
" Aku mengerti! "
Lalu Alex menutup teleponnya dan mengeklik berita hiburan kemudian melihat foto dirinya yang sedang menggendong Felicia sambil merangkul Viona keluar dari rumah sakit.
Foto itu diambil dengan sangat jelas dan Alex merasa kalau foto ini cukup bagus, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
Semua berita yang viral adalah foto-foto ini dan Alex dengan santai melihat-lihat komentar yang di tinggalkan para pembaca berita.
Luvluv: Apa Alex sudah nikah? Istrinya juga sangat cantik dan juga anaknya sangat lucu! Semoga mereka menjadi keluarga yang harmonis.
Tiger Star: Itu putrinya pak Alex? Mereka sangat mirip sekali.
Alex keluar dari aplikasi berita itu, menurutnya netizen-netizen ini terlalu melebih-lebihkan omongan mereka saja, bagian mana coba yang terlihat mirip dengannya?
Viona mengendarai mobilnya dengan hati-hati, akhirnya satu jam kemudian mereka sampai di perusahaan.
Setelah memarkirkan mobilnya lalu keduannya langsung masuk ke dalam lift bersama-sama dan memasuki ruangan CEO.
Orang-orang di dalam kantor langsung menoleh kearah mereka berdua dan satu demi satu dari mereka mengangguk untuk menyapa.
Akhirnya mereka mengerti kenapa CEO mereka tiba-tiba bisa memiliki sekretaris pribadi, ternyata dia adalah kekasihnya dan bahkan dia sudah melahirkan anak untuk CEO mereka.
Mereka semua tidak tahan untuk tidak menatap ke arah Viona, mereka merasa kalau dia sungguh-sungguh beruntung bisa melahirkan anak untuk seorang bos besar seperti Alex.
Sedangkan Viona belum tahu kalau dia dan juga Alex sedang Viral sekarang, dia yang melihat semua orang sedang menatap ke arahnya tiba-tiba merasa canggung.
' Kenapa semua orang menatapku seperti itu? ' batinnya Viona saat melihat tatapan aneh dari para karyawan perempuan di sana.
" Pagi semuanya. "
Kemudian semua orang berdiri, " Pagi Pak Alex, Pagi juga Nyonya Alex. ''
Alex melengkungkan sedikit bibirnya, dia tahu apa yang sedang terjadi.
Mereka pasti sudah membaca berita pagi ini, jadi karena itu mereka bersikap seperti sekarang ini.
Viona merasa bingung, Dimana nyonya Alex? Dia menoleh dan berbalik ke belakang untuk mencari siapa yang di maksud mereka namun dia tidak mendapati ada nyonya Alex disini?
Tetapi Viona tidak terlalu memikirkannya lagi lali dia kembali ke ruangan nya untuk berkerja, setelah masuk ke dalam ruang kerjanya lalu dia meletakkan tasnya dan pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Alex.
Dia juga menyiapkan sedikit makanan yang bisa langsung dia makan sebelum menghadiri rapat, di dalam dapur ada kulkas yang berisi kue-kue dan cemilan.
Viona mengambil sepotong kue yang disukainya dan membawanya bersama dengan kopi tadi lalu kembali ke dalam ruangannya.
" Pak Alex, ini kopimu dan aku juga membawakan kue kesukaanmu. Makanlah sedikit sebelum menghadiri rapat, untuk mengganjal perut. "
Masih ada waktu sepuluh menit sebelum rapatnya dimulai, sehingga Alex bisa mengisi perutnya agar tidak benar-benar kosong.
Alex yang sedang melihat materi rapatnya kemudian melirik kopi dan kue yang di bawakan oleh Viona lalu dia menyesap kopinya seteguk.
Viona kembali ke meja kerjanya dan menatap ke arah Alex, dia ingin sekali mengingatkannya untuk makan roti dulu baru minum kopinya kalau tidak perutnya nanti pasti akan terasa tidak nyaman.
