Ayah Misterius Sang Kembar Tiga

Ayah Misterius Sang Kembar Tiga
Bab 39 Felicia Demam


__ADS_3

Saat Viona mendengarkan ucapannya Alex itu dia seperti mendengar nada penolakan darinya, Viona juga tidak bisa mengatakan apa-apa! Itu adalah urusan pribadinya Alex sementara dia hanya seorang sekretarisnya dan dia tidak punya hak untuk mengaturnya.


Alex merasa Viona saat ini sangatlah patuh, tetapi diamnya ini entah mengapa membuat dia merasa sangat tertekan.


Mobil sudah diparkirkan di tepat parkir Milkshek kemudian sang supir membukakan pintu untuk mereka, lalu keduanya turun dari dalam mobil.


Alex berjalan di depan dan Viona mengikutinya dari belakang, mereka kemudian masuk ke ruangan VIP.


Ruangan VIP yang Alex pesan tidaklah besar sehingga sangat cocok untuk mereka berdua, Alex memesan makanan lalu Viona bangkit berdiri untuk pergi ke toilet.


Setelah keluar dari toilet kemudian Viona mencuci tangannya di wastafel.


" Viona... "


Sebuah suara yang sangat familiar terdengar memanggilnya, kemudian Viona melihat dari pantulan di cermin dan mendapati Riko yang berada di belakangnya.


Wajahnya memerah karena minuman dan sudut bibirnya mengembangkan sebuah senyuman, setelah Viona selesai mencuci tangannya lalu dia menarik selembar tissue dan menyeka tangannya.


" Riko, apa kamu sedang menjamu tamu di sini? "


Makanan di MilkShek memang terkenal akan kelezatannya dan tempat ini menggunakan sistem member, jadi kebanyakkan orang yang makan disini bukanlah orang sembarangan.


Riko meraih lengan Viona dan berkata, '' Keluargaku dan aku sedang makan disini, ayo masuk dan temui mereka. "


Sebelum Viona sempat bereaksi, dia sudah ditarik oleh Riko ke dalam ruangan VIP dengan meja bundar besar dan tampak sangat ramai di penuhi oleh orang-orang dewasa maupun anak-anak.


Mereka semua langsung mengalihkan pandangannya ke arah Viona, Saat nyonya Bastian melihat Riko menarik Viona wajahnya langsung berubah lalu dia bangkit dan berjalan menghampiri mereka berdua.


" Riko, kenapa kamu membawanya kesini? "


Nyonya Bastian yang menggunakan dress berwarna merah dengan gaya dan riasan halus di wajahnya yang terlihat sangat cantik serta di tambah dengan aksesoris perhiasan di leher dan telinganya.


Riko tersenyum, " Ma, aku membawa Viona kesini untuk bertemu denganmu. ''


Viona merasa sedikit canggung karena bagaimanapun juga nyonya Bastian pernah mencarinya dan memberinya sejumlah uang agar dia mau menjauhi Riko.


Tetapi Viona tidak menerima uang itu namun dia pernah berkata dengan nyonya Bastian, kalau dia akan berusaha menjauhi Riko.


Dan sekarang pada situasi seperti ini dia jadi seolah-olah telah melanggar janjinya itu.


Kemudian Viona berkata, " Nyonya Bastian, kebetulan aku juga sedang makan disini. Aku tidak sengaja bertemu dengan Riko di toilet tadi. "


Viona mencoba menarik kembali tangannya tetapi Riko memegang tangannya dengan sangat erat, lalu Riko menatap Viona dan berkata.


" Viona, aku tidak mengizinkanmu untuk pergi. "


Nyonya Bastian yang melihat situasinya yang semakin tak terkendali jadi dia memperkenalkan Viona kepada orang-orang yang ada di ruangan itu.


" Viona, Nona Sandra dan Riko sudah mau bertunangan. Orang tua dari kedua belah pihak sedang bertemu disini untuk membahas tentang hubungan mereka berdua. "


Viona menoleh dan melihat di sebelah kursi kosong itu tampak duduk seorang wanita cantik yang menggunakan gaun berwarna putih, gadis itu sedang melihat ke arah sini dan memperhatikan Riko.


Dia mengerti sekarang ternyata mereka sedang kencan buta, pantas saja Riko minum begitu banyak sehingga dia mabuk seperti ini.


Viona langsung menepuk tangannya Riko yang sedang memegangi tangannya itu, " Riko, lepaskan tanganmu. Temanku masih menungguku, jadi aku harus pergi sekarang. "


Dia harus cepat-cepat pergi dari ruangan ini, kalau sampai kencan buta nya Riko ini sampai gagal maka nyonya Bastian pasti akan semakin membencinya.


