
Saat Evelin keluar dari rumah keluarga Brama tiba-tiba saja ponselnya berdering, dia melihat bahwa yang menelponnya adalah sepupunya Tasya Hariss.
Evelin tidak ingin menjawab panggilan telepon darinya tapi sepupunya ini tiada henti-hentinya terus menelponnya.
" Tasya, ada apa? Kenapa kamu terus menelpon aku? "
Tasya adalah putri pertama dari paman ketiganya, dulu dia sangat berhubungan dekat dengan Viona bahkan dia selalu mengikuti kemana Viona pergi.
Dia sangat tidak menyukai sepupunya ini karena Tasya selalu saja mengatainya sebagai putri dari seorang pelakor hal ini lah yang membuat Evelin sangat tidak suka padanya.
Lalu kenapa hari ini dia menelponnya? Tumben sekali.
" Kak Evelin, Hari ini adalah hari ulang tahunku. Kenapa kamu belum datang juga untuk merayakannya? Jangan lupa hadiahku. "
Evelin mengernyit sedikit, ternyata dia menelponnya hanya ingin meminta hadiah darinya.
" Kamu itu sudah umur berapa? Memangnya kakek mengizinkanmu untuk merayakan ulang tahun? "
Kakeknya ini sangatlah kolot dia tidak mengizinkan anak dan cucunya merayakan pesta ulang tahun karena baginya hal ini tidak ada manfaatnya dan hanya membuang-buang uang saja.
Hal ini lah yang membuat Evelin merasa marah pada kakeknya ini, semua orang dan teman-temannya mengira kalau dia tidak di sayang oleh kakeknya sehingga pesta ulang tahun pun dia tidak bisa merayakannya.
Dia sudah menjelaskan pada mereka kalau pikiran kakeknya itu masih kolot tetapi mereka semua tidak ada yang mendengarkannya.
Hanya Viona sajalah yang pernah mengadakan pesta ulang tahun ketika dia berusia 17 tahun dan semua orang hadir pada saat itu.
" Aku ini sudah berusia 17 tahun, aku bukan lagi anak-anak. Jadi kamu cepatlah datang! Jangan membuang waktu kami untuk hanya menunggu kedatanganmu itu. "
Setelah Tasya selesai berbicara dia langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawabannya Evelin, saat Evelin tahu teleponnya langsung di tutup dia tidak henti-hentinya memaki sepupunya ini.
" Dasar gadis sialan, teleponnya langsung di matikan begitu saja benar-benar tidak punya sopan santun sama sekali. "
Kemudian di ponselnya ada pesan dari Tasya yang mengirimkan tempat dia merayakan ulang tahun pada Evelin.
....
Eric menelpon Alex, namun setelah beberapa saat baru panggilan teleponnya di jawab.
" Ada apa? "
Terdengar suara Alex yang bertanya dengan nada dingin dan sedikit tidak sabar.
Eric tersenyum, " Kenapa? Apa karena sekretaris pribadimu tidak ada sampingmu jadi suasana hatimu menjadi buruk? "
Gerald telah memberitahunya bahwa Alex sudah membawa Viona masuk berkerja di perusahaannya sebagai sekretaris pribadi, agar dia bisa selalu bersama dengannya.
Saat ini Alex sedang beristirahat di ruang tamu sambil menonton berita di rumah keluarga Brama, dia belum ingin pulang ke Villanya jadi dia beristirahat sebentar disana.
" Kalau ada yang ingin kamu katakan, cepat katakan jangan membuang-buang waktuku. "
Alex melampiaskan kekesalan dan kemarahannya hari ini kepada Eric, Eric juga sudah berteman dan bersahabat layaknya seorang saudara sendiri selama bertahun-tahun dengan Alex.
Jadi dia sangat paham dengan temperamen Alex, dan dia sudah terbiasa menghadapi kemarahannya ini.
" Alex, apa kamu tahu siapa yang tadi datang untuk mencariku? "
Alex sama sekali tidak tertarik dengan ceritannya Eric lalu dengan dingin dia berkata,
" Sudah dulu yah, aku sedang sibuk! "
" Nanti dulu, tadi yang datang ke apartemenku adalah Viona dan satu teman wanitanya. "
Setelah selesai berbicara Eric sengaja diam sesaat tetapi Alex tidak langsung menutup telepon darinya, Eric sungguh tidak bisa menahan tawanya.
" Hahaha... Bukannya katamu kamu lagi sibuk! Kamu lanjutkan saja, nanti kita bicarakan soal ini nanti saja saat kamu sudah selesai melakukan perkerjaanmu itu. "
__ADS_1
" Aku sudah tidak sibuk lagi, jadi kamu bisa langsung katakan saja sekarang apa yang mau kamu ceritakan. "
" Ohh... "
Memang benar kata Gerald hanya Viona lah yang bisa membuat Alex ini menjilat kembali ucapannya dengan cepat.
