
Di rumah sakit.
Begitu Viona turun dari dalam mobil dia lalu bergegas masuk, Alex mengusap sebentar dahinya. Viona tampak seperti lalat yang kehilangan kepalanya begitu mendengar anaknya sakit.
Dengan cepat Alex mengejarnya dan lengannya yang panjang menariknya lalu meraihnya ke dalam pelukkannya.
" Alex, kamu pulang saja. Di rumah sakit ini sangat berisik, aku masih harus mengantri untuk pendaftaran dan sebagainya. Ini sangatlah merepotkan, nanti kami bisa pulang sendiri dengan menggunakan taksi. "
Viona mengira bahwa Alex akan menunggunya untuk mengantar mereka pulang.
Alex memeluknya dengan erat kalau tidak Viona pasti akan berlari dan menerobos dengan sembarangan, entah apa yang pernah dialami oleh gadis ini sebelumnya? Bukannya sakit itu adalah hal yang wajar, apa perlu dia panik dan khawatir seperti ini?
" Viona aku tahu Felicia dirawat dimana, kamu ikut denganku. "
Dia tidak akan membiarkan dia berlari dengan sembarangan ataupun menerobos antrian.
Meski sudah pukul sebelas malam tetapi rumah sakit anak masih sangat ramai, cuaca hari ini juga sangat dingin karena perubahan cuaca yang mendadak hal ini lah yang membuat banyak anak-anak jatuh sakit.
Antrian yang panjang terjadi di tempat pendaftaran, begitu juga dengan tempat pengambilan obat.
Tangisan seorang anak dan juga suara orang dewasa benar-benar sangat berisik sekali, Alex membawa Viona menuju lift khusus untuk dokter lalu naik hingga lantai 10 di departemen rawat inap lalu masuk ke dalam bangsal VIP.
Begitu masuk ke dalam bangsal tampak Felicia yang sedang diinfus, Viona bergegas melepaskan diri dari rangkulannya Alex dan langsung bertanya dengan cemas.
" Bagaimana kondisi Felicia? Apa demamnya sudah turun? "
Kedua putranya sedang duduk di sofa dan saat mereka melihat mami mereka yang terlihat sangat panik.
" Mami kamu tidak perlu khawatir, Felicia hanya terkena flu saja. Dia akan pulih kembali setelah disuntik untuk beberapa hari kedepan. "
Felix berkata dengan Alex yang berdiri di depan pintu, " Paman Alex, terima kasih banyak atas bantuanmu. "
Kalau bukan karena dirinya, mungkin mereka masih ada ditempat pendaftaran sekarang dan adiknya tidak mungkin mendapat perawatan secepat ini.
Bibi Rosa sedang berbicara dengan Viona tentang kejadian malam ini dan dia juga merasa sangat bingung.
" Non Vio, sesuatu yang aneh terjadi pada kami malam ini. Saat kami sedang mengantri utuk mendaftar lalu tiba-tiba saja nama Felicia di panggil lalu kami diantarkan ke bangsal ini. Dan ada beberapa dokter yang memperlakukan Felicia dengan sangat baik, mereka juga tidak membiarkan kami melakukan sendiri tes kesehatan. Felicia hanya berbaring saja disini untuk dilakukan pemeriksaan, ini semua benar-benar sangat aneh sekali. "
Viona menyentuh kepala Felicia meski terasa sedikit panas tetapi tidak terlalu panas, setelah mendengarkan penjelasan dari Bibi Rosa akhirnya dia mengerti apa yang sedang terjadi.
Bagaimana mungkin orang biasa seperti dirinya bisa mesan bangsal seperti ini, dia juga tidak punya uang sebanyak itu untuk memesannya.
Lalu Viona bertanya kepada Bibi Rosa, " Bibi Rosa, Kamu bawa Fedric dan Felix pulang dulu. Ini sudah larut malam mereja juga harus istirahat, biar aku saja yang berjaga disini. "
Kemudian Viona menoleh dan melihat bahwa kedua putranya sedang berbicara dengan Alex dan mereka tampak sangat akrab sekali, meski saat waktu itu kedua anak lelakinya memperlakukannya dengan buruk dan membuatnya mabuk namun sikap mereka benar-benar berubah hari ini.
