Ayah Misterius Sang Kembar Tiga

Ayah Misterius Sang Kembar Tiga
Bab 10 Memberi Obat Melalui Mulut


__ADS_3

Felicia Mencemberutkan mulut kecilnya,


" Kak Felix, apa menurutmu paman itu akan datang? "


" Kau harus percaya pada Kak Felix. "


Dalam masalah seperti ini, asalkan dia adalah manusia maka dia pasti akan datang.


Ini juga merupakan ujiannya kepada Alex untuk melihat apakah dia bisa lulus ujian untuk bisa menjadi papi mereka, semoga saja dia adalah orang yang baik dan ramah.


Setelah Fedric menjelaskan semuanya kepada bibi Rosa lalu dia berjalan menghampiri gurunya.


Felix berlari menghampiri bibi Rosa sambil tersenyum tipis lalu dia berkata,


" Bibi Rosa, nanti coba kamu lihat di depan pintu rumah kita. Kalau ada mobil yang diparkir di depan pintu maka bibi bisa libur hari ini, bibi bisa menjemput kami nanti kalau sudah pulang sekolah. "


Bibi Rosa mengkhawatirkan keadaan Viona jadi dia menggelengkan kepalanya dan berkata,


" Bibi harus pulang untuk menemani mami kalian, Aku dengar dari Fedric bahwa mami kalian sedang sakit? "


" Bibi Rosa, akan ada seseorang yang akan datang untuk merawat mami, jadi bibi tidak usah khawatir lagi! Bukankah bibi berharap mami bisa punya seorang pacar? "


" Mami kalian sudah punya pacar? "


Ini adalah kabar baik, kalau begitu dia tidak akan kesana untuk menjadi nyamuk, saat sedang sakit memang membutuhkan perhatian dari seseorang yang disayang.


Felix menganggukan sedikit kepalanya lalu bergegas menghampiri kakak dan adiknya kemudian mengikuti gurunya masuk ke sekolah.


Disaat yang sama, Alex sedang duduk di dalam mobilnya dan membaca email di ponselnya.


Tiba-tiba sebuah pesan SMS masuk:


[ Paman tampan, aku Felicia tolong... ]


Alisnya mengerut sedikit, Felicia?


Untuk sesaat Alex tidak terfikir siapa orang ini namun setelah beberapa saat ketika dia memperhatikan tulisan ' paman tampan ' Alex langsung teringat pada gadis kecil itu.


Lalu dengan terburu-buru Alex langsung memberitahu sopirnya,


" Putar balik dan pergi ke jalan Misty, Cepat!! "


Sang sopir yang menerima instruksinya langsung memutar arah dan langsung mempercepat mobilnya.


Bryan asistennya yang duduk di depan menoleh dan berkata,


" Pak Alex, nanti masih ada rapat jam 09.30. Apakah aku harus membatalkannya? "


Pada saat ini, Alex hanya ingin menyelamatkan Felicia, dia pasti mengalami sesuatu atau kecelakaan sehingga dia meminta pertolongannya.


" Batalkan saja! "


" Baik, Pak Alex! "


Setengah jam kemudian mobil mewah itu berhenti di jalan Misty no. 150.


Alex keluar dari mobilnya dengan cepat dan berjalan menuju gerbang pintu.


Ini adalah sebuah rumah sederhana yang kecil dan sudah bobrok, Alex melirik ke pintu gerbangnya lalu dengan buru-buru memasukkan kata sandinya kemudian melangkah masuk.


" Felicia, Felicia! "

__ADS_1


Begitu masuk ke dalam halaman, Alex melihat halaman kecil yang tertata rapi, meskipun tidak di dekor dengan mewah namun setiap tanaman dan pohon ini tampak subur.


Saat Alex masuk kedalam bangunan yang kecil itu dia mendapati ruang tamu yang tampak sangat sederhana dengan deretan sofa, meja dan sebuah TV kecil.


Ada banyak mainan yang berserakan di ruang tamu, sekilas mata langsung bisa diketahui bahwa keluarga ini memiliki anak-anak dirumahnya.


Alex memanggil lagi, " Felicia... "


Viona merasa linglung dan tak bisa menahan batuknya sehingga dia batuk beberapa kali, saat Alex mendengarnya dia segera bergegas melangkah menuju pintu tempat suara batuk itu berasal.


Kemudian Alex mendorong pintu itu hingga terbuka.


" Felicia... "


Alex membuka mulutnya untuk memanggil Felicia, namun yang dia temukan adalah Viona dengan pipinya yang merah merona sedang terbaring diatas kasur.


Viona bergumam dengan tidak nyaman, " Air... Air... "


Alex tertegun sejenak.


Sepertinya tidak ada seorang pun dirumah ini sementara dia melihat ada yang tidak beres pada Viona.


Alex mengambil air yang ada di meja samping tempat tidur, kemudian Alex duduk di tepi tempat tidur dan mengangkat sedikit badan Viona agar dia bisa minum.


Viona tampak sangat haus sekali sehingga dia langsung menghabiskan segelas air dalam satu tegukan.


Alex mengangkat tangannya dan menyentuh dahi Viona, manik matanya langsung bergetar.


Sangat panas! Berapa suhu tubuhnya ini hingga panasnya bisa seperti ini?