" Cepat katakan, kenapa lama sekali? "
Alex sungguh tidak sabar untuk mendengarkan cerita dari Eric ini, namun kenapa pria itu malah diam saja?
" Dia dan temannya datang mencariku agar aku mau mendonorkan sumsum tulang untuk putri dari temannya itu. "
Alex mengerutkan keningnya, " Sumsum tulang? "
Sudah pasti Eric tidak akan pernah setuju, pekerjaannya sebagai sorang tentara saat ini mengharuskannya untuk memiliki tubuh yang sehat dan tanpa cacat sedikitpun.
" Ya, putri temannya yang bernama Gebby. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan sekali, sebenarnya kalau bukan karena pekerjaanku ini mungkin aku sudah setuju untuk mendonorkan sumsum tulangku ini. "
" Oke, aku sudah tahu. Sudah dulu yah aku mau pulang! "
Alex langsung mematikan panggilan teleponnya, dan kembali menonton berita yang ada di TV namun dia tidak bisa fokus menonton nya.
Pikirannya selalu terbayang akan Viona dan apa yang sedang dia lakukan sekarang? Dan bagaimana keadaannya sekarang?
Saat ini Viona sedang duduk di samping Tasya dan menatap keluarganya yang sedang berkumpul untuk merayakan ulang tahunnya sepupunya ini.
Dia sudah tidak pernah bertemu ataupun berkumpul dengan mereka selama enam tahun ini, dan semuanya tampak tidak ada yang berubah sama sekali.
Semua tantenya memakai perhiasan yang mewah dan mahal, sedangkan semua pamannya juga tidak ada yang berubah kecuali perut mereka yang terlihat sedikit buncit.
Tasya memiliki hubungan yang baik dengannya jadi Viona harus ikut berpartisipasi dalam pesta ulang tahunnya ini.
Tasya mengambilkan sedikit lauk untuk Viona makan, " Kak Vio, kamu makanlah sedikit banyak! Lihat betapa kurusnya kamu sekarang. "
" Tasya, kamu tahu apa? Kakak sepupumu ini sedang menjaga bentuk tubuhnya agar tidak gendut, memangnya semua orang sama sepertimu yang bisa makan apa saja tanpa khawatir akan terlihat gendut. "
Itu karena dia melihat ekspresi Gebby yang menyedihkan sampai dia rela berlutut di depannya Eric, tetapi hati pria itu sangat keras sehingga Viona harus memikirkan cara lain.
Vera duduk di seberangnya Viona dan dia terus menatap tajam ke arah Viona duduk, dia terlihat sangat marah dan kesal.
Terpikir akan kejadian beberapa hari yang lalu saat di pukuli tanpa ampun sampai-sampai tubuhnya memar, hal inilah yang membuatnya ingin sekali mencekik lehernya Viona.
" Viona, kenapa kamu tidak mengajak ketiga anakmu kesini hari ini? Makanan disini sangat enak, sungguh sayang sekali kalau mereka tidak ada sini untuk menikmatinya. "
Mendengar akan hal ini semua orang yang ada di situ langsung terdiam, karena membahas soal ini sangatlah membuat malu keluarga Hariss.
Bagaimanapun juga kejadian itu telah membuat Kakek Hariss mejadi marah, apalagi sekarang Viona hamil di luar nikah bahkan dia membesarkan anak-anaknya itu.
Ini sungguh mencoreng nama baik keluarga Hariss!
" Anak-anakku terlalu berisik, aku khawatir nanti mereka akan mengganggu kesenangannya paman dan tante yang datang untuk meramaikan pesta ini! Jadi aku tidak membawa mereka datang kesini. "
Saat Tasya mendengar apa yang dikatakan Vera dia tidak bisa mengabaikannya, dia dengan susah payah mengundang kakak sepupunya kesini jadi dia tidak bisa melihatnya di ganggu.
" Tante, kapan putrimu itu akan datang? Apa karena dia malas memberikan aku kado jadi dia datang terlambat? "
Tasya mencoba mengubah topik pembicaraan sehingga semua orang tidak akan memperhatikan kakak sepupunya ini.
Meskipun dia sekarang masih kecil dan tidak tahu apa yang terjadi? Tetapi selama bertahun-tahun dia sudah sering kali mendengar keluarganya ini sering membicarakan kakak sulungnya ini.
Dia mengerti kalau kakak sepupunya ini sudah hamil di luar nikah dan tidak tahu siapa ayah dari anak-anaknya itu!
Kemudian dia diusir dari rumah setelah itu dia menghilang tanpa jejak namun sekarang dia sudah kembali dan tinggal di sebuah rumah tua yang terlihat kumuh.
