Ayah Misterius Sang Kembar Tiga

Ayah Misterius Sang Kembar Tiga
Bab 20 Bertemu Dengan Nenek Rebecca


__ADS_3

Viona yang tadi berdiri dengan ekspresi bengong kembali tersadar, " Ahh...? "


Apa harga tiga buah piring dan dua buah mangkuk bisa semahal itu?


Dua ribu dolar? Apa dia mau merampok!


Alex menunjuk pada pecahan piring itu dan berkata,


" Porselen biru-putih dengan pola garis-garis itu terbuat dari benang emas asli, harga $2000 dolar itu masih terlalu murah berbeda jauh dari harga aslinya! "


Viona benar-benar ingin mengambil pecahan-pecahan piring itu untuk mengambil emasnya, mungkin bisa di jual dan dia bisa mendapatkan uang?


Melihat Viona yang mau mengambil pecahan piring itu dengan tangannya membuat Alex mengerutkan keningnya.


" Disapu saja! Jangan di ambil menggunakan tangan, nanti tanganmu bisa terluka. "


Mau tak mau Viona mengurungkan niatnya untuk memungut pecahan-pecahan piring itu, dia merasa agak tertekan karena tidak bisa mengambil benang emas yang ada di piring itu karena Alex tidak kunjung pergi dan terus mengawasinya.


Ohh.. Benang emas! Apa harganya bisa setara dengan harga emas? Kalau iya, sungguh pemborosan besar kalau di buang begitu saja.


Sampai akhirnya Viona memasukkan pecahan piring ke dalam kantong sampah dan membersihkan dapur pun Alex masih juga belum pergi, dia masih berdiri di belakangnya dengan tangan yang di sedekapkan di dadanya sambil menatap Viona.


Lalu Viona tersenyum kepadanya saat melepaskan celemek nya kemudian membalikan badannya.


" Pak Alex, dapur sudah saya bersihkan. "


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Viona merasa sangat mengantuk dan ingin segera pulang.


Alex mengangguk sedikit dan berkata, " Kamarku cukup berantakkan, kamu pergi bereskan dulu sebelum pulang! "


Viona menatap Alex ini sudah jam sebelas malam, apa dia tidak bisa tinggal pergi tidur saja? Memangnya tidak bisa dibereskan besok saja?


Aahhh...


Rasanya ingin Viona berteriak di hadapannya Alex, dia sungguh kesal sangat-sangat kesal sekali padanya!


Tanpa memperdulikan Viona yang masih bengong Alex berjalan ke kamarnya, dia lalu duduk di kursi kerjanya sambil membaca setumpuk dokumen.


Sedangkan Viona yang sudah sampai di kamar Alex langsung membersihkan kamarnya, kemarin kamarnya sangat bersih hanya buku-buku yang berserakan saja dan pakaian-pakaiannya itu juga masih bersih.


Dia hanya perlu melipatnya dan meletakkan kembali ke tempatnya, semua itu bisa diselesaikan dalam waktu hanya 15 menit.


Namun hari ini situasi kamarnya seperti kapal pecah terutama di ruang ganti, banyak pakaian yang berserakan di lantai.


Viona harus menggantungkan kembali pakaian-pakaian itu ke dalam lemari lalu menyortirnya sesuai warna pakaiannya.


Dan juga ****** ********, ****** ***** pria.


Saat Viona akan mengulurkan tangannya untuk mengambilnya, dia mundur dengan ketakutan.


Dia sama sekali belum pernah melihat ****** ***** pria sebelumnya jadi dia tidak berani menyentuhnya kerena merasa sangat malu sekali.


Alex setengah bersandar di depan pintu ruang ganti sambil tersenyum,


" Viona, apa kamu merasa tertarik dengan ****** ***** ku? "


Begitu Viona mendengar suara Alex itu, dia segera membuka matanya lalu mengulurkan tangannya dan mengambilnya satu demi satu.


Semua ****** ***** itu memiliki merek yang sama dan semuanya juga berwarna hitam, sepertinya Alex terobsesi dengan warna hitam.


Viona mencibir saat mengambilnya seolah-olah sedang mengejek ukuran tubuhnya, hal ini adalah hal yang paling pantang bagi seorang pria.


Oleh karena itu Alex melangkah dan mengurung Viona di antara lemari dan dirinya, matanya menyipit sedikit ada sedikit rasa dingin di wajah tampannya namun juga tampak ada sedikit ekspresi jahat di sana.


" Viona, kenapa kamu mencibir saat mengambil celana dalamku? "


Saat Viona melihat Alex menghampirinya, dia sangat gugup sekali tangannya penuh dengan ****** ***** yang menutupi dadanya.


" Aku tidak mencibirmu! Aku hanya merasa ngantuk dan menghela nafas saja. "


Viona benar-benar merasa lelah sekali, siang tadi dia baru saja selesai berkelahi dengan orang-orang dan sekarang dia harus berkerja semalaman.


