
Nenek Rebecca melihat Alex yang hanya berpura-pura sakit itu pun mengikuti sandiwara yang dilakukan oleh cucunya itu.
" Cucuku sayang, kenapa kamu bisa tidak enak badan? Memangnya apa yang kamu lakukan sehingga tidak enak badan? "
Bagaimana mungkin orang sepintar Alex tidak tahu bahwa neneknya itu sedang membantunya, Dia melihat bahwa neneknya ini sangat menyukai Viona dan ini merupakan hal yang bagus!
Alex langsung mengubah ekspresi wajahnya dan mengulurkan tangannya untuk menutupi dadanya.
" Dadaku terasa sangat sakit! Nenek tolong bantu aku. "
Diam-diam nenek Rebecca tersenyum kecil, karena dia tahu kalau Alex sangat menyukai Viona.
Ternyata hanya gadis yang tulus dan baik hati seperti Viona yang bisa meluluhkan hati cucunya ini.
Dengan cepat dia menarik tangan Viona dan berkata,
" Vio, kamu bantu Alex untuk berbaring di tempat tidur. Nenek akan pergi mencari dokter dan bertanya padanya apa yang harus di lakukan! "
Setelah nenek Rebecca selesai berbicara lalu dia mengedipkan matanya kepada Alex, dan Alex mengangkat alisnya sebagai jawabannya.
Viona langsung berjalan ke sisi Alex untuk membantu memapah Alex lalu dia membungkuk di atas tubuhnya Alex dan melingkarkan tangannya di bahu Alex yang ramping seraya memeluknya dengan erat.
Viona hampir saja kehilangan keseimbangannya karena Alex jauh lebih tinggi darinya, sedangkan Alex dengan asal menyandarkan dirinya pada Viona sehingga membuat Viona hampir tidak bisa menahan badan Alex.
" Viona, jalan dengan benar dadaku akan semakin sakit kalau kamu jalan seperti ini. "
" Huhh... Siapa suruh kamu sangat tinggi! Badanmu juga sangat berat sekali, entah makanan apa yang kamu makan sehingga badanmu bisa seberat ini! "
" Enak saja kamu mengatai ku! Kamu saja yang kurang makan jadi tidak ada tenaganya, seperti orang yang kurang gizi. "
Viona langsung mengerutkan keningnya ketika Alex berkata bahwa dia kurang gizi, kemudian dengan marah Viona melepaskan pegangannya pada tubuh Alex sehingga membuat Alex terjatuh ke lantai.
" Rasakan ini akibatnya kamu menghinaku! Kalau kamu memang sangatlah hebat kenapa kamu tidak pergi sendiri ke tempat tidurmu! Jadi tidak perlu merepotkan aku untuk memapah mu. "
" Ini semua kan karena ulahmu jadi kamu harus bertanggung jawablah, atau aku akan menambahkan biaya berobatku pada surat hutangmu? "
" Baik, baiklah tidak perlu mengancam ku dengan surat hutang. "
Kemudian Viona membantu Alex berdiri dan terus memapah Alex keluar dari ruang ganti dan membantunya untuk berbaring di tempat tidur, namun Viona malah ikut jatuh ke atas tempat tidur bersama Alex.
Dia jatuh tepat di atas tubuhnya Alex, Viona yang masih terengah-engah karena kelelahan kemudian dia ingin mendorong Alex untuk menjauh darinya, namun Alex langsung menahan Viona untuk tidak bangkit dan berkata,
" Jangan bergerak, dadaku akan semakin sakit kalau kamu bergerak. Aku sudah hampir tidak bisa bernafas! "
Jadi Viona sama sekali tidak berani bergerak, dia membiarkan setengah tubuhnya menimpah Alex sementara tangannya Alex yang besar itu merangkul Viona dengan sangat erat.
Alex merasa sangat nyaman sekali ketika memeluk Viona sambil tiduran seperti ini, dia merasakan bau tubuh Viona yang harum itu lalu memejamkan matanya sambil berkata,
" Aku akan tidur sebentar, nanti kalau nenek sudah kembali kamu bangunkan saja aku, yah! "
Viona menganggukkan kepalanya lalu tiba-tiba berseru.
" Tidak bisa, kamu tidak boleh tidur! "
Kalau begitu Alex tertidur dan tidak bisa bangun lagi itu akan sangat gawat sekali, Viona pernah membaca sebuah berita di televisi bahwa ada seseorang pergi untuk memperbaiki giginya dan kemudian orang itu meninggal setelah di berikan obat bius jadi dia tidak boleh membiarkan Alex tertidur.
" Tidak tidur juga tidak apa-apa namun apa aku bisa melakukan sesuatu hal lainnya yang bisa membuatku merasa baikkan? Kalau tidak aku merasa sangat tidak nyaman sekali. "
Viona mengedipkan matanya dan mencium aroma pada tubuh Alex, aroma ini sangat enak sekali aroma mint yang menyejukkan ketika dihirup.
