
" Pak Eric, aku mohon bantu aku! Putriku sekarang sedang sekarat, tolong donorkan sumsum tulangmu untuk putriku. Dia benar-benar membutuhkannya sekarang. "
Sebenarnya Eric bukanlah orang yang kejam, tetapi kalau dia menyumbangkam sumsum tulangnya itu pasti akan berbahaya bagi tubuh dan kesehatannya.
Pekerjaannya sangat tidak cocok bila dia melakukan hal ini, sebagai seorang tentara dia harus di tuntut untuk selalu memiliki fisik yang prima dan sehat.
Jadi dia benar-benar tidak bisa melakukan hal itu, apa lagi putri wanita ini bukan siapa-siapanya jadi dia tidak berkewajiban untuk mendonorkan sumsum tulangnya itu.
Melihat Eric yang tak kunjung berbicara Gebby semakin merasa cemas dan takut lali dia berlutut didepannya Eric sambil menangis.
" Aku mohon Pak Eric, aku pasti akan melakukan apapun yang kamu mau asalkan kamu mau mendonorkan sumsum tulangmu untuk putriku! "
Saat ini dia benar-benar merasa kalau harapan terakhirnya telah sirna, dia benar-benar tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
Viona yang melihat Gebby berlutut didepannya Eric dia merasa benar-benar hatinya terasa sangat sakit, lalu Viona membantu Gebby bangun dan berkata.
" Gebby, untuk apa kamu sampai berlutut seperti ini? Bagunlah, jangan lakukan hal seperti ini. Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya. "
Eric mengerutkan keningnya, " Tidak ada gunanya kamu berlutut padaku! Aku tidak akan pernah mendonorkan sumsum tulangku, sebenarnya hal yang paling bagus adalah keluarga kalian sendirilah yang mendonorkan sumsum tulang mereka. Anak itu pasti mempunyai ayah atau kerabat lainnya kan? Kenapa kamu tidak menyuruh mereka saja? ''
Gebby dan Viona yang mendengar perkataannya Eric pun langsung terdiam, benar juga perkataannya ayahnya sendiri saja tidak mau melakukannya apalagi dia yang hanya sekedar orang yang tak ada hubungannya dengan mereka.
Hal ini lah yang menjadi permasalahannya dan hal ini lah yang membuat Gebby merasa marah tapi apalah daya dia tidak bisa menjelaskan hal ini kepada Eric.
" Pak Eric, apa kamu benar-benar tidak bisa membantu temanku ini? Kalau anaknya ini tidak segera melakukan operasi, sisa umurnya hanya akan sampai 1 tahun lagi. "
" Ini bukan urusanku, aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Jadi tolong jangan memaksaku! "
Eric sudah menunjukkan penolakkannya secara tegas jadi mau tak mau Gebby hanya bisa pasrah, Lalu Gebby bangkit berdiri dan membungkuk pada Eric.
" Pak Eric, maaf kalau aku sudah mengganggu waktumu! Kalau begitu kami permisi dulu. "
Kemudian Gebby berjalan keluar dengan lesu dan matanya memerah dia benar-benar putus asa sekarang, Viona yang melihatnya seperti itu lalu dengan cepat bangkit dan melirik kearah Eric lalu dia mengejar Gebby.
" Gebby, tunggu aku! "
Setelah Viona berhasil menyusul Gebby dia langsung memeluknya dan berusaha untuk menghiburnya.
" Gebby, pasti ada cara lain. Kamu jangan menyerah seperti ini, kamu harus kuat demi Mimy. "
Gebby yang ada di dalam pelukkannya Viona tak kuasa menahan tangisnya.
" Aku kira Mimy akan segera sembuh, tetapi sekarang... sayang sekali semuanya telah hilang... Huhuhu... Apalagi yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar lelah, Viona. "
Viona juga sebenarnya sangat marah tetapi dia juga tidak bisa memaksa Eric untuk melakukan itu, dia juga sekarang benar-benar tak berdaya.
