
Dalam seminggu kemudian.
Setiap hari Viona selalu datang ke perusahaan namun Alex tidak datang sehingga membuat Viona merasa bosan sekali, sebentar-sebentar Viona melirik ke meja kerjanya Alex saat dia tidak datang ke kantor.
Kantor ini sangat sunyi seolah-olah hanya dia sendiri saja yang menggunkan kantor ini.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan yang menelponnya adalah Alex.
" Hallo Pak Alex. "
Dia sudah tidak melihatnya dalam seminggu ini dan dia juga tidak mendapatkan kabar apapun darinya sehingga membuat Viona berpikir Alex masih marah kepadanya.
" Kamu ikut bersama dengan supir untuk datang menjemputku di bandara. "
Begitu selesai berbicara dia langsung menutup teleponnya, benar-benar orang yang kejam.
Viona bangkit berdiri lalu mengambil tasnya dan pergi ke garasi basement, tampak seorang supir yang sedang menunggu di dalam mobil.
Dan ketika dia melihat Viona mendekat ke arahnya segera dia mematikan rokoknya.
" Sekretaris Viona! "
" Ayo, kita berangkat sekarang saja. "
Sang supir pun langsung melajukan mobilnya ke arah bandara, sesampainya disana kemudian Viona turun dari dalam mobil dan dia langsung masuk ke pintu gerbang bandara untuk menunggu kedatangannya Alex.
Sekitar dua puluh menit kemudian.
Tampak Alex yang berjalan di depan dengan pakaian yang serba hitam, ekspresi wajahnya juga sangat dingin dan dia melangkah dengan cepat.
Sekelompok orang mengikutinya semuanya menggunakan jas dan sepatu kulit, beberapa dari mereka adalah manager perusahaan.
Sepertinya mereka habis melakykan perjalanan bisnis minggu ini, pantas saja Viona tidak melihatnya datang ke perusahaan.
Viona melambaikan tangannya kepada Alex, " Pak Alex, sebelah sini! "
Pada saat yang bersamaan Evelin bergegas menghampiri Alex, " Alex, kamu sudah pulang. "
Setelah itu Evelin meraih tangan Alex dan mengikutinya berjalan keluar dari bandara, sedangkan Viona langsung menurunkan tangannya secara perlahan dia merasa bahwa sikapnya ini sangatlah konyol.
Apex sudah memiliki tunangan dan sedangkan dirinya hanyalah salah satu seorang sekretarisnya saja.
Bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan orang lain? Dia sendiri yang terlalu baper mengira bahwa dia akan merasa senang kalau Viona datang menjemputnya.
Saat melewati Viona Alex melirik ke arahnya dengan ekspresi datar,
" Sekretaris Viona, apa kamu sudah membawa semua barang yang aku minta untuk dibawa? "
Viona mengikuti dan melirik kue-kue ditangannya itu, " Sudah saya beli. "
Viona mengira dia lapar jadi dia pergi membeli kue-kue ini dan dia juga sengaja memilih rasa yang disukai oleh Alex.
Rombongan orang-orang yang mengikuti Alex tadi langsung pergi meninggalkan bandara, sedangkan Alex dan Evelin masuk ke dalam mobil mereka dan Viona duduk di sebelah supir.
Mobil melaju dengan cepet dan meninggalkan area bandara, Evelin yang terus berbicara dengan suara yang cukup keras dan dia tertawa dengan senang di kursi belakang.
" Alex, kamu sudah pergi selama seminggu ini! Aku sangat merindukanmu. "
Setelah itu dia menyandarkan kepalanya ke arah Alex dan berkata, " Apa aku boleh menginap dirumahmu malam ini? "
Saat mengatakan hal ini Evelin sengaja melirik ke arah kaca spion yang ada di depan yang kebetulan bertatapan dengan lirikkan matanya Viona.
Alex tidak berbicara, dia tampak sangat lelah dan setengah bersandar di kursi sambil menyipitkan matanya dan melihat kearah luar jendela.
__ADS_1
Dan tiba-tiba dia langsung teringat sesuatu, " Ohya, Sekretaris Viona! Berikan kue yang tadi kamu beli kepada Evelin, dia ingin memakannya. Jadi dia tadi memintaku untuk membelikannya. "
Viona memegang kotak kue itu dengan kencang di tangannya dan dia sangat tidak ingin memberikannya pada Evelin, dia membeli kue ini untuk di berikan pada Alex.
Sambil tersenyum Evelin memanggilnya, " Viona, berikan padaku! "
Evelin merasa sangat senang hari ini, saat dia menerima telepon dari Alex tadi yang memberitahunya untuk berakting.
