
Viona duduk di samping kakeknya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa tamu yang kakek katakan adalah Alex.
Sebenarnya, dia sendiri yang tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh paman Leo saat bertemu dengannya, pada saat itu dia seperti tidak sadar, dia hanya sedang memikirkan kakeknya.
" Alex, ayo kita duduk disini! "
Evelin mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Alex, namun dia malah menghindar sehingga membuat Evelin merasa malu.
Seketika, Evelin teringat bahwa hubungan diantara mereka hanyalah sebatas kontrak saja.
Alex tidak punya perasaan kepadanya, jadi Evelin harus berusaha keras untuk menaklukan Alex ini!
Alex kembali duduk di posisi nya lalu bertanya pada kakek Hariss sambil tersenyum,
" Kakek Hariss, siapa wanita ini? "
Viona sedikit mengernyit, untuk apa dia menanyakan ini?
Tepat ketika kakek Hariss hendak berbicara, Evelin langsung berbicara terlebih dahulu,
" Namanya Viona, putri dari pelayan keluarga kita. "
Setelah selesai bicara Evelin langsung menatap kakek Hariss sambil memberi isyarat kepadanya bahwa Viona telah melakukan hal yang memalukan sehingga lebih baik tidak memberitahu keluarga Brama mengenai hal ini.
Ekspresi kakek Hariss tampak sedikit berubah karena dia adalah orang yang sangat mementingkan reputasi jadi mau tak mau dia menerimanya.
Saat Viona mendengar ucapan ini, cahaya di matanya langsung mengeruh.
Seharusnya dia tidak perlu datang ke rumah ini, setelah bertemu kakeknya seharusnya dia bisa langsung pergi saja.
Lalu Viona bangkit berdiri dan berkata, " Kakek, kalian masih sibuk! Aku pergi dulu, nanti kalau ada waktu aku akan datang menjenguk mu lagi. "
Viona sangat marah sekali ketika mendengar dia dikatakan sebagai putri dari seorang pelayan, bahkan kakeknya pun menerima ucapan ini. Jadi apa lagi yang bisa dia katakan?
Sejak kecil Viona merasa mamanya sangat tidak berharga di rumah ini setelah menikah dengan papanya, pria yang memaksanya untuk pergi setelah berselingkuh dan membuat anak haramnya itu mengatakan bahwa mantan istrinya adalah seorang pelayan.
Perasaan hati Viona saat ini benar-benar sangat buruk.
Tadinya Alex mengira Viona adalah putri dari keluarga Hariss namun saat mendengar Evelin mengatakan bahwa dia adalah anak seorang pelayan, jadi Alex tidak merasa heran.
Kalau dia benar-benar putri dari keluarga Hariss, bagaimana mungkin dia bisa tinggal di tempat yang kumuh dan bahkan tidak mampu membayar uang sewanya.
.....
Viona keluar dari rumah keluarga Hariss, dia bersandar di dinding sambil memejamkan matanya untuk menenangkan diri.
Barusan dia benar-benar ingin kembali dan menghancurkan semua barang-barang yang ada di ruang tamu lalu menunjuk ke Evelin sambil memaki sebagai anak haram dan juga kepada Vera.
' kau si pelakor, bahkan kamu sama sekali tidak pantas untuk mengganti posisi mamaku. '
Dia sangat ingin sekali tapi dia tidak bisa melakukan hal itu.
Tiba-tiba sebuah mobil Mercedes Benz berhenti di depan pintu dan tampak Riko yang keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Viona.
" Viona, kenapa kamu bisa ada disini? "
Kalau bukan karena dia tidak dapat menemukan Viona dan langsung bertanya pada Bibi Rosa tentang keberadaan Viona sekarang, Riko juga tidak akan tahu kalau Viona kembali ke rumahnya.
Saat Viona mendengar suara Riko, dia langsung mengangkat kepalanya dan memaksa untuk tersenyum.
" Aku datang untuk menjenguk kakekku namun tiba-tiba kepalaku terasa sedikit pusing. "
Sebenarnya itu bukan pusing melainkan emosinya yang telah memuncak karena marah.
Riko langsung membantu Viona masuk ke dalam mobil dan mengencangkan sabuk pengamannya kemudian dia masuk ke kursi pengemudi.
Melihat air muka Viona yang tampak sangat jelek, dia merasa harus mengantar Viona ke tempat yang tenang agar bisa merasa lebih baik.