" Bukannya kamu tidak bisa bergerak! Memangnya kamu mau melakukan apa? "
Mendengar pertanyaannya itu membuat Alex tersenyum dengan jahat.
" Apa aku boleh menciummu? Saat menciummu aku bisa melupakan rasa sakit pada dadaku ini. "
Yang dia katakan itu memang benar adanya, saat dia mencium Viona dia merasa memiliki semacam perasaan khusus, seperti mimpi-mimpi yang terjadi pada enam tahun silam.
Viona tertegun sejenak lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat,
__ADS_1
" Tidak, tidak. Aku tidak menyukainya, lain kali kamu tidak boleh mencium ku dengan paksa lagi. Kalau tidak aku tidak akan segan untuk menghajar mu! "
Alex melihat bahwa Viona benar-benar tidak bersedia, lain kali dia akan melakukannya secara perlahan-lahan sampai Viona bersedia tanpa paksaan darinya.
Tidak apa-apa dia juga tidak perlu buru-buru melakukan hal semacam ini.
" Aku hanya bercanda saja, aku tidur sebentar! Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja setelah tidur nanti. "
Sambil memeluknya seperti ini namun tidak bisa melakukan apa-apa? Alex merasa dia tidak akan bisa menahan hasratnya ini jadi lebih baik dia tidur saja, itu akan lebih aman.
Setelah nenek Rebecca pergi dia tidak kembali lagi, namun Viona terus menunggunya dan akhirnya dia juga ikut tertidur di pelukannya Alex.
Keesokkan harinya...
Viona terbangun dari tidurnya, dia merasa tidurnya malam ini sangat nyenyak sekali.
Itu adalah tidurnya yang paling nyenyak selama bertahun-tahun ini, dia mengusap matanya kemudian menghempaskan tangannya ke samping.
Rasanya sangat nyaman sekali!
Tiba-tiba seorang pria mendengus dan hembusan hangat mengalir keluar dari hidungnya.
Kedua nya langsung terduduk di tempat tidur dan Viona berteriak karena terkejut.
" Ahh... Apa yang kamu lakukan disini? "
Alex membungkam hidungnya yang meneteskan darah segar, matanya langsung meredup dan langsung menatap dingin kearah Viona.
Dan saat itu Viona baru teringat dengan apa yang terjadi semalam,
" Alex, maafkan aku! Aku tidak sengaja memukul wajahmu. "
Alex langsung turun dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi, dia merasa sangat berbahaya saat bersama gadis ini.
Viona masih terduduk di atas tempat tidur, otaknya masih belum berkerja dengan benar.
Akhirnya Viona langsung teringat, " Nenek Rebecca, bukannya dia pergi mencari dokter semalam? Kenapa dia tidak membangunkan ku ketika dia sudah kembali? "
Saat dia sedang berpikir tentang apa yang terjadi semalam, tiba-tiba ponselnya langsung berdering.
Viona buru-buru melihat sekeliling dan akhirnya menemukan ponselnya yang menyedihkan itu di ruang ganti lalu dengan cepat dia langsung mengambil ponselnya itu.
Yang menelpon adalah putra sulungnya, ada begitu banyak panggilan yang tak terjawab darinya.
Mereka pasti sangat khawatir sekali terhadap dirinya karena dia tidak pulang semalam.
Lalu dengan cepat Viona mengangkat panggilan telpon itu,
" Hallo Fedric! Ada apa sayang? "
Fedric langsung merasa lega ketika mendengar suara maminya yang menjawab telponnya.
" Mami, kenapa kamu semalam tidak pulang semalam? Kami sangat khawatir sekali kepadamu! "
" Maafkan mami yah! Mami baik-baik saja, hanya saja mami terlalu sibuk berkerja semalam jadi mami menginap di rumah teman mami. Sebentar lagi mami akan pulang kok! "
" Kenapa, mami tidak memberi kabar kalau mami mau menginap di rumah teman mami! "
Terdengar suara Felicia marah-marah karena dia tidak memberi kabar kepadanya, Viona sudah bisa membayangkan ekspresi gadis kecilnya kalau sedang marah.
Mulutnya pasti akan cemberut.
" Sayang, mami tidak bisa pulang karena mobilnya rusak. Apa kamu bisa memaafkan ku kali ini saja? "
Felicia mendengus, " Kecuali kalau mami sedang bersama dengan paman tampan aku bisa memaafkan mami tapi kalau tidak aku akan terus marah pada mami! "
Viona merasa sedikit bersalah, sebenarnya dia memang sedang paman tampan yang Felicia maksud namun dia tidak bisa memberi tahu mereka, dan bahkan lebih tidak bisa memberitahu mereka kalau dia telah berhutang banyak kepadanya.