Kalau Tasya tidak mendengar dari mamanya kalau kakak sepupunya itu sudah kembali, dia tidak akan mengetahui nya.
__ADS_1
Jadi dia meminta mamanya untuk menelpon dan mengajak Viona untuk bergabung dengan mereka sekarang ini.
Saat mereka bertemu kembali Tasya merasa sangat bahagia karena sudah lama dia tidak bertemu dan melihatnya, dia juga sangat merindukan kakak sepupunya ini.
Vera melirik suaminya yang memasang muka masam, Jelas sekali dari ekspresi wajahnya kalau dia merasa tidak senang.
Sudah bertahun-tahun dia menghasut suaminya ini agar membenci Viona dan berpihak pada Evelin dan dirinya.
Dia sudah mengatakan pada suaminya kalau Viona ini adalah sebuah aib keluarga dan dia sudah membuat nama keluarga Hariss tercoreng.
Sekarang dia hanya bisa berharap pada Evelin saja, lalu membuang Viona jauh-jauh dari kehidupannya.
" Hari ini Evelin datang terlambat karena dia sedang makan malam bersama dengan keluarga pacarnya, jadi maklumin saja kalau dia datang terlambat. "
Saat berbicara dia memiliki ekspresi puas dan bangga di wajahnya, semua orang menjadi penasaran karena ucapannya itu.
" Evelin sudah punya pacar? "
" Tadinya kamu bilang ingin mencarikan Evelin pacar yang keren dan kaya, tetapi sekarang dia sudah mendapatkannya? Sungguh berita yang menggembirakan sekali. "
Tante kedua bertanya, " Siapa? Kenapa kamu tidak mengajaknya untuk bergabung saja disini? Agar kami bisa membantu Evelin untuk menilai bagaimana kualitas pacarnya itu. "
" Yah, apa dia orang kaya? Kalau dia hanya pria biasa sebaiknya kamu pikirkan lagi untuk merestui mereka. "
" Kasih tahu Evelin agar jangan mudah terbuai akan cinta, kalau tidak akibatnya akan seperti... "
Adik Vera teringat akan kejadiannya Viona di waktu dulu itu lalu dia berseru kemudian dia menahan ucapannya, lalu dia menatap kearah Viona dengan tatapan menyindir.
Namun demi menjaga reputasinya dia tidak mengatakan secara langsung.
" Mereka baru saja jadian, keluarga mereka juga sangat menyukai Evelin. Dia sudah beberapa kali pergi ke rumah pacarnya itu, yah memang kami belum bernah bertemu tapi nanti kita akan atur untuk bisa bertemu dengan pacarnya itu. "
Melihat wajah Vera yang tampak bahagia itu membuat semua orang menjadi penasaran pada sosok pacarnya Evelin ini.
" Kakak ipar, siapa sih? Ayo cepat katakan, biar kami juga ikut mengenal orangnya. "
Vera melirik kearah Viona dengan tatapan menghina lalu meninggikan nada suaranya.
" Putra sulung dari keluarga Brama, Alex Brama. "
Begitu ucapan itu dilontarkan semua orang yang ada disana terdiam sesaat, lalu mereka saling tukar pandang.
" Alex Brama? "
Satu demi satu dari mereka menatap ke arah Vera dengan tatapan iri, di hati mereka merasa sangat kecewa.
Tadinya mereka sendiri berharap putri mereka bisa menikah dan menjadi bagian keluarga Brama, tetapi sekarang seperti sudah tidak ada harapan lagi untuk mereka.
Evelin ini benar-benar sangat beruntung sekali nasibnya, jelas-jelas dia hanya seorang putri dari seorang pelakor tetapi dia bisa menikah dan menjadi bagian dari keluarga Brama.
Takdir ini benar-benar tidak adil sekali!
" Kakak ipar, selamat yah! ''
" Evelin benar-benar beruntung sekali! "
Viona melihat semua orang-orang yang ada disana mulai menyanjung Vera dan Evelin, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
" Kakak ipar, di kemudian hari kamu dan Evelin pasti akan menjalani kehidupan yang baik! Kamu bisa punya seorang menantu seperti Alex Brama itu benar-benar membuat orang iri saja. "
Di saat semua orang sedang membicarakan hubungannya Evelin dengan Alex, pada saat itulah Evelin masuk sambil membawa sebuah kado di tangannya lalu dia meletakkannya di depan Tasya.
" Tasya, selamat ulang tahun! Ini hadiah untukmu. "
" Terima kasih, kakak Evelin! "
__ADS_1
Lalu Evelin duduk di sebelahnya Viona, karena kursi itu kosong dan semua orang tidak ada yang mau duduk di dekat Viona.
Mereka memilih menghindarinya agar tidak terbawa sial, dengan keberadaan disini.