
Rafka mengulurkan tangan pada wanita yang kini memakai gaun dan riasan pengantin. Cukup lama mereka saling bertatapan, sampai akhirnya Adelia membalas jabatan tangan Rafka.
"Rafka."
"Adelia." Wanita itu segera menarik tangannya dari genggaman Rafka, tapi Rafka menahannya dengan kuat.
"Selamat menempuh hidup baru, Nyonya Adelia yang terhormat," ucap Rafka. Ia tersenyum menyeringai, membuat Adelia merasa gugup dan takut dengan ekspresi Rafka.
"Terima kasih," balas Adelia yang dengan cepat menyingkirkan tangannya dari Rafka.
"Kenapa suara kamu terdengar gugup, Del?" tanya Tuan Danil pada istrinya.
"Em, Tuan Danil, saya sampai lupa. Perkenalkan ini istri saya, Aira." Rafka memegang pundak Aira dengan lembut.
"Selamat untuk pernikahannya," ucap Aira sembari menyalami Tuan Danil dan Adelia.
"Terima kasih. Saya pikir ini tadi pacar Pak Rafka, ternyata istrinya ya." Tuan Danil memperhatikan wajah Rafka dengan serius, meski bibirnya terus menyunggingkan senyuman.
"Kami memang menikah muda, tapi bukan karena kecelakaan. Istri saya sekarang sedang hamil, dan saya akan menjaga dan menyayangi anak saya sepenuh hati." Tatapan mata Rafka sangat tajam dan menusuk, hingga Adelia tidak sanggup menatapnya.
"Kenapa Anda memperhatikan istri saya ... eh tunggu wajah kalian mirip ya, apa Pak Rafka saudara kamu, Del?" tanya Tuan Danil.
"Saya permisi!" Rafka mengajak Aira turun dari pelaminan. Mereka meninggalkan padangan pengantin baru yang sepertinya akan bertengkar sebentar lagi. Rafka tidak memedulikan itu, ia bergabung dengan mertuanya bersama Aira.
__ADS_1
"Raf, kamu nggak apa-apa?" tanya Aira khawatir.
Aira tahu, wanita itu adalah ibu kandung Rafka, karena selama menikah, Rafka sudah menceritakan semua pada Aira.
"Nggak apa-apa kok, Ay. Santai aja." Rafka menggenggam tangan Aira.
Setelah itu mereka menikmati makanan dan minuman yang telah dihidangkan. Rafka sebenarnya enggan berlama-lama di acara ini, tetapi ia masih menghargai Aira dan kedua mertuanya.
Saat menikmati minumannya, tiba-tiba Tuan Danil menghampiri Rafka.
"Bisa kita bicara sebentar," kata Tuan Danil yang di belakangnya diikuti pengawal.
Rafka tahu, Tuan Danil bukanlah orang sembarangan, ia bisa saja dalam keadaan bahaya jika bermain-main dengannya.
"Sekarang jawab jujur Adelia, dia ini siapa!" maki Tuan Danil dengan nada tinggi, saat Rafka didudukan di hadapan Adelia.
"Aku nggak ada hubungan sama dia, aku udah buang dia!" jawab Adelia.
Kedua orang tua Adelia merupakan pemilik kampus ternama tempat Aira kuliah dulu. Mereka turut menyaksikan pengakuan Adelia.
"Apa maksud kamu, Lia?" tanya papanya Adelia.
"Memang wajahnya sangat mirip dengan Papa, jangan-jangan dia cucu kita, Pa." Mamanya Adelia langsung menangis memeluk suaminya yang juga bingung dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Jawab yang jelas Adelia. Atau kutampar mulutmu itu!" teriak Tuan Danil dengan tidak sabar.
Rafka mengeluarkan ponselnya, ia tahu situasi berbahaya ini, dan satu-satunya kelemahan Tuan Daniel adalah data perusahaannya.
"Dia anak haram. Anakku dengan Rizal Airlangga. Aku sudah membuangnya, entah kenapa dia bisa muncul di sini," jawab Adelia tanpa rasa bersalah, meskipun suaranya terdengar takut pada suaminya.
"Baji*ngan kamu Lia." Papanya Adelia menampar keras putrinya.
"Apa kamu tidak ingat rasa sakitmu saat melahirkannya, Lia?" tanya mamanya Adelia.
"Aku nggak peduli, karena aku nggak menginginkan dia, aku udah berusaha buat gugurin dia tapi gak bisa. Papanya yang sial*an itu juga tidak mau membantu apa-apa, malah menuduhku memfitnahnya. Ya sudah, aku kembalikan saja sama papanya."
"Wanita ibl*is kamu Adelia," maki Tuan Danil.
"Mas, waktu aku cuma mabuk. Rizal breng*sek itu sudah merenggut kesucianku dan tidak mau menikahiku. Dia lebih memilih istrinya yang mandul itu."
"Cukup!" Rafka menggebrak meja lalu berdiri dengan menatap Adelia dengan tatapan membunuh. "Jangan pernah menghina mamiku, atau aku akan menghancurkan hidupmu."
🦋🦋🦋🦋
Selamat siang, eh sore.. aku berharap bab ini tegang sih.. tegang nggak sih.. apa anu aja yang tegang 🤣🤣🤣
Dahlah, aku mau siap siap malmingan sama Mas Kai. 🤣🤣🤣
__ADS_1
Jempolnya awas jangan lupa. Ritualnya 😉