Alex menyandarkan wajahnya ke wajah Viona dan bertanya dengan suara rendah,


" Benarkah? "


Begitu Alex mendekat aroma tubuh Viona tercium ke dalam hidungnya, seluruh tubuhnya langsung terasa aneh sepertinya darah di tubuhnya langsung bergejolak lagi.


Viona menatap Alex dengan waspada, dia khawatir Alex akan menciumnya dengan paksa lagi.

__ADS_1


Jadi Viona menatap bibir Alex yang merah cerah dengan mata besarnya dan bersiap-siap untuk menggunakan alat rahasia yang dia beli.


Alex melihat Viona yang terus menatap ke arah bibirnya itu, apa dia juga kecanduan dengan bibirnya sama seperti dia?


Lalu dengan senyum nakal, Alex menundukkan kepalanya dan mencium bibir merah milik Viona.


Saat baru melihatnya tadi, Alex sudah ingin menciumnya dan pada akhirnya tujuannya ini bisa terwujud.


Viona tertegun saat merasakan rasa panas pada bibirnya matanya langsung membelalak lebar, mengapa Alex menciumnya dengan paksa lagi? Dasar mesum.


Disaat bersamaan dengan itu Viona melepaskan alat di tangannya dan menekan cincin itu, kemudian jarum halus muncul Viona langsung menusukkan pada leher Alex.


Alex yang masih kecanduan dengan rasa manisnya tidak bisa melepaskan dirinya, namun tiba-tiba dia merasakan sakit pada lehernya.


Tubuhnya langsung menegang dan tidak bisa bergerak sama sekali.


Lalu dengan cepat Viona mundur dari pelukannya dan mengambil beberapa buah dasi untuk mengikat tangan dan kaki Alex.


" Aku mau lihat apa kamu masih bisa melakukan hal-hal tercela padaku? Memangnya mamamu tidak mengajarimu untuk tidak boleh menganggu seorang perempuan! Apalagi kamu ini adalah seorang yang berpendidikan, huhh sungguh tercela. "


Pada awalnya Alex tidak bisa berbicara namun setelah tiga menit kemudian barulah dia bisa berbicara walaupun terdengar lirih.


Alex mengerjap saat melihat Viona mengikat tangan dan kakinya dengan dasi, matanya langsung menggelap.


Apa yang baru saja Viona lakukan pada dirinya? Apa dia tadi menggunakan obat bius untuk melumpuhkannya?


Tadinya Alex mengira kalau Viona cukup bodoh sehingga membiarkan dia untuk menggodanya, tetapi Alex tidak menyangka bahwa Viona ternyata cukup pintar juga.


Terfikir akan hal ini Alex langsung mendengus dengan dingin, tidak apa-apa setidaknya Viona bisa melindungi dirinya sendiri.


" Viona, lepaskan aku! Apa yang kamu lakukan, kenapa tangan dan kakiku kamu ikat ?"


" Alex, kamu harus bersumpah dulu bahwa kamu tidak akan berbuat macam-macam lagi padaku! Baru setelah itu aku akan melepaskan mu. "


" Kamu beli dimana alat itu? Mengapa... Mengapa aku merasa sangat tidak enak badan setelah kamu menancapkan jarum itu pada leherku? "


Begitu Alex berkata demikian, mata Viona langsung bergerak.


Sepertinya benda yang dia beli di toko kecil itu tidak ada merek ataupun sertifikasi kualitasnya, kenapa dia asal membelinya saja tanpa bertanya tentang keamanan alat ini!


Viona tampak sangat ketakutan sekali, sehingga dia berjongkok lalu mengulurkan tangannya untuk menepuk wajah Alex.


Viona benar-benar panik, tidak mungkin kan Alex over dosis karena obat bius ini?


dia hanya memberi sedikit dosis jadi tidak mungkin Alex bisa over dosis.


" Kamu... Kamu membeli barang abal-abal dan menggunakan aku sebagai kelinci percobaanmu? Kalau aku mati kamu harus bertanggung jawab! "


Saat Viona mendengar ini dia benar-benar ketakutan.


" Aku akan menelpon 911 untuk meminta bantuan, kamu tunggu sebentar. "


Tangannya gemetaran dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi, obat bius semacam ini memang tidak bisa digunakan sembarangan dan kalau sampai terjadi itu akan berakibat fatal.


Viona merasa takut dia tidak mau terjerat kasus pembunuhan, dia kan hanya ingin melindungi dirinya sendiri dan tidak ingin membunuh seseorang!


Dia tidak boleh masuk penjara, apalagi kalau Alex benar-benar mati pasti keluarganya tidak akan pernah melepaskan dirinya.


Dan bagaimana dengan nasib anak-anaknya!


" Viona, lepaskan aku dulu! Sepertinya aku merasa sesak nafas. "


Viona belum sempat menekan angka 911 karena tangannya gemetaran sangat hebat, begitu mendengar ucapan Alex dia langsung mengangguk.


" Oke, oke, aku akan lepaskan ikatannya. "


Viona melemparkan ponselnya lalu membuka ikatan yang membelenggu tangan dan kakinya Alex.