Dia merasa cemas namun tidak berani mengatakannya, pada saat yang bersamaan tiba-tiba saja ponselnya Alex berdering dan dia langsung menjawab panggilan teleponnya.
" Hallo Nek, ada apa? "
" Alex, kakekmu sudah melihat berita hari ini. Dia juga selalu menunjuk ke arah TV terus, dia sangat emosional sekali sekarang! Bagaimana kamu pulang saja untuk menjelaskan langsung pada kakekmu ini, dia tidak mendengarkan apa yang aku katakan padanya. Jadi kamu harus segera pulang! "
Alex mengangkat alisnya, tadinya dia tidak terlalu memperdulikan masalah ini tetapi dia lupa akan kakeknya ini.
Kakeknya baru sadar belum lama ini, bagaimana bisa dia menonton berita hiburan semacam ini?
__ADS_1
Terpikikir akan hal ini Alex merasa pasti neneknya lah yang mengajaknya untuk menonton berita di Tv, dulu waktu kakeknya masih sehat dia tidak akan pernah menonton berita semacam ini dan tidak akan pernah menemani neneknya menonton berita yang membosankan seperti ini.
Sekarang kakeknya sedang sakit mungkin mau tak mau dia hanya bisa menuruti semua omongan dari neneknya itu, Alex sampai-sampai tidak tahan untuk tertawa ketika membayangkan hal itu.
" Alex, apa kamu mendengar ucapanku? "
" Yah nenek aku mendengarmu, nanti malam aku akan pulang! Sudah dulu yah nek, aku mau lanjut berkerja. "
Nenek Rebecca yang mendengar teleponnya ditutup lalu dia melihat suaminya itu tidak ada henti-hentinya menunjuk ke arah TV dengan sangat antusias sampai-sampai dia nyaris terjatuh dari kursi roda.
" Sayang, jangan terlalu marah. Alex bilang nanti malam dia akan pulang dan menjelaskannya secara langsung padamu, jadi kami bersabar sebentar yah! "
Setelah selesai berbicara lalu nenek Rebecca hanya bisa menghela nafas panjang, dia sungguh tidak mengerti kenapa suaminya ini sangat menyukai nona besar dari keluarga Hariss kalau tidak seharusnya Viona ini juga cukup baik.
Meski dia sudah melahirkan tiga orang anak namub keluarga Brama tidak pernah kekurangan uang untuk membesarkan ketiga anak itu.
Nanti kalau Viona bisa melahirkan satu atau dua anak lagi untuk keluarga Brama, maka rumah ini pasti kan sangat ramai.
Kakek Brama menoleh untuk melihat istrinya itu sambil terus mengoceh tetapi kata-katanya tidak terdengar jelas, hal inilah yang membuatnya menjadi marah.
Nenek Rebecca merasa bahwa itu adalah salahnya karena telah mengajak suaminya ini untuk menonton berita di tv bersama-sama, melihat dia yang begitu emosional nenek Rebecca merasa kali ini dia tidak akan berani membiarkannya menonton berita lagi.
Nanti kalau sampai pembulu diotaknya sampai pecah pasti akan sangat menakutkan, nenek Rebecca kemudian bangkit dan mendorong kursi roda dengan di bantu para pelayan lalu pergi ke kamar mereka untuk istirahat.
Sambil mendorong kursi roda nenek Rebecca berkata,
" Sayang, kini kamu sudah sadar dari koma aku harap kamu bisa cepet pulih seperti dulu. Biarlah urusannya Alex kamu serahkan saja padanya, biar dia sendiri yang membuat keputusan. Kamu hanya perlu menemani aku saja dan menjalani hidup dengan tenang sampai akhir hanyat kita. "
Orang tua Alex meninggal di usia muda, kecelakaan mobil itu telah merenggut nyawa putra dan menantu kesayangannya.
