Ayah Misterius Sang Kembar Tiga

Ayah Misterius Sang Kembar Tiga
Bab 38 Kakek Brama Marah!


__ADS_3

" Kakek Brama! "


Si lelaki tua itu menepuk pahanya sendiri dengan semangat dan dia ingin sekali berbicara tetapi dia tidak bisa.


" Cucu... Cucu... Melantu... "


Nenek Rebecca mengerutkan sedikit keningnya saat mendengar ucapan suaminya ini dan dia langsung bertanya.


" Sayang, apa maksud dari perkataanmu itu? Melantu apa itu? "


Kakek Brama mencoba kembali mengucapkan kalimat itu dengan jelas tetapi dia tetap tidak bisa melakukannya.


Viona mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga nenek Rebecca dan berkata,


" Nenek mungkin maksudnya si kakek dia ingin buang air kecil? "


Setelah selesai berbicara wajahnya langsung sedikit memerah karena Viona sedikit malu, karena bagaimanapun juga ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Kakek Brama.


Nenek Rebecca tidak bisa menahan tawanya lalu dia berkata, " Mungkin juga! Ucapannya sekarang ini memang belum jelas, tapi semoga saja setelah menjalani perawatan yang baik dia akan bisa pulih lagi. "


Sambil berbicara lalu nenek Rebecca meminta pelayan untuk melihat apakah suaminya ini benar-benar ingin buang air kecil.


Alex masuk ke dalam bersama dengan Evelin lalu dia memanggil Kakeknya,


" Kakek, aku sudah pulang. Aku membawa cucu menantumu untuk menemanimu. "


Alex mengira kakeknya Akan sangat senang saat melihat dia datang bersama Evelin dan mungkin saja kondisinya bisa cepat membaik, tetapi ketika Kakek Brama melihat mereka berdua dia langsung memutar matanya dengan acuh dan dia langsung menggelengkan kepalanya.


Nenek Rebecca yang melihat ini langsung tersenyum, " Maaf dia mau pergi ke kamar mandi dulu, kalian duduk saja disini aku akan membawanya pergi untuk ke kamar mandi sebentar. "


Setelah selesai berbicara nenek Rebecca langsung membawa suaminya pergi, dan di bantu oleh pelayan untuk pergi ke kamarnya.


Di ruang tamu,


Evelin duduk di sampingnya Alex sedangkan Alex langsung menyodorkan secangkir teh kepada Viona, saat melihat Alex menyodorkan teh padanya dengan senang hati Viona menerimanya karena juga kebetulan dia merasa haus.


Evelin yang berada di sampingnya menjadi merasa sangat kesal karena dia tidak di perlakukan seperti Viona, tetapi Alex tadi sudah memperingatkannya untuk tidak mencampuri urusan pribadinya jadi dia tidak berani bicara terlalu banyak di depannya Alex.


Namun di dalam hatinya dia bersumpah akan mendapatkan posisi menjadi nyonya muda di keluarga ini, jadi untuk sementara dia tidak akan membuat perhitungan dengan Viona.


Alex bangkit lalu mengulurkan tangannya sambil mengancingkan kancing jasnya, tampak ada kilatan cahaya melintas di matanya yang dingin itu.


" Kalian duduk di sini sebentar, aku akan pergi menemui kakek. "


Begitu Alex pergi, Evelin langsung mendengus dengan dingin dan berkata,


" Viona, kamu hanyalah seorang sekretaris mengapa kamu tidak sadar diri untuk pergi saja dari sini? Atau kamu sudah tidak punya rasa malu dan harga diri, sehingga kamu mau merayu bosmu sendiri? Supaya Alex bisa merawat ketiga anak harammu itu! Dasar tidak tahu malu. "


Viona sangat marah ketika mendengar Evelin menyebut anaknya sebagai anak haram lalu dengan marah dia berkata,


" Jaga ucapanmu itu, kamu juga jangan lupa siapa dirimu sebenarnya! Kamu sendiri juga seorang anak haram, jadi tidak usah sok-sok'an di depanku! "


" Kamu... " Evelin mendengus marah sampai-sampai di ingin sekali menampar wajahnya Viona, tetapi dia menahan semuanya karena ini masih dirumahnya Alex dia tidak ingin membuat citra baiknya menjadi hancur karena Viona.


Di dalam kamar.


Kakek Brama sudah selesai buang air kecil yang di bantu oleh para pelayan disana, Sedangkan nenek Rebecca menunggu di sofa yang ada di dalam kamarnya.


Saat Alex masuk dia langsung melengkungkan sebuah senyuman di wajahnya dan berkata,


" Kakek, bagaimana kondisimu? Apa sudah merasa baikkan? "


Kakek Brama tidak mengubris pertanyaannya Alex tapi hanya mengucapkan dua kata padanya,

__ADS_1


" Membuat... Cucu... "


Kemudian dia hanya mengibaskan tangannya dengan acuh, saat melihat ini nenek Rebecca dan Alex hanya saling bertukar pandang.


