Ayah Misterius Sang Kembar Tiga

Ayah Misterius Sang Kembar Tiga
Bab 14 Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Viona memasukkan liontin giok nya ke dalam kotak brokat biru, liontin giok ini adalah barang antik yang sangat berharga.


Beberapa hari lagi kakeknya ulang tahun dan liontin ini akan diberikan oleh Viona pada hari spesial itu.


Viona berpamitan pada bibi Rosa kalau dia akan keluar sebentar, kemudian Viona berjalan keluar


dan masuk kedalam mobil.


Di sepanjang jalan, dia hanya melihat keluar jendela saja! Viona sangat familiar dengan jalan ini, dia sering memimpikannya selama bertahun-tahun namun pada kenyataannya dia sama sekali tidak pernah berani menginjakkan kakinya di sana yang pernah menjadi rumahnya itu.


Setelah mobil berhenti di garasi depan rumah keluarga Hariss, paman Leo baru memanggil.


" Nona besar, sudah sampai rumah. "


Viona baru tersadar kembali, dia melirik bangunan utamanya lalu menurunkan kakinya yang indah dan turun dari dalam mobil.


Begitu masuk ke gedung utama, Viona mendapati kakeknya sedang duduk di ruang tamu seolah-olah memang sudah menunggu nya.


Dia menggunakan tunik biru tua hari ini dan tampak begitu bersemangat, Evelin dan Vera juga ada disana bahkan Robert papanya juga ada disana.


Melihat Viona yang berjalan masuk, Vera segera bangkit berdiri.


" Vio, kamu pulang! "


Dia menggunakan baju cheongsam bermotif bunga hijau lalu sambil melenggokkan pinggangnya menghampiri Viona.


Viona tidak berbicara, dia melangkah melewati Vera dan berjalan ke sisi kakeknya.


" Kakek. "


Ketika kakek melihat Viona, matanya tampak sedikit berbinar kemudian dia menganggukkan kepalanya.


" Vio, duduklah! Jangan bersikap sungkan di rumah sendiri. "


Viona langsung duduk di samping kakeknya, dia sama sekali tidak berniat memperdulikan ketiga orang lainnya yang ada di sini.


Robert sangat terkejut, " Vio, kemana saja kamu selama ini? Mengapa kamu tidak pulang? "


Viona menjawab pertanyaan papanya, " Bukannya kalian tidak berharap aku ada dirumah ini? "


" Siapa yang tidak berharap kau ada dirumah ini? Kalau bukan karena kamu melakukan hal yang memalukan dan melarikan diri bersama pria yang tidak jelas, apakah keluargamu akan tidak memperdulikan mu? "


Robert berkata dengan marah.


Begitu mendengar ucapan ini, Evelin memalingkan wajahnya dengan perasaan bersalah. Dia tidak berani menatap wajah Viona.


Viona melirik ke sepasang ibu dan anak itu dengan dingin, cahaya di bagian bawah matanya tampak sangat gelap. Ada begitu banyak kebencian yang Viona pendam dalam dirinya ini, dia tidak akan pernah lupa dengan apa yang mereka berdua lakukan di masa lalu terhadapnya.


" Memangnya aku sendiri yang ingin melarikan diri? Bagaimana menurut tante Vera dan Evelin, apakah benar begitu? "


Begitu mendengar ucapannya, Evelin langsung melirik ke arah Viona lalu ke mamanya.


Dia merasa panik dan khawatir kalau Viona akan memberitahu kakek dan papanya tentang apa yang dia dan mamanya lakukan ke pada Viona.


Jadi Evelin segera mengubah topik pembicaraannya,


" Kak, bukannya kamu telah melahirkan tiga anak kembar? Mengapa kamu tidak membawa mereka semua pulang untuk bertemu dengan kita? Bagaimanapun juga, aku masih tante mereka! "


Setelan selesai bicara Evelin langsung melengkungkan bibirnya dengan dingin. Dia ingin tau apa yang akan Viona lakukan jika kakek dan papanya tahu akan hal ini.


" Apa! Kamu benar-benar melahirkan anak haram itu? "


Robert semakin terkejut saat mendengar berita ini, dia benar-benar sangat marah.


Ekspresi Viona menjadi marah saat mendengar kata ' Anak Haram ' benar saja, rumah ini memang tidak cocok untuk anak-anaknya, bagi mereka semua anaknya adalah anak haram.


Viona merasa sakit hati, meski dia harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun dia juga tidak ingin ada orang yang menghina anak-anaknya.