Jadi Alex adalah satu-satunya keturunan di keluarga Brama ini, mereka berdua sangat menyayangi Alex dan begitu mencintainya sampai tidak rela meninggalkannya sendiri jika mereka mati kelak.
Mereka ingin melihat dia bahagia dan memiliki keluarganya sendiri barulah mereka bisa pergi dengan tenang.
Namun tiba-tiba saja kakek Brama mengulurkan tangannya dengan lancar dan menggenggam tangan istrinya, ekspresi wajahnya menjadi tenang.
Nenek Rebecca tersenyum sambil berkata, " Kamu mengerti apa yang aku katakan tadi kan? Jangan merusuh lagi di kehidupannya Alex, biarkan nanti malam dia yang menjelaskannya. "
....
Viona membawa Felicia dan bibi Rosa ke rumah sakit di jam makan siangnya, dia telah meminta izin dari Alex selama dua jam untuk mengantar Felicia ke rumah sakit.
Tepat pada pukul tiga dia sampai di kantor, dia mendorong pintu rungannya dan berkata.
" Pak Alex, aku kembali tepat waktu jadi gajiku tidak perlu di potongkan? "
Saat dia pergi tadi Viona sudah berjanji pada Alex bahwa dia akan kembali tepat waktu, kalau tidak gajinya akan di potong dan nanti malam dia akan lembur.
Tetapi Viona tidak melihat Alex di meja kerjanya, yang dia lihat hanya ada Evelin yang sedang duduk di kursi kerjanya Alex dengan punggungnya yang menghadap meja.
Mendengar suara Viona yang baru saja masuk lalu Evelin membalikkan kursinya dan mengangkat sedikit alisnya.
" Viona, bagaimana rasanya menjalani hidup dengan berkerja? Hanya demi mengejar gaji yang tak seberapa itu kau harus berkerja hingga pontang-panting seperti ini! Hidupmu ini benar-benar sangat menyedihkan sekali. "
Setelah selesai berbicara lalu Evelin mengangkat tangannya sambil mengagumi kukunya yang dihias dengan berlian.
" Kamu juga masih harus membesarkan tiga anakmu itu, sungguh tidak mudah ya kan? Lebih baik kamu cari saja ayah dari anak-anakmu itu, seharusnya dia belum matikan? Seharusnya dia bisa bertanggung jawab untuk merawatmu dan juga anak-anakmu itu. "
Viona tidak ingin menjawabnya, melihat sikap sombong Evelin ini mungkin dengan berkata seperti itu bisa membuat Viona sedih jadi Viona mengubah topik pembicaraan agar dia tidak kepedean.
" Cantik juga! "
__ADS_1
Setelah selesai berbicara lalu Viona kembali ke meja kerjanya dan menambahkan ucapannya lagi.
" Yang aku maksud adalah kukumu. "
Dia tidak ingin memuji orangnya, bagaimana pun juga di matanya Evelin hanya seperti itik buruk rupa.
Evelin sudah mengetahui hal ini sejak dia masih kecil, mamanya tidak jelek papanya juga tampan tetapi sayangnya dia mewarisi semua kekurangan mereka.
Matanya kecil, wajahnya yang bulat besar dengan hidung yang pesek.
Kalau dibahas dia pasti akan sangat marah tetapi untungnya beberapa tahun lalu dia sudah memperbaikinya.
Hidungnya menjadi mancung dan matanya juga sudah di permak supaya lebih enak dilihat, jadi setidaknya dia masih bisa dianggap cantik di antara banyak orang.
Tetapi begitu dia berdiri sejajar dengan Viona kecantikannya ini tidak ada apa-apanya, terpikir akan hal ini Evelin menjadi marah.
Bagusnya sih gadis ini mati saja tetapi sayangnya dia masih bisa selamat, Evelin mengepalkan tangannya dengan penuh kebencian dan menatap kearah Vuona dengan tatapan dingin.
