
"Jangan berani menyentuh apa pun yang menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggunya." Rafka menggenggam tangan Aira dan berdiri di hadapan wanita cantik itu. Rafka tidak peduli, apakah wabita itu benar-benar ibu kandungnya, baginya Aira jauh lebih penting dari apa pun.
"Maka manjauhlah dariku," kata wanita itu sebelum akhirnya menjauh dari Rafka dan Aira. Wanita itu menuju mobil mewahnya, lalu meninggalkan area kampus.
"Rafka dia siapa sih?" tanya Aira.
"Orang paling nggak penting di dunia ini Ay," jawab Rafka. Pria muda itu mencoba memendam emosinya. Ia sudah dibuang oleh ayahnya, hari ini ia juga harus merasakan sakitnya dibuang ibu kandungnya.
"Raf, kamu bisa cerita sama aku." Tatapan Aira seperti sedang memohon pada Rafka.
Belum sempat Rafka membalas ucapan Aira, sebuah panggilan masuk mengganggu fokusnya. Sebuah panggilan dari kakeknya membuat Rafka buru-buru menjawabnya.
"Iya, Kek."
"Dasar anak bandel, di manakamu?" tanya Kakek dengan nada yang dibuat seakan sedang marah.
"Lagi main, kenapa sih, Kek?"
"Udah cepetan ke sini, ajak istrimu juga." Kakek langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.
Duh, lupa belum pernah kenalin Aira sama Kakek. Mana gue nikah nggak bilang-bilang. Kakek pasti marah banget.
"Siapa?" tanya Aira.
"Kakek sama nenek pengen kenalan sama kamu, yuk ikut!" Rafka menyimpan kembali ponselnya, lalu ia menggandeng tangan Aira menuju parkiran.
Rafka akhirnya mengajak Aira ke rumah kakek neneknya. Aira belum pernah bertemu dan berkenalan dengan kakek nenek suaminya itu karena mereka terlalu sibuk dengan sekolah. Aira sendiri merasa takut dan deg-degan. Melihat papinya Rafka yang galak, ia juga membayangkan kakek nenek Rafka akan sejahat mertuanya itu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah kakek Rafka, Aira merangkul perut suaminya, bersandar pada punggung lebar Rafka. Pikirannya sudah ke mana-mana membayangkan yang tidak-tidak. Sedangkan Rafka, justru berpikir istrinya sedang ingin bermanja-manja siang ini.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah kakek nenek Rafka.Dengan ragu-ragu, Aira turun dari motor Rafka. Perasaan cemasnya ternyata ditangkap dengan sempurna oleh Rafka, cowok itu memang sangat peka jika sudah menyangkut istri cantiknya.
"Kenapa Ay? Kamu gugup banget ya?" tanya Rafka sembari membantu Aira melepaskan helm.
"Aku takut kamu diapa-apain, Raf," jawab Aira.
Rafka mulai bingung dengan kekhawatiran Aira. Akan tetapi, timbul ide jahil untuk mengerjai istrinya itu.
"Kamu bisa lari kan, Ay?" tanya Rafka.
"Lari?" Aira mengerutkan alis.
"Iya, lari. Kalau ada bahaya, kan harus lari," kata Rafka.
"Bisa kok,kantor polisi ke arah mana? Jauh nggak?" Aira justru menanggapi serius apa yang diucapkan Rafka.
"Ke arah sana Ay, nggak jauh kok." Rafka menunjuk ke arah jalan raya.
"Ya udah kita masuk sekarang, Ay. Kamu siap kan?" Rafka kini menggenggam tangan Aira.
"Oke siap," jawab Aira.
Dalam hati Rafka ingin menertawakan sikap istrinya. Akan tetapi, ia juga suka melihat Aira mengkhawatikan ia yang baik-baik saja. Rafka tahu, Aira juga sangat mencintainya.
Belum juga mengetuk pintu, kakek keluar dengan ekspresi aneh. Rafka langsung memeluk kakeknya dan mulai mendramatisasi keadaan.
"Maafin Rafka Kek, maafin Rafka. Ampun." Rafka semkin mengeratkan pelukannya pada sang kakek.
"Dasar anak berandal. Kamu sedang apa hah? Jangan sok alim mentang-mentang ada perempuan cantik di sini," kata Kakek. Mata tuanya itu melirik ke arah Aira yang masih terihat cemas.
__ADS_1
"Kakek, ampun. Jangan sakiti istriku."
"Dasar bocah tengik, sudah lepas. Kakek juga mau peluk cucu kakeknya yang satunya."
Rafka akhirnya melepaskan pelukan kakeknya. Sedikit kesal karena kakeknya tidak paham ia sedang bermain drama di depan Aira.
"Gadis ini siapa?" tanya kakek.
Aira melirik Rafka, takut. Rafka mengangguk, lalu Aira mencium tangan sang kakek.
"Saya Aira, Kek. Istrinya Rafka," jawab Aira.
"Berani sekali kamu menikah tanpa bilang kakek?" Kakek memukul bahu Rafka dengan keras, sampai Rafka mengaduh karena kesakitan.
Aira semakin takut melihat Rafka dipukuli kakeknya.
"Sudah, suruh masuk dulu, nggak baik ngobrol di pintu begitu." Nenek Rafka keluar diikuti oleh pelayan rumah yang membawa minuman dan camilan.
Sambil melangkah masuk, Aira menyalami nenek seperti yang ia lakukan tadi kepada kakek Rafka.
Akhirnya, mereka semua duduk di kursi tamu. Rafka dan Aira duduk bersebelahan, tidak mau terpisah satu sama lain.
"Rafka, kamu bagaimana bisa menikah tanpa izin kakek? Bagaimana kakek menjelaskan sama jodoh kamu?"
Aira terkejut, begitu pun dengan Rafka.
🦋🦋🦋🦋
Selamat malam. Aku lagi kejar target, Insya Allah hari ini up banyak. Doakan semoga bisa lancar 🙈🙈 Karena sakit, aku harus kejar kekurangan kata aku gaess.
__ADS_1
Hari senin, jangan lupa vote nya ya. Jempol dan komentarnya juga jangan ketinggalan 🥰🥰 Kembang kopi juga 😅😅