" Pak Robert, tolong perhatikan ucapanmu. Itu adalah anak-anakku bukan anak haram! Kalau sesuai perkataanmu, maka anak yang kau lahirkan dengan Vera bukankah juga anak haram? "

__ADS_1


Di masa lalu, Vera memikat papanya lalu dia hamil dan melahirkan Evelin.


Kemudian dia memaksa mamanya pergi, sehingga membuat keluarganya pecah.


Anak seperti ini juga seharusnya dikatakan sebagai anak haram, kan?


" Viona, Jaga ucapanmu! "


Evelin meraung marah, beraninya Viona mengatakan bahwa dia anak haram.


Dada Robert tampak naik turun dengan marah, kalau saja si lelaki tua itu tidak ada di sini mungkin dia sudah menampar Viona beberapa kali.


Meskipun sudah di ketahui bahwa Viona sudah melahirkan anak, namun ekspresi lelaki tua ini tidak berubah sama sekali.


" Sudah, Sudah, Viona tidak mudah bagimu untuk bisa kembali ke rumah ini, untuk apa bertengkar? Kalian bertiga pergilah, biarkan aku berbicara empat mata dengan Viona. "


Beberapa prang itu menatap Viona dengan tatapan peringatan lalu pergi dengan marah.


Begitu keluar Robert langsung berkata dengan wajah mengkerut,


" Evelin, jika nanti orang-orang dari keluarga Brama datang, kamu tidak boleh memberitahu mereka bahwa Viona juga putriku. "


Menurut nya, penampilan Viona tadi itu sangat memalukan dirinya sehingga dia tidak mau mengaku'i nya, kalau dia masih mempunyai putri.


Evelin tampak senang sekali, " Baik, papa. "


Di ruang tamu tampak Viona dan kakeknya sedang mengobrol secara pribadi.


Hubungan mereka berdua masih tetap sama seperti sebelumnya, tetap sedekat dulu.


Namun Viona tahu bahwa apa yang terjadi di masa lalu itu tidak dapat dianggap tidak pernah terjadi.


Kakeknya memiliki kebiasaan untuk tidur siang, Setelah duduk-duduk di ruang tamu sebentar, dia merasa sedikit mengantuk.


" Vio, kamarmu masih sama dan telah di bersihkan juga, kalau kamu merasa lelah pergilah ke kamarmu untuk istirahat sebentar. Nanti kamu pulangnya setelah selesai makan malam saja, kakek masih banyak hal yang ingin di bicarakan denganmu. "


.....


Tadinya Viona hanya ingin bersandar sebentar di tempat tidur namun ternyata dia tertidur hingga jam tiga sore.


Lalu tiba-tiba dia duduk dan melihat ruangan yang dikenalnya, dia seperti sedang bermimpi.


Seolah-olah dia masih hidup di tahun-tahun lalu di waktu dia berusia 18 tahun, dimana dia adalah putri sulung keluarga Hariss dan semua orang begitu mencintainya.


Viona mengulurkan tangannya dan membelai wajahnya, tidak ada yang berubah di kamar itu. Semua masih sama seperti dulu, meskipun semuanya tidak ada yang berubah di kamar ini namun pada kenyataannya semua telah berubah di kehidupannya.


Viona berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal ini lagi, sekarang dia memiliki kehidupan yang lebih baik dan sangat bersyukur kepada tuhan karena telah memberikan dia tiga harta yang sangat berharga.


Ketiga anaknya ini telah membawa begitu banyak kebahagiaan untuknya! Dia juga sangat mencintai mereka.


Viona bangkit berdiri lalu pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum membuka pintu dan keluar dari kamar tidurnya.


Pintu kamar tamu di sebrangnya juga terbuka, tampak sosok tinggi dan gagah muncul, keduanya saling menatap.


Saat Alex melihat Viona, tampak sedikit keterkejutan di matanya namun dengan cepat dia pulih kembali.


Senyum tipis tampak terlukis di wajahnya yang tampan,


" Viona, kebetulan sekali. "


Viona juga merasa sedikit terkejut barusan namun dalam benaknya dia berfikir bahwa pria ini adalah tunangan nya Evelin, jadi seharusnya dia sama sekali tidak heran.


Ini adalah rumah keluarga Hariss jadi normal baginya untuk bisa ada di sini.


Viona tidak ingin menanggapinya, dia masih ingat dengan hutangnya namun mereka bukan teman.


Dengan acuh tak acuh Viona menarik kembali tatapannya dan berjalan menuju tangga.


Alex tersenyum lagi dan mengangkat alisnya, dia tidak mempersoalkannya.

__ADS_1


Lalu dia melangkah untuk mengejar Viona dan berjalan di sampingnya, suaranya terdengar rendah dengan sedikit senyuman.