Viona menarik nafas dalam-dalam dan berkata,
" Tidak perlu, antar aku pulang saja. "
Lalu Viona menurunkan kaca mobil dan membiarkan angin berhembus meniup wajahnya, yang dia benci adalah ketiga orang di keluarga Hariss tapi tidak termasuk kakek.
Jadi pada acara seperti hari ini, Viona tidak dapat melakukan kesalahan atau bertengkar dengan orang jahat seperti mereka, dia tidak ingin membuat kakek kehilangan martabatnya.
Dia pasti akan membalas dendam, dia harus membuat sepasang ibu dan anak itu membayar semua penderitaan yang dia rasakan ini.
Riko mengemudikan mobil sambil sebentar-sebentar melihat ke arah Viona.
" Kau habis bertengkar dengan keluargamu? "
Dalam beberapa tahun terakhir ini, setiap kali melihat Viona selalu tersenyum dan hari ini adalah pertama kalinya Riko melihat Viona yang tampak sangat sedih.
Alex mengikuti Viona keluar dan hendak mengatakan untuk mengantarnya pulang.
Namun saat melihat Viona masuk ke dalam mobil Riko, Alex mengangkat tangannya sambil menyentuh dagunya.
Matanya menggelap.
Gadis ini tampak miskin dan biasa saja tetapi dia bisa keluar masuk di rumah keluarga Hariss, sementara tuan muda dari keluarga Bastian juga datang menjemputnya secara pribadi.
Melihat Viona masuk ke dalam mobil orang lain, entah mengapa membuat hati Alex terasa sedikit perih.
__ADS_1
Viona menggelengkan kepalanya, " Tidak, tidak bertengkar! Semuanya baik-baik saja. "
Viona tidak pernah membahas tentang keluarganya, hanya saja waktu itu Riko membantunya membuat kartu keluarga sehingga dia baru tahu bahwa Viona adalah putri sulung dari keluarga Hariss.
Walaupun Viona memiliki status seperti itu namun dia tetap hidup sendiri di luar dan melahirkan anak seorang diri.
Meski penasaran Riko merasa bahwa Viona pasti bertengkar dengan keluarganya sehingga keluar dari rumah untuk tinggal sendiri.
" Vio, aku akan selalu ada di sisimu! Selama kamu membutuhkan bantuan ku, aku akan selalu ada untukmu. "
Asalkan Viona mau menerimanya, Riko akan selalu ada di sana dan selalu menunggunya.
Viona tersenyum, " Aku baik-baik saja, Beberapa hari yang lalu aku baru saja masuk angin jadi belum sepenuhnya pulih. Jangan khawatir! "
Riko tidak bertanya lagi, dia langsung mengantar Viona pulang ke rumah dan tetap tinggal di sana untuk makan malam.
Hari mulai gelap ketika Riko hendak pergi dan mereka sekeluarga mengantarnya hingga depan pintu.
Felicia melambaikan tangan kepadanya,
" Sampai jumpa, paman Riko! "
Fedric dan Felix mengucapkan salam padanya,
" Paman Riko, hati-hati di jalan. "
Riko sangat suka datang kerumah Viona, Anggota keluarganya sangat ramah dan hangat.
Senyuman mereka juga sangat tulus, dia merasa bahwa tempat ini adalah tempat yang nyaman walaupun tidak mewah.
Setelah mobilnya melaju pergi lalu Viona dan anak-anaknya masuk ke rumah dengan gembira.
Viona bertanya kepada kedua putranya,
" Nanti malam kalian ada les tambahan, kan? Jadi kalian cepat beres-beres yah! Jangan sampai terlambat. "
Felicia juga harus les piano, Viona ingin mengantarnya sendiri dan mengawasinya di sana.
Namun saat terpikir tentang biaya lesnya sebesar $60.000 dolar dia merasa sakit kepala, dia harus segera mencari kerjaan tambahan besok.
Viona mengganti pakaiannya lalu membantu Felicia memakai syal di lehernya,
" Sayang, belajar dengan giat yah hari ini! Tidak boleh nakal lagi, oke? '
Padahal Felicia sendiri yang memilih untuk les piano namun setelah mempelajarinya sebentar dia mulai nakal dan tidak serius untuk belajar.
