
Di rumah sakit
Viona menunggu di depan pintu ruangan UGD dia merasa sedikit takut, barusan dia menerima panggilan telepon dari tempat kerjanya bahwa dia sudah di pecat dan dia juga harus menanggung penuh atas semua biaya pengobatan terhadap Gerald.
Viona memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya dan merasa bahwa dia benar-benar bodoh karena kehilangan pekerjaan yang bergaji cukup tinggi itu di hari pertama dia berkerja.
Setidaknya biarkan dia berkerja selama sebulan dulu yah kan? Kenapa harus di pecat sekarang?
Ugghh...
Dia harus mencari pekerjaan lagi sekarang, tetapi dia berharap Gerald akan baik-baik saja.
Jangan sampai terjadi sesuatu kepadanya!
Kalau sampai terjadi sesuatu pada Gerald, semua keluarganya pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.
Dia juga pasti akan di hantui rasa bersalah kalau sampai hal-hal yang buruk terjadi pada Getald.
Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka dan tampak kedua pria jangkung keluar dari dalam lift itu, mereka adalah Alex dan Eric.
Alex berjalan di depan dengan mengenakan mantel berwarna hitam dan kemeja putih dengan mengenakan dasi berwarna biru gelap, begitu melihatnya Viona langsung tahu bahwa dia pasti langsung datang ke sini dari perusahaannya.
Sementara Eric yang ada di belakangnya yang memiliki warna kulit yang lebih gelap dari Alex, dengan rambut pendeknya dan dia mengenakan kemeja abu-abu dan celana panjang berwarna hitam.
Saat Viona menoleh kearah mereka berdua tampak ada genangan air mata di matanya, saat Alex melihat Viona dalam keadaan seperti ini dia merasa sangat sedih sekali.
Alex berjalan menghampirinya lalu menariknya ke dalam pelukkannya sambil mengusap punggungnya dengan ringan.
" Jangan takut, dia tidak akan mati! "
Si Gerald hanya di suntik sedikit obat untuk hewan saja kan? Orang itu sudah cukup kebal terhadap semua racun.
Eric melirik jam tangannya dan bertanya, " Sudah berapa lama dia ada di dalam sana? "
Viona sudah tidak perduli lagi dia sedang berada di dalam pelukkannya siapa sekarang, karena bagaimanapun juga saat ini dia membutuhkan sebuah pelukkan hangat dari seseorang agar dia bisa merasa sedikit tenang.
" Sudah satu jam lebih dan aku belum tahu bagaimana kondisinya sekarang? "
Saat dia berbicara suaranya terdengar kecil dan bergetar, sekali melihatnya saja sudah langsung tahu kalau dia sedang ketakutan sekarang.
Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu ruangan UGD terbuka dan dokter berjalan keluar dari dalam ruangan.
Lalu dengan cepat ketiganya menyapa dokter itu dan Viona yang bertanya terlebih dahulu.
" Dokter, bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja? "
Dokter kemudian mengheleng-gelengkan kepalanya,
" Maaf, kami sudah mencoba yang terbaik yang kami bisa. "
Kemudian tampak seseorang yang tampak di tutupi kain putih dan di dorong keluar, Viona langsung tercengang melihatnya.
Apa Gerald sudah mati? Kenapa dia bisa mati begitu saja hanya karena dia menyuntikkan obat untuk hewan?
Kali ini Viona merasa tamat sudah riwayatnya, dia sudah membunuh orang dan dia terkena masalah yang cukup serius sekarang.
Tatapan matanya terasa gelap dan langsung jatuh pingsan, Alex menangkap tubuhnya dan memanggilnya.
" Viona.. Viona.. "
Beberapa orang yang ada di sebelahnya tampak menangis lalu mengikuti si pendorong tempat tidur itu dan mereka berjalan ke arah lift.
Alex melirik wanita yang ada di dalam dekapannya itu lalu dia berkata dengan nada marah.
__ADS_1
" Gerald Subroto, keluar kau! "
Lihat apa yang baru saja dia lakukan sampai membuat Viona jatuh pingsan seperti ini?