" Gebby, seharusnya kan rumah sakit masih bisa mencarikan pendonor lainnya. Ada begitu banyak orang di dunia ini, pasti akan ada yang bisa mendonorkan sumsum tulang mereka untuk Mimy. Jadi kamu harus kuat dan bersabar, aku akan selalu menemanimu dan mendukungmu. "
" Sudahlah Viona aku akan mencoba untuk menemui mantan suamiku atau keluarganya, siapa tahu mereka akan mau mendonorkan sumsum tulang mereka. Aku akan melakukan apapun demi Mimy bisa operasi. "
" Apa kamu yakin mau melakukan ini? "
__ADS_1
" Setidaknya aku akan mencobanya, masalah mereka mau atau tidak itu urusan nanti. "
Lalu Gebby menyeka air matanya, dan berusaha untuk tetap tenang.
Setelah beberapa saat Gebby menenangkan diri, akhirnya mereka berdua pergi dari apartemen Baru bersama-sama.
Dirumah keluarga Brama.
Alex membawa Evelin masuk ke dalam ruang tamu dan Kakek Brama langsung memutarkan matanya saat melihat keduannya berjalan masuk bersamaan.
Nenek Rebecca yang melihat ini langsung bertanya pada suaminya itu,
" Sayang kamu kenapa? Apa ada yang sakit? "
Melihat ekspresi kakeknya itu Apex langsung menoleh kearah Evelin, bukannya dia sudah membawa cucu menantu yang dia inginkan untuk dibawa kesini? Namun ada apa dengan ekspresi di wajahnya itu?
Evelin yang melihat Kakek Brama langsung memasang senyumnya yang manis dan menyapanya.
" Halo Kakek Brama, apa kabar? "
Setelah mendengar ucapannya Evelin itu tiba-tiba saja kakek Brama langsung pingsan, semua orang langsung panik dan segera memanggil dokter pribadi yang ada di sana.
Setelah dokter datang dia langsung memberikan pertolongan pertama, dan Alex menjadi khawatir akan kondisi kakeknya itu lalu dia bertanya pada dokter.
" Bagaimana kondisi kakekku dok? Apa dia baik-baik saja? "
Setelah dokter selesai memeriksa lalu dia menghela nafas lega.
" Tuan muda, kakek Brama tidak apa-apa! Beliau hanya terlalu emosi jadi dia tadi mengalami sesak nafas, namun beliau akan segera pulih. Jadi tidak perlu khawatir. "
Yang datang kesini kan Evelin dan tidak ada orang lain! Lalu kenapa suaminya ini sangat emosi? Apa dia terlalu bersemangat untuk bertemu dengan Evelin jadi dia sampai seperti ini?
Nenek Rebecca benar-benar tak habis pikir pada suaminya ini, sebenarnya dia tidak tahu mengapa suaminya ini begitu menyukai Evelin?
Saat ini nenek Rebecca benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa sekarang, jadi dia tidak ingin terlalu pusing memikirkan tentang siapa yang nantinya menikah dengan Alex? dia juga masih ingin hidup beberapa tahun lagi.
Alex yang melihat kakeknya seperti itu menjadi semakin yakin kalau kakeknya menyukai Evelin sampai-sampai dia pingsan karena terlalu bersemangat untuk bertemu dengan Evelin.
Jadi mau tak mau pernikahan palsu ini harus tetap dilanjutkan, memikirkan ini membuat Alex langsung merasa tertekan dan menatap dingin kearah Evelin.
Setelah beberapa saat...
Kakek Brama membuka matanya dan saat dia melihat Evelin, lalu dia membuang muka dan memutar matanya lagi.
Nenek Rebecca yang melihat suaminya sudah siuman lalu dia memanggilny.
" Sayang, apa yang kamu rasakan sekarang. Apa ada yang sakit? "
" Kakek, apa kakek baik-baik saja? "
" Kakek Brama! "
__ADS_1
" Sayang, Alex datang kesini bersama dengan pacarnya untuk datang menemuimu. Jadi kamu jangan terlalu bersemangat seperti tadi, sampai-sampai kamu membuatku takut. "
Saat kakek Brama mendengar perkataan istrinya ini lalu dia menunjuk ke arah kamar dan memejamkan matanya.