Kakeknya ini selalu saja mendesaknya untuk segera memiliki anak, Alex sudah merasa sangat frustasi dengan permintaan kakeknya ini.


Baru saja dia terbangun dari koma, malah langsung mencecarnya untuk segera memiliki seorang anak. Tetapi sangat mustahil baginya untuk memiliki seorang anak dari wanita yang tidak dia cintai itu jangankan untuk mempunyai anak dengannya, melihatnya saja dia langsung tidak tertarik.


Alex ingin mengatakan hal ini pada kakeknya tetapi dia takut nanti kakeknya kembali koma, jangan sampai dia menjadi cucu yang tak berbakti karena masalah seperti ini.


Nenek Rebecca yang melihat ekspresi di mukanya Alex yang terlihat sangat suram dengan cepat dia langsung berkata,


" Sayang, cucumu ini sudah paham akan hal itu. Nanti setelah dia menikah juga pasti dia akan memiliki seorang anak, jadi kamu tidak usah khawatir akan hal ini. "


Saat Kakek Brama mendengar ucapan istrinya ini ekspresi di wajahnya menjadi semakin aneh, dia langsung membuang semua barang yang ada di atas meja dengan marah.


Nenek Rebecca menunjuk ke arah suaminya ini lalu berkata,


" Kamu jangan marah-marah seprti ini dulu, itu tidak baik bagi kesehatanmu! Alex tahu apa yang harus dia lakukan, jadi kamu jangan marah-marah seperti ini. Aku sendiri yang akan mengawasinya dan akan mendesaknya, apa kamu bisa tenang sekarang? "


Alex merasa kalau seharusnya dia tidak masuk ke dalam sini tadi sehingga membuat kakeknya menjadi emosi seprti ini, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan kakeknya.


'' Nenek, aku pergi dulu! Beberapa hari lagi aku akan datang untuk menjenguk kakek. "


Nenek Rebecca juga tahu kalau cucunya ini pasti berada dalam dilema sekarang, karena bagaimana pun juga dia tahu kalau Alex menyukai Viona namun suaminya ini malah menyuruh Alex menikah dengan putri sulung dari keluaraga Hariss itu.


Semua ini benar-benar tidak mudah untuk Alex!


Alex berjalan keluar dari kamar kakeknya itu sambil menyelipkan tangannya di dalam saku celananya lalu dia berkata dengan malas,


" Evelin, sopir sudah menunggumu di luar! Kamu bisa pulang sekarang. "


Evelin langsung bangkit berdiri dan bertanya, " Bukannya mau makan malam? Apa tidak jadi? "


Dengan dingin Alex berkata, " Aku tidak akan ingin mengucapakan kata yang sama untuk kedua kalinya. "


Evelin hanya bisa mengigit bibirnya saja dan dia langsung membalikkan badannya untuk mengambil tasnya, meski dia merasa sangat enggan untuk berpisah dari Alex tetapi dia sama sekali tidak berani menolak perintahnya ini.


Mau tak mau Evelin pergi dengan enggan, Alex mengawasi kepergiannya Evelin lalu dia mengulurkan tangannya dan meraih tangan Viona kemudian dia langsung menciumnya.


Viona langsung menarik kembali tangannya, " Alex, apa kamu sudah gila? ''


Dia selalu saja menciumnya seperti itu setiap kali mereka bertemu, Viona sudah mengatakan padanya kalau dia tidak ingin menjadi seorang pelakor ataupun wanita simpanan! Apa dia tuli, atau bagaimana?


Alex menarik Viona lalu berjalan pergi, " Ayo pergi, kalau sampai kakek melihatku lagi mungkin dia akan marah padaku lagi seperti tadi. "


Viona yang di tarik oleh Alex berjalan sambil tersandung, Alex sangat tinggi dan langkah kakinya juga sangat besar karena kakinya yang panjang.


Viona harus berjalan dua langkah untuk mengimbangi langkahnya Alex ini, lalu dia disuruh masuk ke dalam mobil oleh Alex.


Kemudian Alex juga ikut masuk kedalam mobil dan berkata sesuatu pada supir,


" Pergi ke jalan Misty. "


Dengan perlahan mobil menjauh dari rumah keluarga Brama, Viona menatap rumah keluarga Brama yang besar itu.


Ini adalah pertama kalinya dia datang ke rumah keluarga Brama dan dia langsung dibuat takjub dengan kemewahan keluarga Brama ini, meski dia juga adalah putri dari keluarga konglomerat dan dia juga sedah terbiasa dengan semua kemewahan.


Namun luas rumah keluarga Brama ini dan bagunan-bagunan yang berdiri kokoh itu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan rumah keluarga Hariss, sangat jauh berbeda.