Mungkin keduan anaknya itu juga merasakan alasannya mengapa adik mereka bisa dirawat dan diobati dengan lancar hari ini.
Bibi Rosa memanggilnya, " Pak Alex, kamu juga ada disini? "
Dengan adanya Alex disisinya Viona saat ini Bibi Rosa bisa merasa sangat lega sekali, akhirnya ada juga seorang pria yang bisa menemani Viona.
Alex mengangguk sedikit dan berkata, " Bibi, supir saya sedang menunggu dibawah. Kalian bisa pulang dulu, aku akan mengantar Viona pulang setelah Felicia selesai diinfus. "
" Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu! "
__ADS_1
Setelah Bibi Rosa dan kedua putranya pulang, tiba-tiba saja bangsal itu menjadi sangat hening dan sunyi.
Felicia masih tertidur, dia tudur dengan sangat tenang tanpa menunjukkan rasa sakit.
Viona menatap kearah Alex dan berkata, " Pak Alex, terima kasih atas bantuanmu malam ini. "
Alex duduk di samping tempat tidur sambil mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Felicia yang sedang tertidur.
" Apa dia sering sakit seperti ini? "
Viona mengangguk, " Dia lahir dengan berat tubuh yang kurang dari 2 pon dari kedua kakaknya, dia juga sewaktu kecil sangat mudah menangis dan sangat sulit untuk merawatnya. Sejak masih kecil dia juga sangat gampang sakit sehingga selalu membuatku sangat ketakutan dengan hal ini. "
Alex dapat melihatnya, lalu dia tersenyum dengan santai.
" Dimana ayah dari anak-anakmu ini? "
Meskipun mereka sudah tidak bersama lagi sekalipun, pria macam apa yang bisa membuat seorang wanita berkerja dengan begitu keras hanya demi membesarkan anak-anaknya seorang diri.
Viona hanya bisa menggelengkan kepalanya, " Mereka tidak punya ayah. "
Dia tidak ingin membicarakan hal ini, karena sampai sekarang pun dia tidak tahu siapa pria yang tidur bersamanya waktu itu.
Alex dapat melihat Viona tidak ingin menyebutkan ayah dari anak ini jadi dia tidak akan menanyakan hal ini lagi.
Setelah beberapa saat, dokter datang dan melaporkan kondisi Felicia kepada Alex dan Viona.
Dokter berkata kalau Felicia hanya terkena flu dan bukan penyakit yanh serius, setelah melakukan infus selama tiga hari maka dia akan baik-baik saja.
Setelah dokter pergi, bangsal pun kembali sunyi.
" Pak Alex, infusnya akan habis nanti jam satu malam. Kamu pulang saja dulu, biar aku saja yang menjaganya disini. "
Alex menatapnya lekat-lekat wajahnya tampak sangat begitu lelah, memang sangat tidak mudah menjadi seorang ibu apalagi dia melakukan semua hal sendiri tanpa ada seorang pria disisinya.
" Viona, lain kali tidak perduli apapun yang terjadi kamu bisa datang mencariku. Aku akan selalu membantumu! "
Setelah mendengar ucapannya Alex, Viona hanya bisa tersenyum.
" Pak Alex, kamu sudah banyak membantuku hari ini. Sekali lagi terima kasih. "
Alex tidak berencana untuk pergi lalu dia bersandar dengan malas di sofa sambil menatap kearah Viona dengan tatapan yang penuh cinta.
Viona membenarkan selimut Felicia lalu duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur sambil terus memandangi putri kecilnya itu.
Alex hanya bisa melihat punggungnya saja dan keduanya hanya saling diam tanpa ada yang berbicara seolah-olah mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Setelah satu jam menunggu akhirnya infusnya Felicia sudah habis, kemudian Viona membunyikan bel untuk memanggil perawat.
Dengan cepat seorang perawat datang dan saat dia masuk tampak dia sangat tersipu malu karena melihat seorang pria dengan kakinya yang disilangkan di sofa.