" Viona, apakah kamu masih ingat bahwa aku adalah atasanmu? Aku memintamu datang kerumahku untuk berkerja begitu kau sudah sembuh! Sepertinya kamu telah gagal, apa aku harus menambahkan bunga? "


Begitu dia menyebutkan hutang $280.000 dolar itu, Viona langsung merasa sakit kapala. Karna baginya itu adalah harga yang sangat tinggi.


Viona menghentikan langkahnya dan menatap Alex dengan marah,


" Alex, bisa tidak kau tahu diri sedikit? Aku menandatangani kontrak itu karena aku berbaik hati, kebanyakan orang tidak perduli dengan keuntungan atau kerugian yang kau dapatkan itu. "


Mendengar ini Alex mengulurkan tangannya dan mengunci Viona dengan kedua tangannya di tembok lalu menyipitkan matanya dan tersenyum jahat.


" Viona, orang yang baik hati itu seharusnya aku kan? Kalau aku tidak memperdulikanmu, mungkin saat ini kamu sudah menjadi bodoh? "


Setelah selesai berbicara, jemarinya yang ramping mengusap bibi Viona dengan lembut.


Bibir merah jambu ini benar-benar sangat memikat dan tampak berkilau. Dia benar-benar ingin merasakannya lagi, rasanya sangat manis.


Dan saat memikirkannya, pada saat ini bibirnya Alex tampak mendekati bibi Viona sedikit demi sedikit.


Viona langsung mendorong Alex, " Pak Alex, Tolong jaga sikapmu. "


Viona teringat pada waktu dia sakit, pria ini sudah menggodanya dengan membuat bibirnya bengkak.


Sebenarnya dia telah menciumnya berapa kali?


Begitu Viona terpikir akan hal ini lalu kekuatan tangannya menjadi semakin kuat.


Alex terdorong mundur selangkah, dia mengernyit sedikit dan merasa heran. Mengapa setiap kali melihat wanita ini, dia selalu tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


" Karna aku sudah menandatangani surat itu maka aku akan menepatinya, besok jam 6 sore aku akan datang kerumahmu tepat waktu untuk berkerja. Aku tidak punya waktu untuk berkerja di pagi hari. "


Viona tidak sedang berdikusi dengan Alex tetapi langsung menegaskan kepadanya.


Selesai berbicara Viona langsung turun ke bawah, sama sekali tidak memiliki niat untuk terus bersama Alex.


Alex mengulurkan tangannya dan menyentuh dadanya tepat dimana Viona tadi menyentuhnya, masih terasa hangat.


Ruang tamu di lantai bawah tampak sangat ramai, Kakek Hariss duduk di kursi utama sementara ketiga anggota keluarga Hariss lainnya duduk di sampingnya.


Ada beberapa orang lain yanh tidak Viona kenal, mungkin para orang tua dari keluarga Brama.


Mereka duduk dan mengobrol bersama.


Evelin melihat ke lantai atas terus menerus, saat dia menyajikan kopi untuk Alex barusan.


Dia terlalu gugup sehingga mengotori pakaian Alex, jadi dia meminta pelayan untuk membawanya kekamar tamu diatas agar dia bisa berganti pakaian.


Namun setelah pergi begitu lama dia masih belum juga turun sehingga membuatnya sedikit cemas.


Saat melihat seseorang berjalan di tangga, dia langsung bangkot berdiri karena mengira itu adalah Alex.


Saat melihat itu dalah Viona, ekspresinya langsung berubah, kenapa bisa si pembawa sial itu? Dengan melihatnya saja sudah membuat perasaannya menjadi jelek.


Beberapa orang yang dibawa Alex kesini bukanlah para tetua keluarga Brama karena bagaimanapun juga pernikahannya dengan Evelin adalah pernikahan palsu.


Yang dia bawa kesini adalah para pelayan tua keluarga Brama.


Melihat Alex turun, mereka langsung menatapnya dan hendak berdiri untuk menyambutnya.


Alex memberikan isyarat mata dengan menatap mereka semua lalu dengan cepat mereka duduk lagi, lalu sambil tersenyum mereka lanjut mengobrol dengan Robert tentang masa kecilnya Alex.


Saat kakek Hariss melihat Viona dia langsung melambaikan tangannya,


" Vio, duduklah disini bersama kakek. "


Ucapan itu di dengar oleh Alex, dia langsung melirik ke arah Viona.


Apa mungkin dia juga putri dari keluarga Hariss? Kalau begitu dia tidak perlu menandatangani konyrak dengan Evelin lagi. Langsung menikahi Viona saja!!

__ADS_1


__ADS_2