Lalu nenek Rebecca berkata kepada pelayannya, " Antar Tuan ke dalam kamar untuk istirahat. "
Dia juga sudah mengerti kalau suaminya ini tidak ingin melihat Evelin lagi, kalau tidak dia yang sebentar-sebentar emosional itu sangat tidak baik bagi kesehatannya.
Sebenarnya apa yang di mau suaminya ini? Sebenarnya sikapnya ini menunjukkan setuju atau tidak?
Entahlah biar waktu yang menjawabnya, sekarang dia harus fokus pada kesehatan suaminya ini. Biar itu menjadi urusannya Alex!
Kakek Brama masuk ke dalam kamar di temani oleh pelayan dan dokter, Nenek Rebecca lalu mengulurkan tangannya untuk menyeka air matanya.
Alex lalu duduk di samping neneknya sambil melingkarkan tangannya di bahu sang nenek dan berkata.
" Nenek, dokter sudah bilang kalau kesehatan kakek baik-baik saja. Dia pasti akan segera pulih, jadi nenek jangan terlalu khawatir lagi. "
Alex tahu bahwa kasih sayang antara kakek dan neneknya sangat baik, keduanya sudah hidup bersama selama ini dan mereka juga tidak ingin saling meninggalkan satu sama lain.
" Yah, kakekmu pasti bisa berumur panjang sampai nanti kami bisa melihat keluarga kecilmu. "
Evelin yang masih berdiri di samping sambil memegang kotak gingseng di tangannya, dia merasa kecewa karena tidak mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Kakek Brama lagi sama seperti pertama kali dia bertemu dengannya tempo hari.
Melihat ekspresi sedih nenek Rebecca lalu Evelin duduk disampingnya.
'' Nenek Rebecca, ini adalah ginseng yang aku belikan untukmu dan kakek. Ginseng ini sangat cocok untuk kesehatanmu atau kakek. "
Nenek Rebecca lalu melirik kearah Evelin, penampilan wanita ini biasa-biasa saja tetapi kenapa suaminya begitu menyukainya?
" Terima kasih, kamu seharusnya tidak perlu repot-repot untuk membawakan barang-barang seperti ini. "
Setelah berbicang sebentar lalu mereka bertiga pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama.
Setelah Nenek Rebecca menyelesaikan makan malamnya lalu dia bangkit dari kursi untuk melihat apakah suaminya sudah makan atau belum.
" Aku mau melihat kakek apa sudah makan atau belum? Jadi kalian lanjutkan saja makannya. ''
" Hmm.. Baiklah nek. "
Di meja makan hanya ada Alex dan Evelin saja lalu Alex berkata,
" Lain kali kalau aku membutuhkanmu untuk bersandiwara lagi aku akan meminta supir menjemputmu, kamu tidak perlu pergi ke kantorku lagi. Kalau kamu tidak mau melanjutkan sandiwara ini, aku bisa langsung membatalkan kontraknya. Bagaimana pendapatmu? "
Alex tidak memaksanya, meskipun kakeknya sekarang menyukai Evelin tetapi Alex juga tidak akan pernah menerima Evelin.
" Alex, aku mau kita melanjutkan kontak ini! Aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti tadi. "
Evelin sudah merasa sangat senang asalkan bisa melihat Alex dan selalu bersamanya, tentu saja dia tidak akan menyerah begitu saja.
Alex mengangkat tangan kirinya dan melihat jam tangan mewahnya dan berkata,
__ADS_1
" Sekarang sudah cukup larut, aku akan meminta supir untuk mengantarmu pulang! "
" Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu! Sampai bertemu nanti. Ohh yah, kalau kamu perlu apa-apa kamu bisa langsung menelponku! Aku akan selalu ada untukmu. "