" Walaupun aku tidak secantik kamu, tetapi nasibku lebih baik dari kamu! Aku menjalani kehidupan sebagai nona besar dari keluarga Hariss, sementara kamu? Huhh... Sejak kecil sudah tidak mempunyai mama sedangkan papa juga tidak menyukaimu. Di usiamu yang masih begitu muda saja sudah mempunyai tiga orang anak, kamu akan berkeja sampai mati untuk menghidupi mereka. Sungguh kasihan sekali. "
Saat Viona mendengar ucapannya ini, ekspresi wajahnya langsung berubah.
" Aku menjalani kehidupan yanh sulit seperti ini semua itu ulah siapa? Evelin kamu harus ingat didunia ini ada yang namanya hukum karma, cepat atau lambat kamu dan mamamu itu pasti akan menerima balasannya. "
Keduanya bertengkar dan saling adu mulut, Evelin yang melihat Viona sudah pandai bicara kemudian dia meletakkan tangannya di dadanya.
" Sekretaris Viona, aku ingin minum kopi. Cepat kamu buatkan untukku. "
Belakangan ini Viona masih sibuk menyusun jadwal perjalanan bisnis untuk Alex, perkerjaan ini sungguh melelahkan.
" Nona Evelin, Pak Alex bilang bahwa aku adalah sekretaris pribadinya jadi tugasku hanya untuk melayaninya saja. "
Tentu saja Alex tidak berkata seperti itu padanya, tetapi dia aedang tidak ada disini jadi Viona bisa membohongi Evelin.
Evelin sangat marah sekali sehingga dia bangkit dan menghampiri Viona, tatapannya sangat tajam.
Lalu dia menjatuhkan semua barang yang ada di meja kerjanya Viona kelantai dan memaki seperti orang gila.
" Viona, kamu hanya seorang sekretaris saja dan seorang karyawan. Jangan pernah berpikir kalau kamu benar-benar akn menjadi nyonya Alex setelah berita viral itu. "
Viona yang melihat cangkir kesayangannya pecah, dia merasa sangat sedih sekali.
Cangkir ini dia buat bersama dengan anak-anaknya jadi cangkir ini memiliki arti tersendiri baginya, lalu Viona langsung berdiri dari kursi lalu dia mendorong Evelin.
" Evelin, kamu sudah keterlaluan! Dasar orang gila. "
Lalu Viona membungkuk untuk mengambil pecahan-pecahan cangkir yang memiliki foto mereka berempat, semuanya sudah hancur sekarang.
Evelin yang di dorong oleh Viona menjadi semakin marah dan penuh emosi, dia tidak tahan melihat gadis ini sering bersama dengan Alex setiap hari dia sangat ingin mengusirnya pergi untuk menjauh dari Alex selamanya.
Oleh sebab itu dia langsung menjambak rambut Viona tetapi Viona juga bukan orang yang mudah di tindas olehnya.
Karena dia sebelumnya pernah berkerja di Starduck, jadi Riko mencarikan seorang guru ahli taekwondo untuknya agar dia bisa melindungi dirinya sendiri.
Dan sejarang dia sudah memegang sabuk hitam, dia yang di jambak Evelin dengan tiba-tiba secara reflek Viona langsung membanting Evelin ke lantai.
Evelin tidak menyangka Viona akan memiliki ilmu seperti ini, dia mengerang kesakitan.
" Aahh.. Tolong.. Sekretaris Viona memukulku tolong aku! "
Dia menjerit sambil menangis, suaranya itu terdengar cukup menyedihkan.
__ADS_1
Saat Evelin mengulurkan tangannya untuk menyeka air matanya, ada seringai senyuman jahat di wajahnya.
' Viona, mari kita lihat apa kamu masih bisa tetap tinggal di perusahaan ini? Alex pasti akan memecatmu setelah kejadian ini kamu lihat saja. '