Gerald berjalan dengan angkuh, dia mengangkat alisnya dan melirik wanita yang berada di pelukkannya Alex.
" Dia sudah membuatku merasa tidak nyaman jadi aku sengaja menakut-nakutinya, aki tidak menyangka kalau dia sampai pingsan seperti ini. "
Eric meninju dan memukul tubuhnya.
" Rald, bagaimana rasanya di suntik dengan obat khusus hewan? Sebenarnya kamu bisa melakukannya dengan kucingmu itu. "
Mendengar ucapan ini membuat Gerald langsung marah, wajahnya langsung merah padam dan ingin meninju Eric sekarang juga.
Melihat Gerald yang ingin meninjunya Eric buru-buru berlari,
'' Rald, aku hanya becanda! Stop dulu jangan merusuh di tempat seperti ini Oke! "
Gerald menyusul Eric lalu meninjunya beberapa kali untuk meredakan amarahnya itu, kemudian mereka menunggu pintu lift terbuka.
Alex berjalan ke arah mereka dengan Viona yang berada di dalam pelukkannya, ekspresinya tampak sedikit dingin.
Gerald hanya bisa mengerutkan bibirnya, dia tidak berani memprovokasi Alex.
Laboratoriumnya di danai oleh Alex, kalau sampai Alex menarik semua dananya maka habis sudah riwayatnya.
" Alex aku hanya berniat untuk menakutinya saja, aku tidak ada niat sampai membuatnya pingsan seperti ini. "
Alex hanya meliriknya dengan ekspresi datar, " Awas minggir... "
Kemudian mereka melangkah masuk kedalam lift, mereka berdua tidak berani mengikuti Alex setelah keluar dari dalam lift.
Eric langsung melirik kearah Gerald lalu berkata, " Aku percaya kepadamu sekarang! "
" Sepertinya hanya kamu saja yang di buat apes olehnya! "
Gerald menghela nafas, " Ya, aku juga merasa begitu! Kau lihat Alex dan kamu baik-baik saja tapi sedangkan aku selalu terkena sial saat berada di dekat Viona! "
Saat Viona tersadar kembali dia mendapati dirinya sudah berada di dalam mobil, jadi dia langsung duduk dan menoleh untuk melihat ke sekelilingnya.
" Apa aku barusan sedang bermimpi? "
Dia mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk wajahnya, alangkah baiknya kalau semua ini adalah mimpi.
Tetapi saat dia melihat Alex yang ada di sampingnya, Viona langsung merasa kalau semua ini bukanlah sebuah mimpi.
Wajahnya langsung memelas lalu dia menghela nafas panjang.
" Alex, Gerald sudah meninggal yah? Kamu mau mengantarkan aku ke kantor polisi kan? Ketiga anakku itu... Apa kamu mau membantuku untuk merawat mereka? "
Sambil berbicara Viona mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Alex yang besar itu.
" Nanti begitu aku bebas dari penjara, aku akan memasak dan membersihkan kamarmu untuk seumur hidupku. "
Alex meliriknya dengan datar dan berkata, " Usulmu ini cukup bagus! "
Viona hanya bisa bersandar di kursi mobil dengan pasrah, dia akan menunggu keputusan Alex ini.
Saat mobil berhenti Viona mendapati tempat yang mereka datangi bukanlah kantor polisi melainkan sekarang dia sudah ada di depan rumahnya, matanya langsung berkilau untuk sesaat lalu dia tampak lesu kembali.
" Kamu mau aku bertemu dengan keluargaku untuk terakhir kalinya, yah? "
Bagaimana dia harus memberitahu ketiga anaknya nanti? Kalau mereka tahu pasti mereka akan merasa sangat sedih sekali.
__ADS_1
Dia merasa sangat bersalah kepada anak-anaknya ini, Dia telah melahirkan mereka nanun tidak mampu memberikan kasih sayang seorang ayah kepada mereka bertiga.
Dan sekarang dia akan meninggalkan mereka bertiga untuk mendapatkan hukumannya di dalam penjara, Viona merasa kalau dia sudah gagal total sekarang.