Felicia mengangguk, " Ohh, Baiklah! Oh ya mami, apa paman tampan yang merawat mu itu ada mengajakmu pergi makan malam atau menonton film akhir-akhir ini? "
Viona merasa kesal ketika mendengar nama Alex, dia teringat dirinya yang tiba-tiba berhutang $100.000 dolar kepadanya, itu benar-benar membuatnya sangat sial bisa bertemu dengan Alex.
" Mami, ini ada telpon untukmu! Mungkin saja si paman tampan yang menelepon untuk mengajakmu berkencan! "
Viona merapikan lilitan syalnya dan berpikir dalam benaknya,
' pria itu masih ada di rumah papanya untuk lamaran, jadi bagaimana mungkin dia akan mencarinya? '
Viona mengambil ponsel yang dibawakan oleh putrinya dan hampir menjatuhkannya ke lantai karena itu adalah panggilan telepon dari Alex.
Felicia mendesaknya, " Cepat, angkat telponnya mami! "
Walaupun Viona sebenarnya malas mengangkat panggilan telpon dari Alex, tapi saat teringat akan hutangnya mau tak mau Viona mengangkat panggilan telpon itu.
" Hallo. "
Suaranya terdengar acuh tak acuh, bahkan lebih datar dibandingkan saat menjawab panggilan telpon dari orang yang tak dikenal.
" Viona, datanglah ke Villa plaza dalam waktu setengah jam, kalau tidak bunganya akan berlipat ganda. "
Selesai berbicara Alex langsung menutup telponnya.
Viona langsung mengerutkan keningnya dan mencemberutkan wajahnya.
Masih pakai bunga? Dia benar-benar sangat menyesal telah menandatangani surat hutang itu.
Felicia melompat dengan gembira begitu mendengar itu,
" Yeayy, ternyata paman tampan benar-benar akan mengajak mami berkencan! Cepat dandani wajahmu dengan cantik. Aku akan pergi les dan tidak akan nakal. "
" Baiklah, Nanti minta Bibi Rosa menemanimu pergi les, oke? "
" Oke, mami tenang saja! "
Saat ini sudah jam setengah tujuh dan Viona harus sudah sampai ke Villa itu pada jam tujuh. Jadi Viona langsung buru-buru pergi dengan mobilnya menuju ke Villa Plaza.
Di sepanjang jalan sangatlah ramai dan jalanan macet karena ini merupakan jam-jam sibuk.
Viona merasa sangat sakit hati karena biaya BBM sangat mahal.
Dia membeli mobil ini dengan harga yang cukup mahal karena mobil ini akan dia gunakan untuk memudahkannya membawa Felicia ke rumah sakit saat penyakitnya kumat dimalam hari.
Biasanya dia enggan membawa mobil ini karena hanya akan menghabiskan bensinnya, namun kalau naik taksi juga akan lebih mahal biayanya sehingga mau tak mau Viona hanya bisa membawa mobil ini.
Walaupun macet di sepanjang jalan, akhirnya Viona sampai di depan gerbang Villa Plaza namun satpam menghentikan mobil Viona dan tidak mengizinkannya masuk ke dalam.
__ADS_1
Viona memberitahukan nomor kamarnya,
" Aku tamunya, kalau anda tidak percaya bisa menelponnya. ''
Satpam itu tampak bingung, Apa mungkin CEO Alex bisa memiliki teman yang tampak miskin seperti ini?
Mereka tidak percaya.
Ada begitu banyak orang yang ingin mendekati Pak Alex, dan orang yang mereka usir setiap harinya tidak terhitung banyaknya.
Namun ini juga pertama kalinya ada orang yang mengendarai mobil Yaris bobrok untuk datang mencari Pak Alex.
Apa dia hanya berpura-pura miskin saja demi untuk mendapatkan simpatik dari Pak Alex dan bisa naik ke atas ranjang emasnya?
" Pak Alex, tidak menerima tamu! "
Viona merasa sangat marah sekali kepada mereka, kalau bukan karena harga minyak yang mahal dan terpikir akan bensin yang dia habiskan untuk datang kesini, mungkin Viona akan langsung pergi begitu saja dan tidak memperdulikannya lagi.
Namun pria brengsek itu juga bilang akan melipat gandakan bunga nya, hatinya serasa diiris dan berdarah-darah. Semua ini gara-gara dia sangat miskin.
Viona langsung mengambil ponselnya dan menelpon Alex.