Dengan cepat dia bergegas datang ke bandara dan saat sampai disana dia melihat ada beberapa orang yang membawa kamera di depan bandara tadi.
Seharusnya itu paparazi kan? Jelas mereka akan di jadikan berita utama, tentu saja Evelin merasa sangat senang sekali.
Akhirnya Alex mengumumkan kepada dunia dan akhirnya dia akan membuat semua wanita yang ada di kota Furton merasa iri padanya.
Viona tidak menyerahkan kotak kue itu dia tidak ingin memberikannya pada Evelin jadi dia berpura-pura tidak mendengarnya.
Saat Evelin melihat Viona tak kunjung memberikan kotak kue itu kepadanya, dia langsung mengerti apa yang coba Vion lakukan padanya.
Jadi Evelin langsung mengangkat kakinya dan menendang kursi yang di duduki Viona,
" Viona, kamu dengar tidak? Kue ini Alex belikan untukku, kamu hanya membantunya untuk membeli kue ini. "
Sekarang Evelin benar-benar yakin kalau Viona bisa muncul di rumahnya Alex itu karena dia hanyalah seorang sekretaris pribadi.
Walaupun dia saat ini hanya berpura-pura memiliki hubungan dengan Alex, Evelin akan selalu membuat Viona merasa tidak nyaman ketika berada di dekat Alex.
Alex merasa sedikit tidak senang dengan sikap Evelin yang menendang kursinya barusan dan tatapan matanya seketika langsung menggelap.
Tetapi saat melihat ekspresi marah di wajah Viona lalu Alex mengatakan sesuatu padanya.
" Sekretaris Viona, Aku menyuruhmu untuk membeli kue ini untuk di berikan kepada kakekku. Sekarang kamu sudah bisa memberikannya bukan? "
Kakeknya sudah sadar sehingga Alex meminta Evelin datang menjemputnya di bandara dan dia ingin mengajaknya langsung ke rumah keluarganya.
Setidaknya Alex sudah menjelaskan padanya kalau di menyuruhnya membeli kue ini tidak untuk diberikan kepada Evelin secara gratis.
Satu setengah jam kemudian.
Mobil terparkir di depan pintu utama keluarga Brama dan sang supir langsung keluar dari dalam mobik untuk membukakan pintu untuk Alex, Viona pun ikut turun dari dalam mobil.
Seharusnya dia membukakan pintu untuk nyonya muda Brama tetapi kalau orangnya adalah Evelin Huh.. Jangan harap dia akan membukakan pintu untuk wanita seperti dia.
Lalu Viona berjalan kesisi Alex dengan kotak kue di tangannya, dia langsung memberikan kotak itu pada Alex dan berkata.
" Nih kuenya, apa aku sudah bisa pulang sekarang? Aku tidak ingin mengganggu waktumu saat sedang bersama dengan tunanganmu. "
Alex menatap Viona dengan wajah cemberut, dia sudah tidak melihatnya selama seminggu dan hari ini dia sangat ingin menemuinya oleh karena itu dia memintanya untuk datang ke bandara.
Tetapi sikap apa yang ditunjukkan oleh gadis ini sekarang? Dia menunjukkan ekspresi yang seolah-olah tidak ingin melihatnya.
" Sekretaris Viona, apa kamu sudah ingin mengganti pekerjaanmu sekarang? "
Begitu mendengar perkataan Alex ini Viona langsung tersenyum dan berkata,
" Pak Alex, aku rasa perkerjaan ini sangat cocok untukku. Apa kamu masih ada tugas lain yang harus aku kerjakan? Tolong beritahu aku. "
Di dalam hati Viona tiada henti-hentinya memaki Alex,
' Dasar pria tidak berperasaan, kenapa dia selalu saja mengancam untuk memecatnya. Seharusnya kamu sekarang bersenang-senang saja bersama dengan tunanganmu itu, kenapa masih harus melibatkan aku! '
Melihat Viona yang tersenyum manis kepadanya, Alex langsung mengangkat dagunya dan berkata.
" Kakekku sudah sadar hari ini jadi hal ini harus di rayakan, nenekku juga memintamu untuk datang ke sini untuk makan malam bersama. ''
__ADS_1
Viona tahu kalau kakeknya Alex sudah sakit selama bertahun-tahun dan sekarang keadaannya sudah mulai membaik. Hal ini memanglah kabar yang menggembirakan dan patut untuk dirayakan.
" Baiklah aku akan tetap disini. "
Evelin yang menunggu seseorang untuk membukakan pintu untuknya jadi dia terus-menerus menunggu di dalam mobil, si pengemudi juga tidak berniat untuk membukakan pintu untuk Evelin.