" Apa yang kamu rasakan sekarang? "


" Bantu aku melepaskan tali jubah tidurku, rasanya pengap sekali! "


Tadinya Viona ingin mengambil ponselnya namun saat mendengar ucapan Alex, mau tidak mau dia hanya bisa menurutinya untuk melepaskan tali jubah tidurnya.


Dan ketika jubah itu terbuka langsung mempertontonkan otot-otot dadanya dengan jelas, Viona langsung tercengang matanya langsung berpaling ke arah lain.


'' Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah merasa baikkan? "


Di dalam hatinya dia berpikir, ' Bentuk tubuh Alex benar-benar sangat bagus apalagi otot dada dan otot perutnya membuat dia ingin menyentuhnya. Apa akan terasa keras? '

__ADS_1


Ketika Viona berpikir seperti itu, wajahnya langsung memerah.


Mata elang Alex yang panjang dan sipit itu menatap Viona sambil mengamati setiap ekspresinya.


" Bagian dada terasa sesak dan pengap, Tolong kamu pijat sebentar! "


Mata Viona langsung berkilau, barusan dia hanya berpikir untuk menyentuhnya.


Dan ternyata Alex benar-benar mengizinkan dia untuk menyentuhnya, oleh karena itu Viona tidak perduli lagi! Kan dia sendiri yang bilang tidak nyaman jadi Viona hanya membantunya saja.


Mata Viona langsung menatap ke bagian yang dipertontonkan oleh jubahnya yang terbuka itu tanpa berkedip.


Tangan mungilnya tidak sabar untuk menyentuhnya sambil bergumam dalam hati,


' ternyata otot-ototnya sangat keras namun tidak sekeras batu, terasa hangat dan nyaman sekali saat menyentuhnya. '


Agar tidak menarik perhatian dari Alex lalu Viona bertanya padanya,


" Alex, apa kamu merasa sakit di bagian ini? "


Alex menatap wajahnya yang merona merah, dia tampak sangat imut sekali.


Bagaimana mungkin Alex tidak tahu apa yang ada dalam benaknya itu!


Lalu dengan lembut dia berkata, " Turunkan tanganmu sedikit! "


Viona merasa sangat kebetulan sekali dia merasakan sakit di bagian sana, dia benar-benar ingin merasakan perut berbentuk roti sobek itu.


" Turunkan tanganmu lebih ke bawah lagi! "


Viona tertegun sejenak, dia sudah menurunkan tangannya hingga ke perutnya.


Sepertinya kalau lebih ke bawah lagi itu tidak baik, kan?


Di saat yang bersamaan terdengar suara seseorang datang,


" Alex, apa kamu ada disana? Aku akan menginap di rumahmu malam ini! "


Begitu nenek Rebecca selesai berbicara dia membeku di tempat, wajahnya tampak sedikit memerah ketika melihat situasi di lantai ruang ganti.


" Kalian lanjutkan saja, anggap aku tidak melihatnya! "


Nenek Rebecca memejamkan matanya dan ingin keluar dari ruang ganti.


Dia pikir itu adalah Evelin, karena baru-baru ini dia mendengar bahwa Alex akan menikah dengannya.


Dia berpikir bahwa cucu selungnya ini mungkin sudah terbuka pikirannya dan akhirnya menemukan seorang wanita yang dia cintai.


Saat Viona mendengar suara itu, dia langsung meleompat.


" Nenek, kebetulan sekali kamu datang. Alex sedang tidak enak badan, ayo kita bawa saja ke rumah sakit! "


Saat nenek Rebecca mendengar bahwa cucu sulungnya tidak enak badan lalu dia membalikkan badannya dengan cepat, matanya langsung berbinar saat melihat Viona.


" Viona, ternyata itu kamu! "


Viona langsung menutup mulutnya dengan kaget,


" Nenek Rebecca, ternyata kamu adalah neneknya Alex? "


Pantas saja wanita tua ini sangat kaya, ternyata dia adalah neneknya Alex. Kalau begitu tidak heran!


Keduannya saling berpegangan tangan dan berputar-putar dengan penuh semangat.


" Viona senangnya, ternyata kamu sedang bersama dengan Alex, baguslah kalau begitu. "


Tadinya dia ingin memperkenalkan Viona pada cucu sulungnya ini namun tak disangaka ternyata mereka malah sudah bersama.


Alex yang masih meringkuk di lantai sambil menatap mereka yang saling berpelukkan dan benar-benar mengabaikannya, lalu dia tiba-tiba bangkit berdiri dan mengatakan sesuatu dengan dingin.


" Ada orang sakit disini, tapi tidak ada yang memperdulikannya! "


Mendengar suara dingin dan samar itu, lalu dengan cepat Viona melepaskan pelukkannya pada nenek Rebecca.


" Nenek Rebecca, aku hanya berkerja disini. Sama sekali bukan seperti hubungan yang kamu pikirkan itu! ''


Dia tidak akan pernah menyukai Alex, dia hanya ingin menyukai wanita, Oke! Karena terlalu banyak buaya darat di luar sana.


Pasti Alex juga sama seperti mereka, jadi dia tidak akan menyukainya!

__ADS_1


__ADS_2