" Viona, ini sudah lewat lima menit kenapa kau masih belum sampai juga? ''
Terdengar suara seorang pria yang dingin dan sedikit marah.
Viona menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, lagi pula Alex sekarang adalah Bosnya sehingga bisa menaikkan bunganya sesuka hatinya.
Kalau sampai bunganya bertambah lagi, Viona bisa-bisa tidak sanggup untuk membayarnya.
" Pak Alex, aku sudah sampai di depan pintu gerbang tapi satpam tidak mengizinkan aku untuk masuk. "
Alex menjawab, " Aku akan mengurusnya. "
Dia menutup telponnya lalu setelah beberapa saat, satpam mengizinkan Viona untuk masuk dengan wajah sopan dan membungkuk dengan hormat.
Viona menatap satpam itu, kemudian dia melajukan mobilnya ke dalam area Villa.
Area Villa ini merupakan area termahal dan termewah di kota Furton, real estate disini juga merupakan real estate Pt MCh.
Viona mencoba mencari bangunan dengan nomor A8 sesuai alamat yang diberikan oleh Alex, Mobilnya masuk ke halaman bangunan itu dengan lancar.
Setelah memarkirkan mobilnya dan baru saja hendak turun ponselnya langsung berdering.
Saat melihatnya, Viona melihat bahwa itu adalah panggilan telpon dari Gebby, dia khawatir akan ada hal yang penting yang perlu dikatakan oleh Gebby lalu Viona mengangkat panggilan telponnya.
" Hallo, Gebby ada apa? "
Saat ini Gebby masih berada di rumah sakit, saat melihat putrinya yang masih diinfus itu tertidur dia berbicara dengan suara rendah.
" Vio, aku dengar dari Felicia, katanya kamu pergi berkencan? Apa pria itu adalah Alex Brama? Semangat yah!! Kalau kamu bisa mendapatkannya hidupmu pasti akan sangat bahagia. "
Gebby adalah teman baiknya Viona saat dia berkerja di Starduck, dia juga adalah seorang wanita yang tidak terlalu baik nasibnya.
Viona, " ..... "
Dia datang untuk melunasi hutangnya, bukan untuk berkencan.
Felicia si gadis cilik ini malah mengumumkannya kemana-mana!
Gadis cilik ini benar-benar membuatnya sakit kepala, dia terlalu bawel dan suka sekali bergosip.
Benar-benar tidak tahu menuruni sifat siapa?
Viona mengusap dahinya dan berkata,
" Gebby, aku dan Alex itu tidak mungkin! Sebentar lagi dia sudah mau menikah, kamu tidak perlu membahas hal ini lagi lain hari. "
" Kau ini bodoh atau bagaimana? Ini belum tamat, kalau sudah menikah juga masih bisa cerai. Kau lihat suamiku yang brengsek itu! Anak istri pun dia sudah tak mau lagi, malah kabur dengan pelakor. "
Viona tidak bisa menahan tawanya,
" Nona Gebby, bukannya kamu paling benci dengan pelakor? Kenapa kamu malah ingin aku menjadi seorang pelakor? "
Gebby menganggkat tangannya dan menepuk kepalanya,
" Bukan begitu Vio, aku merasa Alex itu menyukaimu. Asal kamu mau mendekatinya, dia pasti akan menjadi milikmu. "
Pada saat ini, panggilan telpon yang lain masuk.
Viona melirik dan seperti yang dia duga itu panggilan telpon dari Alex, si penagih hutang.
" Gebby, aku tutup dulu telponnya yah! Besok aku akan menjenguk mimy. Nanti kita baru berbicara lagi ketika bertemu. "
Setelah menutup telponnya, Viona bergegas masuk ke Villa, nomor sandinya telah di berikan oleh Alex.
Viona masuk dari pintu belakang dan membuka pintunya, begitu masuk ke dalam Villa Viona melihat Alex sedang bersandar di sofa dia sepertinya terlalu banyak minum.
Jemarinya yang ramping tampak sedang menarik dasinya dengan paksa, matanya sedikit menyipit.
" Viona, kamu terlambat sepuluh menit. Aku harus menghukum mu! "
Saat ini Alex menatapnya, tampak sedikit keliaran di matanya.
__ADS_1
Alex mengulurkan tangannya untuk menarik Viona dan secara tidak sengaja Viona jatuh di atas tubuh Alex.
" Aaahh... "