Tangan Alex terasa sangat dingin, Viona merasa nyaman. Dia mendengus pelan lalu meraih tangan Alex untuk menutupi wajahnya yang panas itu.


Begitu Alex masuk ke kamar ini, dia mencium aroma wanita itu. Seluruh ruangan ini dipenuhi aroma manis yang samar, Alex sangat familiar dengan aroma ini. Sepertinya Alex menyukai aroma samar ini!


Melihat wanita yang bersandar di lengannya dengan tidak sadar lalu Alex menepuk wajahnya dengan ringan dan berkata,


" Viona, apa kau merasa tidak enak badan? Aku akan membawamu kerumah sakit, yah? "


Setelah ditepuk beberapa kali akhirnya Viona tampak sedikit tersadar dan menatap Alex dengan bingung, otaknya masih belum bisa berkerja dengan baik.


" Jangan pergi ke rumah sakit, aku tidak mau pergi! "


Viona memberontak dan melepaskan diri dari pelukannya Alex kemudian menyembunyikan dirinya ke dalam selimut.


" Dingin.. Sangat dingin.. ''


Melihat Viona yang tampak menggigil di dalam selimut Alex langsung mengerutkan keningnya.


Dia tampak kedinginan lalu sesaat kemudian merasa kepanasan, ini akan bahaya!


Tapi Viona tidak mau di bawa kerumah sakit, Alex menyelimuti badannya lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Gerald.


Dengan cepat panggilan telponnya tersambung,


" Alex, bagaimana keadaanmu semalam? "


Alex membawa Sang Ratu Dansa itu pergi, seharusnya itu akan menjadi malam yang sangat indah, kan?


Dengan nada dingin Alex berkata,


" Dia demam, sekitar 39 derajat. Apa yang harus aku lakukan? "

__ADS_1


" Sial, kejam sekali kamu sampai membuat seorang wanita hingga demam seperti itu! " Seru Gerald yang tak punya nafsu makan lagi, dia merasa sedikit penasaran bagaimana Alex bisa membuat wanita ini sampai demam?


" Bagaimana, kalau aku mencarimu dan membuatmu demam juga? "


" Tidak, tidak perlu.. "


" Katakan, apa yang harus aku lakukan agar demamnya bisa turun? "


Gerald langsung mengajari Alex bagaimana cara mengatasi demam.


Setelah selesai berbicara Gerald masih ingin menanyakan beberapa hal namun dengan tega Alex langsung menutup telponnya.


Alex melirik obat di atas meja, itu adalah obat penurun demam.


Lalu sesuai petunjuk resep, Alex mengambil obat itu dan menuangkan airnya kemudian kembali duduk di tepi tempat tidur.


Wajah mungil Viona semakin memerah dan orangnya juga tampak tidak terlalu sadar lagi.


Alex menepuk wajahnya yang merah itu,


" Viona, bangun ayo minum obat dulu! "


Vioana membuka matanya sedikit dan memalingkan kepalanya.


" Tidak mau minum.. Aku tidak mau minum obatnya! "


Alex tampak sakit kepala, Viona tidak mau minum obat juga tidak mau ke rumah sakit. Apa dia ingin demam terus hingga menjadi bodoh?


Wajah tampan Alex tampak sedikit menggelap.


Ini pertama kalinya dia melihat wanita yang sakit dan benar-benar sulit ditangani, mau tak mau Alex hanya bisa sambil seraya merangkul Viona ke pelukannya dan menyuapkan obat itu kedalam mulutnya.


Namun Viona ini sangat tidak kooperatif, dia memberontak dan mendesah.


" Tidak, tidak mau.. "


Di bawah pemberontakannya, obat itu terjatuh ke lantai.


Wajah Alex langsung mengeruh seketika itu juga, dengan telapak tangannya yang besar dia memegang wajah kecil Viona.


" Viona, patuh sedikit yah! Kalau tidak... ''


Wajah mungil Viona terjepit di antara jemarinya Alex dan kulit wajah Viona terasa sangat halus.


Suhu pipinya sangat panas, bibirnya yang memerah dan di paksa untuk monyong juga tampak sangat merah.


Melihat mulut Viona yabg merah seperti buah cherry membuat mata Alex menatap semakin dalam dan jakunnya bergulir naik turun dengan cepat.


" Karena kamu tidak kooperatif, maka jangan salahkan aku!! "


Setelah itu Alex meminum obat itu ke dalam mulutnya lalu menundukkan kepalanya untuk mencium bibi Viona dan mentransfer obat itu ke dalam mulut Viona.


Viona merasakan rasa pahit dari obat itu secara naluri dia ingin memuntahkan obatnya.


Namun lidah Alex menghalanginya dengan paksa, dia memaksa Viona untuk menelan semua obatnya.


Mereka berdua saling memaksa dan melawan, yang tadinya hanya berencana untuk membuat Viona minum obatnya namun berangsur-angsur mata Alex menggelap.


Bibir merahnya sangat lembut dan rasa mulutnya yang mungil sangat manis, ini benar-benar terasa mirip seperti mulut mungil yang Alex rasakan pada malam enam tahun lalu.


Alex sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, setelah mencicipinya Alex ingin memastikan apakah dia adalah wanita yang sama dengan wanita enam tahun yang lalu?

__ADS_1


__ADS_2