Riko tidak mau melepaskan tangan Viona, mata hitamnya langsung menatap kearah Viona seakan-akan dia mau menelan orang yang ada di hadapannya ini.


" Viona, kamu jangan pergi dulu! Aku ingin memberitahu keluargaku kalau orang yang ingin aku nikahi adalah... "

__ADS_1


Sebelum Riko mengucapkan kata-kata selanjutnya, Viona sudah dipeluk oleh seorang pria yang entah datang dari mana.


" Viona, kenapa kamu sampai ketempat ini? Bukannya tadi kamu mau pergi ke toilet, semua makanannya sudah siao disajikan. Aku tinggal menunggumu saja, kenapa kamu lama sekali? "


Sesosok pria tinggi dan kekar muncul, tampak ada jejak kemarahan yang ada di wajah tampannya itu, kemudian dia melirik orang-orang yang ada di ruangan VIP itu dengan datar.


Kedua pria paruh baya yang berada di depan meja kemudian satu demi satu bangkit dan berjalan kearahnya.


" Pak Alex, kebetulan sekali. Bagaimana kalau anda bergabung saja dengan kita disini? "


Tangan Riko kosong, dan dia melihat kearah Viona dengan tatapan sedih saat melihat Viona sedang dipeluk oleh Alex. Dia juga merasa sedikit kesal dan ingin menarik Viona ke dalam pelukannya.


Nyonya Bastian yang melihat tingkah anaknya ini kemudian langsung menarik tangan ya dan berbisik.


" Nak, nona Sandra masih ada disini. Kmu jangan membuat malu keluarga kita, dia hanyalah seorang wanita yang sudah memiliki anak! Wanita seperti ini sangat tidak pantas untukmu, apa kamu paham? "


Ayah Riko yang bernama Jordi Bastian dan ayah Sandra bernama Nathan Wibowo, sama-sama maju ke depan.


Keduanya berjabatan tangan dengan Alex dan langsung menyerahkan kartu nama mereka masing-masing.


Alex merangkul Viona dengan satu tangan sambil berjabatan tangan dengan mereka menggunakan tangan yang lainnya dan menerima kartu nama itu.


" Maaf karena saya sudah mengganggu waktu kalian, jadi kami permisi dulu! "


Alex berjalan ke pintu sambil merangkul Viona, kedua pria paruh baya itu juga mengantar kepergian mereka sampai depan pintu.


Nyonya Bastian berkata, " Nak, apa kamu sudah lihat? Viona mungkin sedang mengejar Alex, jadi dia bukanlah wanita baik-baik. Jadi mama harap kamu bisa menjauh dari wanita itu! "


Kalau saja dia tidak mencari Viona beberapa kali dan berniat untuk memberinya uang maka sekarang yang akan menderita adalah anaknya ini.


Yang terjebak dengan wanita seperti itu dan menjadi seorang ayah tiri untuk membesarkan dan merawat anak orang lain, dia sama sekali tidak akan pernah menyetujui hal ini terjadi.


Wajah Riko tampak sedikit ada raut kemarahan lalu dia melirik mamanya dengan tatapan dingin.


Setelah selesai berbicara lalu dia melepaskan genggaman tangan mamanya dan berjalan keluar pintu, dan kebetulan dia bertemu dengan kedua pria paruh baya yang baru saja berjalan masuk.


Jordi ayahnya Riko bertanya, " Mau pergi kemana kamu? Acaranya belum selesai. "


Riko tidak menjawab pertanyaan ayahnya tetapi malah berjalan pergi dengan acuh tak acuh.


Nyonya Bastian hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tahu kalau anaknya ini pasti merasa sangat sedih dan belum bisa melepaskan wanita itu.


Tetapi dia harus bisa menerima kenyataan ini, karena dia tidak akan membiarkan anaknya menikah dengan Viona.


Dia tidak akan pernah setuju dan seluruh anggota keluarga Bastian pasti juga tidak akan menerima pernikahan itu.


Viona di bawa keluar dari ruangan VIP itu oleh Alex dan kembali ke ruangan mereka tadi, Viona lalu duduk dengan tenang dan sambil menikmati makanan yanh ada di meja.


Alex merasa sangat marah saat melihat sikapnya yang tenang itu, dia merasa sangat kesal sekali.


" Kenapa kamu diam saja? Apa kamu sedang merasa sakit hati karena melihatnya pergi kencan? "


Viona merajut sweater untuk pria itu tetapi sekarang sweater itu sudah menjadi miliknya, jadi tidak masalah untuk siapa sweater itu dirajut karena pada akhirnya sudah menjadi miliknya.