Terpikir akan semua hal ini membuat air matanya berderai tak henti-hentinya.
Melihat Viona menangis dengan sangat sedih membuat Alex menjadi tidak tega melihatnya,
" Viona, kamu sudah benar-benar sembarangan dalam berfikir! Gerald tidak mati dia masih hidup, jadi kamu jangan menagis lagi. "
Viona mengangkat tangannya untuk menyeka air matanya,
" Kamu tidak perlu menghiburku, nyawa memang harus di ganti dengan nyawa! Aku mengerti akan hal ini, jadi aku tidak akan takut lagi. "
Tidak takut? Sudah ketakutan seperti ini masih bilang kalau dia tidak takut? Wanita ini benar-benar membuat orang bingung.
Setelah selesai berbicara lalu Viona berhenti menangis dan dia berusaha untuk menahan air matanya, tetapi dia masih merasa sedih sehingga hidung mungilnya berkedut.
Alex belum pernah melihat wanita yang gampang menangis sepertinya ini, dan itu langsung membuat hatinya sedikit masam.
Jemarinya yang ramping dan putih itu menyeka air mata yang ada di pipi Viona dan bibir mereka berdua berjarak sangat dekat sekali, asalkan Viona bergerak sedikit saja bibir mereka pasti akan bersentuhan.
Jadi Viona merasa sangat takut sekali sehingga tidak berani bergerak dan dia menahan nafasnya saking dia merasa takut.
" Viona Gerald tidak mati, dia hanya ingin menakutimu saja! "
Setelah selesai berbicara Alex langsung mengeluarkan ponselnya fan menelpon Gerald, dengan cepat panggilan telpon itu langsung dijawab.
" Alex, apa kamu sudah rindu mendengar suaraku ini? Ada apa kamu menelponku? "
Mata Viona langsung berbinar setelah mendengar suara Gerald di telepon itu,
" Gerald kamu tidak mati? Baguslah kalau kamu baik-baik saja. ''
Gerald langsung mengerti kalau Alex sedang menghibur Viona jadi dia langsung tertawa.
" Viona, kamu telah menindasku hari ini dan kamu sudah membuat aku mengeras seperti batu tadi! Menakutimu sedikit itu bisa dianggap cukup adil bukan! "
Viona tidak mengerti dengan ucapannya Gerald jadi dia bertanya,
'' Seperti batu? Memangnya obat itu bisa membuat tubuhmu mengeras? "
Alex langsung menyipitkan matanya dan senyum berbahaya tampak muncul di sudut bibirnya saat mrndengar ucapan Viona ini.
Gerald tertegun sejenak, " Eeh.. Tidak, tidak! Viona apa kamu benar-benar tidak tahu maksudku ini? Masa hal seperti itu kamu tidak mengerti! "
Setelah berhenti sejenak Gerald langsung berkata dengan Alex,
" Alex, sepertinya kamu harus melatihnya dengan baik! "
Alex juga sedikit terkejut dengan tingkah Viona ini, bukannya dia sudah melahirkan tiga orang anak? Seharusnya dia mengerti apa yang pernah dia alami , kan? Apa dia hanya berpura-pura? Tetapi dari ekspresi wajahnya yang tampak bingung itu sepertinya dia benar-benar tidak mengerti.
" Sudah dulu yah! Lain kali jangan menakuti dia lagi, apa kamu paham? "
Alex berkata dengan nada dingin lalu dia mematikan panggilan teleponnya.
" Apa kamu sudah percaya sekarang? "
Akhirnya Viona merasa lega lalu dia berkata, " Untung saja Gerald tidak meninggal, kalau tidak... "
Dia tidak akan pernah berani lagi, tidak perduli seberapa tinggi gajinya.
Dia tetap harus melakukan perkerjaan yang dia pahami dan sesuai dengan kemampuannya, dia tidak akan memaksakan dirinya untuk melakukan sebuah pekerjaan yang tidak dia pahami sedikit pun.
__ADS_1