Melihat pria tampan seperti itu wanita manapun pasti akan tersipu dan merasa sangat berdebar-debar.
Si perawat menarik jarum infus dengan hati-hati lalu memberikan obatnya kepada Viona.
" Ini obatnya Felicia, diminum tiga kali sehari setelah makan. "
__ADS_1
Viona mengambilnya dan bertanya, " Baik, terima kasih. Oh ya apa besok masih harus datang kesini? "
" Benar, dibutuhkan tiga hari berturut-turut untuk menyelesaikannya. Agar Felicia bisa benar-benar sembuh. "
" Baiklah kalau begitu. "
Perawat itu melirik kembali ke si pria tampan yang duduk di sofa sebelum dia melangkah pergi.
Viona menyimpan semua obat itu ke dalam tasnya lalu membungkuk untuk menggendong Felicia, namun tiba-tiba saja sepasang tangan yang besar meraih pergelangan tangannya dan terdengar sebuah suara yang rendah dan tenang berkata.
" Biar aku saja yang menggendongnya. "
Viona menoleh dan menatapnya, " Tidak apa-apa biar aku saja, aku sudah sering menggendongnya. Berat badannya Felicia juga sangat berat. "
Dia merasa sungkan untuk membiarkan Alex menggendong Felicia, meski gadis kecil ini tidak cukup berat tetapi akan sangat merepotkan kalau menggendongnya terus.
Kalau Viona sudah terbisa melakukan hal ini, sebagai seorang ibu dia sudah menggendongnya sedari kecil dan Felicia adalah anak yang paling manja dan tidak suka berjalan jadi Viona lebih sering menggendongnya.
Alex tersenyum dengan dingin, " Kamu meremehkan aku? Kamu sekalian aku gendong juga tidak masalah. "
Setelah selesai berbicara Alex mengulurkan tangannya untuk mencubit pinggangnya Viona lalu berkata, " Apa kamu mau coba? "
Mempertanyakan kekuatannya? Nanti cepat atau lambat dia juga akan mengetahuinya dan pada saat itu terjadi dia meminta ampun pun tidak akan berguna.
Viona langsung tersipu malu, apa yang baru saja dia katakan?
Menggendongnya dan Felicia sekaligus, dengan cepat Viona membayangkan situasi itu dan dia menjadi merasa sangat malu karena dia bukan lagi anak kecil.
" Tidak perlu, aku tahu kamu sangat kuat! Sudah, sudah kamu saja yang gendong Felicia. "
Alex yang melihat wajahnya Viona yang memerah, ingin sekali dia melahap wanita yang ada di depannya ini karena dia sangat begitu menggemaskan.
Lalu dia menggendong Felicia, Felicia bergerak sedikit dan mengatakan sesuatu.
" Papi... "
Mendengar sebutan papi ini membuat Alex tersenyum, kalau anaknya juga sudah sebesar ini pasti akan memanggilnya seperti itu!
Saat Viona mendengar ucapannya itu membuat matanya menjadi merah dan hatinya juga terasa sangat sakit.
Meskipun ketiga anaknya tidak pernah bertanya dan mengatakan ingin mencari ayah mereka namun saat mereka sakit mereka selalu memikirkan pria itu.
Yang paling menyedihkan adalah Viona tidak tahu dimana pria itu dan bagaiman rupanya, dia benar-benar telah gagal menjadi seorang ibu!
Viona meletakkan selimut kecil di tempat tidur rumah sakit itu ke tubuh Felicia, seharusnya Bibi Rosa yang membawanya tadi.
Tiba-tiba Felicia membuka matanya dan menatap kearah Alex dengan pandangan yang terlihat kabur, lalu dia memeluk lehernya dengan erat.
" Papi jangan pergi lagi yah? Kamu harus menemani Felicia terus disini. "
Setelah berbicara kemudian dia terisak beberapa kali dan tertidur kembali.
Viona membeku sejenak dan menepuk-nepuk punggungnya Feliciq dengan ringan.
" Felicia, anak baik. Tidurlah kita akan segera pulang, yah! "
__ADS_1