AYRAFKA (Jodoh Impian)

AYRAFKA (Jodoh Impian)
Bab 10


__ADS_3

Rafka mengajak Aira untuk jalan-jalan dulu sebelum pulang, tetapi gadis itu langsung menolak. Ia tidak mau membuat mamanya cemas jika pergi tanpa berpamitan.


"Minta izin dulu sama mamaku kalau mau ajak aku pergi," kata Aira sambil berteriak, karena suara bising kendaraan pasti membuat Rafka kesulitan mendengar ucapannya.


"Oke, kalau mama mertua izinin, kita pergi jalan-jalan lagi ya," balas Rafka dengan berteriak juga.


Aira yang di belakangnnya hanya bisa menahn senyum. Ada rasa nyaman yang ia rasakan keika bersama dengan Rafka. Walaupun Rafka itu menyebalkan, tapi sebenarnya dia lucu dan baik, begitulah yang ada dalam pikiran Aira saat ini.


Tidak berapa lama, mereka sampai juga di rumah Aira. Sesuai perjanjian mereka, Rafka akan meminta izin pada mamanya Aira untuk mengajak putrinya jalan-jalan.


"Ma, aku pulang." Aira mencium tangan mamanya yang kebetulan sedang menyiram bunga di halaman rumah.


"Sore, Tante," sapa Rafka yang juga ikut menyalami mamanya Aira.


"Sore juga," balas Mama Sofia.


"Em, Tante, saya mau ajak Aira jalan-jalan kalau boleh," izin Rafka pada mamanya Aira.


Mama Sofia memandang putrinya yang hanya menunduk sambil menahan senyum. Mama tahu jika Aira juga ingin pergi bersama Rafka, tapi mama sendiri sangat khawatir jika Aira semakin dekat dengan Rafka yang notabene memang buka anak baik-baik.


"Em, gimana ya, Rafka. Aira ini kan anak gadis, nggak baik kalau jalan sama anak laki-laki." Mama memperhatikan raut wajah kecewa dari Aira.


"Tante, saya janji nggak akan macam-macam. Tante kenal mami saya kan, kalau Aira lecet sedikit saja, Tante bisa tuntut saya," balas Rafka.


"Mama jangan gitu dong, Rafka baik kok, Ma," bela Aira.


Mama Sofia pun tidak tega melihat wajah Aira yang berubah murung, akhirnya beliau menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar.


"Ya udah deh, tapi pulangnya jangan malem-malem," kata Mama Sofia pada akhirnya.


"Siap Tante," balas Rafka.


"Makasih, Ma." Aira memeluk mamanya yang masih memegang selang air.


"Iya iya, udah sana mandi terus ganti baju."


"Siap Ma. Rafka, aku mandi dulu ya."

__ADS_1


"Oke. Aku tunggu di sini," jawab Rafka.


Setelah Aira masuk ke rumahnya, Mama Sofia mengajak Rafka untuk ngobrol di kursi teras, ditemani teh hangat dan pisang goreng yang baru saja disuguhkan pembantu Mama Sofia.


"Aira itu udah lama hidup menderita, makanya kami tidak mau kalau dia sampai tersakiti lagi." Mama Sofia membuka percakapan dengan Rafka.


"Iya Tante, saya tidak akan menyakiti hati Aira. Saya janji."


"Kamu tahu, papi kamu berencana menjodohkan Aira dengan kakak kamu?" tanya Mama Sofia sambil meneguk tehnya.


"Saya belum tahu pasti, Tante, tapi kalau boleh saya kasih pendapat, bukankah sebaiknya Aira sendiri yang menentukan pilihan hatinya. Kalau Aira memang menyukai Revan, saya tidak akan keberatan, asal itu memang pilihan Aira sendiri." Rafka dengan tenang menjawab pertanyaan Mama Sofia.


"Ya, kamu benar. Memang Aira yang akan menentukan, tapi kalau papimu sudah mengancam, kami bisa apa?"


"Maksud Tante?" Rafka tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mama Sofia. "Papi ngancam Om dan Tante untuk menjodohkan Aira dan Revan?"


"Ya begitulah, entah siapa pilihan Aira, akan lebih baik jika dia memilih Revan. Maaf ya Rafka tante nggak bermaksud apa-apa."


Rafka menundukkan kepala, ia sadar selama ini ia memang menjadi anak berandalan. Mungkin karena itulah, orang tua Aira menolaknya dan berharap Revan yang menjadi pendamping Aira.