Viona mengangkat kepalanya dan melirik kearah Alex, " Tidak untuk apa aku merasa sakit hati, justru aku malah senang kalau bisa melihat dia bahagia. "


Viona tidak pernah berpikir untuk berpacaran dengan Alex apalagi sampai menikah dengannya, Riko memang sangat baik padanya dan juga kepada anak-anaknya oleh karena itu Viona tidak ingin menyeret dan menunda kebahagiaannya.


Apalagi dengan sikap keluarga nya yang seperti itu terhadapnya, pernikahan semacam ini tidak akan pernah damai dan bahagia.


Viona juga tidak punya minat akan pernikahan seperti itu.

__ADS_1


Alex merasa sangat lega mendengar ucapannya lalu dia mengambilkan lauk yang ada dimeja dan menaruhnya ke dalam piringnya.


" Makanlah yang banyak! "


Mereka makan sekitar satu jam lebih, dan Viona juga merasa kalau makanan disini sangatlah lezat sekali sehingga dia makan lebih banyak dari biasanya.


Setelelah selesai makan malam waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Viona sudah sangat ingin pulang namun Alex berkata bahwa dia ingin melihat bintang sehingga langsung menariknya dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Viona, dia merasa kalau menjadi sekretaris pribadi tidak ada bedanya dengan seorang pengasuh.


Setelah masuk kedalam mobil lalu Alex mengalihkan pandangannya ke arah Viona dengan tatapan tajam sehingga membuat Viona merasa tidak nyaman.


" Pak Alex, kenapa kamu menatapku seperti itu? "


" Viona, saat bersama denganku kamu tidak boleh memikirkan pria lain. Oke? "


Suaranya terdengar dingin dan tidak ingin menerima negosiasi, ini adalah nada perintah.


Viona merasa kalau Alex benar-benar terlalu dominan mengatur hidupnya, namun gaji yang dia berikan juga cukup besar sehingga mau tidak mau Viona hanya bisa menurut padanya.


Bersamaan dengan ini tiba-tiba ponselnya berdering lalu Viona mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan langsung menjawab panggilan telepon itu.


" Halo Fedric, ada apa nak? Malam-malam begini kenapa kamu belum tidur? "


" Mami, Felicia demam. Suhu tubuhnya 39 derajat, kita akan membawanya pergi ke rumah sakit. Mami cepatlah menyusul! "


Saat Viona mendengar ini seketika dia langsung menjadi sangat panik.


" Oke, mami akan segera kesana. Kamu tunggu mami disana yah! "


Swtelah selesai menutup teleponnya Viona langsung berkata kepada supir.


" Pak, tolong pergi ke rumah sakit anak sekarang. "


Supir kemudian langsung melirik ke arah Alex melalui kaca spion dan sedang menunggu jawabannya, Alex yang melihat Viona panik lalu dia berkata.


" Pergi ke rumah sakit anak, cepat sedikit. "


Sang supir yang mendengar instruksi dari bosnya itu lalu dengan cepat langsung memutar arah.


" Ada apa? Sebenarnya siapa yang sakit? "


Pasti salah satu dari ketiga anak itu yang sakit, karena pada waktu itu saat berada dirumah sakit dia melihat Viona mengantar Felicia ke rumah sakit dengan cara yang sangat menyedihkan.


Seorang wanita dengan tiga orang anak yang dia besarkan sediri tanpa bantuan siapapun pasti sangat sulit sekali baginya.


Ada genangan air mata di matanya Viona, dia terus melihat ke arah depan dan berharap dia bisa cepat sampai di rumah sakit.


" Felicia yang sakit, dia mengalami demam suhu tubuhnya mencapai 39 derajat. Waktu terakhir dia demam dan kejang-kejang, aku harap dia baik-baik saja sekarang. "


Viona merasa sangat cemas sekali sehingga dia mengatupkan tangannya erat-erat dan berharap dia bisa berada disisi putrinya sekarang juga.


Lalu Alex mengeluarkan ponselnya dan menelepon sebuah nomor.


" Hallo dekan Leo, anak dari keluargaku sedang ada dirumah sakitmu sekarang. Tolong kamu rawat dan jaga dia dengan baik, Namanya Felicia Hariss. Ya, terima kasih! "


Setelah menutup ponselnya lalu dia mengulurkan tangannya yang panjang dan meraih tubuh Viona ke dalam pelukkannya.


" Jangan khawatir, dokter disana akan mencoba yang terbaik untuk mengobatinya. "


Karena Viona terlalu cemas sehingga tidak mendengar ucapannya Alex, dia tampak sangat cemas sekali dan dia seolah-olah tidak dapat mendengar apapun.

__ADS_1


Karena di dalam benak dan pikirannya saat ini hanya ingin segera sampai dirumah sakit.


__ADS_2