" Baiklah, lain kali tidak akan terulang lagi. Kalian minta bibi Rosa untuk mengajak kalian bermain diluar rumah dulu, yah! Sebentar lagi mami akan pulang. "
__ADS_1
Setelah berbicara Viona langsung menutup panggilan telponnya.
Sambil menarik nafas dalam-dalam dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dia akan di kendalikan oleh anak-anaknya ini, tapi tak apalah itu juga karena demi kebaikannya sendiri.
Alex kemudian masuk ke ruang ganti dan memilih pakaian yang akan dia kenakan, melihat Alex yang masuk ke dalam ruang ganti Viona langsung bergegas keluar dari sana.
Ketika dia terpikir akan apa yang terjadi semalam dia merasa sedikit malu.
Tiba-tiba Alex menghentikannya, " Viona, mengapa saat kamu tertidur semalam kamu ngiler? "
Saat mendengar pertanyaan itu membuat Viona bergegas keluar dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan yang Alex ajukan padanya.
Alex yang sedang melepas jubah tidurnya kemudian dia tersenyum kecil, gadis ini sedikit terlihat manis saat sedang merasa malu.
Viona tidak pergi mandi, namun dia langsung berlari keluar dari kamar Alex dengan ponsel di tangannya lalu dia berjalan ke lantai bawah.
Nenek Rebecca sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku dan ketika dia mendengar derap langkah kaki dia langsung menatap ke arah langkah kaki itu berasal.
" Viona, kamu sudah bangun? Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian. Ayo sarapan bersama! "
Tentu saja bukan dia yang menyiapkan semua ini tapi para pelayan yang ada di keluarga Brama, mereka juga ikut datang bersamanya kemarin.
Viona berkata dengan wajah yang memerah,
" Nenek Rebecca, maaf bukannya aku mau menolak, tapi aku harus pulang sekarang juga. "
Mendengar itu membuat nenek Rebecca bangkit berdiri lalu berjalan ke sisinya lalu meraih tangan Viona dan menggenggam tangannya.
Sambil tersenyum dia berkata, " Vio, semalam kamu dan Alex sudah tidur bersama! Kami pasti akan bertanggung jawab sepenuhnya atas hal ini, kamu tidak perlu khawatir tentang ini. "
Viona hampir saja di buat melompat karena terkejut, dia hanya tidur di ranjang yang sama dengannya.
Kenapa kok jadi seperti ini.
" Nenek Rebecca, semalam aku hanya ketiduran saja. Sama sekali tidak terjadi apa-apa! Jadi tidak perlu bertanggung jawab. "
Dengan melihat Alex saja dia sudah merasa takut sekarang, apalagi kalau mau meminta pertanggung jawaban darinya.
Setelah selesai berbicara lalu dengan cepat Viona menarik kembali tangannya dan berkata,
" Nenek Becca, aku pergi dulu. Masih ada Ketiga anakku di rumah yang sedang menunggu aku untuk pulang sekarang! mereka sangat khawatir karena aku tidak pulang semalam. "
Viona tidak tahu apa yang telah dia katakan, yang penting dia hanya ingin pergi secepatnya dari tempat ini sebelum Alex turun ke bawah.
Kalau tidak, dia tidak tahu harus berapa banyak lagi yang harus dia bayar untuk biaya pengobatannya itu.
Apalagi semalam dia juga tidur di atas lengannya, mungkin saja tangannya itu menjadi setengah lumpuh setelah dia tiduri semalam penuh.
Dan belum lagi dia sudah membuat hidungnya berdarah karena tidak sengaja memukul wajahnya sehingga membuatnya menjadi mimisan.
Aahhh....
Alex pasti akan membuat kantongnya bolong lagi, jadi dia harus buru-buru pergi sebelum Alex memperhitungkan semua biaya itu.
Viona langsung bergegas pergi sambil berlari menjauh, nenek Rebecca tampak sedikit terkejut dengan tingkah Viona ini.
" Hmm.. Sudah punya anak! Sangat disayangkan sekali. "
Kebetulan pada saat ini Alex turun dari lantai atas, hari ini dia menggunakan sweater warna hitam dan menggunakan celana pandang yang senada.
Dan poninya yang biasa disisir kebelakang hari ini diatur di atas dahinya.
Penampilan yang diubah seperti itu membuatnya terlihat jauh lebih ramah dan lebih muda.
Saat Nenek Rebecca melihat cucunya ini lalu dia bertanya padanya,
" Alex, apa Viona sudah menikah? "
Kalau saja dia tahu bahwa Viona sudah menikah, seharusnya dia tidak membantu cucunya ini semalam dengan membiarkannya tidur dengan Viona sepanjang malam ini benar-benar tidak bermoral.
__ADS_1