!" Ujar Shara dengan wajah santai.


"Dulu, Ibuk dan bapak juga pernah punya majikan seorang muslim. Jadi sedikit banyak ibuk juga tahu dan paham tentang aturan-aturan di dalam agamamu," tukas Shara lagi seraya bercerita. Tangan Shara tetap cekatan menyuapi Diftha, sementara Gizta malah sudah berlalu pergi dan mungkin gadis itu juga bosan mendengarkan obrolan Shara dan Diftha tadi.


"Sudah!" Ucap Diftha setelah beberapa suapan yang disodorkan oleh Shara.


"Baru sedikit-"


"Aku takut muntah lagi," Sergah Diftha beralasan.


Shara akhirnya tak protes lagi dan segera menyudahi suapannya pada Diftha, dan membereskan sisa-sisa makanan Diftha.


"Aku ambil obat dulu agar kau bisa meminumnya, lalu lanjut beristirahat." Tukas Shara kemudian seraya bangkit berdiri.


Diftha tak berucap sepatah katapun dan pria itu hanya memperhatikan Shara yang sudah berlalu keluar dari kamarnya. Diftha menghela nafas, lalu memejamkan kedua matanya.


Kenapa hati Diftha jadi sebimbang ini?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2