"Ya udah, tante masuk dulu ya, bentar lagi om pulang tante mau masak, Aira mungkin bentar lagi turun," kata Mama Sofia yang kemudian berdiri dan masuk ke rumah.


Rafka menghabiskan teh yang disuguhkan untuknya. Pikirannya menerawang jauh. Apa iya, dia bisa mendapatkan Aira, haruskah dia menyerah sebelum mencoba.


Aira sudah keluar dari kamar, dan bersalaman dengan mamanya. Setelah itu, dia keluar dan melihat Rafka yang sedang melamun.


"Door." Aira mengejutkan Rafka yang sampai berdiri tiba-tiba karena saking kagetnya.


"Ay, ngagetin aja sih," protesnya begitu tahu Aira yang mengagetkannya. Akan tetapi, melihat tawa di wajah gadis impiannya membuat Rafka justru tersenyum memperhatikan Aira yang masih tertawa.


"Habisnya kamu ngelamun sih, ngelamunin apa coba, kalau nanti kesambet tau rasa loh," balas Aira setelah berhasil mengendalikan dirinya.


"Ngelamunin kamu Ay, kamu makin hari makin cantik, sampai aku tuh bingung."


"Idih gombal, bingung kenapa emangnya?"


"Bingung kok ada ya orang secantik kamu," jawab Rafka yang membuat Aira manyun.

__ADS_1


Kalau saja Rafka tahu, seperti apa Aira dulu, mungkin Rafka tidak akan mengatakan hal itu, pikir Aira.


"Udah yuk, buruan jalan, nanti kemaleman loh!" ajak Aira yang berjalan lebih dulu menuruni anak tangga samping teras.


Rafka mengajak Aira ke sebuah pusat perbelanjaan. Bukan untuk nonton atau ke time zone tapi ia malah mengajak Aira ke pintu samping, tempat orang-orang biasa merokok, dan motor-motor yang lewat berlalu-lalang.


"Kok kita ke sini." Aira mengerutkan kening, ia pikir Rafka akan mengajaknya nonton ke bioskop, atau setidaknya nongkrong di kafe.


"Udah di sini lebih seru tau," kata Rafka yang mengajak Aira duduk di bangku panjang. Berbekal minuman teh dalam gelas plastik yang tadi Rafka belikan saat baru saja masuk ke area mal. "Aku pengen ngobrol banyak sama kamu, Ay. Boleh kan?" tanya Rafka.


Aira duduk di samping Rafka, memperhatikan beberapa motor yang lewat di depan mereka. Tempat itu memang area yang dilintasi saat masuk ke mal dengan motor, lebih tepatnya itu adalah jalan menuju parkiran.


"Mau ngobrol apa?" tanya Aira, ia menyesap minuman teh rasa susu yang dibelikan Rafka untuknya.


"Ya, ngobrol apa aja. Menurut kamu aku orangnya gimana?" tanya Rafka sambil menatap wajah Aira.


"Gimana apanya?"


"Ya menurut kamu, aku itu cowok yang gimana?"


Aira sedikit bingung dengan arah pembicaraan Rafka, tapi dia berusaha menjawab sebisanya.


"Kamu, kelihatannya berandalan, lebai, tukang gombal, em, apalagi ya." Aira mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuk, seolah sedang berpikir berat mengenai Rafka.


"Apa lagi Ay?"


"Em ... nggak taulah, kenapa sih nanya-nanya gitu?" tanya Aira.


"Kalau aku sama Revan, pasti aku kalah jauh ya." Rafka menunduk sambil menyesap minuman teh lemon miliknya.


"Rafka, aku yakin kamu itu baik kok, mungkin pergaulan kamu aja yang salah." Aira menepuk pundak Rafka, membuat cowok tampan itu menatap ke arahnya. "Aku juga nggak sesempurna yang kamu bayangin kok, hidup aku di Surabaya itu jauh lebih menyedihkan." Aira menarik tangannya, lalu menghisap lagi minumannya.


"Kalau kamu nggak keberatan, aku siap kok dengerin cerita kamu."


🦋🦋🦋🦋


Selamat sore, masih nungguin nggak? Ramein komennya dong. Betewe nggak ada kah yang dukung Revan sama Aira? Banyak yang dukung Rafka ya kayaknya.

__ADS_1


__ADS_2