Setelah beberapa saat kemudian Evelin membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil, begitu dia turun dari mobil Evelin langsung menghampiri Viona dan berkata.
" Sekretaris Viona, mengapa kamu tidak membukakan pintu untukku? "
Ini adalah dalah satu tugasnya sebagai seorang sekretaris, dia adalah pacar bosnya jadi seharusnya Viona bersikap sopan padanya.
Viona menatapnya dengan datar kemudian dia berbicara padanya,
" Nona Evelin, maaf sekali! Barusan pak Alex menanyakan sesuatu hal yang penting padaku, jadi aku tidak bisa membukakan pintu untukmu. Tetapi apa kamu memangnya tidak bisa membuka pintu itu sendiri? Apa tanganmu cacat sampai harus di bukakan pintu oleh orang lain? "
Evelin langsung marah ketika mendengar ucapannya Viona dan dia ingin sekali memaki Viona untuk meluapkan amarahnya ini, tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu karena masih ada Alex disini.
" Pak Alex, aku pergi masuk ke dalam dulu untuk menemui nenek Rebecca. "
Setelah selesai berbicara lalu Viona membawa kotak kue itu masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan keberadaan Evelin.
Saat melihat Viona yang pergi begitu saja tanpa memperdulikannya, dia langsung berjalan ke sisi Alex dan berkata.
" Alex, kamu lihat dia. Mana ada seorang sekretaris yang bersikap kurang ajar seperti dia, kamu harus mengganti sekretaris pribadimu ini. Nanti aku bantu carikan sekretaris yang baru, apa kamu mau? "
Alex meliriknya dengan ekspresi muka datar, " Sesuai dengan kontrak yang sudah kamu tanda tangani, kamu hanya perlu melakukan bagianmu saja dengan baik. Kamu tidak perlu mencampuri urusanku dan hidupku, apa kamu paham? "
Setelah selesai berbicara Alex langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Evelin di belakang sendirian.
Evelin hanya bisa menghentakkan kaki dan menggerutu dengan suara kecil,
" Viona, dasar kau wanita ******! Aku tidak akan membiarkan hidupmu tentram untuk waktu yang lama, kau lihat saja aku akan membuat hidupmu benar-benar hancur berkeping-keping. "
Viona yang sudah masuk ke dalam rumah dan berseru dari kejauhan.
" Nenek Rebecca! "
Di ruang tamu.
Tampak kakek Brama sedang duduk di kursi roda dan nenek Rebecca sedang berada di sampingnya.
" Sayang, bagus sekali akhirnya kamu bisa siuman lagi! Meski saat ini kamu tidak dapat berbicara tetapi dengan pengobatan yang rutin, kamu pasti bisa cepat pulih kembali seperti dulu. "
Dan pada saat ini mereka mendengar suara seorang gadis yang bernada rendah dan halus, lalu mereka langsung menoleh ke sumber suara itu.
Mata lelaki tua itu tampak berbinar saat melihat siapa yang datang, dan dia langsung mengangkat tangannya dan berguman.
Namun entah apa yang dia gumamkan, tidak ada seorang pun yang tahu maksudnya.
Nenek Rebecca tidak menanggapinya dia langsung bangkit berdiri dan menghampiri gadis yang memanggilnya tadi.
" Viona, kamu sudah datang! Kenapa harus repot-repot membawa oleh-oleh juga, dengan kedatanganmu saja disini sudah membuatku senang. Jadi tidak usah repot-repot seprti ini, yah? "
Nenek Rebecca tersenyum dan merasa sangat senang dengan kedatangannya Viona disini, entah kenapa sejak dia bertemu dengan gadis ini dia selalu saja memikirkannya setiap saat.
Dia sudah beberapa hari tidak melihatnya dan di merasa sangat bosan namun saat melihatnya datang hari ini dia langsung merasa sangat senang sekali.
Viona tersenyum dan berkata, " Ini adalah kue-kue yang pak Alex minta aku belikan untuk kakek Brama, katanya dia sangat menyukai kue-kue ini jadi aku membelinya. "
Nenek Rebecca meminta pelayan untuk mengambil kotak kue itu dan kemudian dia menarik Viona untuk duduk di sofa yang ada di seberang kakek Brama.
" Sayang, kenalkan ini adalah Viona. Dia adalah temanku dan juga temannya Alex. "
__ADS_1
Sebenarnya di dalam hatinya diam-diam dia berkata bahwa ini juga wanita yang Alex cintai, tetapi dia takut lelaki tua ini akan kembali pingsan karena marah sehingga Nenek Rebecca berusaha tidak mengatakan hal itu.