Viona lalu menoleh dan melihat keluar, bunga-bunga yang ada di taman itu sudah bermekaran.


Di musim dingin seperti ini kenapa masih ada bungan yang mekar? Sekali lihat saja Viona langsung tahu kalau ini adalah gaya dari Nenek Rebecca.

__ADS_1


Viona menyipitkan matanya lalu dia tersenyum kecil, nenek Rebecca benar-benar orang yang sangat romantis dan sangat pandai menikmati hidup.


Alex bersandar di kursi dan mengetuk pelan sandaran tangannya dengan jemari panjangnya kemudian tiba-tiba bertanya,


" Apa anak-anakmu dirumah sudah makan jam segini? "


Tadinya dia berencana untuk makan malam dirumah Viona tetapi setelah dia melihat jam ditangannya seharusnya anak-anak itu sudah makan.


Viona melirik jam tangannya sebentar lalu berkata,


" Seharusnya sudah! "


Setelah mendengar jawabannya Viona Apex langsung berkata dengan supir yang ada di depan,


" Pergi ke Milkshek. "


" Baik tuan. "


Tiba-tiba Alex memejamkan matanya dan berkata pada Viona,


" Sekretaris Viona, kepalaku sakit. Bantu aku untuk memijatnya. "


Pada saat ini Viona baru berbalik dan melihatnya bersandar di kursi dengan jejak kelelahan di mukanya, dia baru saja turun dari pesawat dan langsung menuju ke rumah keluarganya.


Viona tidak tahu dia habis pulang bisnis dari mana namun cukup wajar kalau Alex merasa lelah karena diperjalanan.


Melihat Viona yang tidak kunjung bergerak kemudian Alex bergumam pada dirinya sendiri.


" Aku pergi ke kota Milles dan sudah tidak tidur selama dua hari berturut-turut, kemudian naik pesawat sekitar 11 jam lebih. Sekarang kepalaku benar-benar sangat sakit sekali. "


Setelah mendengar ucapannya Alex itu Viona langsung membalikkan badannya sambil setengah berlutut di atas kursi kemudian mengulurkan tangannya untuk memijat kepalanya.


Tiba-tiba Alex memeluknya dan mendudukkannya diantara kedua kakinya, Viona langsung terkejut dengan tindakkannya Alex ini dan ingin melompat turun namun setelah melihat Alex melepaskan pelukkannya dan memejamkan matanya.


Setelah dipikir lagi memang sangat nyaman diposisi seperti ini untuk bisa memijat kepalanya, jadi Viona tidak melompat turun lalu dia mulai memijat kepalanya Alex.


Aroma masih menyeruak masuk ke dalam hidungnya Alex, dia sudah tidak mencium aroma ini selam seminggu dan saat itu dia sudah merasa sangat kencanduan dengan aroma ini.


Terutama saat dia merasa lelah dan kesal, dengan mencium aroma ini bisa langsung membuatnya merasa lebih baik dan membuat tubuhnya menjadi lebih bersemangat.


Tiba-tiba Alex mengangkat tangannya dan meraih Viona ke dalam pelukkannya, Viona hendak berdiri tetapi Alex tidak mengizinkannya.


" Jangan bergerak! "


Viona sudah mau gila dibuatnya, pria ini selalu saja ingin menggodanya.


Alex membenamkan kepalanya di lehernya dan pada saat ini dia merasa sangat damai sehingga hatinya juga bisa jauh lebih tenang.


" Viona, apa kamu merindukan aku selama beberapa hari ini? "


Dia selalu saja memikirkannya setiap hari, memikirkannya sehingga dia sudah merasa hampir gila. Perasaan seperti ini membuatnya moodnya menjadi sangat buruk.


Alex sebelumnya tidak pernah perduli tentang apapun, apalagi merindukan seorang wanita sampai hampir membuatnya hampir gila seperti ini.


Viona tidak berani bergerak sama sekali, dia hanya bisa bersandar pada lengannya dan mendengarkan detak jatungnya Alex.


" Pak Alex, kamu sudah tidak datang keperusahaan selama seminggu ini. Jadi aku selalu menghawatirkanmu selalu. "


Viona mengira Alex tidak datang keperusahaan karena masih marah padanya, dia tidak tahu kalau Alex pergi dinas keluar kota.


Alex tersenyum ketika mendengar jawabannya Viona, dia ingin mendengar Viona mengatakan bahwa dia merindukannya sama seperti dirinya namun hal itu pasti tidak mungkin Viona katakan.


Tetapi sewaktu dia mengatakan kalau dia menghawatirkan saja itu sudah cukup bagus, kemudian tangannya yang besar itu tiba-tiba merasa tegang dan Alex menghela nafas panjang.

__ADS_1


" Kakek ingin aku menikah denga Evelin. "


__ADS_2